Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
32 - aku ingin memilikinya


__ADS_3

Meridian lebih suka raja yang OP dalam hal pemikiran. Tidak takut pada apa pun, mungkin juga rakus dan selalu mementingkan negerinya di atas segala hal.


Bukan tipe yang individual sudah kuat sampai-sampai nampaknya tidak butuh pendukung. Memangnya dia raja iblis? Dasar.


Laila memang tidak tahu meletakkan seseorang di tempat yang tepat.


Matanya indah. Selain itu, dia juga bisa memperlambat aliran mana.


Mana di sekitar Nona memberitahu saya bahwa Nona menyukai mata itu.


Aku ingin memilikinya.


Herdian tertawa kecil. Itu agak menakutkan. Ingin memiliki Yang Mulia atau hanya mata Yang Mulia?


Hanya mata. Dan wajah, kalau bisa.


Herdian hanya tergelak.


Bicara soal itu, Herdian, ada sesuatu yang ingin kutahu.


Apa itu, Nonaku?


Apa Lucas mengikuti kita?


Lucas? Mengapa tiba-tiba, Nona?


Dia mengikuti kita?


Tidak. Sejauh yang saya dapat jangkau.


Herdian menjentikkan jari tiba-tiba, dan sepertinya itu mengirim anginnya pergi ke sekitar.


Tidak ada tanda-tanda seseorang selain penduduk di sekitar sini, Nona.


Berapa jauh batas jangkauan anginmu?


Herdian sempat diam menatapnya. Mungkin dia tidak menduga Meridian akan serius.


Sayangnya batas terjauh saya hanya lima ratus meter.


Jadi Lucas berada di luar jangkauan itu, kah?


Apa Nona yakin Lucas mengikuti kita?


Tidak. Aku hanya merasa orang keras kepala itu akan terus mengawasiku. Lagipula, dia selalu bersantai dan tidak melakukan apa-apa selain mengomel dan berkata aku gila.


Herdian tertawa kecil. Saya rasa Anda benar, Nonaku.


Kalau begitu, Herdian bukan orang yang akan ia libatkan dalam mencari tahu kebenaran mengenai Lucas dan Dion.


Selama sisa perjalanan, Meridian memejam. Terlelap sambil bersandar pada Herdian. Udara menjadi semakin dingin, dan ternyata wilayah tempat mereka akan pergi memang ditutupi oleh salju meski sekarang bukan musim dingin.


Itu seperti wilayah misterius dalam dongeng dan tidak penting.


Begitu bangun dari tidurnya, Meridian bergegas turun. Pergi ke dalam keretanya untuk berganti pakaian.


Jika benar Dion melakukan sesuatu yang berakibat pada kemapuan Meridian agak melemah, maka perjalanan ini adalah kesempatan ia mencari tahu kebenaran.


"Yohannes."


"Ya, Nona?"

__ADS_1


Meridian menopang dagu di dekat jendela kereta kuda, menatap pengawal tampan berambut ungu pucat itu. Dia berjaga dengan patuh di dekat kereta Meridian sementara yang lain beristirahat.


"Apa kamu bisa menggunakan sihir?"


"Tidak, Nona. Saya ahli pedang."


Hooh, jadi Laila juga menciptakan ahli pedang.


"Siapa ahli pedang terbaik di kekaisaran?"


".... Kakak Anda, Tuan Muda Lucas."


Meridian memijat pelipisnya spontan.


Langsung saja ia berharap si Ahli Pedang berteleportasi sebab ia sepertinya butuh es batu.


Kenapa semua jagoan OP muncul dari keluarga bangsawan? Para bangsawan aslinya cuma mengatur pemerintahan di mana harus mereka yang paling untung, memungut pajak dari rakyat biasa, dan disembah seolah-olah mereka dewa.


JANGAN REMEHKAN KISAH HIDUP PAHLAWAN SESUNGGUHNYA!!


Apa tidak ada satupun pahlawan dari rakyat biasa?


Sudah ada putra mahkota Kekaisaran, sudah pula pewaris Duke, sekarang empat anak Marquis overpower pula?!


Mana ada ahli pedang yang kerjanya cuma santai-santai! Otot si Lucas itu bukan karena dia sering berpedang tapi karena Laila maunya roti sobek!


"No-Nona?"


"Jangan hiraukan ekspresiku. Aku sedang berada dalam masa pertumbuhan." Meridian mengisap dalam-dalam uap dingin ke tubuhnya atau kereta ini akan terbakar habis. "Jadi, karena kamu ahli pedang, kamu kurang mengetahui tentang sihir?"


"Saya hanya sedikit mempelajari teori dari Yang Mulia, Nona. Kami ahli pedang kadang harus berhadapan dengan seorang penyihir. Karena itulah kami juga mempelajari beberapa jenis sihir walaupun tidak bisa menggunakannya."


