Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
30 - aku punya hadiah


__ADS_3

Belum puas juga, Meridian merobek-robek kain luar gaunnya cuma untuk diinjak-injak penuh emosi.


"Apanya yang tokoh utama! Apanya yang anak Marquis cantik! Jangan bilang aku datang ke sini karena kamu ingin bebas?! Haaaaah? Aku harus membebaskanmu, begitu?! Dasar bodoh! Brengsek! J*l*ng! Pel*c*r! Sialan! Kalau mau bebas, ya bebas sendiri! Aku malah kesal harus membebaskanmu! Kalau perlu aku bunuh diri saja agar kamu juga mati!"


"...."


"Apa?! Kalau aku bunuh diri aku yang asli juga mati! Peduli amat! Akan kubawa tubuhmu ke sarang singa agar tercabik-cabik! Atau sekalian saja kubawa ke pasukan musuh agar kamu diperk*sa massal! Kenapa aku harus berjuang untuk kamu?! Aku berjuang untuk diriku! Aku tidak dapat apa-apa di dunia ini! Kamu mau bilang jika aku kembali ke duniaku, aku membawa serta tumpukan berlian?! Kalau begitu, aku terima. Tapi kalau tidak, untuk apa aku peduli?!"


Meridian belum puas. Tapi karena semua hal disekitarnya kecuali makanan dan air sudah ia tendang dan hancurkan, Meridian jadi mengacak-acak rambut seperti orang sinting.


"Aku akan mencekikmu kalau muncul lagi dalam mimpiku! Aku tidak peduli Lucas bagaimana! Aku tidak peduli Dion bagaimana! Aku tidak peduli! AKU TIDAK PEDULI, AAAAKHHHHH! JADI MENJAUH DARIKU!"


Huft.


Baiklah, agak enakan sekarang.


Meridian menjatuhkan diri di tanah. Peduli setan gaunnya kotor. Ia menyambar roti dan sup ayam di mangkuk. Mulai makan dengan tenang seorang diri.


Sepertinya marah-marah itu tidak sesingkat yang ia pikirkan. Karena sebelum supnya habis, Wilona, Herdian dan Yohannes kembali, tercengang melihat kondisi Meridian.


"Nona?!"


Meridian menyeka keringat di dahinya seolah habis menyelesaikan tugas mulia. "Aku bertarung dengan diriku sendiri. Ya, begitulah. Maafkan aku merepotkan kalian. Ayo pergi."


Mereka cengo.


Tapi hanya sesaat kemudian, Herdian memngkuk dan tertawa terbahak-bahak.


Dia benar-benar menikmati hal yang dia tertawakan sampai kini Yohannes dan Wilona balik memandangi dia, mungkin takut dia kerasukan.


"Anda sangat menarik, Nonaku." Herdian menyeka air matanya yang hampir menetes akibat tertawa. "Saya tahu Anda sedang marah, tapi saya tidak menyangka akan seperti ini. Seharusnya saya mengintip Anda tadi."


Tatapan Meridian dingin. "Aku akan mencongkel matamu jika mengintip."


Herdian tetap tertawa.


Yohannes cuma menghela napas. Tampaknya sudah mulai bingung cerita macam apa yang akan dia berikan pada Yang Termulia nanti.


"Nona." Wilona menganggap baik Meridian juga Herdian gila. "Saya akan mengganti pakaian Anda. Ayo kembali."


"Tidak." Meridian berjalan melewatinya. "Aku tidak ingin memakai gaun."


Ayo balas dendam pada si Meridian Brengsek itu.


...*...


Katanya tidak ada wanita bangsawan yang boleh memakai pakaian selain gaun, jadi ketika Meridian cuma memakai terusan kecil mirip gaun tidur di dunia nyata, ia harus berdiam diri di dalam kereta kuda.


Meridian masih agak kesal, jadi ia benci semua hal yang berhubungan dengan si Meridian Palsu, termasuk gaunnya.


Jika ia pulang nanti, Meridian akan mengosongkan seluruh pakaian koleksi Meridian lalu membakarnya, kemudian pergi membeli pakaian sesuai seleranya.


Tapi karena punya waktu sendiri, Meridian jadi banyak berpikir.


"Wilona."

__ADS_1


"Ya, Nona?"


"Apa dulu aku membenci Lucas dan Dion?"


Wliona sempat terkejut akan pertanyaan aneh itu. Meski dia sudah sangat terbiasa pada Meridian.


"Tidak, Nona. Sepanjang yang saya ketahui."


