Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
67 - di sini, yang mulia


__ADS_3

"Mereka bereaksi pada kekuatan sihir manusia." Lumiel merengkuh pinggangnya sementara Herdian terbang sendiri. "Ayo bergerak. Kita tidak bisa membunuh mereka."


"Kenapa?"


"Kamu ternyata bisa bodoh juga. Semua makhluk di sini akan jadi tentaramu jika nanti kamu jadi raja iblis."


Meridian melipat tangan, tidak memikirkannya. Benar juga, yah. Makin banyak yang mati makin banyak ia rugi.


"Baiklah, ayo."


Mereka bergerak cepat dengan bantuan sihir Lumiel, tapi tak bisa fokus sebab binatang-binatang bersayap seluruhnya beterbangan menyerang mereka.


Sementara Lumiel dan Herdian coba menghalau, Meridian menatap ke bawah untuk melihat adakah wilayah khusus.


Di mana itu. Pasti tempatnya terlihat suci atau minimal speisal.


Jika laut maka mungkin airnya berwarna aneh sendiri, jika darat entah gunung atau pohon maka pasti menonjol sendiri. Pasti ada petunjuk.


"Lumiel, apa batu itu tidak bereaksi pada sihirmu?"


"Tidak."


"Lalu sihirku?"


"Mungkin sa—"


Meridian menciptakan seluruh elemen yang ia miliki, petir, angin, air, api, dan salju. Mereka bergemuruh meliputi awan, tak sengaja membakar beberapa monster yang mendekat.


Dalam keseluruhan sihir itu, Meridian mencurahkan tiga per enam mananya. Tanpa ragu, ia mengarahkan sihir itu meliputi seluruh hutan yang dapat terjangkau.


Meridian dapat merasakannya. Sihir yang seperti gelombang bergerak menyapu seluruh bagian hingga ke akar-akar pohon.


Mereka bergerak. Meluas dan semakin meluas sampai ke tempat yang tidak Meridian lihat.


Di mana batu itu? Hanya itu yang Meridian pikirkan. Bahkan jika ia harus menghabiskan mananya sampai tetes terakhir, batu itu harus ditemukan.


"Nona—"


"Aku baik-baik saja." Meridian menyeka darah yang mengucur di hidungnya.


Belum pernah ia menggunakan sihir sebesar ini. Ternyata jika berkurang sangat banyak, dampainya bisa memengaruhi tubuh. Atau lebih seperti mental. Karena yang sakit justru kepalanya.


"Lumiel, bergerak."


Tanpa banyak bicara, Lumiel melesat.


Sihir tadi menyelimuti seluruh wilayah hingga satupun monster tak terlihat. Meridian sudah berusaha keras agar mantranya tak membakar para monster itu atau petirnya menghanguskan mereka, namun tampaknya mereka malah ketakutan.


"Pegang dia." Lumiel menyerahkan Meridian pada Herdian.


Seekor makhluk terbang serupa naga tanpa sisik datang dengan cepat ke arah mereka. Lumiel melemparnya sekaligus melesat melawan makhluk itu.


Meridian melihat dia sekilas. Kembali menciptakan sihir yang serupa, lalu mengarahkannya ke tanah.


"Nona, jumlah mana Nona berkurang drastis. Itu tidak baik bagi tubuh Nona sekarang."


"Aku baik-baik saja." Meridian tidak peduli pada tubuh si Palsu. "Fokus memegangku. Hanya itu tugasmu."

__ADS_1


Gelombang yang ia kirim berakhir tanpa ada reaksi khusus. Meridian sekali lagi menciptakan sihir, namun ia tahu ini sihir super terakhir yang bisa ia keluarkan.


Jika sihir adalah sesuatu yang termanifestasi dari kecerdasan, maka Meridian akan menyerahkan seluruh kecerdasannya pada hal ini.


"Meridian, menghindar!"


Terlambat. Makhluk yang lebih besar datang melesat ke arah mereka. Kecepatan Lumiel tidak dapat menyamainya, dan Herdian tidak bisa menghindarinya.


Satu tangan Meridian terangkat, tak tahu apa tapi ia sekarang sangat kesal.


"JANGAN," Meridian menangkap leher makhluk bodoh itu dengan sisa sihirnya, "MENGGANGGUKU, DASAR TIDAK BERGUNA!"


Makhluk itu terhempas, bersamaan dengan sihir Meridian menyebar.


Tubuhnya melayang dengan sendiri, menjauh dari Herdian untuk naik lebih tinggi.


Tinggi. Sangat tinggi, melewati awan.


Meridian naik hingga satu benua yang terlihat dari balik awan nampak kecil dikelilingi oleh lautan. Ia menggertak giginya tak sabaran, merasakan dengan jelas gelombang terakhir itu justru mengalir sangat dalam.


