
"Apa gunanya juga merahasiakan? Toh, aku baru bisa kembali setelah seseorang menyelamatkanku dan membunuh kalian, atau tujuan kalian tercapai lewat penyanderaanku dan informasiku tidak berguna."
"Hmmm, anehnya terdengar benar. Tapi aku tidak mau."
"Kenapa?"
"Karena seseorang mengawasi tubuhmu."
Si Penjahat meletakkan telunjuknya pada kening Meridian, lalu muncul lingkaran sihir gelap di sekitar mereka.
"Sihir teleportasi, sihir pengawas, sihir pengekang. Luar biasa. Ada banyak sihir berbahaya di sini."
"Benar juga." Meridian mendongak takjub. "Kenapa Lucas tidak berteleportasi?"
"Lucas?"
"Kakakku."
"Ah, benarkah? Sayang sekali. Aku memblokirnya."
Meridian cemberut. "Aku merasa sihir itu berguna saat mereka ingin memperlihatkan tokoh yang hebat, lalu tidak berguna di saat tokoh yang lebih hebat muncul. Dasar sialan."
"Siapa?"
"Seseorang yang mengajariku sihir." Meridian mendengkus. "Daripada itu, bolehkah aku bertanya? Apa maksudmu sihir pengekang? Dan pengawas juga."
Si Penjahat lagi-lagi mengamatinya dalam.
Mungkin dia sendiri heran kenapa Meridian bertanya tanpa beban.
Normalnya orang diculik ketakutan atau minimal diam saja, sebab nyawanya mungkin terancam.
Tentu saja, dia tidak tahu, bahwa ada kekuatan di dunia khayalan ini yang bernama Kekuatan Tokoh Utama.
"Kamu tidak tahu apa itu sihir pengekang?"
"Aku tahu. Aku mengonsumsi buah agar manaku melemah secara alami. Maksudku, aku sudah makan buah itu. Kenapa ada pengekang lagi?"
"Hm, jadi begitu. Seseorang menyuruhmu memakan buah merah itu."
Kenapa dia menyebutnya dengan kesan berbahaya?
Meridian jadi terdorong untuk cari informasi.
"Apa buah itu berbahaya? Sejujurnya, aku juga berpikir begitu. Aku merasa kepanasan sampai-sampai harus menggunakan ini tiap waktu."
Si Penjahat tertawa lagi. "Di Kekaisaran, mereka menyebutnya buah yang beracun bagi mana. Mereka menggunakannya untuk pengekang secara alami, katamu? Itu tidak salah. Hanya ...."
"Hanya?"
"Alasan kenapa buah itu beracun dikarenakan itu buah yang tumbuh di tanah iblis."
Hidih. Meridian mau muntah juga tertawa mendengar kalimat klise macam itu. "Dan?"
"Sifat mana iblis dan manusia berbeda. Manusia mengendalikan mana dari kecerdasan, iblis mengendalikannya dari hasrat mereka. Kebanyakan kebencian, namun juga bisa ... nafsu."
"...."
"Apa wanita benar-benar punya kemampuan seperti itu? Aku pikir wanita adalah makhluk paling penakut di muka bumi."
Si Penjahat memiringkan wajah.
"Bahkan manamu sangat tenang. Kamu tidak mengerti?"
__ADS_1
"Apanya?"
"Penjelasanku tadi."
"Aku mengerti." Meridian mengangkat bahu. "Intinya sifat dasar dari mana dua ras yang berbeda. Lalu, hubungannya dengan aku mengonsumsi buah?"
"Racun pada manamu itu, bagi kami, justru terlihat seperti mana biasa."
"Hm, lalu?"
"Artinya aku bisa mengawasi manamu kapan pun aku mau selama kamu mengonsumsinya. Dan, aku bisa mengontrol efek dari buah itu. Dengan cara memasukkan manaku ke tubuhmu saat pertama kali mengonsumsi buahnya."
Jadi begitu. Ternyata Dion digambarkan seperti itu, yah.
Cukup menarik.
"Aku mengerti sekarang. Artinya aku diawasi dan reaksi tubuhku ini bisa dikontrol."
Si Penjahat tertawa semakin lepas. "Kamu tidak mengerti rupanya. Siapa yang meletakkan itu, Nona?"
"Buat aku mengerti dulu."
"Orang yang mengawasimu dengan buah itu terhubung denganmu." Dia melipat tangannya di atas sandaran kursi. "Bahkan bangsa iblis tidak akan senang diberi buah itu. Karena selama efeknya ada dan dia mengendalikan itu, dia merasakan semua yang tubuhmu rasakan. Panasmu, keringatmu, termasuk ... saat kamu buang air."
Meridian tersedak.
Si Penjahat menertawakannya. "Siapa yang menjebakmu dengan buah itu, Nona Cantik? Yah, sebenarnya itu tidak berbahaya kecuali dia memasukkan mananya. Siapa yang melakukannya? Apa ada iblis yang mengincarmu?"
Meridian mau mengumpat.
Sialan, mes*m juga Dion.
