Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Kebohongan Imas


__ADS_3

Niram masih terlihat lemah, meskipun tidak selemah seperti ketika pertama kali ditemukan. Dia mulai bisa bangun, meski dengan bantuan Yura.


Niram menautkan kedua alisnya melihat keseharian Yura. Entah kenapa, dari pagi hingga siang, selain untuk makan, gadis bertubuh gemoy itu hanya menghabiskan waktunya untuk tidur. Melihat kondisi Niram yang menyedihkan pun, sama sekali tidak menarik perhatiannya. Padahal, gadis itu punya banyak kesempatan untuk bertanya kepadanya.


Ish, apa Yura memang tipe orang yang masa bodoh terhadap orang lain? batin Niram. Jika iya, lantas kenapa tadi malam dia menolongku? Monolognya dalam hati.


"Hoaaamm...."


Yura terlihat menggeliat seraya menguap. Membuat Niram mengalihkan pandangannya. Kembali Niram menatap kosong jendela kamar Yura. Berpura-pura jika dia tidak merasakan pergerakan gadis itu.


"Huft! Bengong lagi," dengus Yura seraya membuang napasnya dengan kasar.


Sepersekian detik kemudian, Yura bangkit dan duduk bersila, tepat di hadapan Niram. Kedua tangannya terulur dan menyentuh kedua lutut Niram yang sedang didekap erat oleh pemiliknya.


"Dengar, Nir. Gue udah bilang lu boleh nangis sepuas lu. Lu boleh berteriak sekencang hati lu, tapi gue enggak akan pernah ngebiarin lu bengong kek gini. Sorry, Nir. Bukannya gue enggak prihatin atas apa yang menimpa diri lu, tapi lu cuma bisa merugi kalau hanya meratapinya seperti ini. Oke! Enggak masalah kalau seharian ini lu mau bermuram durja, tapi lu harus inget. Hidup terus berjalan!" tegas Yura.


"Hmm, apa peduli kamu. Toh kamu sendiri tidak tahu ada apa dengan kehidupanku," balas Niram sinis.


"Aish, Nir. Gue bukan tidak tahu, tapi gue jaga hati lu supaya lu enggak inget sama nasib buruk yang nimpa lu. Jangan lu pikir, karena lu hancur, langit juga bakalan ikut-ikutan runtuh nimpa elu, begitu? No way!"


Yura kembali berbicara, bahkan kali ini kalimatnya cukup lantang terdengar. Membuat dada Niram semakin terasa sesak.


"Tapi kenyataannya aku sudah hancur! Hidupku, ragaku, bahkan duniaku sudah hancur. Aku sudah tidak memiliki masa depan lagi. Hiks ... a-apa yang harus aku katakan kepada orang tuaku, Mbak? Me-mereka sangat berharap jika kepergian aku ke kota ini, akan mengubah nasib mereka. Tapi kenyataannya, perubahan nasib yang aku berikan hanyalah sebuah aib saja. Aku sudah ternoda, Mbak. Aku ternoda, huhuhu,..."

__ADS_1


Niram kembali menangis pilu ketika membayangkan nasib kedua orang tuanya. Mereka tinggal di kampung, dan tabu, bagi warga kampung harus kehilangan kesucian sebelum menikah.


Jika sampai warga di kampungnya mengetahui keadaan Niram, bukan hanya Niram yang akan mendapatkan hujatan. Namun, kedua orang tua Niram juga akan menjadi cemoohan karena tidak bisa mendidik anaknya. Dan Niram sangat takut memikirkan hal itu.


Yura memeluk Niram. Membiarkan Niram menangis di bahunya.


"Tenanglah, Niram. Lu enggak sendirian. Gue bersumpah, gue akan selalu jagain lu. Jadi sekarang, lu tenanglah dulu," ujar Yura seraya mengusap-usap punggung Niram.


