Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
55 - ingin menjadi dirinya sendiri


__ADS_3

"Aku tahu."


Untuk sesaat, dia memang tidak terlihat seperti Dion yang Meridian kenal.


Dia tampak seperti iblis yang muncul dalam cerita-cerita, memiliki tanduk dan sayap. Tentu saja ia hanya khayalan, tapi aura menakutkan yang datang darinya bahkan mengintimidasi Meridian.


"Aku tahu perasaanmu hanya tipuan."


Dion menatap dingin dengan mata hitam kelam itu.


"Aku tahu kamu tidak merindukanku. Aku tahu kamu hanya ingin menghinaku."


Apa yang dia katakan? Rasanya itu bukan kalimat untuk Meridian namun pada si Palsu.


"Kakak."


"Kakak?" Dion tiba-tiba menariknya terduduk, menggigit kasar kulit Meridian.


Teriakan pilu Meridian justru membuat gigitannya begitu dalam.


"Kamu tidak pernah memanggilku Kakak. Kamu bahkan tidak sudi melihatku atau memanggil namaku. Yang kamu lakukan hanya meringkuk seakan-akan aku selalu menyakitimu, menolakku dengan hina lalu memohon pada Pangeran sialan itu agar kamu meninggalkanku."


Uwwah.


Jadi ceritanya begitu?


Meridian agak berharap sihirnya tidak tersegel agar ia bisa mendengar rintihan Meridian Palsu sambil ia menghadapi rintihan cinta terlarang Diong.


"Akh."


"Kamu menghinaku." Dion mengambil darah di sekitar bekas gigitannya, mengusapkan itu ke pipi Meridian.


Lukanya sangat menyakitkan seolah-olah dia memakan daging Meridian, namun tatapan putus asa Dion yang dicampur oleh gairah terlarang membuat Meridian terpancing.


Lehernya tercekik saat Meridian tersenyum. "Lalu kenapa?"


Aura di sekitar Dion menggelap.


"Kamu memang menjijikan. Aku menahan muntah saat melihatmu, Ka-kak. Merangkak di kakiku seperti binatang putus asa, mengemis dan mengemis agar aku meladeni kejantananmu yang menjijikan itu. Bukankah kamu bersyukur? Aku sedang berpura-pura menerimamu. Ayo bersyukur. Bersujud padaku dan mengemis aku memuaskan."


Ayo marah. Ayo marah dan lecehkan tubuh menjijikan ini.


Tunjukan kemarahan dan hasrat yang ditolak oleh si Palsu itu agar dia menderita. Ini bukan tubuh Meridian. Satu inci pun tak akan ia jaga dari pelecehan atau rasa sakit.


Bahkan kalau ia ikut merasakan sakitnya, asal si Palsu itu menderita, Meridian akan menahannya. Jadi lecehkan.


"Dion." Meridian menjilati bibirnya yang dirembesi oleh darah. "Aku dan Andaru selalu berciuman setiap kami bertemu."


Ekspresi Dion mendadak mati.

__ADS_1


"Dan pria yang kutemui di dungeon hari itu, aku akan pergi bersamanya, terbebas dari obsesi gilamu padaku! Hah! Dasar menjijikan!"


Tepat setelah itu, Meridian merasakan sesuatu menutup mulutnya.


Kedua matanya terbelalak, hanya dapat berteriak samar ketika tubuhnya benar-benar dilecehkan dari belakang.


"Jal*ng sepertimu harusnya diam saja di selangkanganku." Dion berbisik dingin. "Dasar gadis mes*m. Kamu terus berkata aku menjijikan tapi tubuhmu tidak pernah kering menerimaku. Apa itu caramu bermain, Adikku? Apa begini caramu menggoda kakakmu?"


Meridian hanya bisa mengingat bahwa ia tak sadarkan diri saking lemasnya, terbangun dalam kondisi telah berpakaian rapi, dan seprai kamar telah diganti.


Yang mendampinginya adalah Raven.


"Kamu sungguhan sudah gila." Raven menatapnya dengan sorot sulit diartikan. "Berhenti melakukannya, Meridian. Aku benar-benar muak melihatmu melakukannya seperti tanpa akal."


Meridian terkekeh. "Aku memang berniat berhenti sekarang."


"Berhenti tertawa!"


".... Kenapa kamu marah?"


"Tentu saja. Kamu memancing jiwa iblis kedua kakakmu. Kamu pikir bermain-main dengan jiwa iblis itu mudah?"


Meridian melirik ke arah lain. "Aku hanya balas dendam."


