Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
64 - dunia khayalan


__ADS_3

"Bagaimana segel yang membatasi hutan kegelapan dan dungeon?"


"Bukan segel yang luar biasa." Lumiel mengulurkan setusuk daging yang sudah matang ke tangan Meridian.


Kini mereka beristirahat setelah seharian menuruni dungeon menuju ruang terdalam.


Meridian sebenarnya sempat berpikir bahwa dungeon hanya memiliki sepuluh atau dua belas lantai berisi monster-monster kuat, tapi semakin mereka masuk justru semakin panjang perjalanan menuruninya.


Kata Herdian dan Lumiel, tergantung dari seberapa luas dan besar level dungeon itu, maka sejauh itu pula kedalamannya. Dungeon yang sedang mereka tempati ini merupakan dungeon level atas, paling berbahaya namun juga yang paling minim petualangnya.


Awalnya Meridian berpikir kenapa tidak pindah ke dungeon yang lebih rendah saja lalu menuruninya dengan cepat? Tapi ternyata semakin rendah level dungeon maka justru semakin jauh mereka dari hutan kegelapan.


Mau tak mau, memang harus ini yang dilewati.


"Dari apa yang saya ketahui, segel itu bereaksi pada bangsa iblis, Nona."


Meridian menatap Lumiel seketika. "Bagaimana kamu melewatinya?"


"Itu hanya bereaksi, bukan menyerang." Lumiel santai saja makan. "Yah, itu agak sedikit membuat monster bergerak liar, tapi tenang saja. Aku hanya perlu meniup mereka."


Mari abaikan dia.


"Kalau dipikirkan lagi, apa hanya dengan menghancurkan batu bisa membuatku jadi raja?"


Legenda sih memang konyol, tapi bagi Meridian yang memikirkan segalanya dari unsur rasionalitas, ia sedikit berharap bukan hanya itu.


Bukan apa-apa. Meridian tidak mau sampai ia muntah sebelum jadi raja. Mungkin ada ritual tertentu atau semacamnya?


"Tidak. Menemukan batu itu pertama sudah mustahil." Lumiel membalik daging yang sepertinya berencana dia makan juga setelah matang.


"Mustahil?"


"Bahkan di bangsaku, kami menganggap batu itu nyaris seperti mitos. Kami tidak tahu bentuknya, tidak tahu seperti apa warna pastinya, tentu saja juga tidak tahu di mana itu berada. Apa itu tertanam, atau itu berada di dasar lautan, atau mungkin di bawah akar pohon, tidak ada yang tahu."


"Lalu bagaimana kamu tahu batu itu ada?"


"Karena semua iblis merasakannya."


Meridian memiringkan wajah. "Merasakan dalam bentuk?"


"Itu seperti, meskipun tidak tahu itu seperti apa dan bagaimana, kamu tahu itu ada. Sesuatu yang muncul begitu saja."


Ah, insting, kah? Legenda-legenda makhluk begini sih biasanya memang demikian jadi Meridian tidak terlalu kaget.


Sekarang berarti sudah pasti itu ada.


"Kalau memang begitu, mengapa bangsa iblis tidak mencarinya sejak dulu?"


"Batu itu seperti kurungan yang dibuat oleh manusia, Nona." Herdian yang menjawabnya. "Dikatakan dalam tulisan kuno, bangsa iblis tidak akan bisa memecahkannya. Karena itulah sampai sekarang mereka membaur dalam manusia alih-alih membangkitkan bangsa mereka."

__ADS_1


"Mereka tinggal meminta manusia, kan?"


Keduanya lagi-lagi kaget.


"Apa? Masa tidak ada yang berpikir begitu? Minta saja manusia membangkitkannya, seperti aku ini, lalu kuasai dunia. Mengapa tidak?"


"Kenapa kamu selalu memikirkan hal aneh?" Lumiel menyentil dahi Meridian. "Itu bisa saja, tapi pada dasarnya manusia dan iblis itu berbeda."


"Apa maksudmu? Herdian bilang tidak ada permusuhan. Dion dan Lukas juga tidak berbuat jahat."


"Ya, tapi iblis adalah iblis dan manusia adalah manusia. Bukankah kedua kakakmu tidak sebaik yang orang lain pikirkam?"


Jadi yang membuat Dion dan Lukas seperti itu adalah darah iblisnya?


Duh, kasihan sekali mereka, dikorbankan dengan penjelasan omong kosong begitu.


"Orang yang memiliki darah iblis kuat dalam dirinya tidak menyukai manusia." Lumiel melanjutkan penjelasan. "Kakakmu hanya memiliki seperempat darah iblis. Tiga per empat darahnya sudah manusia. Dia berbeda dariku atau orang dengan darah setengah iblis."


"Maksudmu, kamu menbenci manusia?"


