Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
20 - hadiah sarung tangan


__ADS_3

"Nona luar biasa." Herdian menghela napas tiba-tiba. "Mendengar berita semacam itu tapi terlihat biasa saja. Aliran mana Nona bahkan sangat tenang. Lebih terkesan mereka menari-nari."


Suasana hati Meridian memang baik karena merasa pengaturan novelnya mulai tidak terlalu sampah.


Meski di awal-awal banyak kotorannya, sekarang sedikit lebih masuk akal.


Soal mati? Kenapa ia harus memikirkan itu?


Ini cuma novel.


Siapa tahu justru kalau ia dieksekusi secara terhormat, ia bangun dari mimpi. Kalau saja Meridian tidak mempertimbangkan perasaan Laila yang jelas tidak mau karakternya mati dieksekusi, ia sudah datang ke kuil.


Tapi yah, Meridian juga tidak mau sesuatu seperti dieksekusi secara terhormat.


Namanya dieksekusi mana ada terhormat.


"Akan kucatat dalam kepalaku. Lalu, mengapa kamu tidak melaporkanku pada kuil?"


Herdian tersenyum 'aku bisa apa pada Nona'. "Jika saya berkata saya tidak ingin menyakiti atau mengkhianati Nona, saya takut Nona membuat ekspresi menakutkan lagi. Jadi, saya akan beri alasan yang lebih rasional."


"Apa?"


"Sejak awal, ada perang dingin yang terjadi antara penyihir dan kuil."


"Apa karena dominasi?"


"Ya, Nona. Mereka mungkin melakukannya demi perdamaian dunia, tapi tekanan yang mereka berikan pada penyihir tentu melukai harga diri semua penyihir di dunia. Patuh pada mereka sejujurnya menyakitkan. Karena itulah kadang-kadang terjadi pemberontakan kecil di mana penyihir menyerang pendeta. Sayangnya, kuil dan kerajaan saling terikat satu sama lain. Sebagai ganti mereka mendominasi penyihir, kuil membiarkan kekuasaan politik dan pemerintahan tetap berada dalam naungan raja."


Laila membuat plot macam ini? Sulit dipercaya.


Dia kan tipe yang berpikir kalau presiden terpilih, maka dengan polosnya percaya itu keberhasilan kampanye. Dia tipe yang tidak paham dengan permainan politik.


Masa sih dia mengatur kekuasaan, bahkan konflik antar dua kekuatan dengan sebaik ini? Tidak luar biasa, memang, tapi jika Laila, itu luar biasa.


Soalnya dia cuma suka cowok ganteng.


"Nona?"


Dia pernah berpikir bahwa Amerika dan Eropa itu bersahabat sejak dulu. Dia dengan polos yakin bahwa Amerika adalah negara yang dikembangkan oleh Eropa sekaligus negara yang mewakili kemajuan Eropa.


Hanya karena bahasanya bahasa Inggris.


Lalu, dia pernah bilang bahwa Amerika itu berjaya karena mereka keren-keren dan berpikir maju. Saking kerennya, Amerika jadi diakui sebagai kiblat dunia, menjadi polisi dunia, dan uang mereka dijadikan sebagai uang dunia.


Meridian bahkan masih ingat Laila terkejut mengetahui poundsterling itu bukan bahasa lain dolar.


Makanya ia tidak bisa percaya ini dunianya Laila.


Masa, sih?


Atau Meridian berada dalam dunia yang bukan novel Laila tapi berpatokan pada novel Laila?


Maksud Meridian, ada beberapa komik yang alurnya berubah karena gangguan bug—yaitu Meridian sendiri. Meridian tidak percaya reinkarnasi dan ia percaya bahwa hal kecil bisa mengubah hidup seseorang.


Bagaimana mereka menyebutnya? Butterfly effect? Tentu ia tidak percaya pada time travel dan sejenisnya. Tapi sebagai contoh, saat kalian melakukan time travel lalu mengubah satu saja hal kecil di masa lalu, butterfly effect akan membuat dunia yang sepenuhnya berbeda gara-gara hal kecil itu.


Maksud Meridian, mungkinkah kehadirannya di dunia antah-berantah ini mengubah sejarahnya jadi lebih rinci dan logis?


Ia tak tahu. Semua hanya dugaan.


