
Meridian sudah sangat terbiasa jika saudaranya datang ke kamar untuk mengawasi. Hanya Herdian dan Andaru yang tahu bahwa mana itu sepenuhnya dalam kendali Meridian.
Jika mereka, terutama Dion, tahu akan kemampuan Meridian, besar kemungkinan dia juga akan menganggapnya ancaman.
Sekarang pun dia masih berpikir Meridian cuma punya satu elemen, dan penjagaan yang dia lakukan sudah seketat ini.
Makanya daripada protes, Meridian diam saja.
Terserahlah. Kalau ini komik, adegan ini memang penting untuk memamerkan cogan sekaligus menunjukkan dia kakak yang Maha Peduli.
Meridian memutuskan diam-diam tidur. Sempat larut dalam pikiran tentang rumah dan kehidupannya di dunia nyata, baru setelah itu benar-benar bisa memejamkan mata.
Tapi secara tiba-tiba langkah kaki Dion mendekati tempat tidurnya.
Keheningan masih berlanjut karena Meridian diam. Ia punya firasat Dion mengulurkan tangan padanya, dan ternyata benar dia menarik selimut ke leher Meridian.
Kakak yang baik.
Mungkin dia sebenarnya juga terluka akibat perubahan Meridian.
Dia, Lucas, Raphael bahkan si Kembar sudah hidup bertahun-tahun bersama Meridian Palsu. Tentu saja bagi mereka Meridian itulah adik mereka, bukan Meridian sekarang.
"Aku berjanji akan kembali." Meridian bisa merasakan tangan Dion terhenti. "Aku hanya tinggal mengingatnya."
"...."
"Jika sihir adalah manifestasi kecerdasan, mungkin saja jika aku mengingat segalanya, sihirku juga akan menurun."
Bodoh. Tapi di dunia ini pada dasarnya wanita tidak cerdas dalam berpikir, jadi Dion pasti bisa memaklumi.
Mau Meridian pintar atau bodoh, tidak ada yang benar-benar akan berubah di mata mereka.
"Aku juga merindukan keluargaku." Meridian terpejam. Sengaja menggunakan kata keluarga agar terkesan ambigu.
Dion sangat sensitif terhadap sihir dan mana. Jadi dia akan sadar bahwa Meridian berbohong jika mengatakan 'kalian'.
"Aku ...," Dion ternyata duduk di tepi tempat tidur, "... tidak keberatan dengan dirimu yang sekarang."
Meridian menoleh. "Apa?"
"Pada akhirnya kamu Meridian." Dion hanya menatap karpet saat mengatakannya. "Kamu selalu Meridian."
Wah.
Untuk ukuran karakter tsundere versi dingin, dia bisa bicara melow juga.
Apa karena dia merindukan Meridian Palsu?
"Soal ekspedisi itu ...." Ayo alihkan pembicaraan.
Terlibat omongan emosional dengan karakter pendiam itu berbahaya. Karena jika Meridian Palsu itu kembali dan Meridian pun kembali ke dunia nyata, dia mungkin kebingungan.
"Pergilah." Dion menoleh. "Aku akan bicara pada Ayah."
Benarkah?
"Lagipula itu hanya persoalan bandit tidak penting. Mengajakmu tidak akan membebani pasukan."
Meridian tersenyum ringan.
Lumayan juga.
Klise, sih. Tapi karena dia mengabulkan permintaan Meridian, secara emosional itu menyenangkan.
__ADS_1
"Terima kasih, Kakak." Meridian kembali berbalik untuk tidur. "Aku tahu mengawasiku penting, tapi tidurlah dengan nyenyak juga. Selamat malam."
".... Ya."
Meridian merasa telapak kakinya tergelitik.
"Selamat malam juga."
Apa itu?
Perasaan senang berhubungan baik dengan kakak?
...*...
"Kamu akan pergi?"
"Ya."
"Kenapa? Apa karena kamu sekarang penyihir?"
"Ya."
"Tapi Raphael berkata kekuatan sihirmu tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Ayah dan Ibu."
"Ya."
"Hei! Kamu tidak mendengar, yah?!"
"Ya."
Meridian menghela napas, sibuk memandang secarik kertas yang dikirimkan Andaru kepadanya hari ini.
Bukan isinya yang berbahaya, sih. Di sana juga tidak tertulis perintah untuk Meridian tidak boleh beranjak ke mana-mana, apalagi mengikuti ekspedisi berbahaya.
Tapi ....
...Aku memahami bahwa kemarahanmu sedang membara padaku. Sikapku yang kurang peka mungkin menyakiti hatimu. Kupikir setelah meminta maaf, kamu akan merasa lebih baik. Ternyata aku masih harus berusaha....
...Pergilah berlibur jika itu yang kamu inginkan. Aku mempercayakan Duke Muda dan Tuan Muda Raphael menjagamu hingga kembali ke pelukanku....
