
Meridian membuka matanya, disambut oleh perasaan tiga kucing mungil mengelilingi tempat tidur dengan riang.
Ia mengusap kepala mereka, tertawa lepas setelah yakin semua berhasil.
Sekarang tinggal ending. Villain sudah mati, tokoh utama sama-sama beraksi, dan Meridian bisa kembali.
"Apa ini candaan bagimu?"
Kepala Meridian berpaling. Menemukan Andaru berdiri dengan tubuh penuh luka, memegang kepala seseorang yang berkata Meridian adalah sampah.
Dia melempar kepala itu ke lantai, seolah memperlihatkan bahwa penjahat sudah mati di tangannya.
"Apa semuanya hanya candaan bagimu, Nona?"
Meridian menghalau tiga kucingnya yang menggeram. "Apa maksudmu?"
Mata Andaru tampak sangat rumit. "Apa aku terlihat bodoh? Mereka semua, para pengikut setiamu, bahkan ingin membunuhku hanya karena aku menyebutmu Nona. Mereka semua, iblis setiamu, akan membakar habis dunia ini untukmu. Tapi kamu! Kamu berpura-pura bertarung sendirian, berpura-pura terluka, berpura-pura menerima serangan, berpura-pura melakukan segalanya, dan berpura-pura membalas dendam rakyatku!"
"...."
"Ada apa dengan hatimu sebenarnya, Nona? Apa nyawa jutaan manusia itu hanya candaan? Bukan hanya rakyatku. Seluruhnya. Seluruh manusia yang memiliki sihir dan kekuatan suci musnah! Kamu berjanji mengampuni mereka dan kamu membiarkan mereka terbunuh demi kepura-puraan yang aku tidak mengerti kenapa!"
"Tutup mulutmu." Meridian memicing dingin. "Jangan berbicara seolah kamu mengerti sesuatu tentangku."
"Aku mengerti," tukas Andaru.
Andaru mendekat, menyambar lengannya hingga geraman Dion, Lukas dan Lumiel mulai diselimuti rasa haus darah.
"Aku sangat mengerti denganmu. Apa kamu pikir aku tidak tahu bagaimana kamu hanya memanfaatkan semua orang? Tidak peduli bagaimana besar cinta seseorang padamu, kamu hanya mementingkan dirimu sendiri."
"Aku TIDAK MENGENALMU!"
Kastil berguncang merespons kemarahan Meridian yang lepas.
"AKU TIDAK MENGENAL SIAPA PUN! TIDAK SATUPUN! TIDAK ADA SATU ORANG PUN!"
Andaru tersentak.
"MEREKA MENYEBUT NAMAKU TAPI BUKAN MEMANGGILKU! MEREKA PEDULI PADAKU TAPI BUKAN PADA DIRIKU YANG ASLI! AKU TIDAK TAHU MENGAPA AKU DI SINI, AKU TIDAK TAHU BAGAIMANA CARAKU PERGI DARI SINI! KAMU PIKIR AKU INGIN BERADA DI DUNIA ANTAH-BERANTAH YANG SELURUH MANUSIANYA MEMBUATKU MUAK?!"
"...."
"Kamu tahu tentangku, maka baik. Beritahu aku. Kamu tahu bagaimana rasanya merindukan rumah ketika semua orang mengira aku sudah berada di rumah?" Meridian bangkit.
Balas menyambar lengan Andaru penuh rasa murka.
"Beritahu aku. Kamu berada di tempat asing, tidak mengerti dengan apa pun di sekitarmu, sementara kamu bahkan tidak bisa mengingat keluargamu karena kamu dipindahkan secara paksa ke tempat menjijikan ini!"
Jelas dia tidak bisa membalas.
"Aku membencimu, aku membenci seluruh orang yang bersikap baik padaku karena mereka melihat tubuh ini, tubuh si Lemah ini dan bukan diriku! Kenapa aku harus memikirkan kalian dan melupakan hidupku?! Kenapa aku harus tetap tinggal di sini karena kamu, Herdian, Lukas, Dion, Lumiel, dan entah siapa lagi mencintaiku?!"
Andaru terdorong mundur.
"Lalu bagaimana dengan ibuku?! Bagaimana dengan sahabatku?! Bagaimana dengan kekasihku?! Bagaimana dengan aku?! Bagaimana dengan cintaku pada mereka?! Apa lebih penting kamu, duniamu, tubuh yang bukan milikku daripada duniaku, tubuhku, ibuku, dan keinginanku?!"
"...."
"JAWAB AKU!"
__ADS_1
Meridian berlutut. Tangisannya pecah serupa anak kecil yang tidak tahu lagi menyelesaikan masalah kecuali menangis histeris.
Seluruh kastil goncang akibat tangisannya. Perasaan-perasaan yang mengalir dalam diri Meridian membuatnya muak. Ia berusaha berhenti, berusaha tidak menangis, berusaha tegak agar bisa bergerak menyelesaikan ini.
Namun suara itu terdengar.
Ada apa, Orang Kuat? Bukankah kamu tidak sepertiku yang hanya tahu menangis dan merengek?
"Diam!" Meridian menghempaskan sihirnya yang menghancurkan dinding kastil. "Diam dan lihat saja! Aku sudah berusaha! Aku tidak ketakutan sepertimu! Aku melakukan segalanya! Aku melakukan segalanya meskipun aku ingin muntah! Aku pasti kembali jadi diam saja!"
Bagaimana caramu kembali?
Seolah untuk pertama kali mendengar pertanyaan itu, Meridian membeku.
Bagaimana? Bagaimana ia kembali?
