
Meridian bisa berteleportasi kapan pun ia mau. Dengan tubuhnya sekarang ini, bahkan membolak-balik dunia rasanya cuma cukup dengan jentikkan jari.
Tapi ia berjalan, meninggalkan ruangan Andaru setelah mengubah penampilannya sendiri.
Bagian depan istana begitu ramai akan warga sipil yang berkumpul. Mereka dibiarkan tetap di sana, diberi pelayanan untuk pemulihan mental dari trauma kehilangan.
Lagi-lagi Meridian dipaksa memandang semuanya. Tidak merasa bersalah, tapi merasa ada yang salah.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Meridian merasakan kehadiran manusia itu. Ia hanya sengaja tidak peduli, karena memang tidak penting.
Menahan kedatangan Lumiel untuk membantunya, Meridian berbalik. Dihadapkan sekali lagi pada wajah jelita seorang putri yang tak luntur meski memakai pakaian sederhana.
"Apa kamu memohon pada Kakakku untuk menikahimu lagi?" Dia mendekat dengan wajah marah. "Kamu benar-benar tidak tahu malu, Meridian. Aku berusaha bersikap baik padamu karena kesetiaan keluargamu, namun yang kamu lakukan bahkan di masa seperti ini justru memohon pernikahan demi keuntunganmu pribadi. Apa yang bisa Kakakku lakukan padamu? Kamu berpikir ini—"
"Berhenti."
Ia mengatakan itu bukan pada si Putri, namun pada Herdian yang nyaris mengarahkan sihirnya.
Meridian bisa tahu sihir yang akan dikeluarkan Herdian tidak berbahaya, tapi tetap saja dia menyerang seorang putri.
Seketika, Herdian yang bersembunyi dibalik pilar datang menyela mereka.
"Jaga mulut Anda, Tuan Putri." Herdian tidak menyembunyikan sikap dinginnya. "Ingatlah bahwa saat ini bukan waktu yang tepat mencari masalah untuk kepuasan pribadi."
"Apa kamu sekarang menasehatiku, Duke Muda?"
"Di dunia ini—" Meridian melangkah ke hadapannya, "—ada dua orang yang tidak bisa kaum wanita ajak bicara kecuali dengan izin. Apa kamu tahu, Putri?"
Meridian lupa nama dia.
"Mereka bilang, jangan bicara sembarangan pada kaum pria. Dan ... jangan bicara dengan emosi pada penguasa."
Dirinya berlalu.
"Aku tidak akan menghentikan siapa pun membunuhmu lain kali jika kamu masih mengajakku bicara. Ayo, Herdian."
Tentu saja Herdian juga lebih waras, memilih datang alih-alih meladeni provokasi kecil tak berdasar putri itu. Meridian hanya berpikir dia masih begitu muda hingga justru suka bertengkar demi penegasan posisi.
Gadis tanpa kekuatan sihir seperti dia nyaris tak terlihat di mata Meridian.
"Nona."
Meridian berhenti. Memandangi sekali lagi keramaian di luar sana dengan napas berembus teratur.
"Apa Nona akan pergi bersama iblis itu?"
"Ya."
"Bagaimana dengan keluarga Nona?"
"Aku tidak punya keluarga di dunia ini." Meridian melirik. "Aku akan berhenti berpura-pura. Pada siapa pun. Itulah konsekuensi memanggil jiwa yang tidak ada hubungannya dengan dunia kalian. Aku tidak akan peduli pada apa pun. Apa pun itu."
"Nona."
__ADS_1
"Aku akan menemuimu jika aku benar-benar bisa kembali. Beritahu itu pada Andaru juga."
Setelah mengatakannya, Meridian membuka portal bersamaan dengan penampilannya berubah total.
Sebenarnya tanpa terhubung seperti dengan Lumiel pun ia tahu perasaan Herdian. Dia akan terus berusaha bersikap tenang agar Meridian puas padanya.
Dunia antah-berantah ini memang egois.
Di satu sisi, mereka merasa begitu terluka akan sikap Meridian. Namun di sisi Meridian, mereka semua cuma terlihat seperti menahan dirinya dari apa yang ingin ia gapai.
Seolah terus berkata, tinggallah di sini karena aku ingin itu, sementara perasaan Meridian pasti bisa berubah.
Egois.
Inikah rasanya membenci manusia? Sekarang Meridian memahami apa makna 'lemah dan sombong' yang Lumiel sematkan pada mereka.
Nona, saya—
Menjauhlah dariku, Herdian.
Meridian berteleportasi.
