
Katanya mengambil sihir dari batu sihir itu tidak semudah mengambil benda dari atas meja. Diperlukan kecocokan elemen di antara mereka. Sayangnya, ternyata baik Herdian maupun Raphael tidak bisa menyerap sihir es dari batu sihir yang diberikan Dion, jadi satu-satunya cara agar batu itu bekerja adalah dengan cangklong khusus atau Dion langsung yang memecah batu itu menggunakan teknik tertentu.
Meridian sudah siap tidur sambil kepanasan. Tapi karena memang keduanya juga mustahil disuruh pergi, lebih baik ia diam menerima.
Mereka berdua sudah tahu risiko membawa Meridian.
Walau Meridian jadi tidak terlalu suka harus menyusahkan.
Butuh waktu bagi Meridian benar-benar bisa merasa nyaman.
Ia bisa merasakan intensitas sihir Herdian meningkat dan terus meningkat di sekitarnya, sampai dia melihat Meridian bernapas tenang.
Selama beberapa waktu, Meridian akhirnya terlelap.
Namun mungkin karena ia kini tidur di kereta kuda, lagi-lagi ia butuh penyesuaian diri.
Pada akhirnya Meridian terbangun. Menemukan Herdian sudah terjaga lagi, bergantian dengan Raphael yang terlelap.
Pria itu tersenyum mendapati Meridian terjaga.
Apa Nona kepanasan?
Tidak.
Meridian membelakanginya. Gerakan yang membuat Raphael tersentak, bergegas mengelus kepala Meridian.
Ada sesuatu yang ingin kudengar darimu.
Apa itu, Nonaku?
Kamu menyukaiku?
.... Apa maksud Nona?
Apa itu kurang jelas?
Mungkin saja.
Entah kenapa terasa jelas dari batinnya, dia tersenyum.
Nona adalah wanita yang menarik. Mustahil seseorang tidak menyukai Nona.
Bagaimana jika aku ternyata wanita yang berbahaya?
Bukankah sejauh ini Nona sudah cukup berbahaya?
Aku adakah gadis yang bisa menyuruhmu meninggalkan dunia untukku seorang. Kamu masih berpikir menyukaiku?
Apa Nona juga akan meninggalkan dunia jika Nona mencintai saya?
Pertanyaan yang pintar.
Jika bertanya apakah Meridian akan meninggalkan dunia nyata untuk cintanya, maka tidak. Namun jika berbicara apakah Meridian bisa meninggalkan dunia ini untuk tokoh novel ini, maka jawabannya bisa.
Sebab semua tokoh novel akan dibuat setia sampai maut datang. Siapa yang tidak mau?
Nona tidak menjawabnya?
Aku belum melihat kamu jauh lebih berguna bagiku daripada Andaru. Aku hanya memilih orang yang berguna.
__ADS_1
Nona sangat kejam. Saya jadi memahami perasaan Lucas hari itu.
Baguslah. Sepertinya dia butuh teman.
*
Pagi-pagi sekali pasukan bergerak. Meridian mandi di dalam kereta menggunakan bantuan sihir sementara kereta terus bergerak.
Beberapa saat ketika siang hari matahari semakin terik, Meridian putuskan untuk keluar. Ingin ikut berkuda atau dirinya akan mandi keringat sampai malam hari tiba.
"Adikku, kurasa itu bukan ide yang bagus. Berkuda akan membuat tubuhmu sakit."
Harusnya Laila membuat tokoh novelnya semua pandai berkuda. Masa zaman baheula begini seorang bangsawan malah sama sekali tidak tahu naik kuda.
Tapi yasudahlah.
Karena Meridian bukan si Meridian palsu.
Apa kunci agar kalian jago naik motor, naik mobil, atau naik kuda, atau rollercoaster?
Bukan skill, tapi berani. Segala sesuatu yang dimulai dari keberanian paling tidak akan lebih baik daripada sesuatu yang apa-apa serba takut.
"Kalau begitu, Nona bisa berkuda bersama saya."
Raphael agak mengarahkan tatapan dingin pada Herdian. "Berhenti menggoda adikku."
"Aku hanya memberi tawaran. Bagaimanapun, kepemimpinan pasukan dibawahmu, bukan dibawahku. Aku bisa melambat agar Nona Muda tidak terluka, juga datang dengan cepat menggunakan sihirku jika terjadi sesuatu."
Memang jago ngeles.
Tapi Meridian tidak benar-benar merasa itu saran yang buruk. Jadi ia mengiyakan setelah meyakinkan Raphael bahwa Herdian tidak akan pernah berani menyentuhnya.
