
Apa yang gadis bodoh ini tahu? Segala hal yang dia lihat hanya dirinya! Dia bersembunyi, ketakutan, merengek, lalu mengatakan Meridian lahir kuat?!
"IBUKU TIDAK PERNAH MEMBERITAHUKU KENAPA LANGIT BERWARNA BIRU!"
Meridian mengguncang tubuh gadis itu penuh emosi.
"IBUKU TIDAK PERNAH BERKATA JANGAN BERSEDIH DAN SEMUA BAIK-BAIK SAJA! IBUKU WANITA MENYEBALKAN! DIA MENYEBALKAN! TIDAK PEDULI APA MASALAHKU, DIA SELALU MENYURUHKU BAIK-BAIK SAJA TANPA PERNAH MENBANTUKU! DIA SELALU BERHARAP AKU BAIK-BAIK SAJA TAPI TIDAK PERNAH MEMBERITAHUKU CARANYA! AKU BELAJAR SENDIRI! AKU MENCARINYA SENDIRI! AKU BERTANYA, AKU GAGAL, AKU BERBUAT SALAH, AKU MEMPERMALUKAN DIRIKU SENDIRI AGAR AKU MEMAHAMI DIRIKU! LALU KAMU MENYEBUTNYA APA? LAHIR SEBAGAI ORANG KUAT?!! KALAU BEGITU BERITAHU AKU KENAPA AKU MENANGISINYA SETIAP SAAT!"
Air mata Meridian berbondong-bondong keluar. Sambil terus berteriak, ia menunjuk-nunjuk udara kosong yang ia harap menjadi layar sekarang juga.
"MUNCULKAN ITU! MUNCULKAN INGATANKU! LIHAT SEMUANYA LALU KATAKAN LAGI AKU LAHIR SEBAGAI ORANG KUAT! DASAR LEMAH! MENYEBALKAN! HANYA KARENA KAMU TIDAK BERUSAHA, SEKARANG KAMU MENGHINAKU YANG BERUSAHA DENGAN BERKATA AKU TIDAK BERUSAHA?!! ORANG SEPERTIMULAH YANG MENJIJIKAN! BUKAN DION ATAU LUKAS TAPI KAMU!"
Dia hanya diam menerima kemarahan Meridian.
Namun saat Meridian melepaskan lehernya dengan maksud lebih baik mereka berpisah, lagi-lagi dia bicara.
"Kamu tidak akan kembali."
"DIAM!"
"Kamu merusaknya."
"KUBILANG DIAM!"
"Kamu merusak apa yang seharusnya terjadi." Meridian Palsu tersenyum. "Kamu tidak akan pernah kembali. Tidak akan pernah. Selamanya. Bahkan kalau kamu membunuh Dion dan Lukas, atau menghancurkan kuil, atau menikahi Yang Mulia, atau pergi bersama Lumiel, kamu akan tetap menjadi aku."
Pendengaran Meridian terasa berdenging.
"Tunjukan padaku, cara tidak berputus asa dalam situasi itu, Meridian."
Yang tersisa selanjutnya adalah lengking teriakan histeris Meridian.
*
Sakit.
Rasa sakit yang tidak masuk akal.
Meridian terbelalak meneriakkan sebuah lolongan histeris. Matanya bisa memandang cahaya berbagai jenis yang bersusun membentuk barier, namun terlalu kesakitan untuk bisa menanyakan ada apa.
Sakit.
Sakit.
Sakit.
Jantungnya seperti dikuliti sedikit demi sedikit.
Sakit.
Sampai Meridian mau mencabut jantungnya sendiri agar sakit itu hilang.
Mama. Kenapa ia harus mengalami semua hal ini ketika semuanya hanya fiksi dan ilusi? Apa yang bisa ia bawa ke dunia nyata dengan semua rasa sakit ini?
Semuanya tidak masuk akal. Semuanya tidak bersistem. Semuanya terjadi sekehendak saja. Kenapa ia harus mengalami semuanya?!
Sakit.
Sakit.
Sakit!
"Kamu tidak akan kembali."
Aku pasti kembali.