Aku tidak membutuhkanmu lagi.
...*...
"Lumiel."
Pria merah itu muncul tepat di belakangnya. "Di sini, Yang Mulia."
"Keluarkan semua penelitian sihir dan catatan kuno yang bisa dijadikan informasi."
Meridian tak perlu tidur, tak perlu makan, tak perlu melakukan kebutuhan apa pun seperti saat ia jadi manusia hingga matanya fokus membaca seluruh informasi itu.
Dirinya tak tahu berapa lama melakukan semua itu, rasanya waktu bergulir tanpa harus mereka peduli. Tapi dalam seluruh struktur sihir yang dituliskan itu, tak ada satupun yang bisa mengembalikan jiwa seseorang ke dunia lain.
Tidak ada satupun.
Meridian meremas tangannya satu sama lain. Merasa sangat emosional setelah seluruh harapannya dihancurkan.
Ia ketakutan. Bagaimana jika memang tidak ada cara? Bagaimana jika memang dirinya akan terus terjebak di sini?
"Ratuku."
Meridian terlalu sibuk memutar segala masalah di kepalanya hingga tak terlalu peduli pada belaian Lumiel. Pria itu mengecup sisi wajahnya, bermaksud memancing perhatian Meridian meski gagal.
"Ada satu cara, kurasa."
Perkataan itulah yang memancing Meridian. "Apa?"
Kesedihan di wajah Lumiel tak membuat Meridian berhenti mengharapkan perkataannya. "Mati."
Meridian tertegun.
"Jika tubuhmu tidak lagi bisa digunakan oleh jiwamu, kemungkinan besar jiwamu kembali."
__ADS_1
"Kalau begitu lakukan."
Segera Meridian beranjak. Meninggalkan meja yang berantakan akibat penelitian sia-sia mereka.
Cuma itu satu-satunya harapan. Bahkan kalau harus mati di dunia ini, pada akhirnya ia memang bukan bagian dari dunia aneh ini.
Meridian harus kembali. Dirinya benar-benar harus kembali dan meninggalkan seluruh ketidakmasukakalan dunia ini.
Di tengah-tengah altar besar yang dikelilingi oleh bangsanya, Meridian berbaring menyaksikan mantra sihir Lumiel mulai mengelilingi sekitaran.
Luapan kesedihan kaumnya dapat terasa di dada Meridian, namun ia memejam, hanya dapat bergumam maaf sebab mereka tetap fiksi dan dunianyalah yang nyata.
"Meridian!"
Kelopak matanya terbuka, terkejut mendapati portal sihir Dion terbuka, dan Andaru bersama Herdian muncul.
"Nona."
Lumiel tetap melanjutkan sihirnya.
"Kamu tidak memilihku." Andaru menggenggam tangannya. "Kamu tetap memilih duniamu tidak peduli bagaimana aku memanjakanmu, Nona. Mengapa sampai akhir kamu menolakku padahal aku Kaisar Yang Agung?"
Meridian agak tersenyum. "Ketampananmu tetap yang terbaik."
Nona.
Maafkan aku, Herdian.
Proses peleburan itu mulai terasa. Meridian mulai merasakan ujung jarinya kehilangan sensasi, dan perlahan-lahan terasa panas seperti kulitnya dicabut.
Namun ia diam saja, tak terlalu merasa kesakitan seperti saat menjadi manusia.
Ditutup kembali matanya, karena mungkin ada orang yang harus ia temui paling terakhir.
Si Palsu.
"Hei." Dia tidak muncul. "Aku hanya akan mengatakan ini sekali jadi dengarkan."
Dia tetap tidak muncul.
"Aku tahu hidupmu sulit dan aku berkata kasar. Jadi mulai sekarang, kalau ternyata kamu kembali ke tubuhmu, jalani itu tanpa ketakutan. Kamu sudah melihatnya. Aku tidak terluka sekalipun aku melakukan banyak hal konyol. Itu karena tubuhmu. Jadi berhenti menolaknya."
Terserah.
Pada akhirnya mereka memang saling membenci dan tidak akan pernah saling berteman.
Meridian hendak meninggalkan dunia itu ketika tiba-tiba dunia di sekitarnya berguncang.
Apa karena kekuatan sihirnya melebur juga? Tapi sensasi ini ....
"Nona! Nona, buka mata Anda, Nona!"
Kedua mata Meridian terbuka. "Ada apa?"
Mata Andaru menganalisis seluruh sihir yang tersebar di ruangan ini. "Ada penolakan."
__ADS_1
Meridian tertegun. "Apa maksudmu?"
*