Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
43 - rayuan agar menikah


__ADS_3

"Apa ada sesuatu yang terjadi?"


Herdian tampak serius menganalisis lingkaran sihirnya, namun dalam kepala Meridian, dia menjawab.


Mana di sekitar Nona menguat.


Persis seperti kata Raven.


Seberapa jauh?


Sekitar dua kali lipat. Dan elemen Nona meningkat. Ini belum pernah terjadi. Nona dalam kekangan, sekalipun itu hanya buah beracun, seharusnya mustahil meningkatkan mana sejauh ini.


Kurasa aku malah semakin terkurung.


Apa Nona merasa frustrasi?


Apa?


Mana di sekitar Nona terasa tajam. Saya rasa, jika Dion berada di sini, dia akan mengatakan mana Nona berubah menjadi senjata. Ini berbahaya, Nona.


Meridian melirik kucing di pangkuannya yang berpura-pura tidur sekarang.


Saya merasa tidak berguna. Herdian bersuara sedih. Seharusnya saya menjaga Nona lebih baik. Nona selalu terlihat kuat. Karena itu tanpa sadar saya terus menipu diri sendiri bahwa Nona baik-baik saja.


Apa yang dia katakan? Meridian memang baik-baik saja.


Tapi ....


Akulah yang bersalah, tidak membagi masalahku padamu padahal kita berteman.


Meridian menebak jika ini ada hubungannya dengan mimpi barusan.


Kalau begitu ini bukan perasaannya.


Namun mengapa mana Meridian Asli bisa tersinkron dengan perasaan Meridian Palsu, itu masih misteri. Jelas penjelasannya bukan karena Meridian berada di tubuh dia.


Jika iya, dari awal mana Meridian berwarna silver seperti mana si Palsu.


Cih.


Dasar tukang mengeluh.


"Meridian." Raphael menyentuh pipinya lembut. "Aku akan meletakkan pengekang untuk sementara. Kamu tidak keberatan? Katakan saja jika kamu keberatan. Aku benar-benar tidak memaksamu."


"Lakukan, Kakak."


Raphael berterima kasih. Sembari tetap menyentuh pipi Meridian, dia mulai membuat pengekang seperti yang dilakukan Herdian dulu.


Tapi tanpa siapa pun bisa menduganya, Raphael terhempas. Lingkaran sihirnya retak bersamaan dengan Raphael memuntahkan darah.


"Kakak!"


Nona, jangan bergerak. Herdian mengangkat kedua tangan ke udara seolah dia tengah ditodong senjata. Jangan bergerak.


Perasaan Meridian jadi buruk mendapati pipi Herdian tergores.


Spontan ia menunduk, sedikit lega karena setidaknya Raven tidak ikut terluka.


Apa Nona tidak bisa mengendalikannya?


Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi.


Mana di sekitar Nona menolak sihir. Mereka mematahkan sihir Raphael seolah-olah menolak dikekang. Tolong jangan bergerak jika Nona tidak bisa mengendalikannya. Saya takut Nona ikut terluka.


Jangan bercanda!

__ADS_1


Apa yang si Bodoh itu lakukan? Merajuk tanpa batas semacam ini, memang dia anak kecil?!


Hentikan, katanya dalam kepala, untuk si Palsu itu. Berhenti bertingkah bodoh. Raphael kakakmu! Dia bukan Dion atau Lucas! Berhenti sekarang!


Sama aja. Si Bodoh itu menjawab dengan nada muram. Semua orang hanya menyaksikanku terkekang.


Kamu ingin kubunuh?!


Dia diam.


Membuat Meridian frustrasi luar biasa.


...*...


Untuk menghindari kemungkinan seseorang terluka, Meridian terus berusaha mengatur napas. Meski tidak terlalu berdampak banyak, ketenangan yang coba ia dapatkan setidaknya benar-benar membuat Meridian tenang.


Musuhnya di novel ini memang cuma si Palsu itu.


Butuh waktu sampai Andaru tiba. Selama itu, Herdian membuat barier di sekitaran tenda mereka agar tidak ada korban lain.


Ketika lingkaran mana hitam tiba-tiba muncul di udara, tiba-tiba portal itu pecah seperti lingkaran sihir Raphael.


Dampak yang dibuat kali ini lebih kuat, dan Meridian tahu itu karena Dion.


Si Penakut itu menolak kehadiran Dion.


"Herdian." Meridian kesal bukan main. "Pergi dan bawa Raphael keluar dari barier. Setelah itu minta mereka berteleportasi di luar barier. Jangan biarkan siapa pun masuk selain Yang Mulia."


"Tapi Nona—"


"Cepatlah!"


Herdian tidak yakin, tapi melihat gejolak mana Meridian, nampalnya dia setuju untuk menjauh lebih dulu.


Tepat saat dia pergi, Meridian langsung berbicara pada Raven.


Kucing itu mengeong. Mata emasnya memandangi Meridian sangat dalam. "Ada kebencian dalam manamu. Itu menguat pada portal tadi."


"Aku tahu. Bagaimana menghentikannya?"


"Tidak ada. Keputusan meminta Pangeran Mahkota itu benar. Matanya bisa mengekang secara paksa keseluruhan manamu."


