Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
70 - aku tidak sabar


__ADS_3

Meridian menoleh. "Apa yang—"


"Jangan pergi." Andaru menatapnya dengan mata reptil itu. "Haruskah kucungkil kedua mataku untukmu, Nonaku? Akan kuberikan apa pun. Jangan memilih apa pun kecuali diriku. Kumohon."


Ternyata sesuatu yang Meridian dengar juga bisa terdengar oleh semua iblis yang terhubung padanya. Sebab tiba-tiba ia merasakan perasaan marah dari Dion, Lukas juga Lumiel, bahkan seluruh iblis.


Mereka memusuhi Andaru. Dan sepertinya mata itu mengetahuinya.


Ternyata tokoh utama memang berbeda. Meridian pikir dia juga akan takut dan ragu. Namun Andaru bahkan tidak peduli. Dia siap mengorbankan segalanya.


Tapi ... segala yang dia punya tidak ada artinya bagi Meridian.


"Gadis itu akan menerimanya."


"Aku tidak menginginkan gadis itu."


Jadi dia pun juga tahu.


"Aku adalah dia, dia adalah aku. Bukankah sama saja?"


"Lalu mengapa aku baru menginginkanmu sekarang, Nonaku?"


Andaru kembali berlutut. Dia meraih tangan Meridian bahkan ketika istana bergetar merespons kemarahan iblis.


"Aku hanya menginginkan orang yang mengimbangiku. Aku tidak menginginkan gadis yang hanya berusaha bersembunyi tanpa memberiku sesuatu. Aku mencintaimu, Nona. Aku hanya mencintaimu."


"Aku ...."


"Yang Mulia." Iblis berambut ungu muncul di belakangnya. "Gerbang kerajaan suci telah terbuka. Seratus ribu pasukan bergerak."


"Bunuh semuanya. Tanpa terkecuali."


"Laksanakan."


Andaru menarik diri. Dia kembali berdiri meski kini menghadap Meridian. "Apa Ruben belum ditemukan?"


"Dia akan muncul setelah kuil hancur."


"Kamu yakin bisa memenangkannya?"


"Ya." Meridian terpejam. "Aku tidak sabar."


...*...


Kuil sudah hancur. Pasukan kerajaan suci juga sudah musnah. Kemenangan berada di tangan Meridian dan pasukannya. Tapi kenapa ini?


Tangannya gemetar. Meridian bisa merasakan kemenangan dari seluruh penjuru dunia. Manusia-manusia itu takut padanya. Mereka tunduk dan terpaksa mengikutinya.


Itu bukan sebuah kegagalan. Dalam kekuasaan, perasaan rakyat bukanlah segalanya. Terutama bagi sebuah kekuatan mutlak yang tidak bisa mereka lawan.


Meridian tidak peduli pada mereka. Lalu kenapa ia gemetaran?


Ada apa?

__ADS_1


Suara Meridian lagi-lagi muncul.


Kamu ragu. Kamu putus asa. Bagaimana jika setelah ini kamu tidak kembali? Bagaimana jika setelah ini kamu tetap menjadi aku? Aku tidak pernah berbohong. Aku tidak pernah menipumu karena tubuhmu adalah tubuhku. Begitukan, pikiranmu?


"Diam."


Kamu bilang kamu akan kembali. Maka lakukan. Bunuh Ruben.


"Diam."


Meridian mengibaskan tangan meski tak tahu itu berhasil atau tidak.


Untungnya si Lemah itu diam lagi, meninggalkan Meridian yang bergegas bangkit dari singgasana.


"Aku pasti kembali." Ia mengucapkan pada dirinya untuk meyakinkan diri.


Sistem saraf akan mendengar dan terekam. Doa adalah sesuatu yang diucapkan secara yakin, percaya, mutlak, tanpa ada sedikitpun keraguan.


Omong kosong si Lemah tidak usah didengarkan.


"Aku pasti kembali. Aku pasti kembali. Pasti. Pasti. Pasti. Pasti. Pasti. Aku pasti kembali. Benar. Pasti."


Meridian mengembuskan napas saat merasa lebih tenang.


"Lumiel."


Pria kesayangannya muncul dengan tangan di dada, menunduk hormat.


Itu terasa sangat jelas setiap kali Meridian memanggilnya, Lumiel merasa sangat gembira. Seolah dia anak kecil yang bersedih lalu diberi es krim dan tertawa-tawa bahagia.


"Apa Ruben sudah menyadarinya?"


Ini sudah seminggu berlalu. Dua hari terakhir perang telah berakhir tanpa harus Meridian turun tangan. Yah, yang dibunuh oleh anak-anaknya (para monster) dan pasukan iblis juga pasukan manusia adalah tentara kerajaan suci.


Para petinggi mereka masih bersembunyi di kerajaan itu.


