Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
57 - seorang penjahat selanjutnya


__ADS_3

Ini mulai seru bagi Meridian.


"Benarkah? Aku tidak mengetahui informasi itu sama sekali. Tuan Muda, Yang Mulia, apa yang Pendeta katakan benar?"


"Kami masih menyelidikinya, Nona."


"Informasi kuil ternyata lebih baik daripada informasiku." Andaru bermain sesuai keinginan Meridian. "Bisakah kudengar lebih jauh mengenai itu?"


Nona.


Herdian diam-diam bertelepati.


Sebenarnya salah satu dari prajurit kami tiba-tiba menghilang saat pertempuran. Kami menduga mayatnya menghilang di medan pertempuran, namun ada kecurigaan bahwa dia diculik oleh kerajaan. Saya sudah berulang kali memastikan seluruh mayat korban dan pasukan yang selamat, hanya satu orang itu yang menghilang.


Kini makin jelas kuil memang bermain.


"Kami tidak mendapat informasi secara pasti, Yang Mulia. Karena itulah kami menjadi gelisah akan opini publik jika sampai tersebar mengenai Nona terkontaminasi sihir hitam. Dengan pemberkatan, kami bisa memastikan sekaligus melindungi Nona dengan perlindungan Dewa Matahari." Pendeta masih dapat memberi pembelaan.


"Lalu bagaimana aku setuju jika aku saja tidak tahu-menahu soal sihir itu?" balas Meridian.


"Sihir hitam memiliki perbedaan dengan sihir biasa, Nonaku. Dikatakan itu sihir yang licik berkekuatan destruktif yang bisa menghilangkan nyawa seseorang tanpa rasa sakit."


Meridian rasa ini sudah cukup. "Aku merasa seperti kalian ingin memaksaku diberkati." Matanya menyorot dingin. "Apa maksudmu aku harus diam saja menerima sesuatu yang tidak kuketahui apa itu?"


"Apa yang Nona maksudkan? Kekuatan suci tidak pernah melukai seseorang."


"Aku tahu." Meridian tidak tahu. "Yang aku maksudkan, mau itu melukai tidak melukai, aku tidak tahu itu apa."


Saat Meridian menunggu balasan dari pria itu, tiba-tiba Herdian berseru dalam benaknya.


Dalam sekejap mata, Andaru bergerak ke depan Meridian, coba menangkis sebuah cahaya merah pekat yang menyebar tiba-tiba.


Meridian terbelalak. Namun hal selanjutnya adalah gejolak rasa sakit tidak masuk akal di jantungnya bersama dengan suara pecah sesuatu.


Meridian membungkuk, menutup mulutnya hanya untuk terbelalak oleh darah segar yang mengalir bak air deras.


Apa yang—


"NONA!"


Siraman cahaya silau kekuningan menyerang Meridian.


"Yang Mulia," gumamnya pada Andaru.


Andaru melesat cepat ke arah pendeta, menebas mereka satu per satu.


Ini mengejutkan, tapi anehnya Meridian tidak merasa sakit saat muntah darah, jadi ia segera paham bahwa kekuatan ini tidak berbahaya.


Jadi ini kekuatan suci?


"Luar biasa." Si Pendeta tersenyum tenang meski kawan-kawannya terbunuh. "Saya memang menduga ada sesuatu yang Anda sembunyikam, namun dengan kekuatan sihir sebesar ini, sepertinya Anda ingin memulai perang dunia, Yang Mulia."

__ADS_1


Andaru menjilati bibir saat menyeringai. "Aku memang berencana memusnahkan fanatik seperti kalian."


"Saya akan menyampaikannya dengan sangat jelas kepada Yang Mulia Agung."


"Sampaikan itu dengan jiwamu yang sudah tenang di pangkuan Dewa."


"Tolong katakan itu saat saya sudah cukup terluka oleh Anda."


Andaru mengibaskan pedangnya untuk menyingkirkan darah. Meridian sebenarnya percaya diri Andaru akan membunuh si Tokoh Tidak Penting itu, namun sesuatu yang mengejutkan terjadi.


Tepat sebelum pedang Andaru mengenai si Pendeta, sebuah aura emas menangkisnya. Disusul oleh kemunculan seorang pria berambut pirang dengan seringai gila.


"Yo, Andaru."


"Ruben." Andaru menggertak gigi seketika.


Ternyata dia Ruben.


Meridian pikir dia tidak terlalu penting, tapi auranya luar biasa.


"Marcel, pergilah. Aku akan menyusul sebentar lagi." Ruben meminta pada si Pendeta.


"Kamu kira aku akan diam saja?"


Ruben mengayunkan pedangnya. "Besar mulutlah saat sudah lebih dewasa, dasar bocah!"


