
"Yap, ini sedotannya!" pekik gadis itu setelah berhasil mendapatkan sebuah sedotan. Tak lama kemudian, sembari berlari kecil gadis itu kembali ke kamarnya. "Minumlah!" perintahnya seraya menyodorkan sedotan.
Niram berusaha untuk bangun. Namun, kepayahan lagi-lagi menderanya. Dengan terpaksa, dia pun hanya mengangkat kepala untuk bisa menyedot air dari dalam gelas.
Setelah kerongkongannya terasa basah, Niram kemudian merebahkan kepalanya kembali. Sejenak dia menatap kosong langit-langit kamar. Sama sekali tidak ada pergerakan dari Niram. Hingga akhirnya, gadis itu memutuskan untuk mengawali perbincangan.
"Siapa kamu, dan kenapa tengah malam kamu bisa pingsan di tengah jalan seperti itu?" tanya sang gadis.
Bukannya menjawab, Niram malah berlinang air mata. Dan sedetik kemudian, dia berteriak histeris. Membuat gadis itu terlonjak dari tepi ranjang.
Untuk sejenak, sang gadis hanya melihat Niram yang sedang tersedu-sedu di tempatnya. Terlihat beberapa kali Niram ingin menyampingkan tubuhnya, sebagai upaya untuk menghindari tatapan sang gadis. Namun, tidak bisa.
Perlahan, gadis itu pun mendekati Niram.
Melihat begitu banyak luka lebam di beberapa bagian tubuh Niram, dan juga tanda-tanda merah kebiruan di sekitar leher dan dada Niram, gadis itu bisa menyimpulkan sesuatu yang buruk, pasti terjadi kepadanya.
"Maaf, apa kau mengalami pelecehan? Atau mungkin penganiayaan, emh ... atau kau telah digauli seseorang secara paksa?" tanya gadis itu tanpa tedeng aling-aling.
Niram tidak menjawab, hanya isak tangisnya saja yang semakin kencang.
Terdengar helaan napas yang cukup berat dari gadis itu. Entah kenapa, sedikit pun tidak tersirat rasa simpati dari raut wajahnya. Gadis itu hanya menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan.
"Gue mandi dulu. Menangislah jika itu bisa membuat hati lu lega. Tapi asal lu tahu, menangis darah pun tidak akan pernah mengembalikan keperawanan lu. Jadi enggak usah terlalu didramatisir. Toh hidup itu hanya sekali, dan lu harusnya bersyukur karena setidaknya bajingan itu tidak melenyapkan nyawa lu!" ucap gadis itu panjang lebar.
Ada nada geram dari nada bicaranya. Tak lama berselang, gadis itu pun meninggalkan Niram yang masih terus sesenggukan.
.
.
"Ah syukurlah, akhirnya lu ngehubungi gue, San. Lu dari mana aja sih? Kok enggak ngangkat telepon gue," gerutu Natasya ketika mengangkat sambungan telepon dari sahabatnya.
"Sorry, Sya. Gue abis shalat subuh," jawab Ahsan di ujung telepon.
"Hei, sejak kapan shalat subuh pindah jam tayang," sindir Natasya yang merasa aneh dengan jawaban Ahsan.
"Hehehe, semalaman gue enggak bisa tidur, Sya. Ya udah, telat bangun deh," jawab Ahsan, jujur.
"Lah, emangnya kenapa lu enggak bisa tidur, San? Jangan-jangan, lu mikirin cewek ya?" goda Natasya.
__ADS_1
"Huft!" Hanya embusan napas kasar yang terdengar dari ujung telepon.
"San, are you oke?" tanya Natasya.
"Sure! I'm fine," jawab Ahsan.
"Tapi kok, elu kedengeran gelisah banget, San? Keadaan di rumah baik-baik aja, 'kan?"
Natasya bertanya dengan penuh kecemasan. Suasana di rumah sahabatnya, tidak jauh lebih baik dari rumahnya sendiri. Hanya saja, kedua orang tua Natasya selalu saling menyahut setiap kali timbul perdebatan. Sementara orang tua Ahsan, masih bisa menyembunyikan pertengkaran mereka.
"Baik kok, Sya. Bokap nyokap gue baik-baik saja," sahut Ahsan, tidak ingin membuat sahabatnya merasa cemas.
"Terus lu kenapa? Dari nada suara lu, kelihatan banget kalo lu tuh sedang kuatirin sesuatu," lanjut Natasya.
"Enggak, Sya. Gue enggak pa-pa," elak Ahsan.
"Huh, gue harap lu enggak lagi bohong sama gue," rengut Natasya.
