Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
26 - keturunan iblis


__ADS_3

Gara-gara si Meridian Palsu yang nampaknya cuma mau numpamg enak tapi takut berjuang sendiri, Meridian jadi luar biasa kesal. Kali ini benar-benar luar biasa sampai rasanya ia mau mengeluarkan api cuma untuk memusnahkan semut tidak bersalah.


Berani-beraninya dia muncul cuma buat bilang jangan lakukan karena berbahaya.


Adegannya klise pula.


Dion berbahaya, Lucas berbahaya, mereka iblis, mereka jahat.


Halah. Taunya sembunyi-sembunyi kok banyak bacot.


Lagipula, sejak awal Meridian tidak peduli Dion itu mau jahat atau baik.


Pertama, dia cuma karakter novel.


Kedua, pun kalau tidak dipandang sebagai karakter novel, Meridian itu orangnya logis. Saking logisnya, waktu Meridian ditipu saat belanja online, ia marah dalam hati sambil berpikir bahwa cara penipu itu cari uang boleh juga.


Tiap kali melihat kasus pembunuhan di layar berita, Meridian cuma menopang dagu dan berkata 'dari jaman batu sudah ada pembunuhan'.


Memang sejahat apa sih Dion? Dia pernah makan manusia?


Kanibal kan memang ada. Daripada pusing berkata dia jahat, Meridian tinggal menghindar jika Dion mau memakannya.


Mungkinkah dia pikir jika memberitahu Meridian siapa penjahatnya maka ia akan pusing memikirkan cara bertahan hidup ala-ala cerita klise?


Huek. Bikin jijik saja.


"Meridiana, ada apa?"


Kini Meridian sudah berada dalam kereta kuda bersama Herdian dan Raphael. Ia duduk menopang dagu, mengisap cangklong di antara bibirnya.


Itu bukan nikotin.


Dalam dua hari terakhir Meridian terus diliputi perasaan panas hingga tubuhnya berkeringat di mana-mana. Agar ia tak dibanjiri keringat terlalu banyak, Dion memasukkan semacam batu mana ke cangklong, yang jika diisap berubah menjadi uap dingin.


Sampai tubuh Meridian sepenuhnya beradaptasi dengan buah merah itu, ia harus tetap merokok begini.


"Aku melihat sesuatu yang menyebalkan." Meridian mau curhat. "Sangat menyebalkan sampai aku mau membakarnya habis-habisan."


Herdian tertawa canggung. "Nonaku sangat bersemangat. Siapa orang kurang ajar yang berani memancing kekesalan Nona?"


Apa Yang Mulia? Herdian melanjutkan dalam telepati.


"Tidak. Aku menyukai wajah tampan Yang Mulia. Dia tidak boleh terbakar." Meridian terus mendumel. Tak sadar menjawabnya lewat mulut. "Itu lebih menyebalkan. Terus bicara seakan-akan dia melakukan sesuatu padahal semuanya aku yang lakukan. Dasar sampah. Mati saja."


"Adikku." Raphael menghela napas pasrah. "Jangan terlalu terbiasa emosi pada sesuatu. Dion berkata sihirmu jadi semakin sensitif."


"Bicara soal itu," Meridian mengisap dalam-dalam hawa dingin ke mulutnya, "apa Dion adalah ras iblis?"


Wajah Raphael langsung memucat.

__ADS_1


Ternyata perkataan si Sampah itu benar.


"Meridian, kurasa kamu sudah berlebihan."


Herdian berdehem canggung. "Apa Nona mengingat sesuatu?"


Bagaimana harus menjawab, yah?


Bohong?


Jujur?


"Saat kamu menggunakan sihir padaku pertama kali," Meridian mengarah pada Raphael, "aku tersadar oleh cahaya biru. Itu seperti berputar di kepalaku. Berkilau seperti bintang-bintang."


"...."


"Kemarin, Dion mengalirkan langsung mananya padaku. Lalu aku melihat cahaya itu lagi. Lalu suara di kepalaku berkata dia berbahaya, dia iblis, jangan mempercayainya."


Gabungkan saja bohong dan jujur. Begitulah cara jika kalian tidak suka bohong tapi tidak bisa jujur.


"Herdian memberitahuku, bahwa ras iblis sudah punah. Tapi aku hanya memikirkan. Bahkan jika ras iblis sudah punah, bisa saja itu iblis yang terjun ke medan pertempuran. Beberapa iblis yang kedudukannya seperti warga sipil tidak ikut berperang. Mereka lari dan bertahan hidup diam-diam. Aku tidak kaget jika rambut hitam dan mana hitam Dion adalah bagian dari ciri khas rasnya."


