Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
71 - karena mereka rakyatmu


__ADS_3

Itu bukan permintaan saran, namun perintah tersirat.


Kerajaan suci sudah tidak penting, jadi Meridian tidak mau mengurusnya. Andaru sendiri berkata dia akan melakukan segala cara, jadi bukankah itu urusan dia?


"Mereka menutup akses seluruh kerajaan yang mendukungmu."


Andaru tersenyum seakan berkata 'tolong jangan terburu-buru dan dengarkan dulu'.


"Menangani kekhawatiran dan kebencian rakyat memang sulit, Ratuku, namun dalam kondisi sekarang, aku lebih memilih mereka merasakan hal itu. Apa kita perlu menjelaskan panjang lebar pada mereka bahwa kamu bukanlah orang jahat yang mau menyakiti mereka? Biarkan saja mereka marah, biarkan mereka benci. Karena apa yang benar-benar penting adalah akhir dari peperangan."


Benar juga. Meridian jadi panik sendiri.


"Namun aku tetap tidak bisa mengabaikan jika itu siasat Pendeta. Jika pancingan itu bukan untukku, maka itu untuk rakyatmu."


"Apa maksud Nona?"


"Pemberontakan." Meridian berbalik sekali lagi pada pemandangan langit di sekitarnya. "Dion, Lukas, Herdian, Raphael dan Andaru, jika kalian menggabungkan kekuatan sihir kalian, bukankah kekuatannya juga akan cukup besar memancing sesuatu yang sensitif?"


"Yang Mulia." Lumiel tiba-tiba masuk dalam percakapan. "Ruben telah memahami bahwa kekuatan sihir Anda, pasukan Anda dan kekuasaan Anda tidaklah goyah hanya dengan provokasi kecil. Bagi saya, apa yang sedang mereka berdua bicarakan sebenarnya bukan inti masalahnya."


"Lalu apa?"


"Mengapa kita harus terlalu fokus pada benda suci?"


"Apa maksudmu?"


"Benda itu tidak berbahaya bagi Anda."


Meridian terkejut. Lalu untuk apa dirinya memerangi kuil dan kerajaan suci? Itu kan gara-gara benda yang katanya bisa membunuh chimera di mana chimera itu dulu membunuh penyihir—


Tunggu. Jangan bilang ....


"Benda itu tidak mengganggu bangsa iblis?"


"Bukan seperti, Yang Mulia. Benda itu sejatinya diciptakan untuk membunuh chimera, bukan bangsa iblis."


Apa yang .... Tidak, tunggu.


Kalau dipikir lagi, Herdian dulu memang menjelaskan bahwa kuil berkuasa setelah mengalahkan chimera, bukan setelah mengalahkan bangsa iblis.


Meridian lupa!


"Ratuku, Anda adalah makhluk terkuat di dunia ini."


Meridian memegang kepalanya yang mendadak terasa pening.


Kenapa ia harus membuang waktu melawan kuil bodoh itu jika sejak awal mereka tidak berguna? Kenapa ia harus membuang waktu ketika seharusnya Ruben yang ....


Ruben? Benar juga. Ruben!


"Maksudmu, Ruben menggiringku takut pada senjata suci itu?"


"Itulah yang terlihat bagi saya, Yang Mulia."


"Tunggu sebentar." Andaru ternyata juga tercengang. "Bahkan jika begitu, chimera yang memiliki kapasitas sihir tinggi terbunuh oleh benda suci mereka. Bukankah patut mewaspadainya?"

__ADS_1


"Kalian mencemaskan sesuatu yang tidak berguna." Lumiel menggeram marah. "Apakah beliau terlihat seperti manusia lemah? Kekuatan sihir yang lemah, mana yang mengamuk mengacaukan tuannya, apa di matamu Ratuku terlihat seperti itu?!"


"Lumiel, jadi maksudmu aku menghancurkan kerajaan suci pun tidak masalah?"


"Benar, Yang Mulia."


"Benda itu akan musnah?"


"Dengan sangat pasti, Yang Mulia."


Meridian mengusap cincinnya. Firasatmu benar lagi, Herdian. Perbuatan pendeta itu aneh. Kurasa mereka bukan sedang memancingku mendekati benda koleksi mereka. Cari tahu itu.


Baik, Nona.


"Baiklah." Meridian terbang menuju singgasananya. "Ayo lihat lebih jauh lagi."


Andaru berjalan mendekatinya. "Bolehkah aku tinggal untuk membicarakan beberapa hal lagi?"


"Tentu."


...*...


