Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
16 - pembatalan dibatalkan


__ADS_3

Astaga.


Benar juga!


Gadis muda yang belum menikah normalnya bahkan tidak tahu apa itu pernikahan, kecuali doktrin bahwa mereka harus menikah agar bahagia.


Mereka mungkin juga tidak tahu sesuatu tentang bersetubuh, menganggap pernikahan hanya tentang sepasang pria dan wanita satu keluarga untuk mengobrol akrab.


Yang vulgar itu bangsawan pria!


"Tampaknya tunanganku berubah karena kesuciannya." Andaru semakin menyeringai. "Aku berguling-guling di medan perang, setidaknya berharap mendapat surat manis darimu, tapi disinilah aku, kembali hanya untuk bertemu pasanganku yang sudah tidak suci. Bagaimana aku harus menghadapinya, Nonaku?"


"...."


"Atau mungkinkah Nyonya Marchioness memberi pelajaran khusus bagimu sebelum bertemu denganku? Kurasa aku harus berterima kasih—"


"Itu benar." Meridian merasa gila. "Saya tidak menyukai Anda karena menyukai pria lain."


".... Siapa itu, Nona?"


"Duke Muda, Herdian."


Mata Andaru memandangnya lekat, sebelum tiba-tiba pola melingkar dan iris vertikal itu lenyap.


Meridian sempat ternganga melihat seluruh benda kecuali sofa yang ia gunakan dan sofa yang digunakan Andaru beterbangan tiba-tiba.


Ia terbengong melihat meja kaca hancur berkeping-keping, bersamaan dengan tubuhnya ditarik dalam pelukan khas.


"Yang Mulia." Lucas menggeram buas.


Ini pertama kali Meridian melihat aura hitam meliputi tubuh kakaknya itu, bergerak-gerak menakutkan.


"Bukankah berlebihan Anda membawa pergi adik saya begitu saja? Meridian sedang dalam masa pemulihan. Bahkan jika itu Anda, kami tidak—"


"Kurasa sopan santunmu sudah tertimbun kudapan pesta, Tuan Muda. Jika kubiarkan, mana di sekitar adikmu akan membunuh setidaknya dua puluh bangsawan. Bagaimana keluargamu akan bertanggung jawab?"


"Tetap tidak melegalkan Anda membawa Meridian seenaknya."


Meridian mengerjap takjub ketika lingkaran hitam serupa black hole muncul, dan secara ajaib Dion keluar bersama Raphael. Meridian menunggu Herdian muncul juga—karena semua karakter pelindungnya sudah muncul—tapi ternyata dia tidak ikut.


Sayang sekali. Padahal kebohongan akan sempurna kalau dia ikut bermain langsung.


"Apa aku berbuat salah menyelamatkan tunanganku?"


"Sejak awal, sihir pengekang tidak akan hancur jika Anda tidak mengusiknya."


Apa?


Jadi mata Andaru yang membuka penghalang itu?


"Mana adikmu bergejolak menatapku. Mataku hanya meresponsnya. Bukankah kalian patut bersyukur aku tidak menghabisinya atas kesalahan menyerang Putra Mahkota Kekaisaran?"


Meridian merasa ditatap oleh Dion, Raphael dan Lucas secara bersamaan. Seketika menyadarkan bahwa ternyata memang ia yang salah.


Hei, mana ia tahu peringatan Herdian malah jadi kenyataan!


"Adik saya tidak—"


"Itu kesalahan saya, Yang Mulia." Meridian baru tahu ia salah, jadi jelas dirinya minta maaf. "Ketiga Kakak saya berusaha sangat keras menstabilkan mana di sekitar saya. Anda sudah bermurah hati memaafkan ketidaksopanan saya. Terima kasih."


Kenapa mereka harus selalu terkejut tiap kali Meridian melakukan sesuatu? Apa lagi? Meridian Palsu tidak pernah melakukan ini?


Dasar Laila. Setidaknya buat pesan moral dengan karakter yang minta maaf saat bersalah!


"Aku akan memaafkanmu dan melupakan semuanya jika permintaan pembatalanmu juga dibatalkan."


Meridian bisa merasakan lirikan mata ketiga kakaknya yang seolah berkata 'kamu sungguhan memintanya langsung?'.


