Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
40 - korban menyedihkan


__ADS_3

Setelah mereka panik sendiri dengan kondisi Meridian, akhirnya mereka tenang.


Itu sedikit mengejutkan bagi Meridian karena Wilona sampai menangis terisak-isak pada kondisinya.


Lepas diobati, mandi dan ganti baju, akhirnya Meridian bisa duduk memberitahukan informasi pada mereka.


"Seseorang menyelamatkanku."


"Apa?"


Meridian membuat gestur menyentuh lebam di dadanya seakan ia sangat menyedihkan. "Pemimpin mereka mencoba memperkosaku."


Tepat setelah itu, gelas di dekat Meridian pecah, dan seluruh barang-barang beterbangan.


Tiga orang dengan tiga aura berbeda nampak siap memulai perang dengan dunia.


"Lalu seseorang menyelamatkanku." Meridian menghela napas. "Dia mencegah pemimpin mereka menyentuhku dengan alasan aku adalah tunangan Yang Mulia. Orang itu juga diam-diam memberiku makan. Dia mengembalikan cangklongku saat aku sesak napas."


"Kurasa sebaiknya kita habisi mereka." Raphael malah yang paling pertama bergumam. "Duke Muda, kerahkan prajurit segera."


"Kakak, tunggu sebentar. Masih ada lagi."


Meridian meremas kedua tangannya dengan kesan ia trauma.


"Aku tidak sengaja mendengar percakapan bandit itu. Sepertinya mereka orang-orang dari kerajaan tetangga yang menyamar menjadi bandit. Aku tidak bisa memberikan bukti yang cukup. Bagaimanapun, aku hanya wanita yang tidak tahu-menahu mengenai perang. Aku hanya mendengar mereka berkata bahwa jika mereka menyanderaku, Yang Mulia pasti akan melepaskan hak atas dungeon. Mereka berencana meminta sejumlah harta tebusan dan yakin Yang Mulia akan mengabulkannya. Lalu, mereka menyebut-nyebut seseorang bernama Ruben."


"Pangeran pertama." Herdian langsung paham.


Raven yang memberitahu Meridian, bahwa Ruben adalah suksesor keluarga kerajaan tetangga.


Dialah yang memegang kendali atas percobaan perebutan yang dimanipulasi ini.


Menunjuk dia tidak benar-benar salah, dan menurut Raven, daripada mewaspadai raja, lebih baik mewaspadai Ruben.


Meridian dengar dia ahli pedang yang tidak menyukai Andaru ataupun sihir secara keseluruhan.


Jadi kalau dia dituduh sebagai dalang pun dia sulit berkelit.


Mereka mau tak mau percaya, karena Meridian lupa ingatan. Jangankan nama pangeran negeri tetangga, nama negaranya saja Meridian tidak tahu.


"Lalu, Yohannes dan orang satu lagi." Meridian tak melupakan mereka, tentu saja. "Mereka memukulinya dengan tidak manusiawi. Aku berusaha mencegah mereka dan pemimpin mereka memukuliku. Kakak, tolong jangan sampai mereka berdua terluka. Aku tidak ingin menanggung beban seseorang terluka karenaku. Tolong."


"Nona."


Raphael berlutut di hadapannya. "Aku mengerti, Adik Kecilku. Akan kupastikan mereka berdua baik-baik saja. Sekarang beristirahatlah."


Seolah ia memang jinak dari awal, Meridian mengangguk.


Lucas terus menatapnya penuh pengawasan dan nampaknya dia tidak akan meninggalkan sisi Meridian untuk sementara waktu. Tapi ....


Nona, orang yang menyelamatkan Nona ....


Itu baru Herdian-nya.


Aku tidak tahu siapa dia, karena dia memakai jubah sebelumnya. Tapi orang itu tidak memihak kerajaan. Kurasa dia menyusup ke pasukan untuk meredam pertikaian. Dia rakyat biasa.


Nona memang luar biasa. Setelah ini, saya benar-benar akan memastikan Nona tidak mengalaminya lagi.


Aku percaya padamu.

__ADS_1


Herdian pun menghilang bersama Raphael.


Kini tersisa Lucas yang tak berhenti memandanginya.


Sayangnya Meridian tidak memikirkan dia dulu. Ia menunggu Dion.


Begitu Meridian lepas dari barier Raven, seharusnya Dion langsung menerima semua informasi yang ada di tubuh Meridian.


Dia satu-satunya yang harus diwaspadai.


Ke mana dia?


"Lucas."


Dalam sekejap mata, Lucas duduk di sebelah tempat tidurnya. "Apa?"


Responsnya seakan Meridian sekarat. Bagaimana bisa si Lemah itu takut pada kakak yang sayang luar biasa padanya ini?


"Di mana Dion?"


"Dion? Mengapa kamu mencarinya?"


"Aku hanya berpikir aku menyusahkan dia lagi."