...Aku minta maaf tidak bisa mengunjungimu. Sebagai wujud kasih dan kekawatiranku, aku menyiapkan kereta terbaik dan beberapa kesatria terbaikku selama perjalanan. Nikmati liburanmu....
...Begitu kembali, ayo bicarakan pernikahan kita baik-baik....
...Cintamu, Andaru....
Kalimat super duper memualkan yang dia tulis ini, jika disingkat berarti 'jadi kamu tetap melawanku setelah aku memberi peringatan? Baiklah, pergi dan lakukan apa pun. Karena setelah kembali, kita tetap akan menikah'.
Hah.
"Kembar, bakar ini."
Mereka berpandangan, tapi patuh mengambil surat itu untuk dibuang ke tungku pembakaran.
Meridian membiarkan keduanya mendekat. Mengusap-usap puncak kepala mereka sebagai apresiasi karena melayaninya secara tulus dan tidak lagi banyak bacot.
"Apa kekasihmu sekarang bukan Putra Mahkota?" Si A bertanya.
"Tapi Ibu bilang kamu dan Putra Mahkota akan menikah." Si B menyangkal.
Tidak ada yang penting, jadi Meridian diam, tetap mengusap-usap kepala mereka.
Lumayan dijadikan pengganti squishy. Bedanya squishy diremas, yang ini cukup dielus-elus.
__ADS_1
Satu sama lain dari mereka memperdebatkan apakah Meridian akan jadi calon ratu sungguhan atau tidak. Sementara itu, Meridian putar otak.
Pilihannya sekarang ada dua. Duduk diam menuruti kemauan Andaru sambil menikmati ketampanan dia, atau berulah untuk menghilangkan bosan.
Dua-duanya tidak super menguntungkan, tidak super merugikan.
Mana saja bisa ia jalani.
Lagipula fokus Meridian bukan soal mana cogan yang mau dinikahi. Ia mau kembali. Bagaimana kalau ia susah payah menikahi satu dari cogan itu lalu tiba-tiba kembali ke dunia nyata?
Itu kan baru super tolol.
Nasib Meridian Palsu ya urusan Meridian Palsu. Mau dia menikahi tokoh utama, mau dia bersama tokoh utama kedua, mau dia tidak menikah, ya itu urusan dia.
Urusan Meridian hanya tentang bangun dari mimpi super norak ini.
"Apa yang kamu lakukan?"
Meridian mengangkat pandangan pada Dion. "Kurasa tidak ada."
Dia menatap kedua bocah yang entah sejak kapan terlelap di masing-masing paha Meridian, benar-benar mirip kucing pemalas yang manja.
Bocah macam ini bukan tipe yang Meridian benci. Mereka diciptakan menggemaskan oleh Laila, jadi Meridian menikmati mengelus mereka.
Apa itu aneh lagi bagi Dion?
"Ada apa?"
Daripada soal bocah ini, kenapa Dion mengunjunginya siang-siang begini?
Litae dan Litea selalu datang ke kamarnya sebagai ganti penjagaan Dion, Lucas dan Raphael.
Meski sempat diam memandangi para bocah itu, Dion kemudian mendekat. Ternyata mengeluarkan sesuatu dari portal kecilnya, sesuatu seperti buah anggur, namun berwarna merah pekat.
Sepertinya bukan buah berry juga.
"Apa itu?"
"Buah Curb."
Nama norak macam apa itu?
"Ini berfungsi melemahkan mana. Tapi sedikit berbeda dari pengekang."
Dion menarik kursi lain, duduk tanpa menimbulkan suara apa pun yang bisa mengganggu si Kembar.
"Fungsinya hampir sama seperti racun bagi manamu. Mengonsumsinya akan membantu manamu berkurang."
"Berkurang?"
Piring buah itu diletakkan di tangan Meridian. "Sederhananya, itu melumpuhkan."
Orang ini kenapa kalau bicara singkat-singkat?
Jika Meridian tidak berusaha keras mencerna, ia pasti jadi nampak tolol. "Apa efek sampingnya?"
"Itu tergantung jumlah mana seseorang. Setelah Raphael mengonsumsinya, dia mengalami demam dua hari."
"Lalu?"
"Penyerapan mana dalam tubuhnya melambat." Dion bersedekap. "Tidak sepenuhnya memblokir manamu seperti pengekang yang Herdian lakukan, juga tidak semenyakitkan pengekang inti mana. Dia bekerja secara alami. Perlahan-lahan tapi cukup membantu."
"Tubuhku akan baik-baik saja setelah demam?"
__ADS_1
"Raphael baik-baik saja. Hanya sedikit merasa tidak nyaman karena gangguan mana. Tapi itu tidak berisiko bagi siapa pun, jadi tidak ada pilihan lain. Kamu tidak mau?"
*