Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
29 - urus jodohmu sendiri


__ADS_3

Dia berharap Meridian memusuhi Dion, begitu? Kenapa Meridian harus membuang bodyguard setianya cuma karena si Pengecut ketakutan?


Dasar tidak bertanggung jawab.


Nona terlihat kesal.


Aku hanya sebal karena mimpi itu seperti memaksaku memushi Dion. Tapi, terlepas dari itu, apa tidak ada satupun sihir yang bisa mengutak-atik ingatan?


Ingatan manusia itu tersimpan di otaknya, membentuk serat-serat yang akan terus ada. Bahkan kalau jiwa Meridian sudah berbeda, ini kan tubuhnya Meridian Sialan.


Mungkin saja serat otaknya masih bisa diutak-atik agar ia bisa ingat.


Capek juga rasanya selalu bertingkah lupa ingatan.


Ada sihir semacam itu, Nona. Namun risikonya terlalu besar untuk dilakukan.


Apa itu? Menyakiti secara fisik?


Biasanya setiap bicara sihir, risikonya tidak pernah mengganggu fisik kecuali lemas.


Bisa dibilang seperti itu. Ingatan adalah elemen penting dalam tubuh manusia juga penyihir. Ada kemungkinan ingatan Nona akan semakin bermasalah jika ....


Herdian tiba-tiba berhenti.


Jelas Meridian menoleh. "Ada apa?"


Pria itu mengerjap. Saya tidak memikirkan itu. Mengutak-atik ingatan akan menyebabkan kekacauan dalam ingatan seseorang.


Lalu?


Bukankah itu bisa jadi penjelasan mengapa Nona bisa hilang ingatan?


Tidak.


Yah, dia tidak salah juga. Namun itu akan jadi benar jika Meridian sungguhan hilang ingatan. Masalahnya kan bukan, jadi Meridian bukan hilang ingatan setelah seseorang mengutak-atik ingatannya.


Walau itu penjelasan yang cukup menarik.


Nona terlihat tidak yakin.


Jika seseorang mengutak-atik ingatanku hingga aku lupa ingatan, aku hanya merasa itu tidak masuk akal kenapa kepribadianku berubah (kata Lucas) dan kenapa sihirku bangkit.


Meridian benci saat ia cuma bisa berpikir bahwa ia seperti ini karena memang jiwanya tertukar.


Cih.


Hmmmm, anehnya itu benar. Lagi-lagi Nona menambah daftar pekerjaan otak saya.


Berhenti mengeluh.


Apa Nona tidak mau memberi saya hadiah?

__ADS_1


Bukankah kamu bilang kamu akan memberitahuku setelah memikirkannya?


Nona akan mengabulkan apa pun itu?


Apa? Kamu ingin menciumku? Tidur denganku?


Herdian tersedak. Ini pertama kali Meridian melihat wajah laki-laki sungguhan memerah karena perkataan seorang wanita.


Otomatis, Meridian berpaling. Berusaha keras tidak membuat ekspresi kecewa lantaran reaksinya yang klise.


Hadeh.


Memang yah, kalau terlalu kenyang kenyataan, kalian jadi sulit terbawa perasaan.


Meridian punya cukup banyak pengalaman dengan pria. Sikap malu-malu dengan muka memerah itu kan reaksi yang cenderung dikeluarkan wanita.


Pria malu-malu tidak seperti itu.


Meridian tidak tertarik sebab itu menunjukkan Herdian hidup di bawah tulisan Laila.


...*...


"Kenapa kamu membiarkannya?"


Meridian mendesah malas karena sekali lagi ia terlempar ke alam antah-berantah, menemui si Pengecut yang cuma tahu mempertanyakan semua tindakan Meridian.


Ia sedang malas meladeni si Palsu, jadi Meridian membaringkan tubuhnya di atas permukaan lantai tak berwujud, mulai bertingkah seakan-akan ia tidur.


"Lucas mengawasimu."


Ia sudah tahu yang Pengecut ini katakan bukan kebohongan—dan ia tidak peduli—tapi mengetahui kakaknya yang beberapa waktu tidak muncul setelah Meridian berkata kejam ternyata mengawasi, itu jadi sedikit menarik.


Baiklah. Karakter yang biasanya suka dilindungi itu karakter lemah. Baik yang terang-terangan lemah atau yang tidak mau dibilang lemah padahal selalu dilindungi.


Nampaknya si Bodoh ini karakter terang-terangan lemah, tapi sampai membuat Lucas jadi penguntit, sebenarnya setolol apa persaudaraan mereka dibuat oleh Laila?


"Dia selalu melakukan itu." Si Lemah mulai curhat.


Duduk di dekat Meridian hingga bergegas ia bergeser menjauh.