Jadi dia tidak terlalu mengetahui, kah? Dilihat dari cuplikan adegan di mimpi itu, semuanya cuma saat Dion dan Meridian tidak dalam pengawasan siapa-siapa.


Apa Meridian panggil saja Lucas keluar?


Tapi saat ini ia tak bisa menggunakan sihir. Mananya ada dan sihirnya cuma melemah.


Hanya saja, Meridian tidak memiliki kemampuan mengendalikan sebaik Herdian dan Raphael, jadi ia tak bisa menciptakan sihir dengan memikirkan saja dalam kondisi ini.


Sebenarnya apa sih yang ditakuti si Pengecut itu? Dion mau memutilasi dia apa?


Meridian sudah tidur diawasi oleh tiga pria, mananya dibelenggu sana-sini, bahkan terus mendengar kata 'kamu gila' tapi ia baik-baik saja.


Si Pengecut ini diapakan? Tubuhnya saja bersih. Tidak ada tanda-tanda kekerasan.


Kalau dia tidak diancam akan dimutilasi, dikerasi dengan pukulan, lalu sebenarnya dia diapakan sampai ketakutan?


Pengecut bodoh.


Dasar sialan.


Beraninya menggunakan Meridian untuk kepentingan pribadi dia.


Lucas secara sukerala menjaganya. Herdian sukarela menjadi temannya. Andaru sukarela menikahinya. Lalu si Pengecut?


Gara-gara dia, Meridian meninggalkan dunia damainya.


Cuma untuk datang ke tempat tidak jelas ini!


"To be honest, I hate you."


Meridian tertegun.


Setelah berhari-hari lupa, suara yang pernah ia dengar namun ia lupakan tiba-tiba terdengar.


"I swear to God, I really hate you."


Sia—


"Nona?!"


Meridian mencengkram kepalanya kuat-kuat. Merasa seolah otaknya diacak-acak hanya karena suara barusan.


Itu berbeda dari suara si Meridian Bodoh. Suaranya lebih emosional. Terlalu nyata untuk Meridian anggap omong kosong.


Tapi siapa?


"Nona. Nona, tenanglah."

__ADS_1


Napas Meridian kacau. Ia bersusah payah mengisap cangklong agar hawa panas di tubuhnya tak membara. Tapi meski suara itu sudah hilang entah ke mana, Meridian masih merasa kepalanya sakit.


"Mengutak-atik ingatan akan menyebabkan kekacauan dalam ingatan seseorang. Bukankah itu bisa jadi penjelasan mengapa Nona bisa hilang ingatan?"


"Dia berbahaya."


Dasar sialan.


...*...


"Aku sebenarnya bersyukur bahwa aku tokoh utama." Meridian menghela napas. Duduk bersila di atas lantai tak berwujud, menyisap cangklong ala-ala mafia.


Tadi ia berpikir mau merokok di dunia entah-apa-namanya ini, lalu tiba-tiba dia muncul sendiri.


Ternyata bisa, jadi Meridian ambil kesempatan.


Meski di sini tidak panas atau dingin, ia jadi merasa punya kegiatan kalau mengisapnya.


"Aku menghabiskan banyak waktu marah-marah karenamu. Ya. Aku berterima kasih aku tokoh utama. Aku bisa marah sepuasnya tanpa takut keriput atau jelek."


Meridian menjentikkan jari. Lalu bersandar pada kursi santai yang baru saja hadir sesuatu keinginannya.


"Jadi, biar kutanya satu hal dulu. Kamu datang memperingatiku, datang menggangguku, atau datang membuatku jengkel?"


Gadis itu menunduk seolah-olah Meridian melukai hatinya yang sehalus sutra. "Aku kemampuanmu."


"Hah?"


"Duke Muda pernah menjelaskannya."


Meridian terdiam.


Terdiam sangat amat lama.


"Aku kemampuan unikmu."


".... Kurasa aku juga harus membunuh Herdian."


Apanya yang 'sesuatu paling dibutuhkan, diinginkan'!


Ini sesuatu yang tidak berguna!


"Jadi, kamu bukan Meridian Palsu Sialan Anjing itu?"


Mata gadis itu melirik ke arah lain. "Itu aku."


"Hah!"


Meridian menyiapkan tinjunya. Bergegas membuang cangklong dan kursi khayalan itu sebab nampaknya ia harus mulai belajar tinju hari ini.


"Jadi begitu. Jadi begitu, Nonaku. Ternyata kamu putri Marquis. Kemarilah. Kemari, kemari. Aku punya hadiah."


"...."


...*...

__ADS_1


__ADS_2