Ingin Meridian mendengkus, berkata 'sudah kubilang batalkan' tapi berhubung di sini ada si Yang Terlalu Mulia, mereka jaga image.


"Yang Mulia." Dion menyela. "Bahasan pernikahan Anda dan adik saya sepantasnya dibincangkan dengan walinya. Wanita tidak memiliki hak memutuskan."


Dasar zaman kuno.


"Aku hanya tidak ingin calon istriku bersikeras meminta pembatalan. Bagaimana, Nona?"

__ADS_1


Kalau keputusan tidak di tangan Meridian, lalu buat apa bertanya?


"Saya tidak berubah pikiran, Yang Mulia."


Andaru memasang senyum licik lagi. "Apa Nona mengetahui mekanisme sihir pengekang yang diletakkan Herdian?"


"Yang Mulia." Raphael seperti coba menghentikannya. "Kami akan membawa Meridian kembali. Pembicaraan mengenai—"


"Sebagai balasan dari mengekang kemampuan sihir dan manamu, orang yang meletakkannya juga harus selalu mengalirkan energi sihir pada pengekang itu."


Andaru tidak menghiraukan apa pun.


"Ada dua cara melepaskannya. Pertama, orang yang meletakkannya menghentikan mantra secara lembut agar dampaknya tidak merugikan kedua belah pihak. Atau kedua, menghentikannya secara paksa, dengan menyerap secara paksa energi sihir orang yang meletakkannya."


Meridian terpaku.


"Aku meletakkan sihir pengekang padamu untuk menjaga tubuhmu sementara. Tapi Herdian yang sebelumnya meletakkan sihir pengekang padamu, karena matranya hancur secara paksa, kurasa sekarang dia sekarat."


"Apa Anda mengancam wanita tidak berdaya?" Dion merentangkan tangan di depan Meridian, seolah Andaru bisa saja menubruk seperti banteng. "Apa gunanya menceritakan sesuatu semacam itu?"


"Pikirkan dengan baik, Tuan Muda. Jika aku tidak mengalirkan kembali sihir Herdian padanya, inti mananya akan terus terbakar selama beberapa hari. Dia tidak akan mati, tapi keluarga Duke akan mencari tahu. Apa aku harus berbohong dan menutupi fakta bahwa Herdian meletakkan sihir pengekang pada Nona Muda untuk melindunginya? Aku mencoba menawarkan kesepakatan menggunakan nama baik kalian atau nama baikku. Apa menurutmu aku akan diam saja pada tindakan sopan santun kalian ini? Terutama setelah aku mengetahui tunanganku berselingkuh dengan teman baikku."


Dia memang tokoh utama.


Karena di dunia nyata, orang macam ini sudah dari dulu ditusuk pedang oleh pemberontak.


Aturannya pasti, karena dia pangeran, dia bebas melakukan apa saja.


"Saya mencabutnya." Meridian menghela napas. "Tolong jangan menyulitkan kakak-kakak saya. Dan, Duke Muda hanya membantu saya. Saya berbohong mengenai perselingkuhan."


Andaru tersenyum penuh kemenangan. "Kurasa aku jadi bersemangat pada pernikahan kita, Nonaku. Aku akan pergi menunaikan janjiku. Mari bertemu beberapa hari lagi."


Mana berwarna merah pekat bergemuruh di sekitar Andaru sebelum dia menghilang. Sisa-sisa mananya semakin menipis sebelum dia menghilang.


Tapi bersamaan dengan itu, Meridian kembali kesulitan berdiri, seolah tenaga di tubuhnya dicabut paksa hingga ke akar.


Untuk sekarang, ayo tidur dulu.


...*...


Meridian tidak tahu Andaru benar-benar akan menepati kesepakatan atau tidak, namun setidaknya dia bukan orang naif yang melakukan segala sesuatu untuk membantu.


Kepribadiannya lebih menarik dari yang Meridian duga.


Pikir Meridian, justru karena dia karakter utama, maka dialah yang polanya paling klasik. Kalau tidak sangat dingin, ya berarti sangat baik.


Namun dari bagaimana dia mengancam Meridian dengan hal yang mungkin dia tahu akan Meridian terima, maka dia seperti berada di antara kedua hal itu.


Dingin saat dia harus dingin, baik pada porsinya sendiri.