Mendapatkan perlakukan hangat dari orang yang baru saja dikenalnya, Niram hanya semakin tersedu.


.


.


Selepas menunaikan shalat asar di masjid terdekat, Ahsan mengantarkan Natasya ke rumahnya. Sepertinya, Natasya tidak main-main dengan keinginan yang tadi dilontarkan kepadanya. Karena itu, Ahsan merasa senang dan tidak berkeberatan untuk mengantar Natasya pulang ke rumah kedua orang tuanya.


Natasya tersenyum tipis. "Iya, Ma. Tasya minta maaf karena Tasya sudah menyusahkan Mama dan membuat Mama sedih," ucap Natasya.


"Hmm, bukan Mama kamu saja yang sedih, Nak. Papa juga sangat sedih karena putri Papa merajuk hebat. Sampai-sampai lama memutuskan untuk pulang."


Tiba-tiba Brama sudah berdiri di ambang pintu. Rupanya, pria yang usianya hampir mendekati kepala lima itu, baru saja pulang dari kantor.


"Papa!" seru Natasya.

__ADS_1


Sesaat kemudian, Natasya menghambur ke dalam pelukan sang ayah.


"Please jangan ngambek lagi ya, Nak. Papa janji, Papa tidak akan memaksa kamu untuk meneruskan bisnis Papa. Mulai sekarang, Papa izinkan kamu melakukan apa pun yang kamu suka. Asalkan kamu tidak meninggalkan kami lagi," bisik Brama di telinga putrinya.


Sungguh, entah kejadian apa yang menimpa pria diktator ini, sehingga mampu membuat keputusan yang begitu menakjubkan bagi Natasya.


Namun, entah kenapa Natasya jadi merasa bersalah. Padahal, keinginan sang ayah begitu sederhana. Yaitu memiliki seorang pewaris. Akan tetapi, mustahil bagi Natasya untuk menjadi pemimpin perusahaan jika memang dia tidak pernah tertarik dengan dunia bisnis.


Sabar ya, Pa. Mungkin jika Tasya sudah menikah, kelak ada suami Tasya yang akan mengurus kerajaan bisnis papa, batin Natasya sembari memeluk erat sang ayah.


.


.


Selesai shalat magrib, Imas tidak bisa mengelak lagi dari cecaran pertanyaan sang suami tentang keberadaan Niram.


"Tolong katakan yang sebenarnya, Mas. Kenapa Niram bisa pergi dari rumah?" tanya Halim, memelas.


"Ju-jujur, Imas tidak tahu alasan yang sebenarnya, Bang. Wa-waktu itu, Ni-niram cuma minta izin untuk pergi mencari pekerjaan. Dan se-setelah i-itu, Niram ... Ni-niram ti-tidak pernah kembali lagi," papar Imas terbata-bata.


"Tapi bagaimana bisa dia pergi tanpa pamit, Mas. Niram itu anak baik, dia pasti mengerti tata krama dan sikap santun kepada orang yang lebih tua. Abang enggak yakin kalau dia pergi dari rumah hanya untuk nge-kost. Lagian, dia tidak kenal siapa-siapa di sini," keluh Halim yang tidak percaya begitu saja dengan ucapan istrinya.


Mendengar Kebohongannya tidak mudah untuk dipercaya begitu saja, Imas pun semakin merasa khawatir. Jantungnya kembali berdegup kencang ketika menyadari suaminya semakin gencar menanyakan keberadaan Niram kepadanya.

__ADS_1


"Ya sudah, terserah Abang saja. Abang mau percaya dengan apa yang Imas bilang, syukur. Enggak juga, Imas kagak maksa!" pungkas Imas, mengakhiri kebohongannya.


Karena merasa jengkel dengan tingkah suaminya, Imas pun beranjak dari tempat tidur. Sepersekian detik kemudian, Imas mulai kembali menikmati sinetron yang selalu dia tonton di jam segini.


__ADS_2