
Meridian tidak mungkin bilang bahwa ciumannya memang tidak berarti apa-apa, kan?
Bagi Meridian, dia tetap tokoh novel. Sama saja sebenarnya seperti kalian mencium kertas—setidaknya bagi Meridian—karena mau dibuat bagaimanapun, mereka cuma tokoh khayalan.
"Aku cemburu. Apa mungkin Nona benar-benar melakukannya dengan orang lain? Apa Herdian? Kurasa Duke Elgard harus kehilangan salah satu putra terbaiknya."
"Berhenti bersikap berlebihan. Anda menggelikan." Meridian menbalas kejam. "Cepat lakukan."
"Kamu memerintah seorang kaisar?"
"Saya menagih janji dari tunangan terkasih saya yang berkata saya boleh bersikap seenaknya. Cepat. Lakukan."
Andaru cemberut.
Tapi tampaknya dia cuma bercanda.
Segera memperlihatkan matanya lagi untuk menganalisis sihir dalam diri Meridian. "Apa yang harus kulihat?"
"Segalanya. Beritahu saya apa pun itu."
Sekalipun dia klise, Andaru lebih tajam dari yang Meridian duga. Daripada ia spesifik meminta dia melihat sihir pengawas, lebih baik dia menyebutkan seluruhnya.
"Hmmm, luapan manamu masih sama. Mereka tidak agresif, seperti kataku. Tapi sepertinya mereka agak ketakutan. Tekanan mana di gua ini mengganggu mereka."
Itu jelas bukan Meridian.
Meridian percaya diri luar biasa sebab tubuh ini milik tokoh utama dan ia bersama tokoh utama pria juga.
Hukum novel akan selalu sama. Lagipula, sihir Andaru yang seuprit jika dibandingkan Meridian itu saja sudah cukup membuat gentar negara lain, apalagi digabungkan sihir Meridian.
Menguasai dunia mungkin juga bisa.
"Lalu, ada jejak sihir di tubuhmu." Andaru menyentuh pipinya. Dalam memandang mata kristal Meridian. "Apa ini? Aku terlalu fokus pada luapan manamu sampai melewatkannya."
"Apa?"
"Mana iblis. Ini berbeda dari mana milik Dion. Siapa yang meletakkannya? Bajingan yang melukaimu?"
Jadi salah satu yang tahu mengenai identitas Dion adalah Andaru?
Dia putra mahkota, sih, apalagi matanya juga istimewa Tapi bicara soal mana iblis, apa mana Dion sudah tidak tersisa makanya mana iblis lain bisa masuk?
Mungkinkah, Raven? Tentu saja dia harus meletakkan sihir di tubuh Meridian sebagai salah satu jaminan.
"Apa itu berbahaya, Yang Mulia?"
Andaru terdiam beberapa waktu. "Itu sihir pemusnah. Dan kekuatannya cukup besar. Siapa yang meletakkan pelindung padamu?"
"Saya tidak tahu. Apa yang saya tahu mengenai mana?"
Nampaknya dia tidak puas.
Tapi dia tidak memaksa Meridian.
"Selain hal itu, aku hanya melihat jejak sihir Dion. Mantra Lucas padamu juga masih terpasang."
"Herdian berkata bahwa mana iblis tidak boleh bergabung, Yang Mulia. Jika ada mana iblis lain di tubuh saya, apa itu akan baik-baik saja?"
"Herdian memberitahumu?" Andaru mengangkat alis sekilas. "Ya, itu benar. Tapi mana milik Dion di tubuhmu sudah menghilang. Yang tersisa hanya sihirnya."
__ADS_1
"Apa itu berbeda?"
"Ya. Sihir memang terimplementasi menggunakan mana, tapi sihir dan mana memiliki sifat yang berbeda. Secara singkat, mana yang tidak diubah menjadi sihir memiliki ketajaman yang lebih berbahaya dari sihir. Mereka juga tidak terkendali, sementara sihir itu terkendali."
Sepertinya Meridian mengerti. Ini seperti lemon yang dimakan langsung rasanya kecut, tapi lemon yang sudah diekstrak lebih mudah dikonsumsi.
Seperti obat. Jika minum obat secara langsung dari alam, seseorang harus merebus berbagai jenis tanaman lalu meminum ramuan berasa sampah, tapi jika minum obat kaplet yang isinya adalah ekstrak dari obat-obatan berasa sampah itu, kalian tinggal menelan lalu dibilas dengan air.
"Ini luar biasa. Mana sebanyak ini bergejolak dalam tubuhmu dan kamu baik-baik saja. Kurasa aku mulai percaya ada yang tidak benar mengenai ingatanmu."
Andaru terbawa suasana dan terus mengamatinya.
"Kudengar kamu sering mengeluh sakit kepala, Nona. Apa sekarang masih sering terjadi?"
"Tidak. Saya hanya sakit kepala saat saya kesal pada Anda, Dion, Lucas, san Herdian."
Andaru mengerjap. "Terima kasih?"
"Itu bukan pujian."
Pria itu menghela napas. Benar-benar tidak mencerminkan seorang calon kaisar masa depan, setidaknya di mata Meridian.
