
Meridian hanya mengisap uap dingin dari cangklong ketika Lucas, Herdian dan Raphael sama-sama memerhatikan kucing mesum menjilati tangannya.
Mereka, terutama Lucas dan Herdian benar-benar tampak tidak senang akan sikap manja kucing itu.
Mungkin secara insting mereka menolak makhluk jantan, sekalipun itu kucing, menggosok-gosok wajah secara intim padanya.
Benda ini pun cari kesempatan saja. Mentang-mentang jadi kucing, dia terus menggosok wajahnya ke kulit Meridian, menepuk-nepuk kakinya ke pipi Meridian, bahkan menjilatinya.
Terus terang, Meridian tidak terlalu suka dengan hewan.
Tentu ia suka kucing. Tapi tidak secara khusus mau memeluk atau merawat mereka. Itu juga agak ... menjijikan dijilati oleh mereka.
Tapi orang ini sudah menuruti kemauan Meridian dengan bayaran kurang. Biarkan saja dia berbuat seenaknya.
Toh, dia juga bagian dari rencana Meridian.
Orang yang akan membawanya kabur kalau dunia sialan ini tidak selesai-selesai.
"Haruskah dia terus menyentuhmu seperti itu?" Lucas gerah. "Kurasa kucing ini gila. Bunuh saja dia."
Raven terang-terangan memalingkan muka dari Lucas. Memanjat pelukan Meridian sambil mengeong manja.
"Nona, apa kucing itu berat?" Herdian lebih berbudi sedikit. "Mungkin sebaiknya Nona memberikannya pada pelayan dulu. Nona juga harus beristirahat."
"Tidak apa. Aku akan bersamanya dulu."
Entah kenapa terdengar suara sorakan kegembiraan Raven di kepalanya.
Pasti cuma perasaan saja.
Sama seperti ketika ia mendengar suara kemarahan dan kekecewaan Lucas bersama Herdian.
"Ohya, Lucas." Meridian seakan menyayangi kucing itu, tapi sebenarnya menjauhkan dia dari tengkuk Meridian. "Apa kita akan kembali lebih dulu?"
"Ya." Lucas benar-benar kesal. "Sesuai katamu dulu, aku akan membawamu ke tempat liburan."
"Benarkah? Bagaimana dengan Ayah dan Ibu?"
"Aku sudah memberitahu mereka bahwa kamu baik-baik saja."
"Nona ingin menghubungi mereka langsung?" Herdian ikut berbicara.
Tapi Meridian menggeleng. "Tidak. Cukup dari Lucas."
"Tulislah surat." Raphael tersenyum lembut. "Ibu pasti ingin memastikan keadaanmu."
"Baiklah."
Mereka terus mengawasi Meridian sampai malam tiba. Ketika malam tiba pun, Lucas tak meninggalkan sisinya.
Wajah dia luar biasa kecut saat kucing hitam mesum itu tetap mau ikut ke bak mandi. Tentu saja, tidak ada yang akan melarangnya mengingat dia cuma kucing.
Kalau saja dia tidak berwujud kucing, Meridian sendiri sudah menggeplak kepalanya.
Tampang puas dia selepas mandi sungguh menjengkelkan.
"Kamu akan mengawasiku terus-terusan?" tanyanya setelah waktu tidur tiba, Lucas masih duduk di sana.
"Apa yang harus kami lakukan jika seseorang menculikmu lagi?"
Meridian berusaha tidak menghela napas dongkol.
Sebenarnya Meridian sedang berpikir apakah ia harus bertanya 'kamu menyukaiku' secara langsung. Ia sudah cukup tahu mengenai Dion, tapi menurut Meridian, Dion dan Lucas agak berbeda.
Bisa saja dia tidak semesum Dion.
Dan yang lebih penting itu merepotkan jika harus terus mencari tahu padahal cara paling gampang adalah bertanya.
Konfirmasi langsung itu kunci hidup tenang.
__ADS_1
"Meow."
Hah. Baik, baik. Meridian akan bersabar sedikit.
Lagipula ia belum bertanya pada kucing mesum ini mengenai Lucas.
...*...
"Aku lelah."
Meridian mengerjap pelan akan pemandangan di hadapannya.
Ini dunia mimpi, setidaknya Meridian yakin. Tapi ini berbeda dari mimpi yang biasa ia rasakan melihat kenangan Meridian Palsu.
Dunia mimpi ini ... agak suram.
"Aku lelah terkurung dalam belenggu ini."
Meridian berpaling ke asal suara. Seorang gadis yang memakai wujud putri berambut perak, duduk bersimpuh dengan kaki yang terbelenggu oleh besi.
Sepertinya dia tidak bicara dengan Meridian.
"Aku tidak memiliki kebebasan."
Mulut Meridian terkatup.
"Setiap saat harus hidup dalam peraturan."
"...."
"Apa di luar sana ada sesuatu yang indah? Apa mungkin suatu saat aku bisa bebas bergerak tanpa harus menunggu seseorang menahanku? Mengapa hidupku harus seperti ini? Apa aku berbuat salah sampai semua orang menahanku?"