Ia sudah menyelesaikan ******* cerita. Kuil hancur, Ruben mati, cinta semua tokoh tertolak. Kenapa ia belum kembali?
Kamu sudah berusaha tapi kenapa kamu tidak kembali? Mengapa kamu masih di tubuhku? Akupun ingin kembali. Aku ingin tubuhku yang sudah berubah itu. Kembalikan. Ayo berganti.
Meridian menggigil.
Tidak, tidak, tidak. Pasti hanya perlu menunggu sebentar lagi.
Pasti tinggal tidur dan terbangun seperti awal ia masuk ke dunia ini.
Benar. Dia sudah mau kembali. Si Lemah itu sudah mau kembali.
Pasti sudah bisa kembali.
"Aku," Meridian berusaha bangkit meski terhuyung-huyung, "aku akan tidur. Pergilah."
"DIAM!"
...*...
Kenapa tidak kembali? Kenapa ia masih bangun di tempat ini?
Meridian tidak lagi bisa menahan tubuhnya menggigil ketakutan. Dia duduk memeluk dirinya sendiri, menggigit kuku dengan wajah pucat pasi.
Pasti ia berbuat salah saat berdoa. Pasti ada keraguan gara-gara suara aneh itu.
Benar, dirinya akan mengulang doa lagi.
Kali ini Meridian akan mengucapkannya selama tujuh hari tanpa henti agar tidak ada ruang bagi keraguan.
"Aku pasti kembali. Aku pasti kembali. Aku pasti kembali. Aku pasti kembali. Aku pasti kembali. Aku pasti kembali. Aku pasti kembali. Aku pasti kembali. Aku pasti kembali. Aku pasti kembali. Aku pasti kembali. Aku pasti kembali. Aku pasti—"
Tidak akan.
"—kembali. Aku pasti kembali. Aku pasti kembali. Aku pasti kembali. Aku pasti kembali. Aku pasti kembali. Aku pasti kembali. Aku pasti kembali."
Jadi begitulah caramu putus asa? Bergumam hal sama padahal hasilnya pun juga sama?
"Aku pasti kembali. Aku pasti kembali. Aku—"
Jadi begitu caramu kuat. Memaksa dirimu sendiri. Aku kagum, Meridian. Kamu memang luar biasa. Karena itulah kamu mengambil peranku.
"—pasti kembali. Aku pasti kembali. Aku pasti kembali."
__ADS_1
Lalu mengapa kamu belum kembali?
"BERHENTI BICARA PADAKU."
Kamu berhenti berdoa.
Meridian tahu ia hanya dijebak oleh gadis itu, namun karena terlalu panik, ia terpaku. Seolah-olah mendengar hal yang sangat menakutkan hingga mulutnya kembali sibuk menggigit kuku, ditelan oleh keraguan.
"Apa salahku?" Kepalanya terkulai lemas. "Apa perbuatanku padamu? Aku bahkan tidak mengenalmu. Mengapa aku? Kamu yang seenaknya memberi tubuhmu padaku, lalu itu salahku marah padamu? Kamu ingin berkata akulah penjahatnya?"
Lalu apa salahku?
"AKU TIDAK TAHU TAPI INI TUBUHMU! KAMU BAHKAN TIDAK MENANGGUNG PENDERITAAN TUBUHKU, LALU KENAPA AKU HARUS MELAKUKANNYA UNTUKMU?!"
Bukan aku.
"Apa?"
Bukan aku yang memindahkan kamu.
Tunggu. Tunggu sebentar.
Tolong jangan lagi. Jangan beri misi lagi.
Harus dia. Harus dia saja, agar Meridian bisa menuntut padanya.
Ia sudah tak bisa melakukan perjalanan, bersabar menemukan siapa yang memindahkannya.
Dia saja. Meridian Palsu itu pelakunya.
Apa salahku membencimu? Aku pun tidak meminta tubuhku diganti denganmu. Kamu tiba-tiba datang mengambilnya lalu melampiaskan kemarahan padaku. Aku membencimu, kamu membenciku. Begitulah aku dan kamu.
Nyawa Meridian nyaris tercabut dari kerongkongannya.
Tubuhnya luruh ke tempat tidur, menatap dengan kedua mata menangis langit-langit kamar megah itu.
Kalau bukan dia, lalu untuk apa semua yang ia lakukan selama ini?
"Aku, hiks," Meridian terisak-isak, "aku merindukan rumahku."
Aku tahu.
"Aku merindukan ibuku. Aku merindukan makanan di duniaku. Aku merindukan pakaianku. Aku bekerja keras. Aku bekerja sangat keras, aku bersumpah. Aku berusaha belajar agar aku bertahan di masyarakat, aku bersabar dan belajar agar aku cerdas dan bermanfaat. Apa semua itu tidak ada gunanya?"
.... Aku tahu.
"Bantu aku kembali. Aku ingin kembali. Kumohon, siapa pun, bantu aku kembali."
.... Mengapa kamu tidak hidup di tubuh itu saja?
Meridian menangis keras. "Aku tidak mau."
Kemu mencintai Lumiel. Kamu juga memanfaatkan kekuatanmu dengan baik. Tentu saja aku setuju pada Yang Mulia bahwa kamu bersikap dingin. Tapi bukankah kamu yang bilang bahwa kamu berusaha keras menerima hidupmu? Hidup itu hidupmu.
"Jangan bercanda!" Meridian memukul kasur hanya untuk melampiaskan diri. "Aku tidak menjalani apa pun di tubuh ini kecuali beberapa bulan. Dan bagaimana dengan tubuhku? Tubuhmu penting sementara milikku tidak?!"
Lalu bagaimana caramu kembali?
*
__ADS_1