Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Disekap


__ADS_3

Sungguh, Niram benar-benar kebingungan dengan kata transaksi yang telah diucapkan Sukma dan wanita yang dandanannya terlihat seperti topeng monyet.


"Tra-transaksi apa, Paman? A-apa maksud semua ini? Se-sebenarnya, di mana kafenya?" tanya Niram polos.


Bukannya menjawab pertanyaan gadis polos itu, Sukma malah memberikan isyarat kepada kedua bodyguard Imelda untuk membawa pergi Niram.


Untuk sejenak, Togar dan Hamdan menatap Imelda. Sesaat setelah Imelda mengangguk, kedua pria bertubuh tegap itu pun segera menyergap Niram.


"Eh, apa-apaan ini? Ka-kalian mau apa?" teriak Niram, memberontak.


Namun apalah arti tenaga Niram dibandingkan dengan tenaga kedua pria bertubuh tegap itu. Mulut Niram dibekap begitu kuat. Sedetik kemudian, tubuh tinggi semampai itu diseret ke sebuah kamar yang minim cahaya


Brugh!


Tubuh Niram didorong kuat hingga terjerembab di atas ranjang.


Klik!


Sedetik kemudian, Togar menekan saklar hingga lampu minim cahaya itu, padam seketika.


Brak!


Klek!


Tak lama berselang, Hamdan menutup pintu dengan kuat dan menguncinya. Akhirnya, gadis desa itu disekap di dalam sebuah kamar tanpa sedikit pun pelita.


Dug-dug-dug!


"Lepaskan aku! Keluarkan aku dari sini! Tolong! Tolong!"


Niram terus berteriak-teriak sembari menggedor pintu kamar tempat dia disekap. Namun, kedua pria itu tak menggubris teriakan Niram. Dia hanya menyeringai seraya berlalu meninggalkan Niram di kamar gelap gulita.


Di sebuah kamar yang cukup mewah.


"500 juta, deal!" ucap Imelda seraya melempar selembar cek di depan Sukma.


"Ais, yang bener aje lu! Masak masih ranum gitu lu hargain segini," jawab Sukma, sedikit pun tak menyentuh selembar cek yang tergeletak di lantai.


"Ranum menurut lu, belum tentu juga mengkal," ledek Imelda.

__ADS_1


"Ajig gile! Lu kagak tau aje, nih. Eh, Melda! Asal lu tahu, ye. Ntuh bocah ponakannya si Halim, lakinya si Imas. Bawa dari kampung pula, gimana bisa kagak mengkal begitu," sahut Sukma sedikit emosi karena Imelda seolah menyepelekan hasil tangkapannya.


Sebenarnya, Imelda sudah bisa melihat jika gadis yang dibawa Sukma, adalah gadis lugu yang pastinya masih polos. Sama sekali belum tersentuh tangan-tangan jahil seorang pria. Namun, Imelda sendiri tidak mau merugi. Dia tidak akan mungkin menghambur-hamburkan uang demi seorang gadis yang sudah tentu akan memberontak dan tidak merasa nyaman dengan pekerjaannya kelak.


Imelda menghampiri Sukma. Dia kemudian berjongkok untuk mengambil cek yang tadi ia lemparkan. Sedetik kemudian, Imelda merobek cek tersebut dan menuliskan nominal lagi pada lembaran cek kedua.


"650 juta, dan gue harap tidak ada penawaran apa pun lagi!" tegas Imelda seraya mengacungkan cek tersebut di depan wajah Sukma.


Pria tua itu menyeringai. Dia kemudian menyambar cek tersebut dari tangan Imelda. "Senang bekerja sama dengan Anda, Mamih Imel," ucapnya tersenyum smirk.


"Huh, banyak bacot lu! Sana pergi!" usir Imelda yang merasa jengah dengan raut wajah Sukma.


"Permisi ... cantik!" pamit Sukma seraya mencubit pelan pipi Imelda


"Iyy, najis!" dengus Imelda, sembari mengusap-usap pipi yang disentuh jari keriput si pria tua.


.


.


Natasya tiba di sebuah halte bus tempat dia membuat janji temu dengan teman barunya. Namun, di sana Natasya tidak melihat sahabatnya itu Sekali lagi, dia mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Niram. Namun, hasilnya tetap sama. Gadis berkerudung itu sama sekali tidak terlihat di sekitar halte bus.


