
Yohannes baru disandera ketika malam tiba, di mana memang Raven sengaja melemahkan penjagaan di sekitar tenda mereka untuk memancing Yohannes.
Mau mereka tahu itu perangkap, biasanya orang yang menyusup ke markas musuh memang sudah siap pulang hidup-hidup atau pulang ke pangkuan dewanya.
Jadi mereka akan mengambil risiko.
Setelah penyanderaan, paginya Meridian malas-malasan. Hanya berdiam diri di kasur selepas Raven melahapnya habis-habisan dan pria itu pergi untuk memainkan skenario mereka.
Dia belum sepenuhnya takluk. Tapi Meridian juga percaya diri dia akan takluk.
Tokoh fiksi tidak usah terlalu dibawa ke hati. Ujung-ujungnya mereka akan terseret arus tokoh utama.
Siangnya Meridian makan, ia membuat yakiniku.
Terus terang, Meridian suka di sini.
Raven tidak melarangnya saat Meridian bilang mau masak sendiri. Bahkan dia membantu Meridian, sekalipun yang dia lakukan cuma mengambil-ambilkan bahan makanan.
Dia juga pergi ke dungeon untuk memburu monster yang dagingnya bisa dimakan hingga Meridian puas makan.
Bukan tidak enak dilayani, tapi namanya wanita mandiri yang tinggal sendiri, Meridian jadi terbiasa makan, cuci baju, berdandan, pokoknya semua sendiri.
Meridian adalah tipe yang percaya bahwa dirinya yang terbaik dalam mengurus diri sendiri jadi orang lain tidak usah membantunya.
Di kediaman Marquis, apa-apa main pelayan. Minum ini pelayan, makan itu pelayan, mandi juga pelayan.
Bagi orang yang sejak lahir dilayani, memang tidak bisa hidup tanpa pelayan. Bagi yang sejak lahir melayani diri sendiri, justru keberadaan pelayan itu mengganggu kebebasan.
Mama yang uangnya banyak saja ogah pakai pelayan. Apalagi Meridian.
"Kamu sangat kecil dan kurus, Nona, tapi kenapa makanmu banyak?"
"Karena aku tidak akan gemuk." Meridian membalas pongah.
Inilah definisi dari bersenang-senang setelah pindah ke isekai. Manfaatkan seluruhnya!
"Kamu tidak ingin makan?"
"Jika kamu menyuapiku."
"Yasudah kalau tidak mau."
"Hei, itu dingin." Raven datang memeluknya dari belakang. "Kamu sangat menggemaskan. Aku pikir lebih baik aku mendapatkanmu daripada dungeon tua ini."
"Ya, ya, terserah."
"Kamu tidak ingin?"
"Aku harus kembali." Meridian berbaik hati menyodorkan sesumpit daging ke mulut pria itu. "Ada yang harus kuselesaikan. Jika itu selesai dan aku ternyata tidak mendapat apa yang kumau, baru aku ikut bersamamu."
"Benarkah? Apa yang coba kamu selesaikan?"
Tentu saja hidup di tubuh bodoh ini.
Jika ternyata setelah Meridian berakhir dengan Andaru masih saja ia terjebak, Meridian akan merubah rencana jadi ******* dunia.
Akan ia hancurkan semua kuil, lalu menghancurkan satu per satu kerajaan, lalu hidup bersama si Tampan ini.
__ADS_1
In the bed all day, kalau kata Zayn Malik.
"Lupakan itu dulu." Meridian meletakkan sumpitnya setelah merasa kenyang. "Ada yang ingin kutanyakan."
"Apa itu?" Raven mengecup pipinya lembut.
"Aku tidak merasa panas lagi. Apa kamu tahu?"
Raven memiringkan wajah. Agak terdiam sebelum dia berkata, "Kurasa dia meminimalisir dampaknya."
"Apa?"
"Jika orang itu tahu kamu tertawan musuh, tentu saja dia akan meminimalisir kemungkinan kamu dilukai. Normalnya, aku juga tidak suka menawan wanita yang kesulitan bernapas dan penuh keringat. Kemungkinan dia tetap tidak ingin kamu dianiaya oleh musuh karena terlalu menyusahkan."
"Masuk akal." Meridian masih merasakan keganjilan. "Apa Dion tidak tahu ada bangsa iblis di tempat ini?"
"Aku tidak berasal dari sini."
"Ohya?"
"Aku hanya bandit sewaan, Nona."
Jadi dugaan Meridian benar. "Karena itu dia tidak tahu. Kurasa begitu. Kalau dia tahu, dialah yang akan menentangnya."
"Nona memang cerdas." Raven menggosok keningnya ke pipi Meridian. "Apa sudah? Bagaimana jika sekarnag Nona bermain bersamaku?"
