Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
62 - sampai jumpa


__ADS_3

"Aku akan ikut." Dion hanya membuat pernyataan itu.


"Aku juga." Lukas melipat tangan santai, namun mutlak.


"Saya juga." Herdian tersenyum kecil.


Dan Meridian membalas mereka semua dengan senyum. "Tidak."


"Benar." Lumiel melompat dan dalam sekejap penampilannya berubah.


Untuk kali ini Meridian agak memerhatikan perubahan itu, sebab selain mata merah dan rambut merah berkilau, Lumiel memakai pakaian mencolok dengan jubah kebesaran.


Orang ini sebenarnya siapa?


"Aku sendiri sudah cukup. Lagipula, kalian orang lemah hanya akan jadi beban bagi Meridian."


Meridian menjentikkan jari. Sihir api mengelilingi Lumiel namun tidak membakarnya.


"Berhenti bicara hal tanpa persetujuan. Kamu itu peliharaan. Kembali ke wujud aslimu."


Dia cemberut. "Ini wujud asliku, Nona."


"Kembali. Ke. Wujud. Aslimu."


Seekor kucing mendarat mulus di paha Meridian. Karena ia tidak bermaksud membuat dia terlihat tidak keren, Meridian mengusap-usapnya sebagai permintaan maaf.


Maksud Meridian, mereka harus mempertimbangkan ini matang-matang dan bukannya soal cemburu.


"Nona, tolong izinkan saya ikut menemani Nona. Bahkan jika saya adalah beban, pengetahuan saya terhadap sihir dan dungeon akan membantu." Dan saya memiliki telepati. Nona juga tahu saya memiliki kepekaan sihir yang cukup tinggi.


Kenapa dia jadi memohon untuk ikut ke tempat berbahaya, sih?


"Aku mengerti, Duke Muda. Aku mengerti. Ayo bicarakan ini perlahan-lahan. Pertama, Dion, Lukas, tetaplah di ibu kota."


"Tidak." Lukas memukul meja es itu hingga pecah. "Aku tidak bisa membiarkanmu pergi bersama pria tidak jelas itu! Meridian, kuminta padamu. Bahkan jika sekarang kamu sangat cerdas dan berpengetahuan, ada sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang sepertimu."


Mulutnya masih saja sama.


"Aku pun tidak meminta pendapatmu." Dion mengarahkan mana hitam pada Meridian. Ia tak bergerak karena berpikir mananya akan menolak, tapi ternyata dia berhasil mengambil Meridian.


Sebelum Lumiel bereaksi, Meridian mengirim isyarat untuk diam saja.


"Aku yang akan menjaga adikku."


Meridian tetap bersedekap, duduk menyilangkan kaki di udara dengan kursi dari sihir Dion.


"Yang Mulia, tolong tunggu sebentar. Saya akan bicara secara pribadi dengan mereka berdua."


Sebelum ada jawaban, Lukas sudah membawanya pergi. Mereka berteleportasi ke dalam gua. Hanya dengan satu gerakan tangan, Dion menyebar mananya ke seluruh gua untuk mengusir penghuninya pergi.


Lukas meletakkan Meridian pelan-pelan ke atas bebatuan cukup besar.


"Apa ini permainanmu lagi?" Dion bertanya tanpa emosi.


"Aku pun tidak bermain-main, Dion, Lukas. Tetaplah di ibu kota dan jaga Ayah juga Ibu."

__ADS_1


"Apa?"


"Tetaplah bersama mereka." Meridian menghela napas kecil. "Aku akan kembali sebagai penjahat dunia. Berpura-puralah tidak berpihak padaku dulu. Jika itu tidak bisa selesai dengan—"


"Aku tidak peduli."


Meridian entah kenapa tidak terkejut. "Tidak bisakah kamu menjaga mereka untukku?"


"Berhenti berbelit-belit. Aku tidak akan mengizinkanmu pergi kecuali bersamaku dan Lukas."


"Dion."


"Berhenti mencoba membujukku. Aku sudah bilang—"


"Aku menyukaimu."


Meridian menatap lurus pada mata kristalnya.


Sungguh, Meridian menyukai karakter Dion di dunia ini. Jika saja sudut pandang dunia ini menyorot Dion, mungkin kisah menarik dibaliknya bisa diulik.


Alasan dia menyukai adiknya, bagaimana dia merasa selalu dihina oleh Meridian Palsu, bagaimana dia menjadi begitu obsesif, dan bagaimana dia membiarkan Lukas bersamanya, semua itu menarik.


Justru lebih menarik bagi Meridian daripada karakter Andaru yang sederhana.


"Aku menyukaimu, Kakak. Aku sungguh-sungguh menyukaimu. Aku mengetahui kamu mencintaiku meskipun caramu menyebalkan dan kotor. Aku tidak menghinamu."