Namun Meridian tidak melihat mereka sebagai ancaman lagi. Ketika tentara kerajaan suci dan kuil sudah hancur, maka mereka hanya seperti bertahan di atas seutas benang.


Dibiarkan pun tetap akan jatuh.


Yang menjadi fokus adalah Ruben dan Pendeta itu. Mereka berdua adalah antagonis terakhir yang harus dibunuh demi menyelesaikan cerita.


Tapi, Meridian harus menunggu Ruben menyelesaikan senjatanya. Karena pertarungan final harus sama-sama membahayakan kedua belah pihak.


"Seharusnya itu sudah, Yang Mulia. Namun sampai sekarang belum ada pergerakan."


"Dia berhati-hati." Meridian memeluk dirinya sendiri. Berjalan menuju balkon kastil iblis hanya untuk melihat pemandangan langit tanpa daratan. "Bawa Herdian dan Andaru padaku."


"Segera."


Dia selalu pergi secepat mungkin dan kembali secepat mungkin.


Hanya butuh waktu satu menit untuk Meridian merasakan keberadaan Andaru dan Herdian di kastilnya.

__ADS_1


Mereka muncul dalam kondisi berlutut. Atau lebih tepat menyebut dipaksa berlutut.


"Lumiel, mereka manusia. Berhenti menyuruh mereka melakukan hal sepertimu."


"Mereka hambamu, Ratuku."


Aku bukan Tuhan, desah Meridian dalam hati. Tapi daripada mengurusi hal merepotkan itu, lebih baik ia segera bicara. "Berdirilah."


Keduanya berdiri.


Andaru tersenyum dengan menampilkan mata reptilnya meskipun tidak ada yang memerlukan itu. Dia tahu betul betapa Meridian menyukai matanya.


Pernyataan cinta yang dia ajukan terakhir kali, Meridian belum membalas itu. Andaru juga tidak mengungkit, namun lebih seperti membuktikan diri.


Meridian menunduk. Cincin pemberian Herdian masih terpasang manis di tangannya. Diusap benda itu hingga bercahaya agar bisa bertelepati dengan Herdian langsung.


Apa ada sesuatu yang penting, Herdian?


Saya tidak tahu ini hal yang penting atau tidak, Nona, namun beberapa pendeta dari kuil yang tidak memiliki kekuatan suci diam-diam tetap membisiki rakyat untuk percaya bahwa Dewa Matahari bersama mereka. Kebencian demi kebencian ditanamkan, dan rumor mengenai raja iblis ingin menghancurkan dunia mulai diyakini oleh masyakarat.


Apa menurutmu itu aneh?


Setidaknya bagi saya begitu, Nona. Seluruh pendeta yang kami lepaskan adalah mereka yang telah terikat perjanjian sihir.


Perjanjian sihir? Apa itu?


Sesuatu yang dibuat untuk mengikat kebebasan seseorang. Pangeran Andaru yang memerintahkannya.


Dia ....


Bucin tokoh utama memang beda.


Dia melindungi rakyatnya sebisa mungkin tapi tidak melupakan pembuktian cinta bahwa seluruh pemberontak telah diberantas jadi jangan marah lagi, begitu?


Lalu siapa pendeta yang muncul itu?


*Sebelum itu, Nona, kami hanya merantai pendeta yang memiliki kekuatan suci, jadi pendeta tanpa kekuatan kami lepaskan tanpa kekangan. Namun jika saya harus berterus terang, perlakuan kuil pada pendeta tanpa kekuatan suci sama seperti perlakuan tuan pada budak yang dipandang tidak bernilai.


Maksudmu?


Bukankah kita pernah membahasnya? Mereka yang berdosa diasingkan ke biara selama beberapa waktu. Mereka yang bertobat itulah yang menjadi pendeta. Namun terdapat diskriminasi akibat masa lalu mereka*.


Aku mengerti. Jadi maksudmu pendeta tanpa kekuatan suci mungkin saja menyimpan dendam dan seharusnya tidak membela kuil lagi?


Begitu, Nona.


Lalu? Apa spekulasimu?


Marcel masih berada di kerajaan suci tempat senjata suci berada. Ada kemungkinan seorang pendeta diloloskan untuk menabur kebencian terhadap Nona.


Provokasi, kah?


Meridian memang tidak menyerang kerajaan suci secara langsung. Senjata suci atau apalah itu yang berada di sana akan bereaksi pada kekuatan dahsyat, hingga Meridian memerintahkan semuanya untuk tetap bertarung pada batas yang aman.

__ADS_1


"Seratus ribu tentara mereka hanya umpan yang tidak termakan." Meridian menoleh. "Sekarang mereka bertujuan memancing kemarahan pasukan agar menyerang kerajaan mereka secara langsung. Bagaimana aku harus menyelesaikan ini?"


*


__ADS_2