
"Nona!" Herdian melesat cepat ke arah Meridian, ikut menyaksikan bagaimana pasukan berpanji putih menyerang pasukan kerajaan di seberang sungai. "Mereka saling membunuh?"
"Kurasa mereka merasa terancam dengan kekuatan kekaisaran."
Meridian hanya mencocokkan jawaban dengan kondisi.
"Kamu, Lucas dan Raphael berkumpul dengan sejumlah besar prajurit terlatih. Kerajaan kecil seperti mereka patut merasa takut. Bahkan jika keluarga kerajaan menginginkan dungeon, akan ada banyak yang lebih memilih tidak kalah perang dan menjadi budak."
"Waktunya agak aneh." Lucas bergumam.
"Apanya?" Padahal Meridian agak gugup.
"Mereka berkata ingin perdamaian, lalu menyembunyikan pasukan untuk menyerang. Secara jumlah, mereka unggul. Namun tiba-tiba muncul pemberontak berjumlah besar mengalahkan mereka."
Cih.
"Kurasa itu masuk akal." Meridian menatap datar pemandangan pembantaian di sana. "Mereka mungkin sudah memperkirakan situasi ini terjadi, jadi sejak awal mereka tidak bergerak, berpura-pura memihak kerajaan. Orang yang membantuku itu tidak mungkin hanya bersikap baik karena aku tunangan Yang Mulia."
Herdian mengerutkan kening. "Sepertinya Nona benar."
Makanya sebelum berbuat analisis dulu situasi kerajaan musuh.
Mau jadi apa kekaisaran agung mereka kalau setiap berperang cuma siap siaga dengan keangkuhan 'aku pasti menang'.
Salah mereka kan tertipu oleh Meridian.
"Tuan Muda, tarik pasukanmu mundur. Tidak ada gunanya memperbanyak jumlah korban di pihak kita."
Herdian ikut bersedekap dalam pose berpikir keras. "Yohannes belum ditemukan."
"Aku dan Lucas akan mengamatinya dari atas. Pergilah."
Dia menghela napas. "Tolong berhati-hatilah, Nona."
"Ya."
Begitu dia pergi, Lucas langsung menatapnya penuh kesan misterius. "Kamu tidak takut?"
Kalau ini perang sungguhan, Meridian takut.
Tapi karena ini perang dunia novel, ia tak terlalu peduli. Ini cuma seperti game virtual reality baginya. Walau tentu saja, sebisa mungkin ia tak harus melihat NPC mati.
"Aku tidak akan pernah takut selama kamu bersamaku." Itu adalah jawaban ala tokoh utama wanita. "Ayo pergi menyusup. Ini kesempatan bagus masuk di tengah-tengah musuh yang kebingungan."
Kepercayaan diri Lucas nampaknya meningkat. Tanpa protes dia membawa Meridian berteleportasi ke markas Raven, yang kini sudah tidak dikelilingi oleh barier apa pun.
Meridian pura-pura menceritakan bahwa ia di kurung di satu tempat dan pernah diberi kesempatan menemui Yohannes setelah memohon.
"Ada yang aneh."
"Apanya?" Meridian agak waspada.
"Ada jejak sihir kuat di sekitar sini."
"Apa berbahaya?"
Lucas hanya memeluknya sambil terus bergerak cepat. "Orang yang menyelamatkanmu, apa dia penyihir kuat?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Dia tidak menggunakan sihir saat bersamaku. Tapi kurasa dia cukup kuat."
Bagaimana kalau Lucas menyadari kekuatan Raven saat bertemu dengannya?
Meridian agak cemas dengan pemikiran itu. Meski pada akhirnya tidak ada yang bisa dipastikan ketika mereka sampai di kurungan Yohannes berada.
Sempat Meridian terkejut, karena mereka berdua masih berada di tempat sama padahal peperangan meletus.
Ternyata Raven tepat janji.
"Nona!"
Lucas menghancurkan gembok sihir dengan sekali tendang. "Keluarlah."
Tidak ada basa-basi yah orang ini. "Kalian baik-baik saja?"
"Ya, Nona." Keduanya merangkak keluar dari pintu yang terlalu kecil untuk tubuh mereka. "Apa Nona baik-baik saja?"
"Berhenti bicara. Ayo pergi." Lucas langsung mau membawanya.
Tiba-tiba ....
"Meow."
Kompak, Meridian dan Lucas menunduk.
Terkejut menemukan seekor kucing hitam bermata emas menggosokkan wajahnya di kaki Meridian.
"Apa ini?" Lucas bertanya dengan nada tak senang.
"Saya rasa ini binatang sihir, Tuan Muda." Yohannes menjawabnya. "Kucing ini tiba-tiba datang setelah Nona Muda berhasil melarikan diri. Saat bersama kami, penjaga bersikap seolah-olah tidak melihat kami."
Sebenarnya ia malas, tapi jika tidak menyesuaikan diri, bisa-bisa rencananya gagal. "Kakak, aku ingat kucing ini mengikuti pria yang menyelamatkanku."
Tentu saja bohong. Ia baru pertama kali melihat 'kucing' ini dalam wujud kucing sungguhan.
"Benarkah?"
