
Meridian sulit bersikap normal ketika untuk kedua kalinya, secara terbuka, ia bertemu Herdian. Pria itu memberinya senyum ramah dengan kesan mereka punya hubungan pertemanan rahasia yang berharga, tapi penilaian Meridian padanya sudah kacau.
Jadi dia hebat bukan karena dia hebat melainkan karena dia second male lead?
Sama saja bohong.
Bukan berarti Meridian menganggap semua orang kaya yang hebat itu karena dunia menciptakan mereka demikian, tapi khusus di dunia ini, khusus dalam cerita Herdian, Meridian, Andaru, semuanya OP karena Laila membuat mereka OP.
Tanpa latar belakang.
Coba tanyakan pada Herdian mengapa dia bisa begitu berbakat. Paling jawabannya karena dia keturunan Duke.
Di dunia modern, orang yang lahir dengan piring emas dan sendok perak hanyalah orang manja yang tidak memiliki kesensitifan terhadap kerja keras.
Mereka mungkin bekerja keras, tapi berbeda dari kerja keras orang yang berada di bawah sejak lahir.
Makanya, kedewasaan mereka akan berbeda.
Mau sebijaksana apa pun, kalau sejak kecil dia merasakan kenyamanan hidup, indranya cuma tajam dalam bertahan, tidak dalam menyerang untuk mendapatkan hasil.
Sama seperti Meridian ini. Kenapa ia punya kekuatan sihir super?
Karena ia tokoh utama.
Kenapa Andaru memenangkan perang?
Karena dia tokoh utama.
Memuakkan.
"Aku sudah merasa tertular kegilaanmu itu." Lucas mendumel dan ikut memijat keningnya. "Dia terus membuat ekspresi seperti itu sejak tadi. Sebenarnya apa yang tidak kamu sukai?"
"Aku hanya bertanya-tanya." Meridian mengabaikan gerutuan itu. "Tuan Duka Muda tampaknya sekuat Raphael, tapi kenapa Anda tidak disebut sebagai penyihir berbakat?"
Herdian tersenyum. Sepertinya Anda sedikit marah pada saya. Apa karena saya tiba-tiba pergi malam itu, atau karena saya tidak memberitahu nama keluarga saya?
Senyum Meridian ikut terbentuk. Sepertinya Anda sedikit salah paham, Yang Mulia. Saya tidak terlalu peduli Anda datang atau tidak pada saya, juga tidak peduli dengan nama keluarga Anda.
Menghina bangsawan tinggi mungkin akan menyebabkan masalah. Tapi kan ini telepati. Hanya Meridian yang mendengar, jadi tidak seperti dia bisa mengekspresikan rasa marah jika tersinggung.
"Menjadi penyihir kerajaan mengharuskan seseorang bekerja dibawah perintah langsung Kaisar dan kuil." Dion menatap misterius pada Meridian. "Penerus Duke seperti Herdian berbeda dari Raphael."
"Herdian hanya diberi batasan oleh kuil. Tidak secara resmi diumumkan."
Raphael menambahkan balok gula ke teh Meridian tanpa diminta. Mengaduknya penuh perasaan sebelum disajikan pada sang adik tercinta.
"Walau begitu, tidak banyak kasus penyihir menyembunyikan kemampuannya. Pihak kerajaan dan kuil akan menganggap tindakan semacam itu sebagai pemberontakan."
"Jadi aku adalah pemberontak?"
"Lihat!" Lucas langsung menunjuk Meridian. "Lihat senyum menakutkan itu! Mana mungkin Meridian melakukannya! Dia dirasuki sesuatu!"
Benar.
"Aku akan menganggap itu sebagai candaan." Dion menyesap tehnya penuh keanggunan.
Sebuah gerakan yang seolah-olah dilakukan bukan untuk minum teh, tapi untuk pamer dia tampan.
"Tentu saja, aku akan menanyakan alasanmu. Apa kamu mengerti bahwa situasimu bukan permainan sekarang?"
"Kurasa sebaikan kita semua tenang." Herdian menyela.
Kali ini, dia tidak menggunakan bahasa formal.
"Raphael dan aku sudah melakukan pengecekan secara berkala. Tidak ada kecenderungan negatif dalam diri Nona Muda."
Padahal Meridian jujur.
