Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Kecemasan Yura


__ADS_3

Yura merasa iba terhadap Niram. Entah kenapa ujian hidup seolah tidak berhenti menimpanya. Nahasnya lagi, ujian itu pun datang berturut-turut. Hingga akhirnya, Yura kembali mengajak Niram untuk tinggal bersamanya.


“Ayo kita pulang, Nir!” ajak Yura.


Sesaat, Niram menatap sendu ke arah Yura. Jauh di lubuk hatinya, dia tidak ingin menjadi beban lagi bagi orang lain. Akan tetapi, Niram tidak punya pilihan lain.


Ya, mungkin dia masih punya sisa tabungan. Namun, dia sendiri belum bisa bekerja. Karena itu dia harus berhemat demi kelangsungan hidupnya.


“Apa Mbak tidak keberatan jika aku tinggal lagi di rumah Mbak?” tanya Niram.


“Aih, lu ini ngomong apa sih, Nir. Gue, 'kan udah bilang kalau rumah itu, adalah rumah lu juga. Jadi lu berhak datang dan tinggal di sana sesuka hati lu, ngerti!” tegas Yura.


Niram hanya menganggukan kepalanya. Rasanya, ribuan ucapan terima kasih pun tidak akan pernah bisa membalas semua kebaikan Yura. Dalam hati, Niram masih sangat bersyukur. Seburuk apa pun dirinya, sehina apa pun keadaannya, dan setebal apa pun kotoran yang melekat di tubuhnya. Namun, Tuhan masih berbaik hati dengan memberikan Niram seorang sahabat seperti Yura.


Niram kembali menatap pria yang berusia sekitar 40 tahunan.


“Terima kasih atas pemberitahuannya, Pak. Dan terima kasih juga karena sudah mengemasi dan mengamankan barang-barang saya. Kalau begitu, saya permisi," pamit Niram kepada pengelola apartemen.


Pak Abas hanya tersenyum tipis menanggapi pamit Niram. Sejujurnya, dia sendiri merasa kasihan terhadap wanita belia itu. Namun, apa yang kita tanam, itu juga yang akan kita tuai. Bagaimanapun, wanita itu telah bersalah dengan menjadi kekasih pria beristri. Dan mungkin, inilah hukuman yang harus dia tuai akibat semua perbuatannya.


.


.


Tiba di depan rumahnya. Yura menghentikan langkah Niram untuk sejenak. Tak lama kemudian, dia mendahului Niram dan membuka kunci pintu rumahnya.


Yura membuka daun pintu lebar-lebar. Sesaat setelah itu, dia berdiri di ambang pintu seraya merentangkan kedua tangannya.


“Welcome back, Niram!” teriak Yura memberikan penyambutan kepada Niram.


Tingkah Yura pun membuat kedua sudut bibir Niram terangkat sempurna. Niram tersenyum. Lagi-lagi dia bersyukur atas apa yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.


Sebagai seorang sahabat, Yura memang selalu tahu bagaimana cara membuat dia tersenyum. Dan Niram sangat bersyukur akan hal itu.


“Terima kasih, Mbak,” ungkap Niram seraya menghambur ke dalam pelukan Yura.


Tak kuasa menahan rasa harunya. Niram mulai terisak di pelukan sahabatnya.

__ADS_1


"Ah, kenapa harus selalu melankolis seperti ini sih?” gerutu Yura seraya mengusap-usap punggung Niram.


Namun, Niram tidak menghiraukan ucapan Yura. Dia tau kalau Yura selalu bercanda. Yura itu paling benci dengan sebuah tangisan.


Niram melepaskan pelukannya. “Maaf, Mbak. Aku terlalu terharu dengan semua kebaikan Mbak,” jawab Niram, jujur.


“Ah, lu bisa aja, Nir,” balas Yura seraya mengibaskan tangannya. “Udah, ah. Masuk, yuk!” ajaknya lagi.


Niram mengangguk. Dia kemudian kembali menenteng tasnya dan mulai mengikuti Yura yang sudah terlebih dulu memasuki rumah.


.


.


Hari pun terus berlalu.


Rasa sakit yang pernah Alfaruk rasakan, setidaknya memberikan dia sebuah pelajaran. Jangan pernah menyakiti jika tidak ingin disakiti.


Karena rasa sakit itu juga, Alfaruk sedikit demi sedikit mulai menghargai usaha Karen dalam menjadi istri yang baik. Dia tidak pernah menuntut apa pun lagi. Bahkan, dia selalu berusaha untuk mengurus dirinya sendiri.