Lagipula, sejak awal ia tak tahu kenapa dirinya, orang modern, bisa ter-summon ke dunia ini.


Masih lebih masuk akal ketika ia melihat penyihir melingkari lingkaran sihir, lalu berkata 'kami memanggilmu ke dunia ini untuk menyelamatkan kerajaan' atau sesuatu.


"Nona."


Meridian tersentak.


Bukan karena panggilan, melainkan entah sejak kapan, wajah Herdian sudah berada di depan wajahnya.

__ADS_1


Dia membungkuk di samping tempat duduk Meridian, menatap dalam-dalam matanya sambil berekspresi serius.


Wajah tampan dia tidak menghipnotis seperti Andaru—pasti karena dia bukan tokoh utama atau cuma second male lead—tapi tetap saja dia tampan.


"Anda baik-baik saja?"


"Aku hanya melamun." Meridian menghela napas samar. "Untuk sekarang, aku menahan diri. Kita bicarakan sisanya lain kali. Terakhir, aku akan—ada apa?"


Herdian tersenyum.


Masih dari posisi yang sama.


"Sebenarnya kenapa Anda begitu berbeda? Jika Anda yang dulu, wajah Anda akan memerah dan terbata-bata. Tapi sekarang Anda langsung berbicara tenang seolah saya tidak ada."


Yah, bagaimana, yah?


Karena dia tidak nyata.


Oke, dia nyata dan Meridian melihatnya dengan mata kepala.


Masalahnya, ada bagian di sudut kepala Meridian, tahu betul bahwa orang ini hanya tokoh novel, jadi mau diapakan pun, tetap saja tokoh novel.


Kalau dia Herdian di dunia nyata, Meridian baru akan tersipu.


"Aku tipe yang menyelesaikan urusanku. Jadi aku tidak terlalu peduli pada yang lain." Meridian menopang dagu. Tidak masalah kalau dia mau dalam posisi itu, karena dia second male lead dari sebuah novel romansa.


Ujung-ujungnya pergerakan dia kan memang menggoda tokoh utama agar cintanya bertepuk sebelah tangan.


"Tepikan itu dulu. Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan."


"Boleh saya menjawab dalam posisi ini?"


"Lakukan sesukamu." Meridian malah terhibur karena dia wangi. "Yang ingin kutanyakan, apa menurutmu ada dunia lain selain dunia ini?"


Herdian mengangkat alis. "Itu pertanyaan yang menarik. Kenapa Nona menanyakannya?"


"Karena jika benar aku adalah jiwa orang lain, bukankah lebih masuk akal aku berasal dari dunia lain? Karena, jika aku jiwa orang dari dunia ini, aku tinggal berkata aku berasal dari negara A."


"Jadi kamu memikirkan aku bertukar jiwa dengan Meridian?"


Herdian tersenyum polos. "Maafkan saya. Sebagai penyihir, memikirkan berbagai kemungkinan dalam sebuah kejadian unik adalah prinsip dasar. Tapi, saya tidak berkata Nona berbohong."


"Lalu?"


"Tidak, Nona."


Herdian tetap berdiri di sana alih-alih duduk. Namun tampaknya dia cukup serius.


"Selama ribuan tahun sebelum perang, bahkan setelah seribu tahun kekaisaran berdiri, saya belum pernah mendengar sesuatu tentang dunia lain. Kecuali jika itu tentang dunia setelah kematian yang diajarkan orang-orang kuil, atau dunia di mana para iblis hidup."


"Jadi maksudnya tidak ada dunia lain?"


"Dari yang saya tahu, itu tidak pernah terdengar. Tapi saya akan mencari tahu jika Nona ingin."


"Lakukan." Meridian ikut berdiri. Ia akan pulang agar Herdian juga bisa beristirahat. "Ah, juga. Pertanyaan sederhana. Apa menurutmu di luar langit kita ada sesuatu?"


Herdian tercengang. "Nona memikirkan hal yang tidak biasa. Harus apa saya merespons Nona?"


Tidak biasa, kah?


Jadi di dunia ini tidak ada pengetahuan mengenai planet lain. Kalau begitu, Meridian jadi bisa mengerucutkan kesimpulan bahwa di dunia ini, ilmu pengetahuan umum di dunianya dulu tidak terlalu bekerja.


Laila mungkin tidak terlalu memerhatikannya, karena memang normal saja novel romansa-fantasi tidak membahas soal planet.


