
"KENAPA AKU HARUS MENGGANTIKANMU DAN KAMU MALAH BERSENANG-SENANG MENONTON LAYAR LEBAR DI SINI?!"
Meridian kembali harus murka.
"KAMU TERCIPTA DARIKU! DARIKU, MENGERTI?! WALAUPUN AKU TIDAK SUKA MENGAKUINYA, LAILA TEMAN SIALAN ITU YANG MEMBUATMU, TERINSPIRASI DARIKU! LALU KAMU YANG TIDAK BISA MENGHADAPINYA MALAH MELIMPAHKAN PADAKU?! HAAAAAH?! DASAR JAL*NG! KEMARI!"
"...."
Meridian makin tidak bisa waras.
Kepalanya miring seperti psikopat siap memutilasi mangsa.
"Baik, baik. Kamu ketakutan mendengar suara bentakan. Ya Tuhan, demi nama Dewa Matahari Yang Agung, Nonaku, aku membuatmu takut. Ckckck, bagaimana aku harus menebus dosaku ini? Kamu hidup dalam kemewahan sejak dulu. Kamu hidup dalam kebahagiaan sejak dulu. Kamu pasti tidak bisa bertahan dalam lukamu, begitu? Ya, tentu saja aku harus membantumu. Kemarilah. Kemari, Nona. AYO KEMARI!"
"...."
Oke, Meridian rasa mau ia cekik pun gadis tolol ini akan tetap hidup.
Setelah menarik napas berulang kali, banyak-banyak, pelan-pelan, Meridian pun memutuskan tenang.
Kembali ia duduk di kursi, tapi kali ini kursi yang lebih tinggi. Dengan isyarat tangan, ia menyuruh Meridian Palsu datang.
Berlutut di dekatnya.
"Aku akan mendengarnya. Katakan."
Dia pasrah saja diperlakukan seperti budak. "Apa yang harus kukatakan?"
"Sesuatu yang membuatmu tidak terbunuh di tanganku."
Rasanya tolol dia malah ngeri pada sosok Meridian.
Benar-benar. Jika mimpi bodoh ini selesai, Meridian akan membuat Laila berjalan dengan tangan.
Bisa-bisanya dia membuat Meridian seperti ini!
"Kenapa kemampuan unikku bukan sesuatu seperti merasa kedinginan di cuaca panas, merasa hangat di cuaca dingin, atau cantik abadi, atau punya tubuh seksi sampai nenek-nenek?! Kenapa kemampuan unikku harus sesuatu yang tidak berguna seperti KAMU?!"
"...."
"Aku membencimu." Meridian menggigit bibirnya kesal. "Aku benar-benar benci kehidupanmu yang membosankan. Jalani saja sendiri! Kamu kira kehidupanku tidak perlu diperhatikan?! Seenaknya menyuruhku, sekarang bertingkah seperti korban, lalu berharap aku memperbaikinya!"
"...."
"Akh, sudahlah!"
Meridian benar-benar mau melempar dia, tapi dilihat dari tubuhnya yang transparan, dia mungkin semacam hologram.
Apa pun itu sebutannya di dunia fantasi konyol ini.
"Lalu, aku harus menjauhi Dion dan Lucas?"
Baru dia punya kekuatan mengangkat wajah.
Bocah egois sialan. Dimarahi dia pura-pura tuli, giliran urusannya dia mendongak.
"Mereka yang memblokir aksesku menemuimu sejak awal."
"Hah?" Meridian sedang sangat benci pada gadis ini, jadi apa pun katanya, ia lebih suka menyerang dia. "Kamu diblokir atau terlalu takut keluar saat ada mereka? Kamu bicara padaku saat ada Dion kemarin!"
__ADS_1
Dia terkesiap. Ternyata benar.
"Lagipula, kalau kamu kemampuan unikku, seharusnya mereka tidak tahu. Kenapa sekarang kamu menuduh orang sembarangan?"
"Dion tahu kamu bisa mengendalikan sihirmu."
"Lalu?"
"Karena itu dia menyuruhmu memakan buah. Agar kamu tidak memakai sihir."
"Hei, Tol*l. Apa kamu ingin aku sungguhan muncul di depan dunia sebagai penyihir terkuat? Kamu ingin seluruh dunia menyerangku? Jangan bicara kecuali kamu memberi alasan masuk akal atau aku menendangmu."
"Tapi itu membuat kamu lemah."
Meridian mengorek kupingnya yang terasa panas saking malasnya. "Aku tidak suka kepanasan atau lemas berhari-hari, tapi aku harus memilih sesuatu yang tidak membuat orang lain rugi. Aku bukan seseorang yang bersembunyi ketakutan, mengerti? Aku juga tahu aku jadi menyedihkan, tapi itu lebih baik daripada harus mengorbankan Herdian."
"Mereka ketakutan."
"Siapa lagi?"
"Dion dan Lucas."
"Padaku? Tentu saja. Aku bukan kamu, lagipula."
