
"Maafkan aku. Aku berbuat salah padamu."
"Lalu?"
"Akan kukirim ramuan penyembuh pada mereka."
"Bagus." Meridian duduk. Kini menatap Raven lagi. "Kemarilah."
Tinggal sedikit lagi, sepertinya dia akan jinak. Melihat dari bagaimana dia melemahkan diri di pelukan Meridian, pria ini diciptakan dengan kebucinan level maksimum.
Tinggal sedikit lagi dia patuh seratus persen.
"Sebagai gantinya, agar kamu tetap terlihat jahat, tinggalkan lebam pada tubuhku sedikit."
"Hm?" Raven menatapnya dari bawah. "Maksudnya memukulmu?"
"Ya."
"Itu akan menyakitkan. Kenapa harus melakukannya?"
Tentu saja untuk Dion.
Dan untuk melindungi dua orang itu.
Memang benar kata dia, jika tidak ada yang terluka selama masa sandera, justru aneh bagi pasukan kekaisaran. Makanya ayo buat sedikit kesan bahwa Meridian menjual tubuhnya (rela dipukuli) agar dua orang itu tidak dipukuli lagi.
Sekalian, Meridian bisa melihat reaksi Dion yang akan menjadi orang paling tahu tentang semua hal di sini.
"Aku tidak ingin menyakitimu, Nona."
Orang ini penjahat apa bukan, sih?
"Beri aku obat tidur atau apa pun. Lakukan saat aku tidak sadar."
Raven mengerutkan bibir. "Aku tetap merasa tidak boleh melakukannya."
"Lakukan. Atau kamu ingin aku menamparmu lagi? Biar semua orang tahu aku mengalahkanmu?"
Raven terkekeh. "Baiklah, baiklah. Nona sangat pemarah. Tapi ...."
Dia mendorong Meridian berbaring dan menindihnya.
"Ayo lakukan dalam gairah daripada ketidaksadaran."
...*...
Meridian melipat tangan dengan tatapan fokus pada tampilan layar.
Alat yang digunakan Raven lagi-lagi memungkinkan dia memantau situasi dari kejauhan. Kini, pihak kekaisaran dan kerajaan seberang mencoba bernegosiasi dengan perwakilan dari pihak Raven.
Mereka jelas akan meminta tawanan dibebaskan dengan tebusan, tapi dilihat dari formasi prajurit kekaisaran, nampaknya mereka siap menyerang.
"Kurasa ada orang lain yang menyusup."
Raven terkekeh. "Nona bangsawan yang tajam. Melihat persiapan mereka, orang yang menyusup kali ini memiliki kemampuan."
Kemungkinan Lucas.
Jika dia yang menyelamatkan Meridian, tepat setelah Meridian tiba di sana, tentara akan menyerang tanpa khawatir sandera terbunuh lagi.
"Aku benar-benar tidak ingin melihat peperangan. Apa tidak ada yang bisa kamu lakukan?"
"Apa yang buruk dari itu, Nona? Biarkan saja mereka berperang. Toh, aku tidak akan melukaimu."
"Jika aku tawanan, mereka berperang karenaku. Itu menyebalkan." Meridian berusaha keras memikirkan jalan keluar. "Aku merasa orang yang menyusup kali ini akan berhasil, Raven."
"Kenapa? Nona mengenalnya? Tapi aku tidak bisa merasakan dia."
Kalau itu Lucas, sudah pasti dia berhasil.
Kenapa? Karena dia bergerak dalam misi penyelamatan tokoh utama.
__ADS_1
"Hei, ayo sudahi dulu sandiwara ini."
Raven memiringkan wajah tidak mengerti.
"Bebaskan aku. Aku akan kembali ke sana untuk mengatur pasukan."
"Seorang wanita?"
"Bukankah wanita ini membuatmu berlutut, Tuan Penjahat?" Meridian berusaha tidak berdecak.
Tentu saja jika ia kembali dan memohon agar perang tidak perlu terjadi, apalagi mengorbankan Yohannes, mereka akan dengar.
Selalu ada jalan ketika kalian tokoh utama!
"Tapi kenapa aku harus melakukan itu? Kurasa jauh lebih menguntungkan membiarkan mereka berperang, menawanmu selamanya plus memenangkan peperangan."
"Aku memiliki pengganti." Meridian menunjuk wilayah negara tetangga. Kalau dipikir lagi, nama negara itu apa, yah?
Nampaknya tidak penting karena tidak disebut-sebut.
"Sebagai gantinya, buat mereka berperang. Masuklah sebagai pahlawan kesiangan yang membeberkan rencana jahat mereka. Rebut kekuasaan mereka dan jadilah raja. Setelah itu datang padaku bukan lagi sebagai bandit."
Raven melongo. "Maksudmu, aku berhenti memihak kerajaan?"
"Apa kamu dipihak mereka sejak awal?"
Ini sih masalah gampang.
Pertama, Raven adalah tokoh novel yang jatuh hati pada Meridian, jadi dia akan mendengarkan Meridian.
Kedua, karena dia tokoh novel, kekuatannya luar biasa dan prajuritnya cukup banyak.