Meridian tidak keberatan soal keringat tapi buang air?! Bahkan kalau ini tubuh Meridian Palsu, ya jiwanya Meridian Asli juga!
Makanya ... KENAPA MERIDIAN HARUS MENGALAMI INI UNTUK DIA, HAH?!
...*...
"Kurasa dia sangat mencintaimu, Nona."
Wajah brengsek ini bikin kesal juga.
"Aku memang cantik, jadi semua orang bisa gila mencintaiku." Meridian mendengkus. "Lupakan saja. Apa dia masih merasakannya dalam kurungan ini?"
"Tidak. Tapi semua yang kita bicarakan akan sampai padanya begitu kamu bebas."
"Pantas saja kamu tidak mau bicara." Meridian berdecak jengkel. "Baiklah, terserah. Yang terjadi biar terjadi. Aku jadi tahu harus berbuat apa berkatmu, jadi terima kasih."
Bahu si Tampan itu bergetar saking banyak tertawa. "Aku menculikmu dan kamu berterima kasih."
"Kamu tidak melukaiku." Karena itu Meridian tidak menganggap dia musuh. "Bicara soal itu, siapa namamu?"
"Bukankah harusnya rahasia?"
"Sesuatu yang bisa kugunakan memanggilmu."
Matanya memicing. "Baiklah. Panggil aku Raven."
"Raven. Salam kenal." Meridian mengembuskan napas panjang dengan uap di mulutnya. "Lalu, apa yang akan kamu lakukan padaku?"
"Entahlah. Apa yang harus kulakukan padamu, Nona?"
Meridian terdiam. Di kepalanya berputar banyak skenario entah untuk kabur, bertahan sampai ditolong atau melakukan sesuatu sendiri sampai semua berakhir.
__ADS_1
Ia memproses informasi di kepalanya, memikirkan ini dan itu sampai terlintas sebuah ide yang cukup ekstrim.
Haruskah ia coba?
"Hei, aku ingin mengajukan penawaran. Tentu, bukan pembebasan."
"Akan kudengar."
"Pertama, aku harus memastikan. Apa segala perkataanku akan sampai secara rinci pada orang yang mengawasiku?"
"Tidak." Si Tampan memejam. "Sebenarnya, buah itu cuma berfungsi menjadi medan pengontrol indera di tubuhmu. Yang sampai adalah sensasinya. Tapi tergantung dari bagaimana orang itu memproses, dia bisa sangat memahami percakapan kita. Sebenarnya aku menculikmu karena itu. Aku berpikir kamu umpan mereka, jadi aku bermaksud mengikuti permainan mereka."
"Sensasi, kah?" Dion sangat sensitif, jadi Meridian juga tidak mau ambil risiko. "Apa ada cara menghilangkannya?"
"Tidak ada."
"Sama sekali?"
"Sihir bangsa iblis tidak sefleksibel manusia, Nona. Bentuknya tidak dapat diubah-ubah sesuai keinginan. Tentu saja, ada metode menghancurkannya. Tapi itu dengan mengalirkan mana iblis lain ke dalam tubuhnya. Dengan risiko tubuhmu meledak."
Meridian bergidik. "Itu agak menakutkan. Kenapa begitu?"
"Mana kita berbeda, bukankah sudah kukatakan? Tubuh manusia itu rentan. Menerima hasrat kebencian dari iblis hanya akan membuat inti mana mereka rusak."
Jadi tidak ada, kah? "Aku akan berhenti mengonsumsi buah itu."
"Kalau itu tidak boleh."
"Hah?"
"Aku tidak percaya padamu, Nona. Tentu aku merasa kamu berbeda dari bayanganku, tapi tetap saja. Sihirmu harus tetap tersegel agar aku tidak kerepotan. Salahkan dirimu sendiri."
Meridian benci kenyataan dia benar.
Karena ini salahnya, ia jadi sulit protes.
Hah.
"Aku mengerti. Lalu, berbicara mengenai penawaran tadi, aku menawarkan sesuatu. Sebagai gantinya, setidaknya biarkan aku mengubungi Duke Muda agar dia tahu aku tidak terluka. Begini-begini, aku tunangan Putra Mahkota. Kamu ingin perang besar terjadi?"
Dia terkekeh. "Mari lihat penawaranmu dulu."
"Tubuhku."
"Apa?"
Meridian bisa merasakan sesuatu menekan dalam dirinya, yang ia asumsikan itu sebagai Meridian Palsu.
Spontan Meridian tersenyum.
Jika ada alasan balas dendam yang jauh lebih baik dari terpenggal setelah jadi penjahat dijebak si Heroin, maka inilah alasannya.
Beraninya menggunakan Meridian meneruskan hidupnya.
Dia pikir Meridian babunya?
Kalau tidak mau tubuh ini dinodai, maka ambil tubuh ini dan kembalikan Meridian.
Sekali dayung, ribuan pulau terlampaui.
Jangan remehkan dendam!
Meridian rela mati demi dendam!
__ADS_1
...*...