"Nonaku mulai suka menyakiti calon suaminya. Apa yang akan terjadi jika kita menikah, Nona?"
"Itu jika saya dan Anda benar-benar menikah." Meridian berjinjit. Mengecup bibir Andaru sebelum ia berbalik. "Ayo pergi."
"Aku hanya memastikan, tapi kecupan barusan bukan bayaranku, kan?"
"Itu bayaran."
"Nona, itu berlebihan."
"Saya mau seenaknya." Meridian melipat tangan dengan senyum pongah. "Saya yang menentukan bayaran Anda."
*
Sebenarnya Meridian juga suka novel dan komik-komik action. Ia salah satu penggemar berat Solo Leveling yang meskipun tema ceritanya klise dan endingnya rada mengecewakan, secara keseluruhan komik itu menyuguhkan cerita yang menarik, perkembangan karakter yang nyaman dibaca, serta paling utama: battle dan visual mengagumkan.
Jadi tentu saja Meridian tidak membenci plot pertempuran dalam novel.
Tapi ia tidak menyangka kalau dalam novel Laila adalah pertempuran semacam ini juga.
Atau tidak?
Alurnya jelas telah berubah. Dari awal Laila tidak mungkin menulis konflik politik yang intens dan sebagainya. Jadi Meridian anggap ini adalah kejadian yang mungkin tidak dimuat dalam novel.
Setelah mereka turun lebih ke bawah, monster-monster yang sebelumnya bersembunyi telah habis. Kini monster-monster menyeramkan muncul untuk menyerang penyusup di teritori mereka, dan Andaru menghabisinya hanya dengan sihir.
Itu tidak terlalu keren, bagi Meridian. Battle di novel romansa tidak mungkin sama dengan battle di novel aksi.
Pahlawan di novel romansa cuma mengayunkan sekali pedangnya, satu medan perang habis.
Situasi menarik baru muncul ketika mereka memasuki lantai keenam, di mana tiba-tiba monster berbentuk ular muncul.
Dia menyemburkan api membabi-buta, dan Andaru sepertinya mulai kesulitan melawan hanya dengan sihir jarak jauh.
"Yang Mulia, pasangkan sihir pelindung pada tubuh saja. Lalu arahkan sejumlah kecil mana berbentuk piringan di masing-masing kaki saya. Anda boleh pergi melawannya."
"Kamu baik-baik saja?"
__ADS_1
"Apa Anda perlu bertanya?"
Andaru tertawa. Dia memutar telunjuknya ke arah bawah, dan Meridian perlahan merasa ia memijak sesuatu.
Setelah itu, Andaru melesat turun. Mengeluarkan pedang dari alat sihir penyimpanan.
Bagaimana dia juga mahir berpedang membuat Meridian agak kecewa. Tapi karena mau diapakan pun dia ujung-ujungnya memang over kemampuan, jadi yasudah.
Daripada itu, Meridian mengamati laju pertempuran.
Kecepatan Andaru meningkat tajam perlahan-lahan. Jika dilihat dari bagaimana dia tidak mengaktifkan matanya dan memutuskan bertarung dengan tangan, kemungkinan dia menghemat mana.
Haruskah ia mencoba sekarang?
Akan berbahaya jika Andaru sampai terluka.
"Yang Mulia, apa saya boleh membantu?"
Dia terlihat tampan saat angin berhembus dari kibasan ekor ular raksasa itu. "Simpan mananu, Nona. Lawanmu berada di bawah."
Baiklah.
Lakukan yang terbaik.
Meridian melipat tangan. Menganggap dirinya sedang menonton film 3D saja.
Kibasan ekor ular itu luar biasa kuat. Tapi tak satupun anginnya menyentuh Meridian lantaran sihir Andaru.
Sebaliknya, karena Andaru tidak melindungi diri, dia terkena beberapa goresam.
Sebenarnya itu cukup hebat dia bertahan sejauh ini tanpa mana.
Sesuai harapan dari tokoh utama.
Dan sesuai dugaan, meski terluka kecil, Andaru menumbangkan ular itu.
Villain hanya upil di depan kekuatan protagonis.
"Anda hebat sekali, Yang Mulia."
Andaru mengusap keningnya yang berkeringat hebat. "Terima kasih atas sarkasmemu, Nonaku. Sepertinya aku sama sekali tidak hebat di matamu."
Meridian mendarat mulus di pelukannya. "Itu kan salah Anda menolak bantuan saya."
"Ayo coba kekuatanmu di lantai selanjutnya. Monster di sana agak merepotkan."
Sambil kembali melayang, Andaru meletakkan sihir di mayat ular itu agar tidak didekati monster-monster lainnya.
"Sepertinya Anda mengenal struktur dungeon ini? Apa Anda pernah sampai ke lantai dasar?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Tidak banyak petualang yang berhasil kembali hidup-hidup setelah melewati lantai lima. Untuk menghindari kematian, akupun menghindari lantai dengan monster terlalu kuat."
Andaru memasukkan kembali pedangnya ke cincin dimensi.
"Itu hanya insting. Monster selanjutnya akan menyulitkanku. Itu terasa dari mananya."
__ADS_1
Meridian pikir dia juga expert menjelajah.
*