
Imas berteriak untuk mencegah Niram memasuki kamar mandi. Sesaat kemudian, dia menghampiri Niram yang sedang terpaku di depan pintu kamar mandi.
"Minggir!" ujar Imas seraya mendorong kasar tubuh keponakan dari suaminya itu.
Niram sedikit terhuyung. Beruntung di bisa segera menguasai keseimbangan tubuhnya sehingga tidak terjatuh. Sejenak, Niram hanya bisa terpaku begitu melihat bibinya memasuki kamar mandi dan menutup keras pintunya.
Kenapa harus bersikap sekasar itu, Tan. Padahal jika Tante meminta aku untuk tidak mendahului Tante ke kamar mandi, tentu aku tidak akan mendahuluimu, batin Niram.
Setelah 15 menit menunggu, pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Masih memasang muka tak bersahabat, Imas keluar dari kamar mandi. Sejak Niram datang tadi sore hingga sekarang, Imas sama sekali tidak berniat untuk menegurnya. Bagi Imas, keberadaan orang lain di rumah kontrakannya, hanya akan menjadi beban saja.
Niram menarik napas dalam-dalam. Semenjak pamannya menikah, Niram memang tidak terlalu mengenal bibinya. Maklum saja, karena keadaan ekonomi, Niram tidak diajak untuk menghadiri pernikahan pamannya di kota. Dia sempat bertemu bibinya sekali, yaitu pada saat sang paman memperkenalkan Imas kepada ayah dan ibunya, jauh sebelum mereka menikah.
Hhh, sebaiknya aku segera berwudhu sekarang. Waktu magrib hanya sebentar, keburu akhir nanti, gumam Niram dalam hatinya.
Selesai berwudhu, Niram kembali ke kamar yang lebih tepat dibilang gudang. Dia pun mulai mendirikan shalatnya sebanyak tiga rakaat.
Selesai shalat, Niram mengaji untuk menunggu waktu isya tiba. Jarak magrib ke isya hanya sekadar satu jam lebih, karena itu Niram menahan diri supaya tidak batal wudhu. Dia enggan jika harus berpapasan dengan bibinya lagi.
Lantunan ayat suci Al-Quran dari bibir Niram terputus saat seseorang mengetuk pintu kamarnya. Gadis yang memiliki tinggi badan sekitar 165 cm itu pun, segera beranjak dari atas sajadah. Dia mendekati pintu kamar dan membukanya.
"Eh, Rayyan. Ada apa, Dek?" tanya Niram begitu melihat Rayyan berdiri di depan pintu kamarnya.
"Kakak ditunggu di meja makan sama papa," jawab Rayyan. "Kata papa, kita makan malam bersama," lanjut Rayyan.
Niram melirik jam beker yang selalu dia bawa sebagai alarm untuk bangun tidurnya. Hanya tinggal 8 menit menuju waktu isya. Niram pun memutuskan untuk shalat isya terlebih dahulu sebelum mengisi perutnya yang kosong.
"Tolong katakan sama papa kamu, Dek, Kakak nanti saja makannya. Sebentar lagi waktu isya tiba. Kakak mau shalat isya dulu," jawab Niram, lembut.
"Oke, Kak," jawab Rayyan.
__ADS_1
Anak laki-laki itu pun berlalu dari depan kamar kakak sepupunya.
Tiba di ruang makan.
"Loh, kak Niram mana?" tanya Halim kepada anaknya.
"Kak Niram mau shalat isya dulu, Pa. Katanya, dia makan malamnya nanti saja, selesai shalat," jawab Rayyan.
"Kamu enggak paksa dia, Bang. Dari tadi siang kak Niram belum makan loh," lanjut Halim.
Rayyan hanya menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, biar Papa aja yang ajak dia," sahut Halim seraya hendak beranjak dari tempat duduknya.
Namun, Imas mencekal pergelangan tangan suaminya.
"Tunggu, Bang!" cegah Imas.
"Sudah, jangan ganggu ibadah keponakan kamu. Dia itu Berbeda dengan kita. Dia bisa menahan lapar demi shalat, tapi kita enggak. Sudah, kita makan duluan saja. Memangnya kamu tega calon anak kamu kelaperan hanya karena nungguin dia," kata Imas panjang lebar.