Meridian cuma diam menyaksikan Marcel pergi entah menggunakan sihir apa. Dia langsung menghilang disapu aura berwarna putih kekuningan.


*


"Nona, tolong jangan bergerak dulu."


Meridian mengangkat tangan agar Herdian tidak mengkhawatirkannya dulu.


Rasa sakit itu hilang, jadi sekarang fokus pada pertarungan Andaru.


Ternyata Ruben bukan kroco yang lari karena kerajaannya kalah.


Yohannes bersama sejumlah pengawal masuk akibat keributan itu, namun dia tampak lebih unggul dari tokoh utama kita yang OP.


Bagus. Bagus. Memang begitulah seharusnya villain.


Jangan apa-apa kalah dari tokoh utama!


"Herdian, mengapa Yang Mulia tidak menggunakan sihir?"


Pria di sampingnya sangat mencemaskan darah di mulut Meridian. Tapi dia tetap menjawab, "Mana di sekitar Nona sedang kacau. Yang Mulia yang meletakkan belenggu di sekitar inti mana Nona. Sihir beliau sekarang akan dianggap musuh oleh mana Nona. Jika terjadi penolakan, tidak ada yang bisa menghentikan amukannya."


Karena itulah Ruben yang ahli pedang muncul, bukan ahli sihir.


Pintar juga mereka. Artinya mereka memperkirakan bahwa sihir Meridian cukup kuat, destruktif dan jika mengamuk mereka juga akan kena.

__ADS_1


"Herdian, sihir apa yang dia gunakan memecahkan belenggunya?"


"Saya akan mencari tahunya nanti, Nona."


Meridian melipat tangan. Diam menyaksikan sampai Andaru terhempas dan seluruh prajurit tergeletak.


Bagus. Kalau begini kan Meridian tidak harus sakit kepala melihat ahli pedang yang mendedikasikan hidup dengan pedang kalah dengan penyihir yang juga ahli pedang.


"Melihatmu begini ternyata membuatku mengerti." Ruben menyeringai pada Meridian. "Pantas saja Lumiel mengkhianatiku."


Lumiel?


Jangan bilang Raven? Namanya Lumiel?


"Aku juga mengerti sesuatu setelah melihatmu." Meridian tersenyum. "Aku dengan senang hati melawanmu, Pangeran."


"Itu berita menggembirakan jika kamu memang bisa melakukannya."


Ruben bergerak cepat ke arah Meridian. Namun entah kenapa Meridian tenang-tenang saja. Tepat sebelum aura itu menyelimutinya, seseorang lain muncul.


Menangkis aura Ruben dan menghempaskannya menimpa Andaru.


Yang lebih mengejutkan Meridian justru penampilan orang itu, berwajah bos bandit yang menculiknya beberapa waktu lalu, namun kini berkulit putih dengan mata merah dan rambut merah.


"Sepertinya kamu menikmati pertunjukkannya." Meridian menyeka darah di mulutnya. "Aku pikir aku akan diselamatkan oleh kucingku."


Raven—atau mungkin sekarang ia harus sebut Lumiel—terkekeh ringan. "Aku sangat kagum pada setiap ketenanganmu, Nonaku."


"Jangan membunuhnya. Biarkan dia pergi."


"Aku memang tidak berniat."


Sesuatu berwarna merah melayang memenuhi udara, memisahkan tubuh Andaru dari Ruben. Mereka berdua tidak pingsan, namun tampaknya terluka parah.


"Anda baik-baik saja, Yang Mulia?"


Andaru melihat Lumiel di samping Meridian, tapi cukup paham untuk tidak bertanya dulu.


Biasanya dalam adegan seperti ini, penjahat akan meninggalkan kalimat mutiara sebagai salam penutup sebelum pertemuan selanjutnya.


"Mengkhianatiku karena seorang gadis, aku sungguh merasa malu pada garis keturunanmu, Lumiel." Ruben melakukannya sesuai dugaan.


Raven—maksudnya, Lumiel, hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. "Pria manapun akan memilih berpihak pada seorang gadis manis daripada pria tidak menarik."


"Aku pun tidak terlalu menyesalinya." Ruben berusaha bangkit dengan menjadikan pedang sebagai tongkatnya. "Aku mengakui mata gadis itu berbeda. Dan kurasa orang-orang bodoh ini tidak menyadarinya."


"Sesuatu yang tidak diketahui jauh lebih berharga. Walaupun sebentar lagi aku harus membunuhmu karena sudah mengetahuinya."


Ruben tertawa. "Maka aku benar-benar akan menemui Nona itu di medan perang."


Cahaya putih kekuningan mulai menyelimuti Ruben. Perlahan dia menghilang sampai tak tersisa apa pun di udara kecuali debu.

__ADS_1


*


__ADS_2