"Aku berterima kasih pada pelayananmu dan keramahanmu." Meridian berencana langsung pergi. "Sampai jumpa, Tuan Muda."


Tapi Herdian menahan tangannya sesaat.


Agak terlalu cepat malah menarik lagi.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, Nona."


Meridian spontan menatap tangannya. Kenapa dia tidak mau menyentuh Meridian? Adab?


"Ya?"


"Saya menyiapkan sesuatu sebagai hadiah kunjungan. Apa Nona mau menerimanya?"


"Tentu."


Malah dia terkejut. Walau langsung menggunakan sihirnya untuk mengambil kotak dari lantai atas mereka.


Meridian melihat perputaran angin yang bergerak pergi lalu kembali bersama kotak kayu berornamen.


Seketika ia paham. "Jadi sihirmu bukan teleportasi? Itu angin."


Lagi-lagi Herdian tertawa pasrah. "Sebenarnya apa yang terjadi hingga Nona menjadi sangat tajam?"


"Apa itu bukan hal yang mudah disadari?"


"Bagi pemula, ya. Nona-Nona yang lain memuji saya hebat dalam berteleportasi. Dalam kecepatan tercepat sihir saya, bahkan pasukan berpikir itu teleportasi."


Yah, dia menunjukkannya. Angin itu juga tampak jelas, jadi Meridian bisa langsung paham.


"Ini tidak seberapa, Nona." Herdian membuka kotak yang mendarat di tangannya barusan.


Menampilkan sebuah sarung tangan putih bersulam emas, nampak sangat indah dengan ukiran bunga iris yang seolah bukan disulam tapi disablon.


"Bisa Nona memakainya?"


"Tentu." Meridian memakainya dengan bingung. "Tapi kenapa sarung tangan? Maksudku, apa artinya?"


Herdian meletakkan kotak itu di atas meja, lantas meraih tangan Meridian. "Agar saya bisa menyentuh Nona."


"Hah?"


Apa saya tidak menjelaskan kemampuan telepati saya bisa membaca pikiran seseorang?


Meridian mengerjap. "Jadi kamu perlu menyentuh seseorang secara langsung untuk membaca pikiran mereka?"


"Begitulah, Nona."


Herdian tiba-tiba membungkuk. Mengecup punggung tangan Meridian. "Kehormatan besar menjamu Anda, Nonaku."


Ayo jangan mual. Dia sudah susah payah meluangkan waktu.


Hargai, hargai.


"Ya, tentu. Tapi kenapa kamu melakukannya?" Meridian memiringkan wajah. "Kamu bisa membaca pikirku tanpa aku tahu jika menyentuhku secara langsung."


"Apa Nona ingin?"


"Kubilang, tanpa sepengetahuanku."


Atau dia merasa itu tidak sopan?


"Ada banyak alasan." Herdian menyentuh sejumput rambut Meridian dan tersenyum lembut. "Lagipula, bukankah Anda tidak terpengaruh sihir Raphael? Dia memberitahu saya. Nona terjaga sesaat setelah diberi mantra penenang."


"Lalu? Kemampuan unikmu tidak membutuhkan mana. Itu bukan sihir."


"Orang-orang dengan kecerdasan tertentu bisa memblokir diri mereka dengan mana." Herdian meletakkan baik-baik rambut yang dia sentuh tanpa seujung jari pun menyentuh kulit Meridian. "Contohnya, Yang Mulia. Beliau tidak mengetahui kemampuan unik saya, tapi pada satu peristiwa, Yang Mulia merasa saya mampu membaca pikirannya. Dia menduga itu angin saya yang mendeteksi mananya, jadi Yang Mulia melakukan sesuatu pada mananya hingga kemampuan saya tidak bekerja. Beliau satu-satunya orang yang pikirannya tidak dapat saya lihat sekalipun saya menyentuhnya."


"Begitu." Meridian cukup puas. "Baiklah. Terima kasih atas waktumu. Aku akan menyiapkan hadiah balasan lain waktu."


"Saya menantikannya."


Meridian tidak terlalu menghiraukan perkataan Herdian lagi, karena ia fokus pada hal lain.


Sepertinya Meiridan harus menemui Andaru, mau tidak mau.

__ADS_1


...*...


__ADS_2