"Pada siapa? Mengapa balas dendammu dilakukan pada tubuhmu?"


Karena targetnya memang pemilik tubuh ini.


Sekarang adalah waktunya bersikap lebih dingin pada Dion dan Lukas.


"Hei."


"Raven, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi jadi kumohon kali ini saja maafkan—"


"Kepada siapa kamu ingin kembali?"


Meridian membatu.


"Apa orang yang kamu rindukan jauh lebih berarti dari apa pun di sekitarmu sekarang?"


Dari mana dia ....


Tidak. Mungkin tidak perlu ia mempertanyakan. Pada dasarnya yang penting adalah jawaban, bagi Meridian.


"Ya." Meridian meremas kuat-kuat gaun di pahanya. "Aku tidak ingin seperti sekarang."


Raven menundukkan kepala kucingnya, berhenti menatap Meridian.


Beberapa saat mereka hanya dihiasi oleh hening, tapi pria yang sekarang dalam wujud kucing itu perlahan mendekat, menjilati punggung tangan Meridian yang terkepal.

__ADS_1


"Tinggallah di sini."


Sepertinya dia memang membuat dugaan kalau Meridian memiliki tujuan lain. Entah bagaimana caranya dan apa bentuk kesimpulan yang dia pikirkan, permintaan itu bermakna sangat luas.


"Ayo pergi ke hutan kegelapan bersama. Atau pergi menghancurkan kuil dan memulai perang dengan kerajaan suci. Singkirkan saja semua yang mengganggumu, atau mereka yang membuatmu kesal."


Meridian menghela napas. Tak tahu harus membalas apa hingga ia cuma membelai kepala Raven.


"Tetaplah bersamaku, Nona. Aku akan memberikan apa pun sebagai gantinya. Akan kubeli hidupmu, jadi tetaplah di sini."


Meridian ... tidak menginginkan apa pun di dunia yang tidak ia kenali ini.


*


Rumah.


Tidak pernah ada satu detik Meridian memikirkannya, ia tidak merindukannya.


Wujud yang tidak ia kenali, masalah yang tidak ia buat namun terjadi, orang-orang yang memanggilnya namun memanggil orang lain yang bukan dirinya.


Tapi Meridian mau menjadi dirinya sendiri.


Itu terasa sangat menyiksa sampai jantung Meridian berhenti berdetak. Sulit baginya untuk tidak membenci Meridian Palsu yang seharusnya berada di sini dan bukan Meridian. Bahkan kalau ia juga sadar perbuatannya dengan Dion sudah keterlaluan, Meridian tetap merasakan dendam luar biasa.


Semua takdir ini memisahkan Meridian dari keluarganya, dari lingkungannya, dari kesehariannya, dari hidupnya sendiri.


Bagaimana ia bisa baik-baik saja?


"Nona."


Bahu Meridian layu merespons panggilan Wilona. "Aku lelah. Pergilah jika tidak penting."


"Yang Mulia berharap bisa makan siang bersama Anda, Nona."


Meridian memang menolak sarapan dengan Andaru tadi. "Katakan aku sedang lemas. Aku tidak ingin menemui siapa pun."


"Baik, Nona."


Jantung Meridian serasa diremas. Begitu Wilona pergi, ia menunduk, meremas dadanya sendiri akibat rasa ngilu yang datang dari dalam sana. Perasaan tak nyaman dari tubuh sakitnya, perasaan tak nyaman dari sensasi panas dari ujung kaki ke kepalanya, perasaan benci dan marah yang membara itu tak bisa ia kendalikam.


Pada akhirnya Meridian kembali harus mengamuk. Menghancurkan seisi kamarnya karena ia khawatir jika tak dilampiaskan, kemarahan itu akan menumpuk.


Mengamuk bukanlah solusi dari kemarahan. Tapi di dunia antah-berantah di mana ia bahkan tak punya satu saja tempat untuk berbicara terus terang, Meridian pada akhirnya hilang kendali.


Tangisan pilunya memenuhi kamar. Dihancurkan segala hal yang bisa ia raih, merobek-robek apa pun sampai tubuhnya tergeletak lemah.


Optimismenya sedang hancur berantakan. Bagaimanapun ia coba berpikir positif, emosinya sedang terlalu negatif.


Hal terakhir yang bisa ia rasakan adalah kaki kucing hitamnya menepuk ringan kepala Meridian, lalu ia terbelenggu oleh sesuatu tak terlihat yang memaksa kesadarannya pudar.

__ADS_1


*


__ADS_2