Ketiga, identitas dia nampaknya belum diketahui hingga dia bisa mengelabui musuh dengan cara murahan seperti itu.
Keempat, ini dunia novel hasil otaknya Laila, berarti bisa selesai dengan cara konyol sekalipun.
Kelimat, ini novel romance yang ditulis oleh wanita. Jelas wanita tidak didiskriminasi di tempat ini, terlepas dari sebenarnya ini zaman diskriminatif.
"Dari mana kamu tahu?"
Sebab Herdian tidak bisa merasakan niat Dion.
Jika Dion adalah orang mesum yang bahkan mengawasi keringat Meridian berjatuhan, maka seharusnya mana di sekitar dia akan terlihat berbahaya.
Namun Raphael, Herdian, bahkan Yang Mulia tidak pernah menunjukkan kesan Dion berbahaya.
Meridian hanya menebak ada sesuatu yang berbeda di dalam sana.
"Herdian mendeteksi niat seseorang dari bagaimana mana di sekitarnya bergerak. Kurasa itu baik-baik saja bagimu, apa pun niatmu nanti jika terlihat?"
Raven mengusap-usap dagunya penuh kalkulasi. "Sejujurnya, aku tidak tertarik menjadi raja."
"Kamu memiliki kualifikasi."
"Benarkah?"
"Tentu." Meridian menggelitik dagu kucing hitam itu. "Karena aku menyukaimu dan mengakuimu."
"...."
"Sekarang, dengarkan aku." Meridian melipat tangan lagi. "Jika kamu tidak ingin menjadi raja, maka letakkan orang lain yang bisa kamu kendalikan."
Raven tersenyum misterius. "Baiklah. Aku mengerti, Nonaku."
"Ayo lakukan."
...*...
"Hei, Meridian."
"...."
__ADS_1
"Meridian, buka matamu."
"...."
"Meridian."
Setelah berpura-pura tidak sadar secara pasti, Meridian akhirnya membuka mata.
Sesuai dugaan, orang yang menyusup adalah Lucas. Dia menepuk-nepuk pipi Meridian, tapi tampak sangat pucat mendapati penampilannya yang lusuh.
"Hei." Dia tidak pernah membuat ekspresi selemah itu. "Kamu baik-baik saja?"
Meridian mengerjap pelan. "Ya."
Suaranya serak setelah minum sesuatu yang Raven siapkan.
"Aku—ugh."
Sentuhan Lucas padanya terkesan sangat hati-hati. "Kamu terluka."
Pakaian yang Meridian kenakan adalah gaun ketika ia diculik, namun sudah dimodifikasi agar terdapat banyak debu, tampak kumal dan sobek-sobek.
Yang paling bagus adalah bagian dadanya berantakan, menampilkan sejumlah lebam membiru di tubuh Meridian.
Tatapan Lucas seperti siap membunuh. Namun Meridian malah merasakan sesuatu di kakinya tergelitik tak nyaman.
Si Meridian. Dia jauh lebih takut pada Lucas daripada Raven meski Raven sudah meninggalkan lebam di tubuhnya dan Lucas menyelamatkan tubuh ini?
Orang pengecut itu luar biasa.
"Ayo pergi dari sini." Lucas memeluknya. Menggendong Meridian baik-baik dengan kedua lengannya.
Ada sesuatu yang Meridian rasakan di sekitar Lucas. Aura hitam pekat luar biasa yang membuatnya menggigil kedinginan.
Itukah aura iblis?
"Tutup matamu sebentar, Meridian."
Meridian patuh saja.
Menutup matanya kuat-kuat dan berpegang pada Lucas.
Hanya lewat satu detik setelah ia menutup mata, Meridian merasakan tubuhnya seperti bergerak sangat cepat. Terdengar suara benturan dahsyat yang memekakkan telinga.
Sedikit ia khawatir apa Raven bisa mengimbanginya, tapi tak sempat tahu apa pun karena seluruhnya menjadi hening.
"Nona!"
"Meridian!"
Kedua matanya terbuka perlahan. Mendapati salju berjatuhan di wilayah yang familier dalam ingatannya.
Memang tidak boleh diremehkan ke-overpower-an kakak tokoh utama.
"Aku baik-baik saja." Meridian bersusah payah tidak menunjukkan raut muka santai. Harus terlihat menyedihkan karena ia korban. "Daripada itu, ada hal yang harus kukatakan pada kalian. Lucas, turunkan aku."
"Tidak."
"Nona, Anda terluka." Herdian seperti melihat dunia berakhir saja. "Penyembuh! Penyembuh! Cepat kemari!"
Duh, dengarkan dulu, dong.
"Adikku." Raphael menggenggam kedua tangannya, nyaris menangis, malah. "Aku seharusnya menjagamu. Maafkan aku. Maafkan aku."
"Aku baik-baik saja, Kakak." Meridian membelai puncak kepala Raphael. "Daripada itu, dengarkan aku du—"
"Penyembuh! Cepat kemari! Kalian mau membiarkan Nona terluka?!"
Hadeh.
Terserah saja.
__ADS_1
...*...