Jangan-jangan sihir di dunia ini masih belum di-upgrade hingga banyak bug? Pendeteksi jiwanya salah, pendeteksi niatnya pun salah.
"Meridian." Dion menatapnya tajam. "Apa alasanmu berteriak ingin membunuh?"
Hei, bukankah itu berlebihan? Berteriak dan melakukannya kan dua hal berbeda!
"Aku hanya berpikir mereka terlihat bodoh."
__ADS_1
"Siapa mereka?"
Si Putra Mahkota, si Tuan Putri, lalu si Putra Duke ini.
"Mengapa kalian membesar-besarkan masalah seakan aku benar-benar bisa membunuh?"
Inilah perbedaan orang modern dan orang kuno ini. Hukum di dunia modern menyulitkan pembunuhan. Bahkan perang saja dilakukan secara virtual.
Mana mungkin Meridian sungguhan membunuh.
"Nona Muda, tolong jangan katakan sesuatu yang menakutkan. Pikiran dan perkataan juga memengaruhi jiwa seseorang."
"Aku hanya mengekspresikan kekesalanku, ya Tuhan. Aku kesal mendengar Pangeran Andaru memenangkan peperangan. Puas?"
Mereka kompak saling menatap.
Lucas menatapnya seolah Meridian makin tidak waras. "Ada apa denganmu dan Pangeran? Aku tidak percaya setelah bertahun-tahun Tuan Putri mengganggumu, baru sekarang kamu menyerah karenanya. Pernikahan kalian kan di depan mata."
Dia mendapat lirikan dari semua orang.
"Maksudku, tentu saja itu niat yang baik. Tapi kamu bukannya menyukai Pangeran?"
Meridian memegang kepalanya lagi.
"Lihat, dia melakukannya lagi! Gerakan itu menakutkan! Hentikan!"
Gara-gara reaksi Lucas, Meridian merasakan sihir penyembuh Herdian mengelilingi kepalanya. "Mungkinkah karena benturan, Nonaku?"
Lucas menghilang dan kembali dalam sekejap. "Aku menyuruh mereka menyiapkan kantong kompres untukmu. Gunakan ini dan berhenti membuat wajah menyeramkan."
"Ada apa?" Dion sepertinya lebih waras.
"Meridian." Raphael bantu memegangi kompres di kepalanya. "Jangan memaksakan diri. Semua baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja."
Ayo jelaskan sebelum mereka mengumumkan pada dunia bahwa Meridian sakit kepala.
Putri Marquis mengapa serasa putri dewi?
"Apa yang membuatmu kesal, Nona?" Herdian mengubah intonasi dan gaya bicaranya pada Meridian. "Mungkinkah ... Pangeran?"
Sejujurnya Meridian mau menyemburkan api seperti naga gila hanya dengan mendengar kata pangeran. Sungguh ia muak dengan plot cerita ini. "Tuan Duke Muda, apa Anda ingin melihat saya muntah darah?"
"Apa?!"
"Jika tidak, berhenti menyebut si Pangeran itu. Dan Lucas, aku membencinya. Jika dulu aku menyukainya, maka sekarang dan seterusnya, aku membencinya."
"Aku rasa itu cukup." Dion membanting cangkirnya ke meja. "Beritahu aku sejujurnya apa masalahmu. Pertengkaranmu dan Tuan Putri? Atau mungkin karena kamu sedang bosan menunggu Yang Mulia kembali dari medan perang? Kami memajukan pernikahan karenamu, kamu mengerti? Sekarang kamu ingin kami membatalkannya?"
Meridian lebih fokus pada kata 'kami memajukan karenamu'.
Jadi si Meridian di dunia ini sudah menyukai Andaru?
Tapi kenapa si Tuan Putri yang jadi antagonis? Kenapa bukan si Putri Duke Valentine atau entah siapa itu?
"Apa yang membuatmu bisa percaya aku lupa ingatan, Kakak Pertama?"
"Tidak ada. Aku tidak percaya." Dion bahkan tidak berpikir dua kali. "Aku hanya percaya bahwa kamu tidak berbohong mengenai kekuatan sihirmu. Selebihnya, aku tidak bisa memastikan."
"Bagaimana jika kubakar tempat ini?"