Dasar menyedihkan.
Meridian mengembuskan napas jengkel. Tapi ia putuskan tidak banyak bicara, karena sepertinya mau diberitahu berapa kalipun, dia akan terus mengeluh.
Orang-orang seperti dia memang pada dasarnya tidak memandang dunia sebagai tempat bahagia.
Kenapa sebenarnya Laila menciptakan tokoh seperti ini?
"Aku tidak ingin diawasi."
Meridian melirik. Gadis itu sekarang terisak-isak memeluk lututnya sendiri.
"Aku tidak ingin selalu diawasi. Aku ingin bebas."
Lalu, dia pikir dia akan bebas jika dia merintih di sana?
"Tolong aku."
Kali ini, Meridian benar-benar hanya diam.
Percuma juga memberitahu orang yang selalu berpikir dunia adalah neraka. Jadi Meridian bersabar menunggu mimpi berakhir, terbangun oleh suara kucing mengeong disusul jilatan di pipinya.
Ternyata malam masih gelap ketika Meridian terbangun.
Meridian terduduk. Merasakan kepalanya berat akan sesuatu.
Keringat membasahi bagian depan pakaiannya. Tapi Meridian lebih fokus pada pemandangan Lucas yang terlelap di kursi dekat tempat tidur, benar-benar masih mengawasinya.
Kaki kecil kucing mesum menepuk pipinya. Seperti mengode agar Meridian menoleh.
Saat itu, mata kucingnya tiba-tiba berubah gelap, memberi Meridian perasaan tersengat.
Raven kembali mendorong wajah Meridian, kali ini untuk mendongak.
Samar, Meridian terkesiap.
Terpaku melihat sesuatu semacam asap berwarna biru dengan kilau glitter berputar-putar di sekelilingnya.
__ADS_1
"Apa ini?"
"Meow."
Meridian mengerjap. "Manaku? Ini manaku?"
Raven menggosok wajahnya ke pipi Meridian. Mendengkur manja seolah dia benar-benar kucing jinak.
Tapi kenapa Raven membangunkannya untuk memperlihatkan ini?
"Ada apa?"
Meridian tersentak. Agak terkejut pada suara Lucas tiba-tiba.
Namun, sepertinya itu bukan sesuatu yang perlu dirahasiakan. "Aku merasakan sesuatu menari-nari di atasku."
Tentu saja, ia tak boleh bilang Raven membantunya melihat.
"Apa?" Lucas mendekat. Melihat ke atas Meridian dengan tajam. "Kamu bisa merasakan manamu?"
"Apa itu mana?"
Mata itu menatapnya lekat. "Kamu ...."
"Apa? Ada apa?"
"Aku akan memanggil Herdian. Diamlah di sini."
Dia menghilang dalam sekejap.
Kesempatan itu Meridian gunakan untuk bicara dengan Raven. "Apa maksudnya? Kenapa dia bersikap seperti itu?"
"Meow."
"Berhenti pura-pura jadi kucing, dasar iblis mesum."
Raven menjilati wajahnya. "Manamu menguat."
"Menguat?"
"Yah, singkatnya sebelum kamu tertidur, manamu hanya terasa seperti butiran pasir yang banyak. Sekarang itu terasa seperti butiran mutiara yang banyak. Itu menguat."
Meridian mendongak. Sepertinya warna biru di sana memang jadi semakin pekat. "Apa itu berbahaya?"
"Entahlah. Tapi peningkatan manamu tidak normal. Itu seperti meningkat dua kali lipat dari sebelumnya. Padahal, sihir manusia tidak dipengaruhi oleh perasaan. Itu dipengaruhi oleh kecerdasan. Kamu hanya tidur. Bagaimana kecerdasanmu meningkat dua kali lipat?"
".... Aku merasa ini buruk."
"Mereka datang."
Sedetik setelah itu, Herdian dan Lucas benar-benar datang.
Herdian bahkan langsung tersentak melihat Meridian. Agak sedikit panik, dia mendekat.
Walau masih memberi jarak.
"Nona, bisakah Nona memberikan ujung rambut Nona?"
Lucas memotongnya dengan aura tanpa banyak bicara.
Lagi-lagi Meridian melihat lingkaran sihir. Dan sepertinya firasat buruk Meridian benar. Ekspresi Herdian sangat tidak baik melihatnya.
"Tuan Muda, saya rasa kita harus segera menghubungi Yang Mulia. Mana di sekitar Nona terus bergerak. Mata Yang Mulia mungkin bisa merendamnya."
"Apa tidak ada yang bisa kamu lakukan?"
"Buah pengekang yang Tuan Muda Dion berikan tidak menahan mana dalam diri Nona. Jika dosisnya ditingkatkan, itu mungkin akan menyulitkan tubuh Nona. Untuk sekarang, saya rasa tidak ada pilihan lain."
Lucas menatap Meridian. Tapi kemudian dia menepuk bahu Herdian. "Aku akan membawa Raphael lalu pergi memberitahu Yang Mulia. Jaga dia."
__ADS_1
...*...