Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
56 - kedatangan pendeta


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan pada tubuhku?"


Raven menguap malas dan menggulung dirinya di dekat Meridian. "Semacam sihir penenang. Itu membelenggu emosi dalam dirimu untuk sementara waktu."


Pantas saja.


Meridian merasa aneh pada perasaannya ketika bangun. Agak terasa segar, tapi juga terasa hampa. "Terima kasih."


"Itu bukan sihir yang baik, Nona. Aku meletakkannya secara terpaksa agar kamu berhenti kehilangan kendali."


"Maafkan aku."


Raven menoleh. Berguling ke dekat paha Meridian untuk menempelinya. "Aku hanya tidak ingin melihatmu menderita."


".... Apa sihir ini bisa dideteksi?"


"Dengan kakakmu, tidak. Aku menggunakan mana hewan. Seharusnya tidak akan terdeteksi kecuali orang itu punya kemampuan lebih istimewa."


Maka itu baik-baik saja.


"Siapa yang memindahkanku?"


"Putra Duke." Raven lagi-lagi memeluknya saat Meridian mengangkat dia. "Saat kamu mengamuk, Pangeran dan Herdian sedang berada di depan kamarmu. Mereka mencegah seseorang masuk, menunggumu selesai. Kurasa mereka sudah curiga."


"Kurasa juga begitu."


Memang tidak masuk akal mereka tidak curiga, sementara Meridian sudah mengamuk dua kali tanpa alasan jelas.


Seorang putri Marquis yang dulu lemah dan minim opini tiba-tiba berubah jadi seorang wanita tangguh yang menjadi perantara perdamaian kekaisaran dan kerajaan, memiliki energi sihir enam kali lipat dari penyihir terkuat kekaisaran, dan satu sama lain dari mereka tahu sifat tersembunyinya.


"Apa kamu memiliki rencana lain, Nona?"


"Tidak." Meridian sudah merasa cukup dengan rencana mereka sekarang. "Aku tidak ingin melakukan terlalu banyak hal."


"Apa kamu benar-benar akan menikahi Pangeran?"


"Itu akan pasti setelah menemui perwakilan kuil."


"Apa kita akan berpisah jika kamu menikahinya?"


Meridian tersenyum samar. "Aku akan meninggalkannya jika keinginanku tidak terwujud."

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari Raven, namun untuk sebentar saja, Meridian tidak merasa tertekan meski sebenarnya ia memeluk salah satu karakter.


Cukup lama waktu berlalu, Meridian hanya terus memeluk Raven. Ia juga ikut terpengaruh dengan kebiasaan Raven mengantuk dalam bentuk kucingnya hingga tak sadar sudah ikut tidur lelap.


Meridian baru tersadar ketika Wilona membangunkannya.


"Nona, Anda harus bersiap menemui pendeta."


"Di mana Yang Mulia dan Duke Muda?"


"Mereka lebih dulu menyambut pendeta, Nona."


Meridian berjalan perlahan untuk mengurangi beban pada tubuhnya. Pelan-pelan demam Meridian mulai reda, tapi efek samping dari pengekang inti mana itu luar biasa menyakitkan.


Sebenarnya jika tidak menahan, ia akan meringis setiap satu menit sekali.


Beruntung ruang pertemuan yang dipilih bukan di lantai atas atau lantai bawah. Meridian diarahkan oleh Yohannes ke ruangan di lantai tempatnya menetap, masuk ke sebuah ruangan luas.


Tatapan Meridian pertama kali mencari pendeta berwajah paling suci. Ditemukan itu datang dari seorang pria yang tidak terlalu muda tidak juga terlalu tua, tersenyum dengan mata nyaris tertutup sempurna.


"Yang Mulia." Meridian menyapa Andaru saja dulu. "Tolong maafkan saya datang terlambat."


Apa Nona baik-baik saja?


Nona cepat mengerti.


Herdian, ada satu yang ingin kupastikan.


Apa itu, Nona?


Bisakah aku bersikap apa adanya?


Diam-diam, si Duke Muda tersenyum. Haruskah Nona bertanya?


Maka itu sempurna.


"Sebuah kehormatan bertemu Anda sekalian." Meridian mengangguk, tidak memberi hormat bahkan dengan menunduk. "Karena saya sedang dalam kondisi tidak sehat, bisakah saya langsung mendengar maksud kedatangan Anda sekalian?"