Meridian tidak bisa melakukan perlindungan sederhana dengan sihirnya yang kacau sekarang, jadi sebagai ganti, sebuah mantra pemusnah diletakkan di tubuhnya.
Dion bilang mantra itu akan aktif secara otomatis jika Meridian merasa terdesak.
Nampaknya tidak seperti Dion, Herdian tidak punya keahlian dalam mengutak-atik mantra. Dia lebih andal memasang sesuatu dengan sihirnya, bukan menghancurkan sihir yang ada dalam diri seseorang.
Makanya tidak ada masalah.
Walau ternyata benar tubuh Meridian agak terlalu lemah untuk dipakai berkuda, duduk memandangi pasukan bergerak teratur cukup menghibur.
Meridian tak berhenti mengisap uap dingin dari cangklongnya. Sesekali tak sengaja bersitatap dengan Yohannes yang diam-diam mengawasinya tepat di belakang kuda Herdian.
"Nona tampak seperti Nyonya Besar menakutkan." Herdian terkekeh.
Pada posisi ini, mau tidak mau dia memeluk Meridian dari belakang.
"Agak sedikit berbahaya membiarkan Nona jadi bahan tontonan. Dua ratus pria vulgar ini bisa terusik melihat kecantikan Nona."
"Apa kamu termasuk dari dua ratus itu?"
"Tolong jangan bertanya sesuatu yang jelas."
Kuda mereka melambat. Pelan-pelan pasukan sisanya maju ke depan hingga benar-benar menyisakan mereka di belakang, tentu bersama beberapa prajurit Andaru.
"Hei." Meridian mengembuskan uap ke udara seperti orang yang sungguhan merokok. "Bicara padaku," bisiknya diam-diam.
Meski sempat bingung, Herdian segera mengerti apa maksudnya.
__ADS_1
Telepatinya baru bisa dilakukan dua arah jika dia duluan yang mengajak Meridian bicara.
Nona tidak ingin mereka menguping?
Aku hanya akan membiarkan mereka melapor pada Andaru bahwa kita naik kuda bersama.
Nona selektif juga.
Herdian sangat pandai bertingkah seolah tidak sedang bicara.
Apa ada sesuatu yang ingin Nona bicarakan?
Kakakku, Dion.
Ada apa, Nona?
Aku memimpikan hal aneh semalam.
Mimpi?
Mimpi di mana aku bertingkah seolah aku ketakutan pada Dion.
Bukan dunia khayalan di mana Meridian bertemu si Pengecut Meridian Palsu lagi. Tapi benar-benar seperti mimpi, walau juga seperti ia menyaksikan film berisi Pengecut Palsu Meridian memasang wajah pucat pasi hanya karena Dion berdiri di belakangnya.
Apa, sih? Memang Dion pernah mau membunuh dia?
Itu terdengar menarik.
Herdian menambah kecepatan kudanya sedikit begitu tak sadar mereka tertinggal lewat sepuluh meter dari konvoi.
Bisa dibilang, saya dan Nona tidak dekat sejak awal. Sebenarnya, Nona baru pertama kali menatap mata saya saat Nona berada di gubuk hari itu. Jadi saya tidak benar-benar mengenali Nona.
Bagaimana dengan Dion?
Di mata saya, Dion adalah pria luar biasa. Tentu, saya tidak bekata dia sempurna dan baik hati. Beberapa orang menyebutnya tidak berperasaan, wujud seorang iblis terlepas dari mereka tahu dia benar-benar iblis. Tapi, Dion juga bukan pria biadab. Dia hanya tidak senang berbasa-basi atau berbuat baik tanpa arti.
Memang terlihat begitu. Meridian sangat tidak setuju jika ada yang bilang Dion itu dingin.
Yang dingin itu es yang dia berikan.
Mungkin saja itu ingatan Nona? Nona sebelumnya memang jauh berbeda dari diri Nona sekarang. Wajar saja jika Nona merasa ketakutan lantaran kepribadian Dion itu. Bahkan pria pun merasa terganggu dengan sosok Dion. Saya rasa itu wajar saja.
Benarkah?
Meridian mau menyebutnya wajar juga, daripada ia pusing mengurusi apanya yang tidak wajar. Tapi setelah melihat itu untuk kedua kali, Meridian terpaksa berpikir keras.
Ini dunia novel.
Ia ter-summon ke sini tanpa tahu alasannya apa.
Bahkan kalau Meridian menolak, jika sesuatu dari dunia ini sengaja memanggilnya untuk mengurusi hidup sialan si Meridian Brengsek, itu kan berarti ada sesuatu dari diri Dion yang perlu ia ungkap.
Cih.
Cuih, cuih.
Kenapa pula Meridian harus terlibat plot klise busuk ini?
*
__ADS_1