Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
9 - mati saja


__ADS_3

Meridian baru menyadarinya sekarang, tapi bukankah jadi Meridian El—sori, siapa nama belakangnya itu?—ini ternyata enak juga.


Ini sudah empat hari lewat Meridian tidak memakai skin care, entah basic skin care, eksfoliasi, retinol bahkan pencuci muka, tapi setiap kali bercermin wajahnya bersinar.


Wajahnya mulus tanpa jerawat, bekas jerawat, bahkan pori-pori yang menonjol.


Untuk hal ini, meski tidak masuk akal, Meridian tidak mengutuk Laila.


Padahal mungkin enak jika ada sesuatu seperti skin care di dunia ini. Uang Marquis kan pasti banyak. Meridian bisa menghambur-hamburkan uangnya sepuas hati tanpa harus pusing oleh pengeluaran.


Jadi begitu, jadi begitu.


Pantas saja semua gadis bermimpi jadi putri bangsawan.


"Kakak."


Meridian melirik kedua bocah kembar yang mendekatinya ragu-ragu.


Kemasukan apa mereka memanggilnya kakak?


"Kak Mery—"


"Bodoh!" Kembarnya, yang Meridian tidak tahu dia Litae atau Litea, menutup mulut si Bocah Sialan satunya lagi. "Jangan memanggilnya seperti itu! Raphael sudah memberitahumu!"


"Hah?" Meridian menikmati peran sebagai wanita jahat.


"Kak Meridian!" Kompak mereka berteriak. "Kami minta maaf!"


"Atas dasar?"


Mereka terlalu kembar sampai sulut membedakan. Ayo sebut saja mereka A dan B yang tidak perlu dikenali.


"Kami terkejut melihatmu berubah." Si A berucap agak terbata-bata. "Meridian yang kami kenal tidak akan memperlakukan kami seperti ini."


"Kalian minta maaf atau menyalahkanku?"


"Pokoknya kami minta maaf!" Si B menggaruk tengkuknya salah tingkah. "Kamu tidak gila. Kamu sangat cerdas."


"...."


"Karena itu ... bisakah kami melihat sihirmu?"


Jadi mereka minta maaf cuma untuk melihat sihir?


Dasar bocah licik.


Tapi karena Meridian tidak membenci bocah licik, maka anggap saja ia memaafkan mereka.


Nama mereka juga pemberiannya. Mari sebut mereka ciptaan Meridian, walau kebanyakan ulah Laila.


"Baiklah." Meridian menopang dagunya. Duduk menyilangkan kaki penuh keangkuhan, agar tampak sedikit keren saja di mata kedua bocah ini.


Antara membuka telapak tangan dengan menjentikkan jari, Meridian putuskan ia akan menjentikkan jari dalam setiap sihirnya.


Sekali jentik, dua bola api melayang-layang di depan mata Litea dan Litae. Tapi itu hanya berlangsung dua detik, sebelum Lucas tiba-tiba muncul, memadamkan sihir Meridian secara paksa.


"Bocah Brengsek! Aku sudah bilang jangan memintanya menggunakan sihir!" Lucas meneriaki kedua adiknya yang spontan saja berlari terbirit-birit.


Mereka cukup girang. Tak bisa Meridian pahami, tapi agak menggemaskan untuk ukuran bocah menyebalkan.


"Dan kamu, Meridian. Apa tidak bisa kamu menahan diri dari rasa penasaranmu? Kami sudah menjelaskan sihirmu berbahaya."


"Aku hanya menghibur dua anak kecil itu. Apanya yang berbahaya? Pelindung Herdian bahkan tidak muncul."


Meridian berdecak.


"Tapi terima kasih memberitahuku. Dion meletakkan mantra aneh padaku? Tidak mungkin kamu bisa langsung tahu aku menggunakan sihir."


"Beriterima kasih Dion tidak meletakkan mantra pengekang pada manamu. Itu akan menyakitkan jadi jangan memaksa kami." Lucas menggerutu. "Sialan. Kenapa aku harus terus berteleportasi setiap kali kamu membuat masalah? Diamlah di tempatmu sampai kami menemukan solusi."


Meridian memutar mata. Kalau saja bukan karena keluarga, dari awal orang ini sudah ia bakar.


Ingatannya bahkan masih jelas bagaimana mereka bertiga duduk di sofa mengawasi Meridian terlelap.


Raphael mencoba mantra tidur padanya berkali-kali, tapi tubuh Meridian menetralisir sihirnya. Kakaknya memohon agar Meridian tidak menolak, masalahnya, siapa yang pasrah disuruh tertidur lelap sementara para orang asing mencurigakan (walau tampan) berkumpul di dekat kalian?


Meridian bahkan tidak bisa memaksakan diri. Jadi ia berusaha keras tidur setelah Dion memasang barier yang memungkinkan kehadiran mereka tidak dirasakan.


