
Ini pertama kali Meridian melihat sekompi pasukan sungguhan. Walau sudah sering melihat ratusan manusia berkumpul, entah menonton konser atau antri sesuatu, tetap saja berbeda.
Seluruh prajurit dilengkapi persenjataan lengkap dan kuda.
Untuk meringankan beban di kereta, pasukan juga menggiring sekelompok ternak yang akan disembelih sebagai makanan prajurit.
Mereka berjalan perlahan untuk tidak merusak formasi. Begitu malam hari tiba, seluruh pasukan dihentikan, lalu mulai mendirikan tenda serta menyiapkan api unggun.
Beberapa waktu, Meridian hanya duduk memandangi seluruh prajurit bergerak. Kebanyakan dari mereka adalah prajurit keluarga Elgard yang dilengkapi oleh prajurit keluarga Marquis dan beberapa orang suruhan Putra Mahkota.
Meridian belum tahu sebenarnya konflik apa yang akan diselesaikan di perbatasan sampai memerlukan diplomat sebagai pembicara, tapi dengar-dengar wilayah Duke Elgard berbatasan langsung dengan kerajaan tetangga. Konflik wilayah pasti tidak bisa selesai hanya dari membunuh-bunuhi para penjahat.
Begitu langit sudah tertutup sempurna oleh gelap, Wilona pun datang membawakan makan malam.
"Di mana Raphael dan Herdian?"
"Mereka berkumpul di tenda pusat, Nona. Tuan Muda berpesan agar Nona tidak perlu menunggu beliau."
Meridian tidak berniat menunggunya.
Sambil menikmati semilir angin dingin malam, ditambah cangklong dingin yang baru, Meridian menikmati makanan seorang diri.
Wilona pasti juga lelah berkuda seharian, jadi Meridian menyuruhnya pergi beristirahat dan makan.
Pengawal Andaru yang menggantikan dia menjaga Meridian.
"Siapa namamu?"
Pria yang menjaganya tampan. Wajah-wajah seperti dia itu wajah figuran yang penting.
"Yohannes, Nona."
"Yohannes. Apa Yang Mulia menyuruhmu menjagaku?"
"Ya, Nona. Yang Mulia secara khusus memerintahkan saya memastikan keamanan Anda."
"Sangat mengharukan." Meridian mengunyah lamat-lamat daging lembut yang disiapkan untuknya. "Satu kompi pasukan untuk mengatasi bandit, dilengkapi persenjataan lengkap. Mereka pasti bandit bersenjata lengkap juga."
Yohannes ternyata cukup sabar. Yah, mungkin karena itulah dia yang diutus.
"Aku sedang tidak butuh dijaga, jadi bisakah kamu mendengar ceritaku saja?"
Pulang dari sini, dia pasti melapor pada Andaru.
"Sejujurnya, aku ingin membatalkan pertunanganku dengan Yang Mulia."
Menurut hukum rasionalitas, tindakan Meridian sekarang adalah pemicu konflik brutal.
Tapi menurut hukum dunia novel romansa-fantasi, tindakan Meridian sekarang adalah memanas-manasi agar cinta tumbuh bersemi.
__ADS_1
Dan menurut hukum Meridian, ini adalah pelampiasan emosi setelah bertemu si Sampah Meridian Palsu.
"Aku kabur bersama Duke Muda agar Yang Mulia tidak menggangguku." Meridian tersenyum manis pada wajah tercengang Yohannes. "Aku sudah menolak Yang Mulia berulang kali, tapi entah kenapa Yang Mulia tidak mau. Apa Yang Mulia tidak memiliki kekasih?"
Sekalian saja. Meridian mau mengorek-ngorek jika ada satu saja bangsawan super duper cantik yang menjadi saingan Meridian palsu.
"Yohannes, kamu tidak mau menjawab?"
"Saya tidak berhak berkomentar mengenai kehidupan pribadi Yang Mulia, Nona."
"Kurasa kamu benar." Meridian sempat diam untuk mengunyah potongan daging di mulutnya. "Yang Mulia adalah pria terbaik di kekaisaran. Aku merasa bodoh menolaknya, tapi apa yang bisa dilakukan wanita sepertiku saat hatiku terpaut pada pria lain?"
"...." Rupanya dia terpancing juga. "Apa yang membuat Anda tidak puas dengan Yang Mulia, Nona?"
"Hmmmm." Tentu ia harus terlihat meyakinkan dan tidak tampak sengaja curhat begitu saja. "Setelah kupikir-pikir lagi, kehidupan bangsawan itu membosankan."
Memang Meridian paling jago jujur. Daripada bohong, mending ia berterus terang.