__ADS_1
"Kamu tidak akan pernah kembali."
Aku pasti kembali.
"Tidak akan pernah. Selamanya."
Aku pasti kembali.
"Kamu akan tetap menjadi aku."
AKU HARUS KEMBALI!
*
Meridian membuka kelopak matanya. Hal pertama yang bisa ia lihat adalah hamparan langit luas berwarna biru.
Di mana ini? Tubuhnya terasa lemas, tapi rasa sakitnya tak lagi seperti kemarin. Apa sudah berakhir? Atau ia sudah kembali?
"Mama?" Meridian mengulurkan tangannya ke udara dengan putus asa. Ia sungguh berharap bisa melihat wajah ibunya yang asli, siap mengomel karena Meridian tidur terlalu lama.
Ini pasti rooftop. Ayo bangun untuk mengomeli kekasihnya yang usil memindahkan Meridian ke sini.
"Nona?"
Tangan Meridian jatuh lemas.
"Nona? Nona bisa mendengar saya?"
Kenapa? Kenapa ia masih berada di sini? Kenapa ia harus menjalani ini?!
"Aku mendengarmu." Meridian berusaha bangun. "Ceritakan situasinya."
"Inti manamu hampir pecah akibat belenggu yang dipaksa terbuka." Itu suara Dion. "Kami berusaha memulihkannya dan itu memakan waktu dua belas hari."
Tiba-tiba saja memegang dadanya yang berdetak seolah merespons.
Jadi selama dua belas hari ia gila oleh rasa sakit? Dirinya berteriak selama dua belas hari karena tubuh yang bahkan bukan miliknya?
"Nona, tolong jangan bergerak terlalu banyak."
".... Terima kasih." Meridian memaksa dirinya bangun untuk berdiri. "Lupakan soal itu. Aku ingin tahu mengenai kuil dan Ruben. Juga, di mana Lumiel?"
Lesatan merah terang berhenti di sampingnya. "Mencariku, Wanitaku?"
"Di mana Yang Mulia?"
"Yang Mulia sedang mempersiapkan pasukan." Lukas muncul namun duduk di atas pohon, melahap sebutir apel. "Perang sebentar lagi terjadi."
"Lebih tepatnya, itu seharusnya terjadi." Herdian mengulurkan segelas air pada Meridian. "Minumlah, Nona."
Meridian menerimanya. Dua belas hari seharusnya manusia sudah mati jika tidak makan dan minum. Namun ini novel jadi aturan tidak berlaku.
"Apa maksudmu seharusnya terjadi? Kuil belum menyerang?"
"Itu yang sedang kami cari tahu." Dion menjawab.
"Apa maksudnya?"
"Entah kenapa selama berhari-hari tidak ada satupun berita mengenai kekuatan sihirmu." Lumiel menerangkan, sementara Dion mengeluarkan beberapa jenis buah dari dimensinya.
Karena Lumiel tidak bilang jangan makan, Meridian memakannya tanpa komentar. "Jadi maksudmu kuil merahasiakannya untuk sementara waktu?"
"Ya, Nona."
"Itu aneh. Satu-satunya alasan mereka menutupinya adalah karena mereka lebih diuntungkan saat menutupinya."
__ADS_1
"Begitulah." Lumiel mengambil sebutir buah di depan Meridian dan ikut memakannya. "Tapi kurasa ada konflik internal yang terjadi dalam kelompok mereka sendiri. Kamu ingat Ruben? Normalnya, orang seperti dia tidak akan mungkin sukarela bekerja sama dengan kuil. Aku lebih percaya Ruben dimanipulasi oleh kuil daripada dia secara sadar bekerja untuk mereka."
"Apa menurutmu ada kemungkinan Ruben tidak memberitahu kuil?"
"Tapi pendeta bersamanya."
Meridian menjentikkan jari, agak spontan sebenarnya memikirkan kursi, tapi sungguhan tercipta kursi dari es yang bisa ia duduki.
Diabaikan saja muka kaget mereka, Meridian fokus pada masalah. "Aku menyuruh Yang Mulia membunuh semua pendeta kecuali pendeta satu itu. Siapa namanya? Michel?"