Dunia yang serba sihir begini menarik tapi bodoh.


"Nona."


Suara ketukan pintu dan panggilan pelayan mengalihkan perhatian keduanya.


"Masuklah."


Lucas tampak seperti singa yang mengawasi mangsa ketika pelayan masuk. Wanita itu menggigil ketakutan, sementara Meridian bingung apa yang harus dia takutkan dari bocah baru puber ini (sepertinya dia baru puber di usia dua puluhan lebih melihat betapa tempramental dia).

__ADS_1


"Ada apa?" Dia yang bertanya.


"Nona mendapat undangan pesta dari Yang Mulia Putri, Tuan Muda."


Meridian seketika memijat keningnya.


Bahkan bagian ini juga dia tulis demikian? Dasar Laila bodoh.


Prinsip dasar bangsawan mungkin memang berpesta berulang-ulang. Meridian mewajarkan jika setiap seminggu sekali ada dua bahkan tiga undangan pesta datang. Tapi itu kan seharusnya undangan yang ditujukan untuk Tuan Marquis dan Nyonya Marchioness, mewakili satu keluarga mereka.


Kenapa lady tanpa gelar malah dapat undangan khusus?


Duh, kepala Meridian berdenyut-denyut.


"Hei. Kenapa kamu selalu membuat wajah seperti itu?"


Meridian tetap memijat pelipisnya. "Jika wajahku seperti ini, maka aku sedang berpikir 'dunia tamat saja' atau 'kamu mati saja'."


Baik Lucas maupun pelayan malah kaget.


"Lupakan saja." Meridian malas meladeni mereka. "Apa secara kebetulan aku bisa menolak undangan tidak penting itu?"


"Kamu gila? Undangan dari Putri Kaisar seperti perintah dari Kaisar sendiri." Lucas mengambil undangan yang dibawa pelayan. "Tapi sepertinya ini memang tidak penting."


"Apa ada perayaan tertentu?"


Lucas membukanya. Repot-repot mewakili Meridian membaca surat. "Tuan Putri mengundangmu untuk merayakan kemenangan Pangeran Andaru."


Wow. Dia sudah menang.


Hebat, hebat.


Lucas menatapnya agak aneh sebab Meridian makin ganas memijat pelipis. "Sepertinya kamu harus datang. Mereka akan mengirim kereta kuda khusus untukmu, sebagai tunangan Pangeran Mahkota."


"Boleh aku minta tolong padamu?"


"A-apa?"


"Apa ada metode mematahkan tulang kaki tanpa rasa sakit?"


"Dasar gila." Lucas mendengkus.


Menyerahkan undangan kembali pada pelayan.


"Aku juga tidak setuju membiarkanmu berkeliaran dengan kepribadian tidak warasmu sekarang, tapi itu undangan Yang Mulia Putri. Jadi duduk tenang, bersiap, sementara aku mendiskusikannya bersama Dion dan Raphael."


Sihir teleportasinya agak berbeda dari Herdian. Ketika Herdian berteleportasi, seperti ada angin dan mana berwarna hijau di tempat dia berteleportasi.


Tapi Lucas menghilang tanpa jejak.


Nampaknya konsep teleportasinya juga tidak berpusat pada portal, karena dia muncul seketika, menghilang seketika pula.


Apa ada hubungan dengan elemennya?


"Siapa namamu?" Meridian payah mengingat nama orang yang ia rasa tidak penting.


Karena ia yakin ini dunia novel, karakter seperti pelayan memang tidak terlalu butuh diingat.


"Anna, Nona."


"Kurasa aku butuh pelayan pribadi. Apa aku tidak punya?"


".... Saya akan memanggil pelayan Nona segera."


Cepat mengerti.


Meridian suka.


Sambil menunggu pelayan hadir, Meridian menatap sekeliling kamarnya dengan teliti.


Jika saja Meridian berada dalam situasi biasa, maka ia akan terkagum-kagum pada desain kamar mewah ini.


Rasanya ia bukan cuma bangsawan, tapi putri raja. Ukuran kamar ini bahkan lebih luas dari apartemen elit yang pernah Meridian tinggali. Matahari cerah menerobos dari jendela raksasa, namun Meridian sedikitpun tidak merasa panas.


Umat manusia harus pindah ke dunia ini saja.


Gadis-gadis tidak butuh sunscreen lagi.


Oke, bukan itu yang penting.


Kamar ini besar, tapi jendela yang terbuka tidak ada. Padahal ada balkon. Seolah-olah pintu menuju balkon itu sudah dihilangkan, dan dibuat seperti struktur jendela yang tidak dapat dibuka tutup.


Kalau diingat-ingat, apa Laila punya obsesi pada kakak posesif?


Dilihat dari tingkah saudaranya Meridian sekarang, nampaknya mereka memang terobsesi melindungi Meridian.