Kemampuan diplomasi Meridian memang payah. Kalau negosiasi dalam pihak dominan, mungkin ia bisa, namun kalau untuk bersikap setara atau membungkus kata-kata berbelit, ia angkat tangan.


Andaru agak tersenyum saat melihat tamu mereka kebingungan. "Tunanganku tidak bermaksud bersikap lancang, Tuan-Tuan. Saat mendengar kuil datang berkunjung, tentu saja wajar dia gelisah dan gugup. Akupun menyetujui sarannya. Akan lebih baik membahas hal penting sebelum kita menikmati jamuan sebagai saudara seiman."

__ADS_1


"Anda benar, Yang Mulia."


Pendeta yang menonjol itu bicara. Maka Meridian yakin dialah orang penting dalam plot ini sekarang.


"Jika demikian, maka saya akan coba berbicara terus terang. Pihak kuil sangat mengkhawatirkan kesehatan Nona Muda. Kami mendengar kejadian yang terjadi di perbatasan dan sangat mengecam tindakan keji mereka pada Nona. Karena itulah, Nona, kuil ingin menawarkan berkat yang akan menjaga Nona dari hal-hal serupa di masa depan. Sebagai calon Putri Mahkota, kami semua berharap keamanan dan kesehatan Nona selalu terjaga."


Tipe penjilat, yah. Meridian harus membalas apa?


"Kami menerima niat baik Anda, Tuan Marcel. Namun untuk sekarang perlindungan dari Yang Mulia dan saya sudah cukup menjaga Nona. Disamping itu, Nona juga akan diawasi ketat oleh ketiga saudaranya. Saya rasa kuil tidak harus campur tangan dalam masalah ini." Herdian bersikap agak agresif ternyata.


"Akupun setuju dengan itu." Andaru menyilangkan kaki, terang-terangan bersikap angkuh. "Bagaimanapun, aku secara langsung menjaga tunanganku. Kami akan segera menikah sesuai permintaan yang kukirim pada kuil. Apa ada hal yang perlu kukhawatirkan lagi, Tuan Pendeta?"


"Apakah tidak boleh jika kami menunjukkan kecintaan kami pada kekaisaran dengan bekerja sama menjaga Nona, Yang Mulia?"


Meridian menatap pria itu cukup intens. Dalam novel, karakter biasanya lebih jelas daripada manusia di dunia nyata. Kalau jahat mereka akan benar-benar terlihat jahat, kalau baik mereka akan benar-benar terlihat baik.


Tapi orang ini daripada jahat atau baik, dia lebih terlihat licik.


"Aku," Meridian memicing, "tidak ingin dijaga."


Mereka terkesiap.


"Apa aku terlihat seperti orang lemah di matamu, Tuan?" Meridian menghilangkan formalitas. "Apa aku terlihat butuh penjagaan di mana-mana agar aku bisa hidup?"


Iya, sih, sebenarnya.


Dengan tubuh ini, Meridian akan terluka dan gampang jadi sasaran. Makanya ia butuh perlindungan. Tapi Meridian akan menunjukkan kesan sombong di sini untuk memancing mereka.


"Aku akan memberitahumu sesuatu." Meridian pandai urusan beginian. "Saat aku diculik, mereka memukuliku, hampir memperkosaku, menghinaku, melakukan berbagai macam hal menjijikan untuk menghinaku. Saat aku kembali, aku membocorkan informasi yang kudapatkan. Aku diculik dan pulang membawa amunisi. Aku bukan beban."


"Nona—"


"Tentu saja, kalian juga tahu bahwa Yohannes menyusup untuk menyelamatkanku. Lukas yang menghancurkan barier agar bisa membawaku pergi. Tapi, dibantu oleh kakakku bukanlah kelemahan atau bukti aku beban. Saling membantu adalah dasar kehidupan manusia. Saling membutuhkan adalah bentuk harmoni manusia. Apa Anda, pendeta yang terhormat, datang ke sini untuk menghina semua kerja kerasku dan berkata bahwa aku terlalu menyusahkan hingga harus diberi bantuan?"


Ekspresinya agak berubah.


Tentu saja. Kalau Meridian jadi dia, maka ia akan berpikir 'sombongnya wanita lemah ini'.


Mari lihat apa yang akan dia katakan.


"Kami," matanya fokus pada Meridian sekarang, "mendengar kabar bahwa orang yang menculik Nona berasal dari bangsa iblis."

__ADS_1


Hoooh. Jadi ceritanya mereka mau terang-terangan menunjukkan niat busuk itu?


*


__ADS_2