"Ya." Meridian mengangkat kucing hitam itu ke pelukannya. "Ayo bawa dia sebagai bukti."
Karena situasi mereka tidak memberi waktu berpikir panjang, Lucas akhirnya membawa Meridian pergi bersama dua tawanan lain.
Mereka hanya memindahkan Yohannes ke tempat perkemahan, lalu kembali melayang memandangi situasi peperangan yang nampaknya sudah cukup stabil.
Pasukan Raphael telah bertatap muka dengan pasukan Raven.
"Meow."
Diamlah, dasar kucing mesum. "Kakak, bisakah kita ikut dalam perundingan mereka? Aku ingin hadir sebagai saksi."
"Untuk apa melakukan hal merepotkan semacam itu?"
"Aku ingin berterima kasih pada penyelamatku." Meridian mengusap-usap punggung kucing hitamnya. "Juga, mungkin aku bisa mengembalikan kucing ini."
Seketika, Lucas berteleportasi. Nampaknya dia tidak suka pada kucing Meridian.
...*...
__ADS_1
Mmm, jadi begitu.
Sementara si Pemimpin tidak bertanggung jawab mereka mendengkur di bahu Meridian, orang yang memimpin pemberontakan adalah bawahan Raven.
"Maafkan aku atas kelancangan ini." Meridian agak membungkuk pada perwakilan mereka. "Aku sangat ingin berterima kasih pada kalian karena menyelamatkanku. Jika bukan karena kebaikan hati kalian, nasibku mungkin akan lebih buruk dari sekarang."
"Meridian." Raphael tidak suka ia terlalu merendah. Tentu saja dia marah.
Bawahan Raven ternyata bermain peran cukup baik. "Kamilah yang seharusnya meminta maaf, Nona. Jika saja bisa, kami ingin mencegah insiden yang merugikan Nona, tapi kekuatan kami masih terlalu kurang."
"Aku tidak peduli pada hal itu." Lucas memangkas. "Di mana bajingan yang memukuli adikku? Bawa dia kemari."
Herdian ikut menatap mereka tajam. "Tidak akan ada perundingan sebelum membawa orang berdosa itu kemari. Bawa dia."
Ini orangnya, Meridian mau iseng menyerahkan kucing mesum yang kini menggeliat di dadanya.
Tapi apa yang tidak ia sangka adalah beberapa orang bawahan Raven datang, melempar sebuah kantong mayat ke hadapan mereka.
Wajahnya yang terbuka sangat asing bagi Meridian, tapi ia spontan mundur akibat pemandangan orang termutilasi.
"Nona." Herdian menahan punggungnya sekalipun Lucas sudah memeluk Meridian. "Nona, kembalilah ke tenda. Nona harus lebih mementingkan diri Nona untuk sekarang."
"Kurasa dia benar." Lucas mengambil kucing dari pelukan Meridian. "Ambil ini."
Kucing itu memberontak. Mencakar-cakar udara secara brutal hingga Meridian cengo.
"Lucas, berikan."
"Apa?"
"Berhenti menyakiti kucing!" Meridian merebutnya secara paksa.
Kucing mesum itu seketika tenang, memeluk Meridian seolah-olah mereka telah bersama selama bertahun-tahun.
Bawahan Raven berdehem canggung. "Sepertinya kucing itu menyukai Nona. Jika boleh, saya ingin menghadiahkannya pada Nona."
Jadi ini maksud senyum bodoh dia kemarin. "Benarkah? Tapi bukankah ini berharga?"
"Saya rasa itu bisa menjadi salah satu bukti bahwa kami tidak bermaksud melukai Nona. Tolong terima itu sebagai permintaan maaf kami."
Raphael mengarahkan sesuatu pada kucing di pelukan Meridian. Dia mungkin mau memastikan lewat mana. "Binatang sihir termasuk salah satu binatang langka dan berharga. Apa baik-baik saja jika adik saya mengambilnya? Tentu saja, saya tidak berkata itu terlalu mahal untuk permintaan maaf."
"Binatang sihir tidak lebih berharga dari kerajaan kami dan seluruh warga di dalamnya. Saya ingin Nona dan terutama pihak kekaisaran menganggap bahwa kami hanya menginginkan perdamaian."
Nampaknya Raphael sudah setuju. Namun yang wajahnya masam malah Lucas dan Herdian.
"Aku tidak terlalu pandai merawat kucing. Aku menginginkannya, sungguh. Tapi aku takut menyakiti hewan manis ini." Meridian menyodorkan pada bawahan Raven padahal dalam hati terkekeh.
Lihat wajah kucing itu sekarang. Berbeda dari saat Lucas mengembalikannya, kini dia murung dengan telinga layu.
Bawahan Raven agak gugup. "Apa Nona tidak ingin menerimanya?"
"Nona sudah berkata beliau tidak pandai merawat kucing." Herdian melotot. "Jangan membebani Nona dengan hadiah kalian."
"Buang saja benda itu, Meridian. Ayo pergi."
Meridian mendengkus. Kembali memeluknya. "Aku akan belajar merawatnya. Maafkan sikap teman dan kakakku, Tuan. Dan sampaikan terima kasihku untuk pemiliknya."
__ADS_1
Dengan begitu misi telah berakhir.
...*...