"Apa benar tidak ada?"


"Setelah kulihat lagi, manamu meningkat bukan karena itu tiba-tiba berevolusi, tapi karena dirimu sendiri. Mana orang mesum yang mengawasimu, dia bermaksud mengeluarkannya. Penolakan itu malah membuat seluruh manamu bergerak liar."


Meridian memijat pelipisnya kesal.


Ayo bersabar atau ia malah menghancurkan dunia ini dengan mana saja. Sabar, sabar, sabar.


"Kenapa kamu tidak terkena dampak?"


"Dalam bentuk ini, aku seperti hewan pada umumnya. Mana dari hewan dan manusia berbeda. Manamu hanya bisa menyerang manusia."


Lalu semua orang harus berubah jadi hewan, begitu?


Meridian bahkan belum mengerti kenapa manusia bisa jadi hewan sementara struktur anatomi mereka berbeda.


"Apa Andaru benar-benar bisa menghentikannya?"


"Aku baru pertama kali melihatnya jadi aku tidak tahu pasti. Namun seharusnya bisa. Mata pria itu berbeda." Raven menggaruk telinganya seperti kucing sungguhan. "Mereka tiba. Berpura-puralah histeris atau sesuatu. Jika kamu terlihat biasa saja, mereka akan berpikir kamu menyembunyikan niat buruk. Sihir manusia yang terlalu kuat sering disalahpahami sebagai niat jahat."


Berpura-pura histeris? Meridian tidak pandai akting!


Tapi sialnya tidak ada pilihan lain. Otaknya berputar keras memikirkan apa yang mesti ia lakukan sampai terpikir untuk berpura-pura frustrasi setelah diculik.

__ADS_1


Akh, terserahlah!


...*...


"Ini luar biasa." Andaru langsung mengatakannya begitu dia menyibak tenda yang diperkuat oleh sihir.


Mata reptil merah itu sudah aktif, membentuk pola luar biasa rumit yang menandakan dia bekerja keras.


"Nonaku, apa kamu terluka?"


Meridian berusaha keras membuat wajah mati ala-ala orang trauma. "Ya, Yang Mulia."


Andaru mengamatinya. Pola itu berputar-putar sangat kencang.


"Akulah yang bodoh." Dia duduk di tepi kasur, meraih tangan Meridian dengan lembut. "Aku tahu ini medan pertempuran. Kupikir semua baik-baik saja dengan Raphael dan Herdian bersamamu. Maafkan aku, Nonaku."


Yah, Meridian-lah yang harus minta maaf. Kalau bukan karena ia tokoh utama, mana mungkin konfliknya sampai berbelit-belit macam ini.


"Apa saya berbuat salah, Yang Mulia?" Meridian menjatuhkan diri ke dalam pelukan Andaru. Agak berpikir bahwa seharusnya ia banyak minta dipeluk orang setampan ini. "Apa Anda marah?"


Andaru terkekeh kecil. Membelai rambutnya lembut. "Mengapa aku harus marah padamu, Nonaku? Aku hanya bersyukur kamu baik-baik saja."


"Tapi Raphael dan sihir Dion terhempas. Bagaimana jika Anda juga terluka? Bagaimana jika semua orang yang menemui saya terluka?"


"Mungkin itulah yang harus kutanyakan pada Raphael dan Dion." Andaru menggerakkan telunjuknya di sekitar Meridian. "Aku datang terburu-buru sebab mereka bilang sihirmu diluar kendali, tapi yang kulihat hanya lonjakan. Sihirmu tidak agresif padaku."


Apa?


Bukankah seharusnya dia juga karakter yang Meridian sebal padanya?


"Nonaku, apa ingatanmu sudah kembali?"


Meridian mendongak.


"Aku mengenali sensasi ini." Andaru tersenyum tenang. "Mana di sekitarmu mengenaliku. Seperti sebelum aku pergi berperang meninggalkanmu."


Tapi sekarang Meridian berpikir dia benar-benar klise.


Sialan.


Jangan bilang sekarang Meridian harus menuruti emosi si Palsu meski ialah yang menghadapi semuanya di sini?!


"Dan manamu, berbau harum." Andaru mengecup wajahnya lembut. Bernapas lamat-lamat di sana seolah dia sangat menikmati. "Mereka seperti menggodaku, Nona."


JANGAN BILANG SI PALSU ITU MAU MENGGODA ANDARU AGAR CEPAT MENIKAH?!


Kalau dia takut pada Dion dan Lucas, ya tampar Dion dan Lucas! Kenapa malah menggoda orang?!


"Yang Mulia, apa sekarang waktunya mengatakan itu? Raphael terluka."


Andaru terkekeh. Mengecup matanya dan memeluk Meridian. "Aku ingin menikmati ini sekarang. Biarkan saja mereka menunggu."


Cih.


Baiklah.


Untuk sekarang ikuti kemauan si Bocah itu.


"Yang Mulia."


"Hm?"


"Bisakan kita berpindah? Saya merasa membebani pasukan di sini."


Andaru tersenyum manis. "Tentu, Nonaku."

__ADS_1


Tapi sepertinya itu senyum bermakna menyebalkan.


...*...


__ADS_2