Satu kakak tsundere, satu kakak dingin, satu kakak super lembut, dua sisanya adik yang menjengkelkan tapi rada menggemaskan.

__ADS_1


Kenapa tidak sekalian Tuan Marquis-nya dibuat super duper tampan ala sugar daddy?


Biar komplit.


Dengan kamar yang nampaknya benar-benar ditujukan mengawasi pergerakan sihir ini, Herdian tidak mungkin bisa menemui Meridian. Padahal masih ada beberapa hal yang Meridian rasa perlu dibicarakan.


Orang itu mungkin akan memberi jawaban lebih waras tentang keadaan di sekitar Meridian. Terutama peristiwa sebelum ia memasuki tubuh ini.


"Nona, ini Wilona."


Meridian sedikit teralihkan ketika pelayan yang setidaknya ia ingat itu datang. Sepertinya dia mengaku sebagai kepala pelayan.


"Untuk kenyamanan Nona, sementara waktu saya akan mengambil alih tugas pelayan pribadi Anda. Kami mempertimbangkan permintaan Nona terakhir kali. Saya bisa katakan, saya cukup baik dalam merespons pertanyaan-pertanyaan yang Nona ajukan."


"Tidak keberatan." Meridian malah suka. "Kalau begitu, aku langsung saja. Ada bangsawan bernama Herdian yang kamu kenal?"


"Apa maksud Nona, Herdian De Elgard? Beliau putra tunggal Duke Elgard sekaligus teman baik Tuan Muda Raphael."


Kepala Meridian terkulai lemas di sofa. "Pejamkan matamu dan tulikan pendengaranmu."


".... Baik, Nona."


Meridian menjentikkan jari hanya untuk menciptakan setitik api. Tujuannya bukan sihir, melainkan Lucas yang seketika berteleportasi menegurnya.


"APA YANG SEBENARNYA KAMU PIKIRKAN?!"


Meridian terlalu lesu membalas. "Kakak, tolong bantu aku."


"Apa? Ada apa? Kamu mendadak lebih gila lagi?" Entah dia khawatir atau mau bertengkar.


"Aku butuh kompres dingin." Meridian memijat keras pelipisnya. "Berikan kompres dingin. Kumohon. Aku merasa akan menangis."


Lucas tersentak. "Sialan! Jangan menangis! Tunggu sebentar!"


Tatapan Meridian mengawasi Wilona. "Buka matamu."


Yah, tentu dia mendengar. Dia hanya terpejam dan menutup telinganya, jadi tidak benar-benar tuli.


Meridian hanya ingin dia sedikit menyamarkan fungsi pendengarannya agar tidak mendengar suara api kecil.


Hanya butuh waktu tiga puluh detik, Lucas muncul bersama kantong kompres dingin. Meridian langsung meletakkan kantong itu di kepalanya, luar biasa lega sampai ia juga mau menangis.


Hah.


Tenanglah.


Laila memang tidak waras jadi tenanglah.


Lagipula ini dunia fantasi dan biasanya memang begitu.


Putra Duke, luar biasa, punya kebijaksanaan bahkan merendah pada Putri Marquis.


Yah, begitulah.


Dia belajar etika.


Pastinya.


"Hei, kamu benar-benar berpikir dunia berakhir saja?"


Meridian tidak bisa mengontrolnya.


Bukan ia mau mempermasalahkan hal kecil tapi DEMI TUHAN! Demi Tuhan, Duke adalah kedudukan tertinggi bangsawan sebelum keluarga kerajaan atau kekaisaran. Seseorang yang terlahir dari keluarga berpiring emas sendok perak mana mungkin bisa rendah hati dan bijaksana seperti itu.


Baik hati mungkin. Rendah hati? Cerita dari mana!


Meridian akan jatuh cinta pada Herdian kalau dia rakyat jelata yang mengembangkan diri dalam bidang sihir. Tapi dia ternyata putra Duke?! Lantas dari mana semua kebijaksanaan itu!


Mana kesombongannya? Mana aura 'aku Duke, keluarga paling mulia setelah Yang Mulia'.


"Kamu tahu, Lucas?"


"Hah?" Lucas terlonjak seolah-olah suara Meridian itu rintihan hantu.


"Kurasa sebaiknya kita hancurkan saja kerajaan ini. Apa tidak bisa? Apa tidak boleh? Kamu Kakakku yang mencintaiku, kan? Ayo hancurkan. Bunuh semua orang."


Lucas menatap Wilona. "Pastikan dia tetap seperti itu. Aku akan segera membawa Herdian."


Lalu dia menghilang.


Meninggalkan Meridian yang berusaha tidak menyerapah.


"Aku merasa akan gila." Meridian mengerang kesal. "Aku benci tempat ini, brengsek!!!"


Wilona sepertinya sudah percaya bahwa Meridian gila.


...*...

__ADS_1


__ADS_2