"Aku sudah bilang akan menemui tawanan." Meridian mengusap-usap kepala kucing hitamnya itu. "Lalu, apa pasukanmu akan berperang sungguhan?"
"Hm? Entahlah."
Dia tetap tidak menjawabnya.
Meridian bergegas beranjak meski Raven menempelinya seperti cicak. Dia membiarkan tubuhnya jatuh begitu saja ke lantai, malah langsung sibuk membelai betis Meridian. "Kembalilah cepat, Nonaku."
Setelah berpakaian ala tahanan juga, Meridian pun pergi bersama bawahan Raven.
Barier di sekitar mereka masih aktif, tapi dia membukanya hanya menuju ke tempat tahanan dipenjara.
Tepat setelah mereka berhenti di depan tahanan, Meridian agak terkesiap. Wajah dua orang itu agak membiru, nampak habis dipukuli.
Mereka pun terkejut melihat Meridian. Terlebih ketika bawahan Raven mendorongnya kasar memasuki sel, seakan-akan Meridian adalah binatang.
"Nona!"
Meridian baik-baik saja. Dia melakukan itu agar ia tampak seperti tahanan sungguhan.
Tapi ....
Dasar kucing nakal!
Meridian sudah bilang untuk menjaga mereka, walau ia memang tidak bilang jangan memukuli mereka.
"Tenanglah." Meridian berbisik rendah. "Aku baik-baik saja. Kalian baik-baik saja?"
"Ya, Nona."
Nampaknya tidak.
__ADS_1
"Kenapa kalian menyusup? Itu berbahaya. Seharusnya selesaikan ini dengan jalan damai bersama negara tetangga."
Yohannes menatapnya gelisah. "Bagaimana saya diam mengetahui Nona dijadikan sandera? Bahkan jika harus terbunuh, saya akan memastikan Nona baik-baik saja. Yang Mulia sudah meminta saya."
"Begitu." Meridian bingung harus merespons seperti apa. "Bagaimanapun, terima kasih. Dan maafkan aku membuat kalian seperti ini."
"Itu bukan salah Anda, Nona."
"Ini memang bukan situasi di mana kita harus saling menyalahkan. Tapi dengarkan aku. Diam saja sampai ada pengumuman dari kedua belah pihak kerajaan. Aku baik-baik saja. Mereka menjagaku karena statusku. Jangan melawan mereka. Jangan sampai terjadi peperangan hanya karena hal sekecil ini. Mengerti?"
"Ya, Nona."
"Kalian melihat pemimpin mereka?"
"Tidak, Nona."
Yang kemarin menangkap mereka jelas Raven.
"Bagaimana ciri-ciri pemimpin mereka?"
"Informasi mengatakan dia pria berambut cokelat dengan mata hijau."
"Aku mengerti." Meridian bersusah payah bangkit karena tangan dan kakinya diborgol. "Aku akan mencari tahu sebisaku. Kalian bertahanlah sebentar."
"Ya, Nona. Tolong jaga diri Nona."
Setelah berbalik, Meridian hanya memasang wajah dingin.
...*...
Setiba di tenda kembali, bawahan Raven melepas borgol di tangan dan kakinya. Bergegas pergi meninggalkan Meridian yang nampak sudah siap membunuh seseorang.
"Raven."
"Ya, Nona?"
"Apa seseorang pernah menamparmu?"
"Tentu saja tidak per—"
Plak!
Raven tertegun.
Begitu saja Meridian melewatinya, duduk di atas tempat tidur seraya melipat tangan. Normalnya Meridian tidak asal memukul orang, apalagi pria yang bersalah.
Percayalah. Menggunakan kekerasan pada pria akan membuat mereka memandang kalian sebagai musuh.
Tapi karena ini dunia novel halu, pria dibuat lemah. Ketika mereka ditampar, mereka malah tertegun bersalah.
"Aku tidak akan menjelaskan untuk apa itu." Meridian menjatuhkan diri ke tempat tidur. Berbaring menyamping, membelakangi Raven. "Karena otakmu masih bekerja dan kamu tahu aku baru saja mengunjungi siapa."
Sesuai dugaan, tak lama, kasur berderit. Pria itu datang mendekatinya seperti kucing jinak sungguhan. "Aku hanya memukuli mereka sedikit, Nona. Aku perlu memperlihatkan bahwa aku pria jahat sungguhan."
"Aku susah bilang aku tidak menyukai kekerasan."
Lebih tepat lagi, tidak jika mereka dikerasi karena Meridian.
__ADS_1
Itu menyebalkan. Sebab itu akan jadi hutang seumur hidup.
...*...