Di mana batunya. Batu yang akan membawanya pulang.


Aku tahu di mana batu itu.


Meridian tersentak. Di mana?


Meski ada sensasi seperti seseorang memegang pundaknya, Meridian lebih peduli saat suara si Lemah.


Di sana.


Dia menunjuk ke arah Utara.


Meridian melesat hingga jubahnya terlepas. Ia pergi tanpa memedulikan suara Herdian di kepalanya atau Lumiel yang mengejarnya.


Sesuatu terasa menyakitkan di dada Meridian, tapi ia tetap melesat dengan satu pikiran.


Ia akan pulang. Ia pasti akan pulang. Jadi iblis atau raja iblis pun akan ia lakukan.


Asal ia pulang.


"Meridian!"


Tiga monster raksasa coba menghentikannya. Meridian menghempaskan mereka dengan tendangan, meluncur turun melewati kaca jendela kastil.


Itu terlihat. Bantunya terlihat.


Meridian melepaskan topengnya begitu saja. Berjalan mendekati sebuah batu kristal raksasa berwarna hitam pekat yang nampak indah.


Dia benar. Batu ini seperti memanggilnya. Perasaan kuat setelah melihatnya bukan kebohongan.


"Kamu sangat cantik." Meridian menyiapkan tinju yang ia perkuat dengan sihir sebisa mungkin. "Jadi hancur dan beri aku kebebasan!"


Tinjuan Meridian memecahkannya.


*


Sesuatu terserap.

__ADS_1


Meridian berputar menatap sekitaran tubuhnya yang menyerap mana hitam serupa udara. Mereka terus masuk. Masuk dan masuk begitu saja seperti sudah seharusnya demikian.


Apa berhasil? Apa sekarang ia bisa menghancurkan kuil dan pulang ke dunia nyata?


"Meridian."


"Aku berhasil." Meridian nyaris tertawa. "Lumiel, Herdian, aku berhasil."


Mereka berdua malah tegang.


"Meridian, hentikan itu. Inti manamu akan hancur."


Apa? Tapi tidak terasa sakit.


Meridian coba mengendalikan mereka seperti mana yang ia tahu, tapi semua tetap terserap. Ia diam memperhatikannya, hanya ditelan oleh kebingungan karena memang rasanya biasa saja.


Tidak. Ia malah merasa lebih segar. Apa karena ia tokoh utama lagi?


Akh, terserah. Sekarang waktunya—


"Ugh."


Meridian berlutut. Lantai hitam di bawah mereka tidak dapat menyamarkan darah merah yang tumpah dari mulutnya.


Meridian terbelalak. Merasa seperti habis berkendara selama berjam-jam dan yang mau ia lakukan hanyalah muntah hingga perutnya kosong.


Kamu menipuku?


Tidak. Perasaan seseorang memeluknya datang bersama suara Meridian Palsu. Itu hanya reaksi alami. Kamu akan jadi raja. Seluruh mana di tempat ini dan bidang pembatas terserap ke tubuhmu. Mana manusia hanya sedang dikeluarkan.


Meridian sedikit lebih tenang. Kalau begitu ini hanya penderitaan kecil.


Suara lengkingan monster terdengar bergemuruh di seluruh tempat. Meridian terus terbatuk, namun di satu sisi yang asing, ia merasakan sesuatu bergerak semakin kuat dan kuat.


Tubuh Meridian melayang ke udara. Sesuatu menyelimutinya, mengoyak-ngoyak kulit Meridian sebelum digantikan oleh perasaan dingin.


Aura hitam bergerak memeluk Meridian, membentuk sebuah bola seukuran tubuhnya lalu pecah.


Meridian membuka mata lagi. Menemukan pemandangan Herdian terdongak tak percaya, dan Lumiel menggeliat kesakitan.


Ada yang berbeda. Sesuatu yang berbeda.


Lihat di sana, suara Meridian masih terdengar di kepalanya.


Ia menoleh ke kaca yang ditunjuk oleh suara itu, menemukan sesosok wanita berambut silver kini berdiri menggunakan gaun hitam menakutkan. Mata kristal Meridian hilang, berganti menjadi warna ungu dengan iris aneh, serupa garis-garis yang menyilang membentuk lingkaran.


Mata asterisk.


"Lumiel."


Cahaya merah melesat, dan Lumiel berlutut di hadapannya. "Di sini, Yang Mulia."


Kenapa perasaan Meridian tidak aneh dengan panggilan itu? Kenapa rasanya ia mengenali hal-hal aneh ini?


Dan ....


"Lukas, Dion."

__ADS_1


*


__ADS_2