"Sorry, Sya. Ya mau gimana lagi, namanya juga panggilan alam," sahut Ahsan, mencoba membela diri.


"Lagian kelakuan lu dari kecil kok enggak berubah-ubah sih, San. Gimana mungkin lu bisa gendut-gendut, jika abis makan lu langsung BAB." Niram meledek kebiasaan sahabatnya.


"Yeayy, namanya juga udah kebiasaan, Sya. Ya susah, mau ditolak juga," jawab Ahsan.


"Tapi harusnya lu bisa tahu waktu dong, San. Kalau kek gini, 'kan kasihan temen gue nungguin kelamaan," keluh Natasya.


"Ya, maaf Sya ... gue, 'kan enggak tahu kalau temen lu baperan gitu," tukas Ahsan.


"Kok baperan, sih!" kata Natasya cemberut.


"Ya abisnya ... telat dikit aja langsung kabur," jelas Ahsan.


"Dikit dari mana Bambang! Lu enggak nyadar kita telat hampir dua jam," sewot Natasya.


"Iya-iya, gue minta maaf ... gue ngaku salah," jawab Ahsan, "terus, sekarang kita ke mana, nih?" imbuhnya.

__ADS_1


Natasya diam. Dia sendiri bingung harus mencari Niram ke daerah mana. Jakarta itu luas. Meskipun dia memang terlahir di kota metropolitan ini, tapi sampai usianya menginjak 20 tahun, dia sama sekali tidak bisa menghapal semua wilayah yang ada di Jakarta.


"Ya udah, antar gue ke Tambun aja," lanjut Natasya.


"Tambun? Jauh banget, Neng!" Protes Ahsan.


"Bodo amat! Itu sebagai hukuman lu karena udah telat nganterin gue. Ngerti!" tegas Natasya seraya berkacak pinggang.


"Iya-iya."


Ahsan mengalah. Dia akhirnya mengantarkan Natasya untuk pergi ke Tambun menemui kerabatnya.


.


.


Lelah menggedor pintu kamar selama berjam-jam, akhirnya Niram mulai menyerah. Dia menjatuhkan tubuhnya di depan pintu. Tangannya memeluk kedua lututnya dengan erat.


Meskipun Niram tidak mengerti dengan kejadian yang telah menimpanya. Namun, Niram yakin jika semuanya tidak sedang baik-baik saja. Terlebih lagi dia diperlakukan tidak manusiawi dengan cara disekap di sebuah kamar yang gelap.


Niram hanya bisa menumpukan wajah di antara kedua lututnya. Dia tidak menyangka jika dia akan mengalami nasib buruk seperti ini. Seketika, dia teringat kembali perkataan terakhir yang dia dengar dari mulut Sukma.


Transaksi? Apa maksud bapak tua itu mengatakan transaksi? Apa dia sedang memperdagangkan aku? Apa dia telah menjual aku pada perempuan tua itu? batin Niram mulai menduga-duga.


Seketika, Niram mulai dihantui pikiran buruk tentang perdagangan manusia yang sering dia dengar terjadi di kota-kota besar. Kedua bahunya bergidik ngeri membayangkan jika dia telah menjadi salah satu korban dari kejahatan perdagangan manusia.


"Astaghfirullahaladzim! Aku harus segera keluar dari sini. Atau kalau tidak, hidupku akan berakhir tragis," gumam Niram.


Dengan sisa tenaga yang masih dia miliki, Niram kembali berdiri. Dia terus menggedor-gedor pintu kamar penyekapan. Berharap ada malaikat yang akan menolongnya dari kegelapan tempat ini.


Ya Tuhan ... tolong lindungilah hamba," jerit Niram dalam hatinya.


"Buka pintunya! Saya mohon, keluarkan saya dari sini! Saya janji, saya akan melakukan apapun yang kalian minta. Tapi tolong keluarkan saya dari sini!"


kembali Niram meracau lemah dari balik pintu ruang penyekapannya.


Mendengar racauan yang memilukan, Imelda bukannya merasa iba. Dia malah semakin terlihat senang dengan ratapan gadis itu.


"Tunggulah sebentar lagi, Nak. Jika sudah tiba waktunya, Mamih pasti akan mengeluarkan kamu dari kamar pengap itu!"

__ADS_1


__ADS_2