"Aku melihat istana tempat Yang Mulia tinggal dan berpikir, haruskah aku tinggal di sana suatu saat? Lalu saat aku membayangkan apa saja yang harus kulakukan sebagai istri, mengandung anak Yang Mulia sambil menyaksikan seluruh rakyatku dari atas sana, itu terdengar mengerikan. Aku sudah hidup sebagai putri Marquis selama tujuh belas tahun. Berpindah dari kamar anak Marquis ke kamar Yang Mulia tidak banyak mengubah apa pun. Bukan begitu?"
Saat merasa panas di tubuhnya meningkat pesat, Meridian bergegas mengambil cangklong lagi. Harus menjeda makan dulu agar keringatnya tak banjir.
"Hidup sebagai rakyat biasa tidak semenyenangkan yang Nona inginkan."
Ah, begitu, kah? Dia rakyat biasa.
Tapi dia tidak terlihat bodoh juga.
Makanya Yohannes merespons dengan sedikit emosional. Pasti dia berpikir Meridian hanya bangsawan sombong yang bosan pada hidup, makanya berharap hidupnya berganti.
"Aku mengagumi rakyat biasa." Meridian adalah penganut paham kesetaraan walau ia bukan bagian dari feminis. "Bangsawan selalu berkata rakyat biasa adalah keturunan rendahan, padahal bangsawan sepertiku hanya tahu berbaring dan makan."
Yohannes tersentak.
"Jika aku menyukai bangsawan, maka aku akan menikahi seseorang yang darahnya paling mulia, Yang Mulia Putra Mahkota."
Meridian menyeringai tipis. Dia pasti tidak menyangka seorang bangsawan punya kesadaran diri bahwa mereka hina juga.
"Tapi sayangnya aku mulai memandang bangsawan itu hanya makhluk rendahan. Mereka hanya kebetulan menguasai banyak hal. Mendominasi apa yang tidak didominasi rakyat biasa, lalu membanggakan darah mereka yang sebenarnya juga akan habis jika dikeluarkan dari tubuh mereka."
"Nona."
"Aku ingin menikahi rakyat biasa."
Kalau yang itu bohong.
Atau tidak sepenuhnya, karena kekasih Meridian di dunia nyata bukan nigrat juga, jadi dia memang rakyat biasa.
Tapi di dunia ini, dengan sistem rakyat jelata dan bangsawannya, jelas saja kemakmuran ada di tangan bangsawan.
__ADS_1
Yang itu untuk Andaru, jadi sedikit bohong juga tidak apa.
"Tentu saja, aku malah dekat dengan Duke Muda yang berdarah bangsawan. Hanya, Duke Muda berbeda dari bangsawan yang kukenal."
Hanya dia yang Meridian kenal, lebih tepatnya.
"Dan sepertinya, Duke Muda akan meninggalkan kekuasaannya untukku jika aku memintanya."
Nah, yang itu bodoh.
Mana mungkin juga begitu. Kecuali Laila benar-benar sudah gila menciptakan bucin.
"Aku jadi mengoceh omong kosong padamu." Meridian tertawa polos, tanpa dosa, tanpa salah.
Ia penasaran bagaimana Andaru akan bereaksi nanti.
*
Tidak seperti pengekang menggunakan sihir, mengonsumsi buah itu memang terasa seperti memberi racun pada tubuhnya.
Hal paling menyiksa adalah Meridian selalu kesulitan tidur, sibuk terengah-engah dengan tubuh banjir keringat.
Ia bisa setengah tidur sambil mengisap uap dingin dari batu sihir, tapi ketika kesadarannya hilang, maka tidak ada udara dingin masuk ke tubuhnya dan Meridian akan terbangun seperti habis kehujanan.
Di rumah ia diawasi oleh Dion, jadi setiap kali rasa panas datang, dia mengelilingi Meridian dengan batu sihir es.
Di kereta kuda jelas tidak bisa.
"Meridian."
Sambil berusaha mengatur napasnya yang gelisah, Meridian mengintip suara siapa itu.
Ternyata Raphael.
Dia meletakkan tangan di pipi Meridian, lalu perlahan terasa seperti air mengelilingi kulitnya, membasuh keringat Meridian, disusul angin lembut dingin.
Ternyata ada Herdian juga.
"Anda baik-baik saja, Nona?"
Meridian bisa bernapas lega sedikit. "Ya, terima kasih, Kakak, Herdian."
"Maafkan aku." Raphael duduk dan membiarkan kepala Meridian di pahanya. "Aku membawa Herdian ke tempat tidurmu malam-malam. Tapi sihir anginnya bisa membantumu, jadi tolong maklumi itu."
"Aku baik-baik saja."
Meridian malah berterima kasih.
"Apa tidak apa-apa? Kalian berdua juga harus beristirahat."
__ADS_1
"Tidak apa. Aku sudah terbiasa begadang menjagamu. Aku dan Herdian akan bergantian terjaga. Kendali kami terhadap sihir lebih baik dari siapa pun, jadi tidurlah tanpa rasa khawatir."
*