Diulurkan tangannya pada pria itu, menarik dia untuk mendekat.


Saat Dion yang membatu hanya bergerak spontan menerimanya, Meridian mengusap-usap kepala pria itu. Membiarkan dia meletakkan kepala di pahanya.


Banyak karakter seperti dia yang Meridian baca jadi ya, ia paham.


Tapi disamping itu, jika Meridian memandang Dion sebagai manusia sungguhan, maka dia sebenarnya hanya putus asa. Selalu dihina oleh si Palsu, selalu dianggap menakutkan dan mengerikan. Tentu saja Meridian Palsu mungkin memang ketakutan sungguhan.


Maksud Meridian, Dion hanya mencintai. Apa yang dia lakukan hanya mencintai.


"Lukas, kemari."


Meridian mengusap-usap pipi Lukas yang bersandar di bahunya. Mereka berdua adalah karakter klise yang semakin diperhatikan semakin menarik, bagi Meridian.


"Aku benar-benar menyukai kalian berdua. Jadi dengarkan aku. Aku pasti kembali. Aku pasti menemui kalian lagi. Dan saat aku kembali, aku akan mengatakan semua, yang sebenarnya. Jadi tunggu aku, lindungi Ayah dan Ibu, juga Litea dan Litae. Kalian mengerti?"


"Tempat itu berbahaya." Lukas mencium telapak tangannya. "Dan pria itu, dia iblis. Dia bukan manusia. Tidak ada darah manusia di tubuhnya."


"Aku tahu." Aku tidak tahu, dasar Lumiel. "Karena itulah aku akan membawa Herdian."


"Apa?" Dion mendongak.


"Aku tahu kalian mempercayai Herdian. Dia menyukaiku namun tidak pernah berani menyentuhku."


Meridian mengusap kepala keduanya.


"Dan Herdian memiliki sesuatu yang kubutuhkan. Jika aku benar-benar terluka, maka Herdian akan langsung memberitahu kalian. Percaya padaku. Kumohon, Kakak?"


...*...

__ADS_1


"Sudah selesai?"


Meridian menjentikkan jari untuk menciptakan meja baru sekali lagi. "Yang Mulia, Lumiel dan Herdian yang akan menemani saya."


"Haruskah aku juga pergi denganmu, Nonaku?"


"Tolong jangan bercanda. Siapa yang harus saya percaya menjaga garda terdepan jika bukan Anda, Yang Mulia?"


"Kamu memang pandai merayu." Andaru tersenyum kecil. "Kalau begitu, aku akan menarik seluruh petualang diam-diam."


"Tolong sebarkan berita yang ditahan oleh kuil."


Mereka tercengang lagi. "Kenapa begitu, Nona?"


"Agar saya bisa bergerak."


Meridian meletakkan Lumiel di pundaknya saat ia menciptakan miniatur di atas meja sebagai sebuah ilustrasi.


"Anda pun akan bisa bebas bergerak jika saya sudah dicap sebagai penjahat. Dion dan Lukas akan kembali ke ibu kota, dan saya yang terkontaminasi oleh sihir hitam telah sepenuhnya menghilang. Buat saja beberapa rumor tambahan seperti saya berubah menjadi monster atau beberapa—"


"Aku tidak bisa."


"Yang Mulia."


"Kamu melakukannya lagi."


Andaru menatap Meridian dengan mata reptilnya.


"Kamu berkata akan melakukan peranmu, tapi sekarang memintaku memunculkanmu sebagai penjahat. Apa maksudmu, Nona? Apa sekarang pernikahan sudah tidak dibutuhkan sebab aku tidak bisa melindungimu?"


Bukankah memang begitu?


"Aku sudah memikirkannya sejak lama. Kamu menjadi sangat dingin pada semua orang, seolah-olah hatimu tidak berfungsi."


Andaru menutup wajah dengan penuh kekecewaan.


"Aku akan melakukan apa pun untukmu kecuali itu."


".... Baik."


Meridian tidak tahu mengapa ia jadi merasa bersalah.


"Kalau begitu sebarkan rumor bahwa ada pergolakan aneh di dalam dungeon. Dengan begitu Anda bisa memasang penjagaan ketat pada seluruh dungeon di kekaisaran. Pasang barier yang bisa menahan monster untuk beberapa hari."


"Kamu percaya diri akan kembali bersama pasukanmu?"


"Apa saya pernah tidak percaya diri, Yang Mulia?"


"Maka aku percaya padamu." Andaru bersikap seakan-akan barusan mereka tidak habis berdebat. "Duke Muda, kuserahlan tunanganku. Jaga dia baik-baik."


"Baik, Yang Mulia."


"Aku akan menyambutmu ketika kembali, Nona. Sampai jumpa."


"Sampai jumpa, Yang Mulia."

__ADS_1


...*...


__ADS_2