Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
52 - informasi mengenai kuil


__ADS_3

Jauh di hatinya, Meridian merasa Dion masih menyembunyikan sesuatu. Ia tak tahu apakah si Pecundang itu takut setelah Dion mengungkapkan perasaan padanya lalu mencium dia, tapi dengan ekspresi Meridian Palsu yang selalu ketakutan seperti akan dimutilasi, rasanya masih terlalu sederhana kalau cuma soal suka lalu ciuman paksa.


Masih ada yang lain.


Karena itu, untuk sekarang, Meridian fokus mencari tahunya.


Disamping ia cukup bersenang-senang dalam permainan seksual intens penuh fantasi ini.


Dunia orang dewasa sepertinya jelas tak luput dari yang namanya hubungan seksual. Karena ia tak punya kewajiban bekerja atau ditegur atasan di sini, Meridian benar-benar cuma tidur, makan, sakit-sakitan dan bercinta.


Beginilah dunia ciptaan manusia.


Dunia penuh nafsu tanpa akal.


Kalau Meridian menepikan rindunya pada rutinitas produktif, maka ia akan bilang dunia ini adalah surga.


"Apa masih terasa sakit?"


Meridian membiarkan Lukas mengecup air matanya.


Dua bersaudara ini tampak menggila justru ketika Meridian bersikap tidak berdaya, agak ketakutan dan menahannya. Jadi Meridian hanya menggigit bibir, meremas lengan Dion yang memeluknya dari belakang, tapi menyambut ketika Lukas datang padanya.


Entah berapa lama itu berlangsung, tapi karena mereka berdua tokoh novel, Laila tak menerapkan sistem anatomi, jadi tidak ada sesuatu seperti periode refraktori bagi pria. Lukas dan Dion menggulirkan seperti tak ada hari esok, dan Meridian tidak sedikitpun menyuruh mereka berhenti.


Kebetulan, Raven sedang pergi melakukan sesuatu mengenai informasi Herdian tadi. Jadi sekarang ini benar-benar tidak ada yang menyaksikan mereka.


Dion menambahkan barier hingga pengawal dan penjaga di depan pintu pun tidak akan mendengar suara mereka.


Segalanya terasa lepas.


Meridian tertawa kecil di akhir permainan.


Merasa sedikit bebas karena berhari-hari tak mendengar suara si Palsu atau merasakan lagi perasaan dia pada Dion dan Lukas.


"Ayo mandi bersama."


Dion mengangkatnya ke ruang mandi sementara Lukas menghilang, kembali membawa beberapa obat herbal, air putih juga roti lapis. Rasanya agak seperti batu panas diletakkan di air dingin saat Meridian berendam. Dibiarkan saja tubuhnya lemas, karena Dion juga memegangnya.


"Herdian memberitahuku mengenai keputusan Yang Mulia." Meridian memang mau membicarakannya. Sambil menerima suapan dari Lukas, Meridian merasa tenang. "Apa yang akan Kakak lakukan?"


"Pertanyaan bodoh." Lukas masih tahu mencerca.


"Aku tidak akan membiarkannya." Dion membasuh rambut Meridian pelan-pelan.


"Tapi alasan yang dibuat Yang Mulia memang masuk akal. Dengan cara apa kalian menentangnya?"


"Apa itu penting?" Dion mengecup rahangnya. "Aku sudah bilang tidak."


Sepertinya dia percaya diri. Berbeda dari Lukas, Dion itu misterius. Ada banyak yang dia sembunyikan bahkan jika mudah menebak karakter dasar dia.

__ADS_1


Pertanyaannya, bagaimana Meridian bisa memaksa dia mengungkap semua itu?


Setidaknya hal yang membuat Meridian Palsu ketakutan.


"Bagaimana jika Yang Mulia mengancam tidak akan melepaskan kekangan manaku?"


"Aku tinggal membunuhnya."


Meridian tidak terkejut dia punya pemikiran semacam itu.


"Raphael pasti kecewa jika kedua kakaknya berkhianat dan melimpahkan kursi Marquis padanya." Meridian memejam. "Lakukan tanpa membuat orang lain terluka, Dion. Aku tidak menyukainya."


".... Aku tahu."


"Bicara soal itu, apa aku boleh mengunjungi kuil?"


Lukas memicing. "Untuk apa?"


"Apa berbahaya?"


"Jawab dulu, untuk apa?"


"Aku hanya penasaran pada kelompok yang bisa saja membakarku atau melempariku batu karena berzinah dengan kedua kakaku di waktu yang bersamaan." Meridian menarik tangan Lukas agar ikut menempel padanya. "Aku akan melakukan apa yang kumau. Kalian akan membiarkanku, benar kan?"


...*...


Ternyata situasi tidak mendukung untuk Meridian pergi mengunjungi kuil. Dion tidak bisa menyetujuinya setelah mempertimbangkan risiko yang ada bahkan jika mana Meridian sudah tersegel.


