Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
48 - cara untuk menyiksa


__ADS_3

"Aku merindukanmu."


Meridian melawan semua rasa sakit di tubuhnya. Bernapas berat di bibir Dion yang kini memeluknya meski tetap diam.


"Kamu menyukai ini, kan? Kamu menyukai aku tersiksa, lemah dan tidak berdaya, kan? Kamu menyukainya. Kenapa diam saja?"


Telapak tangan Dion bergerak di pipinya. "Apa maksudmu?"


Meridian tertawa getir. "Berhenti pura-pura. Aku mengetahui keinginan kotormu padaku."


Telapak tangan itu bergerak ke lehernya, memutar ke tengkuk Meridian sebelum bibirnya mengecup kulit di dekat alisnya. "Aku pun mengetahui permainan kotormu dengan pria itu."


Ugh. Kepalanya sakit luar biasa. "Kamu marah padaku?"


"Apa ingatanmu belum kembali?"


"Aku tidak takut." Kalau dia merasa ia harus takut jika ingatannya sudah kembali. "Aku tidak takut padamu."


Untuk pertama kali, Dion mengulas senyum. Pipinya tampak agak memerah dengan tatapan fokus pada bibir Meridian.


"Kamu berkata aku menjijikan."


"Aku tidak berpikir begitu lagi."


"Benarkah?" Dion semakin seduktif. "Tapi kamu menangis ketakutan saat aku menciummu."


Meridian memejam. "Apa aku terlihat ketakutan sekarang?"


"Lalu apa yang harus kulakukan, Adikku?"


Lecehkan tubuh si brengsek ini agar dia tahu mau dia berganti atau tidak, nasibnya tidak akan berubah kecuali dia mengubahnya sendiri.


Dengan kondisi tubuh seperti ini, Meridian mudah mengeluarkan air mata. Tak penting mengetahui kenapa Dion terobsesi pada Meridian yang lemah, tapi saat ia menangis, Dion tak lagi berhenti menyentuhnya.


Itu sakit. Meridian merasakan sakitnya secara nyata.


Tapi saat ia berpikir si Palsu itu tengah histeris di suatu tempat, tak mampu melakukan apa-apa karena tersegel, Meridian benar-benar senang.


Ia menangis dan memancing Dion untuk lebih melecehkannya lagi.


Sekarang ia tahu.


Dion terobsesi pada sisi lemah si tokoh utama. Tangisan Meridian membuat dia gila. Karena itulah dia selalu bersikap dingin dan membuat Meridian palsu ketakutan.


"Hei, aku mendengar—" Nampan makanan Lukas jatuh, menciptakan suara bising yang mengganggu.


Namun entah karena sudah hilang akal atau memang tidak peduli, Dion tetap sibuk menikmatinya.


Meridian tersenyum gila. Kepalanya yang serasa dipukuli batu tidak lebih penting dari rencana awalnya kini terealisasikan.

__ADS_1


"Lukas." Meridian lagi-lagi mengulurkan tangan. Minta agar dia ikut mendekat, ikut melecehkannya seperti yang Dion lakukan.


"Kamu—"


Meridian menatap dengan mata berkaca-kaca. "Kakak."


Sorot mata Lukas berubah mati. Dia sempat mengalihkan pandangan sesaat, tapi kembali menoleh.


Pada akhirnya dia mengambil tangan Meridian.


*


Akal sehat Meridian baru kembali setelah semua terjadi.


Astaga. Ia sungguhan mengajak kedua kakaknya tidur sekalipun mereka sepupu.


Mungkin akan lebih memuaskan jika mereka saudara kandung.


Biar si Palsu lebih gila lagi.


Apa? Meridian harus kasihan pada dia juga?


Jangan bercanda!


Di dunia ini, temannya, kekasihnya, keluarganya, ibunya, semua orang tidak ada!


Meridian sendirian!


Mengapa ia harus peduli?


"Apa tubuhmu baik-baik saja?"


Meridian mengulurkan tangan ke belakang, dan Lukas langsung memegangnya lembut seolah-olah dia sudah ganti karakter jadi Herdian.


Kini, hanya terhalangi oleh selimut, dia menjadi sandaran Meridian sementara Dion menyapukan uap dingin di sekujur tangan Meridian yang panas.