"...."


"Tapi bagiku dia tetap Dion, dia juga tetap Lucas. Aku hanya memastikan."


Hm?


Nona.


Herdian berbicara di kepalanya.


Dion dan Lucas adalah sepupu Anda yang diangkat menjadi anak oleh Tuan Marquis. Pemimpin keluarga sebelumnya, Tuan Marquis, mati terbunuh di medan perang. Sebelum beliau pergi ke pertempuran, beliau sudah berwasiat agar adiknya, ayah Nona, menggantikan beliau namun menjadikan Dion sebagai ahli warisnya.


Aku mengerti.


Jadi ayahnya Meridian itu bukan tipe yang buta oleh kuasa?


Raphael mendekati usia Dion dan Lucas jadi seharusnya dia bisa mewarisi kursi Marquis, tapi Dion tetap jadi pewaris mengikuti wasiat ayahnya, kah?


Sekarang Meridian yakin bahwa ibu dan ayahnya Meridian ini memang penyayang.


Ada rumor mengatakan Tuan Marquis sebelumnya memiliki hubungan terlarang dengan wanita setengah iblis. Dion dan Lucas adalah hasil dari hubungan itu.


Di mana anak Marquis selain itu? Juga, ternyata ras iblis benar-benar belum punah.


Marquis tidak memiliki anak dari istri sahnya, Nona. Nyonya Marchioness yang sekarang, ibu Nona, adalah saudari dari ibu Dion dan Lucas. Tapi karakteristik mereka berbeda. Dan membicarakan ras iblis, dalam studi resmi ditemukan darah iblis dan manusia yang bercampur, dengan kata lain anak dari iblis dan manusia lebih mendekati manusia.


Hmmm.

__ADS_1


Mereka hampir disebut sebagai manusia, tapi dengan ciri khas berbeda dan kekuatan fisik lebih unggul. Selebihnya, mereka manusia. Bakat dalam sihir mereka pun tidak berbahaya. Bisa dikatakan, elemen bangsa iblis yang mengandalkan kebencian dalam dirinya dan manusia yang mengandalkan kecerdasan dalam mengendalikan sihir itu bertabrakan.


Jadi Dion adalah seperempat iblis?


Bisa dikatakan begitu.


Tapi sepertinya dia tidak ditakuti atau dimusuhi oleh siapa pun.


Sebab tidak ada yang tahu.


Apa?


Mana hitam dan rambut hitam tidak selalu mengartikan mereka berasal dari bangsa iblis. Sudah saya katakan. Percampuran darah mereka membuat mereka lebih cenderung mirip manusia daripada bangsa iblis sendiri. Orang yang mengetahui identitas Dion hanya beberapa orang. Lagipula, sekarang keberadaan iblis sudah dilupakan oleh orang-orang. Mereka lebih terpaku pada monster daripada iblis sendiri.


Lalu apa gunanya si Meridian Palsu takut pada Dion? Dia serius tolol, yah?


Tapi bicara soal itu, Nona.


Herdian pura-pura melihat ke luar seolah masih terjebak dalam kecanggungan, padahal berbicara di kepala Meridian.


Apa maksud Anda dengan sesuatu berbicara di kepala Anda?


Aku hanya mendengar sesuatu. Seperti ingatan. Berkata Dion berbahaya.


Sebenarnya, itu memang mengejutkan. Anda bukan temasuk yang tahu identitas Dion dan Lucas.


Jadi benar Meridian diam-diam tahu? Apa mungkin dia diancam oleh Dion atau diperlihatkan wujud neraka buatan agar dia diam?


Kalau Meridian jadi Dion, ia pasti akan melakukan itu.


Kunci dari tutup mulut adalah ketakutan.


Tapi kenapa, yah? Rasanya ada yang lain.


Kemungkinan itu karena sihir Nona. Seperti kata Raphael, sihir Nona semakin sensitif. Pada umumnya orang yang mengonsumsi buah itu, mana di sekitarnya melemah. Nona berbeda. Mana di sekitar Nona justru waspada.


Apa tanpa sadar Meridian waspada pada setiap hal karena ia berada di tempat asing?


Nona tidak takut?


Aku takut pada sesuatu yang mengancamku.


Jadi fakta bahwa Dion memiliki darah iblis bukan ancaman?


Dia bersikap baik. Aku akan menganggapnya musuh saat dia sudah bersikap buruk.


Herdian tersenyum. Tidak lagi mengajak Meridian bicara.


*

__ADS_1


__ADS_2