Sebagai tokoh utama, Meridian tetap memandang Andaru sebagai salah satu kunci penting untuk kembali ke dunianya. Jadi sekalipun Lumiel cemberut, ia menyuruh iblis itu pergi, dan memasang barier agar pembicaraan mereka tidak didengarkan oleh siapa pun.


Ternyata Andaru mau membicarakan Ruben.


"Pria itu lebih unggul dariku mengenai peperangan."


"Bukankah dia hanya memenangkan tiga peperangan?"


"Secara langsung."


"Jika harus kukatakan, alasan utama mengapa Ruben tidak diketahui adalah karena ketiadaan sihir di pihaknya. Walaupun diam-diam dia menyimpan penyihir hitam, dia membenci penyihir dan selalu menghina sesuatu semacam sihir. Orang-orang mengucilkan dia. Karena itu yang mengetahui kemampuannya hanya segelintir orang."


Jadi karena itu Lumiel tidak tahu. Yah, dari perasaannya, Meridian tahu Lumiel memandang rendah Ruben. Makanya dia tidak peduli.


"Jadi meskipun berat mengakuinya, kamu merasa dia lebih unggul darimu?"


"Aku akan mengatakan ya, karena sepertinya percuma sombong padamu."


Meridian menopang sisi kepalanya sambil menatap daging di atas piring yang belum berkurang setengah. "Lalu menurutmu, apa yang sedang coba dia lakukan?"


"Pertama, bukankah kita harus mempertanyakan lagi tujuan awalnya, Nona?"


"Apa maksudmu?"


"Bukankah keberadaanmu mengubah struktur dunia?"


Benar juga. Mengapa Meridian jadi lamban berpikir begini?


Fokus. Fokus pada masalah.


"Kamu benar." Meridian menautkan tangan di bawah dagunya. "Tujuan awal Ruben, kurasa memusnahkan penyihir atau menunjukkan kekuatannya tanpa sihir dan kekuatan suci. Tapi sekarang ...."


"Dia menguasai dunia jika mengalahkanmu."

__ADS_1


Itulah seharusnya.


"Apa itu yang mengulurnya? Karena dia menciptakan senjata baru untuk melawanku?"


"Hanya itu yang masuk akal."


"Tapi berapa banyak waktu yang dibutuhkan membuat senjata melawanku? Dia harus melakukan penelitian iblis dari awal, menculik sekian iblis untuk percobaan. Belum ada iblisku yang menghilang sampai detik ini."


Keheningan menyelimuti meja sejenak. Meridian mengeratkan jemarinya beberapa waktu, berpikir keras untuk memahami Ruben.


"Jika aku adalah Ruben, maka aku ...."


Jika Meridian melawan entitas yang luar biasa kuat hingga rasanya mustahil dilukai, maka ia akan berhenti menyerang orang itu.


Kadang-kadang, kelemahan seseorang muncul bukan pada dirinya, namun pada orang lain yang dicintai orang tersebut. Maka kalau begitu ....


"Andaru."


Dia tersentak. "Ya?"


"Ayo pergi."


"Ke mana?"


"Pengungsian."


...*...


Pada dasarnya tidak ada sesuatu yang Meridian cintai di tempat pengungsian. Siapa pun di sana Meridian tidak peduli, termasuk keluarga Marquis sendiri.


Namun jika memikirkan dari sudut pandang Ruben yang tidak tahu Meridian bukan Meridian lemah itu, tentu saja di sini adalah pusat kelemahan.


Bahkan kalau bukan, Ruben juga bisa berpikir bahwa rakyat yang berada dalam naungan adalah komoditas. Mereka punya nilai, terutama bagi penguasa. Lagipula, jika tidak ada mereka, maka apa arti kekuasaan?


Jadi Meridian merasa ada sesuatu di sini.


"Di mana Herdian?"


Dia sudah pergi lebih dulu mencari tahu, jadi mungkin saja sudah ada informasi mengingat cepatnya Herdian bekerja.


Sementara menunggu, Meridian menoleh pada Andaru. "Bisakah kamu melihat sesuatu yang tidak biasa di bawah sana?"


Andaru mengaktifkan matanya. Menelisik ke segala arah secara acak, namun menggeleng. "Setidaknya mataku tidak mendeteksi sesuatu yang asing."


Jentikan jari Meridian memunculkan sejumlah iblis bermata khusus. "Apa ada sesuatu di bawah sana?"


"Sejauh ini, tidak ada, Yang Mulia."


Apa Meridian salah paham? Tapi kalau bukan di tempat ini, lalu sisi dirinya yang mana target Ruben?


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Hanya tempat ini yang setidaknya membuatku kerepotan."


"Kenapa?"

__ADS_1


Meridian menoleh heran. "Tentu saja karena mereka rakyatmu."


...*...


__ADS_2