Meridian mengembuskan napas. Berusaha tenang.


"Apa kamu tahu sesuatu tentang sihir ingatan? Sesuatu yang mungkin bisa membuat seseorang ingat kejadian tertentu atau melupakan hal tertentu."


Matanya penasaran mengapa putri Marquis mau tahu hal-hal mengerikan semacam itu.


Tapi sebagai kesatria, setidaknya dia langsung menjawab, "Ada, Nona. Sekalipun itu masuk kategori sihir terlarang."


"Jadi begitu. Apa semua penyihir bisa melakukannya? Maksudku, mungkin harus dengan elemen tertentu?"


"Elemen penyihir tidak menentukan batas dari apa yang bisa dia lakukan, Nonaku."


Yohannes sempat terdiam, seolah dia berpikir harus menjelaskan dengan apa pada wanita kepo ini.


"Elemen hanya dasar kemampuan dari penyihir. Berbicara mengenai elemen, dari yang saya tahu, ada sangat banyak sihir yang bisa dilakukan hanya dari satu elemen. Termasuk sihir terlarang."


"Tapi mereka juga bergantung pada kemampuan pengendalian dan kematangan, begitu, kah?"


"Ya, Nona."


"Apa dibutuhkan pengucapan mantra dalam melakukan sihir selain elemen?"


"Setahu saya, itu tidak, Nona."


Jadi mantra itu lebih seperti pengucapan pada diri sendiri tentang jenis apa sihir yang akan dikeluarkan?


"Terakhir, kurasa aku perlu menanyakannya. Berapa lagi waktu yang dibutuhkan tiba di perbatasan?"


"Dengan laju ini, kita akan sampai dalam waktu sepuluh atau dua belas hari, Nona."

__ADS_1


Kalau begitu tinggal sepuluh hari lagi. Meridian rasa ia tak punya pilihan selain bersabar untuk sekarang.


...*...


"Hei."


Meridian bersedekap tenang ketika seluruh sudut di sekitarnya berubah, menampilkan ruang hampa di mana ia biasa berbicara dengan Meridian Sampah.


Ternyata dia tak cuma bisa muncul seenaknya, tapi Meridian bisa meminta secara langsung, lalu dia muncul sesuai kehendak Meridian.


Seperti biasa, Meridian selalu kesal melihat betapa sehat dia ongkang-ongkang kaki di sini, jadi saat ia duduk di kursi, gadis itu berlutut di dekat kursinya.


"Perlihatkan ingatanmu mengenai Dion dan Lucas."


Layar besar di hadapan Meridian sudah berganti. Sungguhan menampilkan potongan-potongan serupa video singkat di mana Meridian Palsu itu menyatukan kedua tangan di depan tubuhnya, pucat pasi akan kehadiran Dion.


Dia tidak mau menjawab kenapa, dia juga tidak mau menunjukan ingatan yang lebih jelas.


Dengan berbagai alasan merepotkan tak penting, intinya Meridian harus mencari tahu sendiri lewat petunjuk sederhana ini.


Tentu saja, petunjuk asli Meridian adalah pengetahuannya terhadap dunia fiksi.


Fiksi selalu didesain agar dramatis. Mau tokoh utamanya tidak mau repot pun akan selalu dipaksa repot agar dia bergerak. Diberi alasan 'mau bagaimana lagi' agar dia melakukan hal yang tidak mau dia lakukan.


Sekarang, menurut hukum dunia fiksi, apa kira-kira alasan seorang adik takut pada kakaknya?


Tubuh Meridian tidak punya bekas cambukan, pukulan atau apa pun itu.


Bukan kekerasan.


Kepribadian Dion lebih mengarah pada kakak protektif yang tsundere daripada kakak psikopat.


Bukan kekerasan verbal juga.


Hmmmmm.


Pertama, kenapa sebenarnya si Bodoh ini tampak seperti akan dimutilasi hanya karena Dion dan Lucas berada di sekitar dia?


Masa hanya karena Dion dan Lucas keturunan iblis.


Herdian sudah bilang di dunia ini tidak ada diskriminasi rasial. Mereka yang berdarah iblis tidak memiliki kecenderungan menjadi iblis menakutkan.


Dia juga tidak dibuat dimusuhi.


Mungkinkah bukan karena darah iblisnya?


"Hei."


"Ya?"


"Apa aku bisa menciptakan manusia di sini?"


"Apa?"


"Di sini." Meridian melirik jengkel. "Aku ingin menciptakan bayanganku. Sesuatu yang bisa kuajak bicara selain kamu."


"Mungkin?"


Meridian mengibaskan tangan. "Pergi bersembunyi di tempat yang tidak mau aku ketahui. Aku butuh waktu sendiri."


...*...

__ADS_1


__ADS_2