"Marcel, Nona."
"Ya, siapa pun dia. Aku rasa tidak terlalu aneh jika Michel—maksudku, Marcel bekerja sama secara rahasia dengan Ruben. Untuk membenarkannya, diperlukan jawaban dari pertanyaan 'apa untungnya bagi pendeta melawan kerajaan suci?'."
"Kurasa itu untuk senjata yang disimpan di istana kerajaan mereka."
"Maksudmu senjata pemusnah iblis dan chimera?"
Lumiel berkacak pinggang sebelah. "Sebenarnya senjata itu sudah tidak berguna sekarang. Mereka hanya membesar-besarkannya dengan membawa legenda agar kerajaan suci tetap dipandang memiliki kekuatan. Tapi, senjata itu akan terbangkitkan dengan sejumlah rangsangan."
"Maksudmu chimera?"
"Kekuatan sihir yang melampaui batas."
Itu kan Meridian.
"Itu jadi terdengar masuk akal." Herdian memegang dagunya dan berpikir serius. "Saya dengar benda itu hanya bisa digunakan oleh orang yang memiliki kekuatan suci, Nona, jadi bisa saja itu tujuan pendeta Marcel. Raja mereka yang sekarang juga memiliki kekuatan suci, namun jika mereka merahasiakan kekuatan Nona, maka bisa dibilang senjata itu tidak berguna sama sekali."
Karakter Ruben itu dibuat lebih baik dari dugaan Meridian.
Hmmmmm.
"Dengan kata lain dia mengincarku? Tapi, dia baru mengetahui keberadaanku beberapa waktu lalu."
"Perebutan dungeon sebelumnya bisa jadi untuk hal itu." Lumiel menunduk pada Meridian. Dia santai saja bersandar pada kursi esnya yang lebih bisa disebut kursi raja. "Ruben dan pendeta siapa pun dia itu mungkin saja memang sudah berencana membuat penyihir luar biasa sebagai rangsangan bagi senjata di kerajaan suci. Seorang pendeta, apalagi pendeta tinggi, bebas mengabaikan beberapa orang penyihir agar mereka tumbuh melewati batasan kuil."
"Bukankah kekuatan suci akan hilang jika seorang pendeta mengabaikan keburukan?"
"Itu propaganda yang diciptakan kuil," balas Lumiel. "Jika semua orang percaya kekuatan suci adalah sesuatu yang naik dan turun sesuai kebaikan orang itu, maka manusia akan yakin bahwa kuil adalah wakil dari Tuhan."
"Tidak mengejutkan."
"Kekuatan suci berbeda dari sihir, namun sama seperti sihir, itu bergantung pada diri mereka sendiri. Penyihir memiliki mana, mereka yang memiliki kekuatan suci memiliki 'mana' sendiri. Walaupun mereka tidak menyebutnya demikian. Kurasa, jika ada yang berbeda, itu hanya ... kekuatan suci tidak dilatih. Itu bertambah seiring keinginan dewa dan pertumbuhan orang itu sendiri. Berbeda dari penyihir yang melatih mananya."
Propaganda, kah? Maka itu memang bisa dicerna. Ideologi memang sering dijadikan senjata politik menguasai massa.
"Kalau begitu, apa perlu menyiapkan peperangan?"
"Tentu saja, Bodoh." Lukas mendengkus. "Bahkan kalau benar pendeta sinting itu bersekutu dengan pangeran pengecut, jika mereka mulai menyerangmu, perlahan orang akan tahu. Kuil pasti akan bergerak juga memburumu."
"Jadi maksudnya aku punya dua musuh padahal aku sedikitpun tidak peduli dengan masib mereka?" Meridian memijat kepalanya yang mendadak sakit.
Apa harus ia sakit kepala setelah menderita dua belas hari terbelah-belah?
"Tapi sebelum itu, ada dua hal yang ingin kutanyakan."
"Apa?"
"Apa, Nona?"
Kompak amat. Mereka ini grup band atau apa?
"Satu, ini di mana? Dua, kenapa kalian berkumpul di sini sementara Yang Mulia bersiap perang?"
*
__ADS_1