"Lebih seperti kami menganggap manusia itu lemah dan mengganggu. Sulit dipercaya juga tidak berguna. Kamu mengerti? Perasaan superior makhluk yang lebih kuat."


Superior. Meridian agak sensitif mendengarnya.


"Jadi begitu." Dialihkan diri dengan memakan sate dagingnya. "Kalau begitu kamu ...."


Tunggu, kalau begitu kan Lumiel menuntun Meridian ke hutan kegelapan untuk jadi raja bangsa iblis demi cinta?! Uwwah.


Meridian bergeser, demi kenyamanan bersama.


"Hei! Kamu suka berbuat jahat, Nona!"


"Herdian."


"Jangan abaikan aku!"


"Apa ada tulisan kuno lain mengenai batu itu? Apa benar hanya perlu memecahkannya?"


"Ya, Nona. Dari apa yang saya ketahui, jika seorang manusia memecahkan batu itu, energi sihir yang berada di dalamnya akan terserap, dan itu syarat pertama dalam mengendalikan bangsa iblis."


"Kalau kuingat lagi, kamu berkata 'saat monster membantai manusia dan lautan darah tercipta, maka bangsa iblis akan bangkit'. Apa maksudmu harus ada korban manusia?"


"Tidak. Cerita itu buatan." Lumiel mendengkus. "Hei, berhenti menganggap bangsa iblis kurang kerjaan, mengerti? Kenapa kami harus membunuh manusia tanpa sebab? Peperangan kuno itu terjadi karena perselisihan wilayah, bukan karena kami ingin minum darah."


"...."


"Kalian manusia juga membunuh manusia karena perselisihan. Iblis tidak mengganggu selama kalian tidak mengganggu. Tapi kalian manusia bodoh dan menyebalkan. Hanya karena iblis lebih kuat dan lebih hebat, kalian membuat rumor kami menakutkan dan berbahaya, lalu memerangi kami, lalu mengatakan kamilah penjahatnya. Dasar manusia."


Meridian menepuk-nepuk punggung Lumiel. "Aku mengerti, aku mengerti. Manusia memang menyebalkan."

__ADS_1


Dia memalingkan muka. Tiba-tiba berubah jadi kucing dan mendarat di pelukan Meridian. "Aku marah. Peluk aku, Meridian."


Sekarang Herdian yang marah. "Berhenti melakukan pelecehan pada Nona!"


"Dialah manusia yang selalu iri pada bangsa iblis, Nona. Dia penjahat."


"Apa maksudmu, iblis sialan?!"


Meridian mengangkat tubuh Lumiel ke atas api. "Aku setuju padamu, manusia itu menyebalkan, tapi jangan ganggu Herdian karena dia berbeda. Mengerti?"


Dia membuat wajah akan menangis.


"Kamu ingin terbakar?"


"Sial, dasar wanita gila!" Lumiel melompat paksa ke pelukannya lagi. "Aku memang harus membawamu pergi setelah ini."


Meridian hanya tersenyum. Menepuk-nepuk kepalanya dan lanjut makan.


*


Melewati waktu sehari mereka memasuki dungeon, Herdian mulai kewalahan melawan iblis sendirian. Karena masing-masing dari mereka sebenarnya tidak mengetahui secara pasti bagaimana struktur dungeon bagian terdalam, mau tak mau mereka semakin melambatkan perjalanan.


Lumiel ikut membantu pertarungan, namun penting baginya menjaga paling tidak setengah mana yang dia miliki jika sewaktu-waktu ada kejadian tidak terduga.


Meridian sendiri harus menyimpan mananya baik-baik sebab ialah senjata paling terakhir di kelompok ini. Karena tidak sempat mereka membawa tenda, sejak berada di dungeon jelas mereka tidur di bawah langit.


Meridian berusaha keras untuk tidur dan beristirahat, tapi mau berapa kalipun ia berputar ke kanan dan kiri, Meridian hanya terjaga dengan perasaan tak tenang.


Apa ini baik-baik saja?


Apa benar ia akan kembali?


Tidak. Tidak. Tidak.


Jika pikiran seperti itu muncul, melawan keyakinan yang dimiliki seseorang, maka itu disebut pesimis.


Kalau tidak salah, dalam ilmu alam bawah sadar atau sejenisnya, sesuatu yang kita yakini pasti akan terjadi.


Asal kita yakin. Asal tidak muncul satupun keraguan atau mempertanyakan.


Ya, Meridian punya Tuhan yang bukan tuhan abal-abal dunia ciptaan Laila.


Dia mendengarkan. Dia pasti akan mengembalikan Meridian.


Entah bagaimana caranya, entah dengan melewati apa, Meridian pasti kembali.


Dunia ini hanya mimpi. Hanya khayalan. Tidaklah nyata.


Karena itu Meridian pasti kembali ke dunia yang nyata.

__ADS_1


*


__ADS_2