"...."
Apa? Dia skak? Mau Meridian buat jadi skakmat?
Asal dia tahu saja, seumur hidup berteman dengan Laila, Meridian tidak pernah sekalipun kalah debat.
Tidak pernah.
Anak bau kencur mau mengajaknya berdebat.
Bahaya, bahaya.
Minum susu lagi sana!
"Padahal kamu merasakannya."
Meridian menguap bosan.
"Malam itu, kamu berkata 'terima kasih' pada Dion."
"Ibumu orang baik, tapi dia bangsawan, yah?" Meridian mengusap dagunya. "Apa bangsawan diajari tidak berterima kasih pada seseorang yang membantu mereka? Dasar makhluk rendah yang mengaku-ngaku mulia. Pantas saja aku jijik pada tubuh ini."
"Sebelumnya kamu tidak pernah berkata terima kasih."
"Bukan aku, kamu!" Meridian menunjuk dia. "Kamu yang tidak! Dengar?!"
Seperti anak kucing habis tercebur, dia menggigil. "Dion sudah menyadarinya. Dia tidak mau percaya pada alasan lupa ingatan sebab dia tahu kamu—"
"Sudah kubilang bu-kan AKU."
"—aku tidak pernah membiarkan dia mendekat."
"Kenapa?"
"....."
__ADS_1
"Cih." Meridian menjatuhkan kepalanya ke belakang. Mulai berpikir keras.
Terlepas dari dia menyebalkan, Meridian tetap harus mendengarkan.
Dia kemampuan unik Meridian, dan dia keras kepala jika diabaikan.
"Aku mengerti. Aku akan mengurus Dion dan Lucas. Jadi berhenti muncul. Aku mengizinkanmu muncul saat aku butuh saja. Berhenti berkata berbahaya, berbahaya. Aku bukan anak kecil buta!"
"Tapi aku—"
"Tidak. Peduli." Meridian beranjak. "Diam saja. Toh, terserahku ingin bagaimana."
...*...
"Apa suasana hati Nona masih buruk hari ini?"
Meridian menghela napas sekaligus uap panas yang berasal dari tubuhnya. "Jangan pedulikan. Aku tidak akan melampiaskannya padamu terlalu lama. Aku tidak semenyebalkan itu."
Ia sedang sibuk berpikir bagaimana cara mengetahui apa sebenarnya rahasia si Dion dan Lucas.
Setelah ia coba bertanya pada si Pengecut itu, dia bilang tidak bisa memberitahukannya dengan alasan Meridian harus menemukan sendiri.
Halah! Kalau Meridian nanti tidak terkejut, awas saja dia. Meridian benar-benar akan membakarnya.
"Mungkinkah Nona bermimpi sesuatu lagi?"
"Tidak." Meridian sudah memutuskan tidak mengatakan itu pada siapa pun, karena menyebalkan dan merepotkan. "Memang kenapa?"
"Saya hanya merasa itu sesuatu yang unik."
Ada kemungkinan itu berhubungan dengan kemampuan unik Nona yang kita bicarakan di awal.
Dia peka juga.
"Kurasa bukan. Aku lebih berpikir itu sesuatu tentang manaku. Yang Mulia pernah berkata manaku sebelumnya berwarna silver, sekarang itu biru."
"Benarkah?" Herdian agak menggeser pinggang Meridian yang posisinya bergeser akibat langkah kuda mereka.
Boleh saya bertanya rumor mana yang benar mengenai mata Yang Mulia?
Meridian mengisap dalam-dalam uap dingin di cangklongnya.
Sebagian dari rumor yang kamu katakan padaku benar, namun mata Yang Mulia tidak hanya bertindak agresif. Dia aktif karena gejolak manaku, tapi Yang Mulia tidak langsung menyerang. Kurasa kesimpulannya, mata itu aktif pada apa pun yang bisa membahayakan Yang Mulia, sementara tindakan menyerang atau bertahan berada sepenuhnya di bawah kendali Yang Mulia.
Jadi begitu. Saya cukup heran mengapa Nona saat itu baik-baik saja di hadapan Yang Mulia. Ternyata begitu.
Ya. Tapi matanya memang sangat sensitif. Setiap kali mana di sekitarku bergejolak, terlepas dari itu benar-benar akan menyerang atau hanya gelisah, mata Yang Mulia aktif.
Karena itulah beberapa negara tetangga takut jika Yang Mulia Andaru menaiki tahta.
Hih, menjijikan.
Harusnya berikan kemampuan OP begitu pada rekan rajanya, bukan sang raja sendiri.
Apalagi raja manusia yang sistem kepemimpinan tergantung rakyat. Kalau raja sendiri bisa menghancurkan satu negara, buat apa dia jadi raja dan mengayomi rakyat?
Lebih enak dia menghancurkan seluruh kerajaan lalu merampas harta mereka, daripada mengikuti prosedur politik dunia.
Dunia sampah menjengkelkan ini.
__ADS_1
...*...