Jika ada sesuatu hal yang sekiranya bisa menimbulkan percekcokan dengan istrinya, Alfaruk lebih memilih pergi dan mengurung diri di kantornya.


Namun, meskipun begitu, Karen masih tetap merasa kesepian. Karena setelah kejadian di apartemen, dia merasa jika suaminya semakin menjaga jarak dengannya.


.


.


“Lu mau ke mana, Nir?” tanya Yura yang merasa heran ketika melihat Niram memoles diri.


“Aku mau kerja, Mbak. Tidak mungkin juga aku harus terus bergantung sama Mbak," jawab Niram seraya memoleskan gincu merah di bibir tipisnya.


“Ish, Nir … memangnya lu enggak inget apa kata dokter tempo hari? Lu itu kudu banyak istirahat. Enggak boleh cape-capean kek gitu. Apalagi kerja gituan. Udah deh, lu tungguin rumah aja. Biar gue aja yang kerja,” sahut Yura.


“Tapi, Mbak.”


“Udah, enggak usah pake tapi-tapian lagi. Sekarang juga, ganti baju dan tidur. Gue enggak mau kalau keponakan gue kenapa-kenapa, paham lu!” tekan Yura.

__ADS_1


“Iya, Mbak," sahut Niram.


Dengan terpaksa, Niram menghapus kembali make up yang sudah dia oleskan di wajahnya. Niram berajak dari kursi rias dan berjalan menuju lemari pakaian. Dia pun mengganti pakaian mininya dengan daster rumahan.


“Biar Niram buatkan makanan dulu buat Mbak sebbelum Mbak pergi kerja," ucap Niram seraya pergi ke dapur.


Yura mengangguk. Sesaat setelah Niram pergi ke dapur, Yura pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Malam ini, dia hendak menemui pelanggannya yang memiliki profesi sebagai seorang pejabat.


.


.


Dua minggu telah berlalu. Niram semakin tidak enak hati jika harus terus berdiam diri di rumah. Apalagi ketika Yura sakit dan masih memaksakan diri untuk bekerja, Niram pun semakin tidak nyaman.


“Aku mohon, Mbak. izinkan aku bekerja, ya. Mbak sedang sakit jadi beristirahatlah di rumah,” kata Niram.


“Udah deh, Niram. Lu enggak usah maksa lagi. Lagian gue cuma flu biasa. Gue masih kuat, kok,” tolak Yura.


“Ish, Mbak. Sebaiknya Mbak istirahat dulu, dan biarkan Niram yang bekerja,” lanjut Niram.


“Enggak, Nir. Sebelum anak itu lahir, gue enggak bakalan ngizinin lu kerja!” tegas Yura.


“Tapi kenapa, Mbak? Niram masih kuat, kok. Lagi pula, Niram janji, Niram enggak akan terlalu banyak mengambil orderan. Cukup satu atau dua aja. Niram janji, Niram akan pilih-pilih dan bakalan hati-hati supaya enggak mempengaruhi baby. Lagian kandungan Niram 'kan masih kecil juga, Mbak. Jadi belum terlalu sulit untuk bergerak,” tutur Niram.


“Ish, bukan itu malahnya, Nir,” tukas Yura.


“Lantas apa masalahnya, Mbak? Satu-satunya masalah di sini adalah, Niram harus bekerja. Niram enggak bakalan mungkin tega membiarkan Mbak bekerja dalam kondisi seperti ini,” sahut Nkram.”Lagi pula, ibu sudah telepon Niram, Mbak. Beliau minta dikirimi uang untuk biaya pengobatan ayah. Niram enggak mungkin berdiam diri seperti ini terus, Mbak. Kesehatan ayah lebih penting. Niram enggak mau ayah mengulangi pengobatannya lagi dari awal,” imbuh Niram mengemukakan alasannya.


Yura hanya bisa menghela napasnya. Sebenarnya dia tidak tega mengizinkan Niram bekerja. Namun, alasan Niram juga membuat dia tidak memiliki hak untuk melarangnya.


“Ya sudah, terserah kamu saja, tapi Mbak harap, kamu enggak terlalu memaksakan diri untuk melayani mereka hingga larut malam.”


“Iya, Mbak. Terima kasih.”


Niram memeluk Yura. Sejurus kemudian, dia mulai berdandan cantik untuk melakukann pekerjaannya.


Yura menatap iba sahabatnya yang tengah bersemangat berdandan.

__ADS_1


Sebenarnya, aku tidak mencemaskan fisikmu Niram, aku hanya mencemaskan psikismu. Kamu tidak tahu bagaimana kejinya hinaan pria hidung belang terhadap wanita malam yang tengah hamil, batin Yura, sakit.


__ADS_2