Lucas menghela napas. "Lupakan saja. Dion tidak akan memikirkannya. Istirahatlah."


Jadi dia tidak datang, yah? Kenapa?


Baiklah, tidak ada guna memikirkan hal yang tidak terjadi. Sekarang lebih baik Meridian fokus pada rencananya bersama Raven.


"Lucas."


"Apa lagi?"


"...."


Sekarang, ayo tunggu bagaimana semua berjalan.


...*...


Ini situasi yang diluar harapan.


Meski sudah berusaha keras meredam pertikaian, peperangan tetap terjadi.


Meridian hanya menyaksikan itu dari udara, di mana Lucas memeluk pinggangnya agar mereka tetap melayang.


Semua berjalan agak lebih sederhana dari perkiraan Meridian. Setelah Herdian dan Raphael memastikan tipu muslihat pihak kerajaan, tanpa basa-basi Raphael maju sebagai pembuka peperangan.


Sejujurnya Meridian tidak terlalu menyukai bagaimana peperangan itu berlangsung.


Padahal kalau dipikir secara logis, harusnya Raphael menahan diri lebih lama untuk menyelidiki niat asli kerajaan sekaligus mempelajari kekuatan musuh.


Mereka saja tidak tahu bahwa di sana ada bangsa iblis.


Tapi yasudah, namanya juga novel roman. Justru tampak heroik kalau sang kakak tokoh utama marah besar melihat adiknya pulang babak belur.


Peperangan ternyata terjadi di atas dungeon. Tempat yang buruk sebab itu kan harta berharga.


Sambil menyaksikan betapa konyol peperangan mereka, Meridian melipat tangan.

__ADS_1


Lebih penasaran bagaimana Raven akan menjalankan rencana sekarang.


Dia tidak terlihat. Orang yang Meridian kenal bawahannya pun tidak terlihat.


"Kamu tidak ikut berperang dengan mereka?"


Seolah itu takdir, sebuah anak panah bercahaya melesat ke arah mereka. Ditangkis dengan mulus oleh aura hitam Lucas. "Aku harus menjagamu."


Meridian mengamati arah anak panah itu datang. "Hei, bukankah itu taktik yang bagus jika kerajaan mereka menyembunyikan prajurit di sekitar dungeon. Bahkan jika kekaisaran hanya mengirim dua ratus prajurit—"


Meridian berhenti berbicara.


"Tidak. Ini membuatku pusing." Meridian tiba-tiba menyadari sesuatu.


"Apanya?"


Raphael kan diplomat, jadi dia datang untuk membincangkan kesepakatan damai alih-alih langsung menyerang.


Tapi gara-gara Meridian diculik, dia langsung menyerang alih-alih berdiplomasi secara sehat.


Kalau begini kan jadinya kekaisaran duluan yang menyerang sebelum kerajaan.


Gawat.


Kalau mereka mempertaruhkan nama baik kekaisaran, orang-orang yang berada di sini, seluruhnya perlu dimusnahkan.


"Lucas, bergerak di sekitar sungai."


Lucas menurutinya. Melayang dengan bantuan atribut kegelapan dengan memutar medan pertempuran.


Dari kejauhan, Meridian bisa melihat beberapa orang bersembunyi di tepi sungai, berusaha berkamuflase sambil mengamati laju pertempuran.


Mereka pasti prajurit.


Sebenarnya perang ini bisa selesai dengan kekuatan Raphael, Herdian dan Lucas saja, tapi namanya novel, tidak seru jika tidak dramatis.


"Apa mereka melihat kita?"


"Tidak." Lucas memperkuat mana di sekitar mereka. "Sepertinya mereka bermaksud keluar ketika peperangan sudah kacau."


Apa di dunia ini tidak ada hukum, yah?


Maksud Meridian, merebut satu wilayah kan tidak sebatas memerangi pemiliknya lalu berkuasa.


Ah, atau mungkin karena ini zaman baheula, jadi mereka bisa berkuasa dengan cara barbar?


Sekarang, di mana Raven?


Tepat saat Meridian ingin meminta Lucas kembali, suara sinyal ditembakkan ke udara.


Arahnya berasal dari sisi lain dungeon, dekat dengan arah musuh kemungkinan bersembunyi. Meridian merasakan Lucas terbang agak lebih tinggi, menghindari kemungkinan mereka diincar.


"Sinyal putih dari kerajaan. Mereka menyerah?" Apa itu Raven?


Tapi, berkat sinyal itu, peperangan seolah dihentikan oleh waktu. Seluruh prajurit yang tadinya saling tebas-menebas fokus menatap ke arah suara pasukan datang.


Meridian ikut menunggu. Mulai terdengar suara teriakan 'pemberontakan' dari arah kerajaan.


Itu pasti Raven.

__ADS_1


Bagus. Dia melakukannya dengan baik.


...*...


__ADS_2