Hmm, apa yang dikatakan istrinya memang benar. Bukan hanya anak yang berada dalam kandungan istrinya saja yang akan merasa lapar. Dirinya juga sudah sangat lapar karena melewatkan jam makan siangnya.
"Ya sudah, ayo kita makan," ajak Halim. "Jangan lupa, sisakan juga untuk kak Niram nanti," pungkas Halim.
Imas hanya tersenyum menyeringai mendengar perintah suaminya.
Di dalam kamar belakang.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh!" ucap Niram seraya menengok ke kanan. "Assalamu'alaikum," lanjutnya sambil menengok ke kiri.
__ADS_1
Selesai shalat dan berdo'a, Niram membuka mukena dan melipatnya. Setelah itu dia kemudian menyimpan peralatan shalatnya di sebuah rak kecil di sudut ruangan.
Untuk sejenak, Niram merapikan rambutnya. Setelah itu, dia keluar kamar dan melangkahkan kaki menuju ruang makan untuk bergabung bersama keluarga Halim.
Tiba di ruang makan, tak satu pun orang berada di sana. Padahal, selepas shalat isya, Niram hanya yasinan saja. Namun, suasana malam di kota memang sangat berbeda. Meskipun riuhnya kendaraan masih terdengar dari kejauhan, tapi orang rumah sudah tidak kelihatan.
Apa mungkin mereka sudah beristirahat di kamarnya? batin Niram.
Gadis bertubuh semampai dan memiliki tubuh sintal bak gitar Spanyol itu pun berjalan menuju meja makan. Dia membuka tudung saji di atas meja. Namun, kosong. Tidak ada makanan di balik tudung saji tersebut.
Sejenak, Niram mengedarkan pandangannya. Berharap tatapan matanya akan bertemu dengan sebuah benda pintar yang disebut magic com.
"Ah, itu dia," gumam Niram seraya menghampiri tempat menyimpan magic com.
Namun, lagi-lagi Niram harus menelan kekecewaan. Si penanak nasi pintar itu telah tercabut dari setrumnya. Bahkan, tak ada sekepal nasi pun yang tersisa di dalam teflonnya. Niram hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Kini dia yakin kalau tak ada satu pun yang bisa dia makan. Akhirnya, dengan lemas, Niram kembali ke kamarnya.
Tiba di kamar, Niram membuka tas jinjingnya. Dia mengeluarkan pakaian tidurnya. Tidak ada lemari pakaian di kamar ini. Akhirnya, Niram hanya mengeluarkan pakaian yang dia butuhkan saja.
Ya Tuhan, baru setengah hari, tapi aku sudah merasa tidak betah tinggal di rumah ini. Ish, bagaimana mungkin aku bisa betah jika si empunya rumah tidak menerimaku dengan tulus, batin Niram.
Selesai berganti pakaian, Niram kembali menggelar sajadah. Dia duduk bersila di atas sajadah seraya memangku tas selempangnya. Niram membuka resleting saku bagian depan tasnya. Niat dia hanya untuk mengambil dompet kecil miliknya. Namun, siapa sangka Niram meraba bungkusan plastik kecil yang terasa kenyal.
"Ish, apa ini?" gumam Niram seraya mengeluarkan bungkusan itu.
Niram tersenyum tipis saat melihat sisa goreng singkong yang dibekalkan ibunya tadi pagi. Sudah dingin memang, tapi lumayan untuk mengganjal perutnya malam ini.
Belum ada sehari dia tinggal di perantauan. Namun, dia sudah sangat merindukan orang tuanya. Ibunya yang tidak pernah membiarkan dia kelaparan seperti ini. Dan juga ayahnya yang sama sekali tidak pernah membiarkan dia tidur dengan perut kosong. Niram merindukan kedua orang tua itu.
"Ingatlah, Nak. Jika kau merasa lemah karena merindukan kami, tatap gelang yang berliontinkan namamu. Niscaya kerinduan kamu akan terobati dan kamu akan bisa menjadi kuat lagi."
__ADS_1
Pesan ibu Niram selalu terngiang di telinganya. Niram mengangkat tangan. Namun, betapa terkejutnya saat dia melihat pergelangan tangannya sendiri.
"Eh, ke mana gelangku?"