"Ya." Meridian menjawab dengan suara sedikit manja. "Apa demamku akan berlangsung lama, Kakak?"


Lukas mengecup keningnya. "Mungkin."


"Aku baik-baik saja seperti ini."


"Apanya?"


"Sakit selamanya." Ia tak sudi mendengar suara si Palsu itu lagi. "Lagipula kalian berdua menjagaku. Bukan begitu?"


Lukas membelai rambut Meridian dari belakang. "Apa benar ingatanmu tidak kembali?"


"Aku tidak peduli pada itu lagi." Meridian memeluk Dion. "Aku hanya membutuhkan kalian menjagaku."

__ADS_1


Diam-diam mata Meridian bertemu dengan mata emas Raven.


Ya, dia menyaksikan semuanya dalam wujud kucing. Dia menepi ke atas meja, terjaga mulai dari saat Meridian membalas ciuman Dion dan Lukas bergantian, juga saat Meridian bertelanjang dan kedua saudaranya menjilatinya seperti permen, ataupun saat Dion dan Lukas memperkosanya seperti jal*ng.


Meridian tersenyum penuh arti. Melihat Raven ikut tersenyum sebelum akhirnya dia menutup mata, pura-pura tertidur.


Hanya dia yang tahu perasaan asli Meridian.


Hanya dia.


"Lukas, aku kedinginan."


Lengan Lukas melingkari tubuh telanjangnya, mengisi ruang kosong yang tidak dapat ditutupi oleh tubuh Dion.


Sepasang saudara ini, apa karena mereka memiliki darah iblis yang sama?


Maksud Meridian, Raven sendiri tidak dapat tahu bahwa mana Dion mengandung hasrat seksual. Dia hanya menebak dari buah yang Dion berikan. Tapi dilihat dari bagaimana Lukas dan Dion tidak saling asing mengetahui perasaan mereka pada Meridian, berarti satu sama lain sudah tahu?


Atau mungkin mereka memang bekerja sama?


*


Entah berapa lama Meridian terbaring sakit, tapi esok hari ia bangun untuk makan, kondisi sama sekali tidak membaik.


Wilona yang menyuapinya makan sekaligus memberitahu Meridian bahwa sekarang mereka telah berpindah dari lokasi perbatasan, beberapa puluh kilo meter dari lokasi Herdian berada.


Mereka menyebutnya kota Nila, sebuah kota hujan yang suhunya juga dingin dibanding ibu kota tempat Meridian tinggal.


Selama beberapa wakti Meridian akan menghabiskan waktu di sini, memulihkan diri sekaligus menemukan solusi dari mananya yang tidak terkendali.


Setelah makan dengan susah payah, Meridian ditinggal sendiri untuk istirahat. Ia sudah minta agar Dion dan Lukas tidak perlu selalu mengawasinya, karena setiap malam dan beberapa waktu di siang hari mereka akan muncul, menemani Meridian tidur.


Dengan begitu, ia punya waktu berbicara dengan Raven.


"Aku tidak menyangka kamu akan tidur dengan kedua kakakmu langsung." Raven menggosok wajahnya di jemari Meridian. "Sepertinya pria tinggi itu yang meletakkan sihir mesum padamu. Apa dia mengidap penyakit tertentu menyukai adiknya sendiri?"


"Dia sepupuku."


"Hmmm. Cinta yang terlarang oleh kuil." Raven mendekati wajahnya. "Tapi kenapa kamu meniduri mereka penuh kebencian, Nona? Yah, aku tidak berpikir itu dendam pada mereka."


Meridian tersenyum. Membiarkan Raven mengusap-usap keningnya dengan kaki depan kucing itu. "Ada seseorang yang sangat amat tersisa sampai dia gila jika aku melakukannya."


"Siapa itu?"


"Entahlah."


Kaki kucing itu menekan-nekan hidungnya dengan usil. "Apa kamu tidak mempertimbangkan kecemburuanku, Nona? Aku sempat ingin menebas dua pria cab*l yang menyentuh wanitaku sejak kemarin."


"Sudah kubilang, lakukan yang terbaik."

__ADS_1


*


__ADS_2