"Hahaha ... tenang aja, Sya. Gue enggak bohongin lu, kok," sangkal Ahsan. "Oh iya, ngomong-ngomong ada apa lu tadi ngehubungi gue?" lanjutnya.
"Emh, gue mau minta dijemput pulang. Itu pun kalau lu punya waktu, jawab Natasya.
"Tenang aja, Sya. Gue selalu punya waktu kok, buat lu," ucap Ahsan.
"Ya sudah, gue tunggu di sini ya. Awas GPL," ucap Natasya, manja.
"GPL?" ulang Ahsan.
"Gak Pake Lama!" tegas Niram.
"Oalah ... siap, Bos!" balas Ahsan.
Tawa renyah pun terdengar dari keduanya sesaat sebelum pasangan itu memutus komunikasi.
.
.
Kruuuk!
__ADS_1
Menahan lapar sedari disekap, menyebabkan perut Niram berkonser ria. Tentu saja hal tersebut membuat si penolong merasa heran. Lagi-lagi dia menarik napas panjang ketika menyadari keadaan Niram.
"Udah, lu kagak usah nangis lagi. Sekarang, gue ke depan dulu buat nyari sarapan. Inget, lu tunggu di sini! Enggak usah ngarep bisa kabur! Awas aja kalau lu coba-coba lari, gue kirim ke babeh Ali sekalian," ucap gadis itu seraya mengacungkan telunjuknya. Seperti seorang ibu yang sedang memberikan ancaman kepada anaknya.
Niram diam. Jangankan kabur, untuk menggerakkan bibirnya pun dia sudah tidak berdaya. Niram hanya bisa mengamati gerak-gerik gadis yang sedang berganti pakaian.
Tanpa merasa malu, gadis itu membuka kimono tidurnya di hadapan Niram. Sedetik kemudian, dia memakai t-shirt dan celana panjang. Selesai berganti pakaian, gadis itu pun keluar kamar.
Niram kembali mengedarkan pandangannya. Menyusuri setiap jengkal isi kamar ini melalui retinanya. Tiba-tiba, mata Niram terkunci kepada sebuah bingkai yang terdapat kata Yura di dalamnya. Hmm, apakah nama gadis yang menolongnya itu Yura? Tapi bagaimana dia bisa bertemu dengan Yura? Bukankah malam sudah semakin meninggi tatkala Niram keluar dari rumah tua itu?
Merasa tidak mendapatkan jawaban atas setiap pertanyaannya, Niram pun kembali memejamkan mata. Bayangan wajah keriput kedua orang tuanya, membuat dada Niram kembali sesak. Air mata yang sudah mengering, kini kembali luruh.
Ya Tuhan ... apa yang harus aku katakan kepada mereka? batin Niram.
Setengah jam berlalu. Gadis itu kembali dengan menenteng plastik hitam di tangannya.
"Apa lu bisa bangun?" tanyanya kepada Niram.
Niram tidak menjawab. Namun, gerakan tubuhnya mengisyaratkan jika dia sedang berusaha untuk bangun.
"Huh, payah!" dengus gadis itu.
Setelah menyimpan plastik berwarna hitam di atas meja riasnya, gadis itu pun membungkukkan badan untuk membantu Niram bangun.
"Nah, beres!" ujar gadis itu, "sekarang waktunya makan," lanjutnya seraya meraih bungkusan tadi.
Dengan cekatan, gadis itu mengeluarkan dua bungkusan nasi dari dalam kantong kresek. Dia kemudian menyerahkan bungkusan itu kepada Niram.
"Lu bisa makan sendiri, 'kan? Atau mau gue suapi?" tawarnya.
Niram menggelengkan kepala. Sepersekian detik kemudian, dia mengambil bungkusan nasi itu dari tangan sang gadis.
"A-apakah Yu-yura, namamu?" tanya Niram terbata.
"Oh iya, kita belum kenalan," sahut gadis itu. "Kenalin, nama gue Yura. Si primadona malam," ucapnya dengan penuh kebanggaan.
Niram menyambut uluran tangan orang yang mengaku bernama Yura. Meskipun di dalam hatinya, dia tidak mengerti maksud dari kalimat si primadona malam.
"Na-nama sa-ya, Niram," balas Niram terbata.
__ADS_1
"Ya sudah, makanlah! Lu butuh asupan gizi untuk melupakan semua kejadian buruk dalam hidup lu. Makanlah!" Kembali Yura memberikan perintah.
Niram hanya mengangguk. Setelah bungkusan nasi terbuka, Niram mulai menyendok nasi uduk yang dibeli si penolong.