Lain kali Meridian harus lebih berhati-hati. Ia benci bertindak bodoh, apalagi sampai merugikan orang lain secara berlebihan.


Pikirnya, karena Lucas tidak protes banyak kecuali damage yang Meridian terima, maka tidak ada risiko lain.


Ternyata dia tenang-tenang saja sebab Herdian juga akan terluka jika ada masalah.


Dasar brengsek.


Tapi, sekarang Meridian juga sedikit lebih mengerti. Di dunia ini, sepertinya, ia tak memahami satu pun hal kecuali dari perspektif mengenai Laila.


Tidak semua tebakannya tepat sasaran.


Andaru karakter yang lebih kompleks dari perkiraan Meridian.


Ngomong-ngomong ....


"Sedang apa kalian di kamarku?"


Bocah kembar yang sedang berkutat di karpet itu kompak menjawab, "Kami mengawasimu."


"Atas dasar?"


Si A yang memegang balok puzzle menoleh. "Raphael berjanji akan menunjukkan sihir pada kami setiap hari jika menjagamu."


"Tapi kami tidak boleh melihat sihirmu." Si B melengkapi.

__ADS_1


Bukankah dia sudah cukup mengawasi lewat kamar pengap ini?


Yah, terserah saja.


Daripada memikirkan itu, sepertinya Meridian harus menambah informasi. Setidaknya ia harus tahu sesuatu yang mendasar mengenai dunia ini agar kedepan ia tak perlu selalu salah dalam mengambil langkah.


"Hei."


"Apa?" Keduanya lagi-lagi kompak.


"Apa Raphael melarang kalian menemaniku jalan-jalan?"


Keduanya kompak berpandangan.


"Jalan-jalan ...."


Melihat binar di mata mereka, Meridian hanya tersenyum puas ketika keduanya berseru, "Tidak!"


"Bagus. Kalau begitu, ayo pergi."


"Yeey!"


Meridian agak mengangkat alis ketika bocah kembali itu masing-masing berjalan di sisinya, memegang tangan Meridian tanpa izin.


Bagi Meridian yang menganggap anak kecil itu makhluk merepotkan dan nakal, tentu saja itu mengejutkan.


Sepertinya Laila mau menciptakan sosok bocah sesuai seleranya. Mereka tidak berbahaya saat berpegang seperti bocah sungguhan begini.


"Aku sudah bosan di kamarnu."


Kecuali mulut mereka.


"Ya. Bagaimana kamu bisa menghabiskan hari di sana? Kamu juga tidak hadir makan malam dan makan siang bersama kami. Ayah dan Ibu mencarimu."


"Sebenarnya kapan kamu akan sembuh?"


"Apa jika sembuh kamu akan mengingat kami lagi?"


"Aku menyukaimu yang sekarang. Kamu dulu terlihat payah."


"Tapi Meridian yang dulu suka memberi kita kudapan. Dia melupakan janji memberiku pudingnya!"


Cerewet.


"Apa seseorang membatasi kalian memakan kudapan?"


Keduanya mendongak, lalu menggeleng. "Tidak."


"Lalu kenapa kalian harus meminta kudapanku ketika kalian bisa minta dibuatkan oleh pelayan?"


Apa mereka bodoh?


Meridian jadi merasa agak menyesal. Tapi apa boleh buat jika ia sudah ditetapkan diawasi oleh dua bocah gendeng ini.


Diseret kakinya terus berjalan, sambil memegangi kedua tangan mungil di masing-masing tangannya.


Sudah dua hari sejak pesta penyambutan berakhir. Meridian masih merasakan dampak tak nyaman yang mirip seperti penderitaan habis angkat beban.


Minus pegal-pegalnya, kaki Meridian terasa seperti jeli.


Kedua bocah itu menunjukkan arah tempat bersantai yang menyenangkan. Ternyata maksud mereka ada gazebo utama, tempat di mana mereka dikelilingi oleh taman berbagai jenis bunga yang luas.


Halaman istana dan halaman Marquis sebesar ini.


Memang imajinasi Laila itu luar biasa.


Sialnya, sudah ada orang lain yang duduk di gazebo.


Seorang pria tampan berambut hitam legam, sibuk memandangi sesuatu sambil minum teh.


Dari semua tempat, kenapa ahli waris malah santai-santai di gazebo?


"Dion!"


...*...

__ADS_1


__ADS_2