"Dia berpura-pura baik lalu mengawasimu. Dia tidak akan membiarkan—"


"Tentu saja karena seseorang yang bodoh, lemah, menyedihkan perlu diikuti atau dia mati tersedak lalat." Meridian membalas sinis. "Berhenti bertingkah seakan kamu korban. Aku tidak peduli pada penderitaanmu, sialan. Aku hanya peduli pada diriku. Hanya diriku. Berhenti mencuci otakku."


Malah dia membuat wajah murung seakan Meridian berbuat jahat.


Idih.


Memang dia pikir dia pantas dikasihani?


"Hei, apa kamu hanya muncul untuk mengadu domba orang lain?" Meridian akhirnya duduk. "Mengatakan hal-hal tidak penting tentang asal-usul seseorang, memprovokasiku agar sama takutnya denganmu. Jika kamu punya waktu melakukannya, ambil tubuhmu sendiri!"

__ADS_1


Dia menatap Meridian.


Rasanya mulai agak aneh setelah Meridian tiap hari melihat pantulan wajah itu sebagai wajahnya sendiri.


"Apa kamu tidak membenci orang yang mengurung kakimu?"


"Oho, mengurung kakiku. Mana kulihat rantainya. Mana?" Meridian benar-benar mengejeknya. "Kalau seseorang berkata jangan keluar lalu kamu mematuhinya, itu bukan dia yang mengurungmu, tapi kamu masuk ke dalam kurungan yang dia tawarkan. Kalau dia berkata dia akan membunuhmu jika tidak menurutinya, itu salahmu tidak melawan, dasar penakut. Apa Tuan Marquis diam-diam tidak peduli padamu? Atau kamu tidak bisa mencari satu saja tempat untuk bisa berlindung?"


Dia bungkam.


"Berhenti menyuruhku menangis tersedu-sedu. Aku ini orang yang optimis. Aku tidak menyedihkan seperti seseorang yang duduk cantik menangisi nasibnya di depan cermin. Berhenti datang! Mengerti?!"


...*...


Dasar menyebalkan.


Kenapa sih dia harus selalu datang hanya untuk mengatakan hal tolol? Jangan sampai Meridian jadi gila lalu bunuh diri di kuil agar sekalian Meridian Palsu itu lenyap.


Menjengkelkan!


"Nona?"


"Aku bisa gila seperti ini." Meridian bahkan tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. "Duke Muda, jika aku membenturkan kepalaku, apa aku akan lupa ingatan lagi? Atau aku akan koma?"


Herdian dan Yohannes sama-sama tersentak mendengar.


"Ada apa, Nona?" Herdian mengalirkan sihirnya ke sekeliling Meridian.


Mungkin mengira ia terlalu kepanasan.


Tapi Meridian akui ia berkeringat bukan panas lagi. Namun membara karena jengkel.


"Tidak ada." Saking kesalnya, Meridian mengibaskan tangan. "Tinggalkan aku sendiri. Berjaga di tempat yang jauh."


Sikapnya pasti menyebalkan, tapi Meridian butuh waktu mengumpat. Karena memang ia harus cerita pada siapa soal mimpi sialan itu?


Herdian satu-satunya tempat curhat Meridian sekarang. Masalahnya dia juga tidak tahu secara keseluruhan.


Meridian mau mengumpati Meridian palsu.


"Dasar sialan!" Begitu mereka menjauh dari, Meridian langsung melempar gelas ke tanah.


Ada waktu sekitar setengah jam istirahat sebelum pasukan kembali berjalan, jadi Meridian akan puas-puas marah di sini.


"Memang aku datang ke sini sebagai penyelamat? Hah! Apanya yang berbahaya! Lucas berbahaya, Dion berbahaya, Herdian berbahaya, Andaru berbahaya, semua orang berbahaya! Mereka semua tampan karena tokoh utama! Katakan saja begitu!"


Meridian seperti orang gila yang mengomeli tanah.


"Lalu aku harus apa? Hah?! Aku harus berkata 'oh, benarkah dia berbahaya? Kalau begitu aku harus menjauhinya! Selamatkan aku, duhai pangeran tampan!'. Begitu?"


Tentu saja tanah tidak menjawab.

__ADS_1


"Lalu apa setelah itu? Mereka berubah jadi antagonis yang mencoba membunuhku atau sesuatu? Dengar yah, Sialan, aku tidak peduli pada jalan cerita dunia absurd ini! Mau kamu berjodoh dengan Andaru, mau dengan Herdian, mau dengan si Kembar tolol pun bukan urusanku! Urusan jodohmu sendiri! Ambil tubuhmu agar aku kembali!!!!"


...*...


__ADS_2