Tapi, kekesalan Meridian tidak bertahan lama.


Siang ketika Raven kembali diam-diam, hal pertama yang dia katakan, "Kuil mengirim sejumlah orang mengunjungimu."


Meridian jelas terkejut. "Kenapa?"


"Aku belun tahu. Sulit menemukan ekor dari pertikaian di perbatasan, namun melihat situasinya, bisa diasumsikan kuil sudah curiga akan kebangkitan sihirmu. Mereka menjadikan alasan kesehatan sebagai dalih menjenguk calon putri mahkota."


Mendadak Meridian tidak mau bertemu mereka. "Apa maksudnya aku akan diberkati?"


"Kamu mengerti."


"Siapa saja dari mereka?"


"Seorang pendeta tinggi dan dua pendeta kelas bawah dengan kekuatan suci lemah, dua sisanya pendeta tanpa kekuatan suci. Mereka pasti akan membuat alasan tidak layak mengunjungi calon putri mahkota begitu saja, tapi nyatanya mereka cukup waspada sampai membawa tiga pendeta dengan kekuatan suci."


Jelas Dion sudah tahu, makanya dia tidak setuju. Yang lebih penting, mustahil Meridian menemui para pendeta itu seorang diri.


Siapa yang akan datang menemaninya? Mungkin Dion, tapi mengingat sikap protektif Herdian dan Andaru, salah satu dari mereka juga pasti datang.


"Kamu akan menemaniku juga?"

__ADS_1


Raven merentangkan kaki-kaki kecilnya untuk bergelantungan di bahu Meridian. "Aku ingin, tapi tidak bisa. Binatang sihir biasanya berasal dari dungeon dan dikatakan lahir di hutan kegelapan. Para orang suci itu membenci segala sesuatu tentang hutan kegelapan."


"Kurasa aku lebih tenang jika bersamamu." Bagi Meridian, orang ini jauh lebih informatif daripada Herdian.


Meskipun masih sulit menebak apa yang dia pikirkan, dia lebih banyak menguntungkan Meridian dengan pengetahuannya.


"Tapi terlepas dari itu, apa ada hal yang harus kuwaspadai saat bertemu mereka?"


"Tidak ada. Pendeta tidak memiliki kemampuan mendeteksi mana seperti penyihir. Mereka seperti manusia yang tidak mengenali mana. Cara satu-satunya mereka dapat merasakan energi sihir adalah saat memberi berkat, mereka akan menyentuh kepalamu. Tapi sihirmu terbelenggu, jadi mereka hanya akan berpikir kamu tidak memiliki kekuatan sihir."


"Itu terlalu sederhana. Apa tidak ada penyihir yang mereka sewa dalam mendeteksi? Kurasa jika ada tujuh orang sepertiku, mereka tinggal menyegel inti mana, pergi ke kuil untuk membuktikan kesucian mereka, lalu bebas melakukan apa-apa."


Raven menatapnya.


Meridian mengangkat alis.


Apa? Bukankah itu wajar saja?


Jika ada cara berkelit dari hukum, ya cara untuk menangkap tikusnya juga berbeda dari cara membuktikannya, kan?


Jangan bilang tidak ada?


Masa sih tidak ada? Itu kan terlalu bodoh.


Kalau seorang pencuri membuat kesaksian mereka tidak mencuri, apa serta-merta mereka akan percaya? Lalu gunanya alat pendeteksi kebohongan, penyelidikan, bukti-bukti, itu apa?


"Aku tidak memikirkannya."


"Kamu tidak tahu?"


"Tidak. Yang masyarakat di negeri mana pun tahu penyelidikan hanya dilakukan oleh pendeta. Mereka percaya pada kekuatan suci."


Oke, bisa jadi memang cuma itu. Lagipula Meridian tidak boleh lupa ini dunianya Laila.


Dia orang yang percaya poundsterling adalah wujud lain dolar, mana mungkin membuat banyak trik rumit.


"Sebaiknya kamu meminta Pangeran dan Herdian turut serta menemanimu."


"Mereka berdua?"


"Ya. Jangan libatkan Dion dan Lukas dulu jika kamu ingin menyelesaikannya dengan cara damai. Jika satu dari mereka turut menemanimu dan diketahui kekuatan sihirmu tersegel, setidaknya yang akan disoroti adalah Andaru sebagai tunanganmu. Tentu saja itu tidak menjamin, namun sepertinya kamu tidak ingin menyusahkan keluarga Marquis."


Bukan seperti itu. Meridian hanya tidak melihat keuntungan dari mengganggu keluarga Marquis selama ia masih punya senjata lain.


"Kapan mereka akan tiba?"


"Kurasa mereka akan tiba dalam dua hari."


"Itu waktu yang cukup."

__ADS_1


...*...


__ADS_2