Tentu saja bercanda. Tapi dalam strategi mengancam seseorang, lakukan seperti kalian benar-benar akan mewujudkan ancaman itu.
"Sepertinya Meridian yang kamu ketahui itu penakut dan entah semenyedihkan apa. Aku adalah aku. Aku tidak mengingat apa pun atau siapa pun, jadi akan kubakar di depan matamu agar setidaknya kamu tahu aku tidak peduli."
Mereka bertukar pandangan dengan sengit.
Orang ini, dari semuanya, sejak awal mencurigai Meridian.
Tapi karena dia terus menganggap ia pura-pura amnesia, Meridian jadi kesal.
Apa tidak ada anggapan yang lebih berkelas? Kenapa pula seseorang pura-pura amnesia?
Entah dia tolol atau tajam.
__ADS_1
"Adikku, tenanglah." Raphael menggenggam tangan Meridian yang siap menjentik kapan saja.
"Tuan Muda, bukankah Anda sudah sedikit berlebihan?" Herdian menyerang Dion. "Memikirkan Nona Muda amnesia tanpa cedera memang sedikit tidak masuk akal, tapi apa Anda ingin berkata, gadis pemberani ini adik Anda yang canggung dan manis? Kita hanya berada dalam situasi belum memahami keadaan dan belum menemukan penjelasan. Bukankah Anda terlalu menekan Nona Muda?"
Sial.
Dia bijaksana sekali!
Meridian mau jatuh cinta tapi juga ilfil pada latar belakangnya!
".... Aku mengerti." Dion, diluar dugaan, mengalah begitu saja.
Walau dia tidak minta maaf.
Biasanya tipe seperti dia tidak akan minta maaf karena gengsi. Meridian juga ilfil pada karakternya.
Hadeh.
"Apa tidak ada cara bagimu menyelidikinya?" Lucas malah jadi serius. "Aku juga sakit kepala meladeninya. Dia terlalu berbeda dari Meridian yang sebelumnya. Mungkin dia bukan amnesia. Kepribadiannya berubah."
Seberbeda apa?
Tidak, tunggu.
Kecuali Laila berbohong, maka Meridian yang ini punya kepribadian Meridian di dunia nyata.
Sebenarnya, Meridian memang tidak sedingin ini. Tapi karena ini dunia fantasi, ia emosi pada plot sampah dan karakter antah-berantah terus bermunculan.
"Kurasa aku berlebihan." Meridian menghela napas. "Maaf. Aku hanya tidak menyukai perasaan asing melihat kalian."
"...."
Apa?
Ia sudah minta maaf.
Masih berbeda dari Meridian?
Apa Anda sedang coba meyakinkan mereka, Nonaku?
Meridian melirik Herdian.
Mungkin seharusnya kami menjelaskan ini pada Nona. Nona Meridian sebelum Anda amnesia adalah gadis peragu. Beliau sangat mementingkan pendapat orang lain hingga sering merasa canggung berbuat, dan tidak berani meminta maaf selantang itu.
Jadi maksudnya ia makin mencurigakan?
Pantas saja Lucas histeris.
Kalau begitu, sepayah apa Meridian dibuat oleh Laila?!
Bagaimana jika saya membantu Nona?
Dengan cara?
Tolong lakukan yang saya katakan.
Meridian diam mendengar instruksi Herdian. Isinya agak menyebalkan, tapi cukup masuk akal.
Lagi-lagi ia dibantu oleh tokoh yang tidak ia sukai.
Mau bagaimana lagi.
"Aku tidak lagi mengenal siapa Pangeran Mahkota." Meridian menatap mata Dion dalam-dalam. "Aku tidak mengenal dia sedikitpun. Sedikitpun, Kakak. Bagaimana aku menikahi orang yang tidak kukenali?"
"...."
"Apa aku terlihat berbohong di matamu? Kalau begitu lakukan saja yang kalian mau. Aku akan menikahi siapa pun itu, Pangeran atau Raja. Toh, sepertinya keinginanku tidak lagi penting."
"...."
"Kakak Kedua." Meridian beranjak. "Tolong bawa aku ke tempat tidur. Kurasa aku lelah."
Lucas beranjak dengan kaku. Seperti robot yang diprogram, dia mengantar Meridian, tanpa menyadari bahwa itu semua siasat Herdian.
...*...
__ADS_1