Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
46 - tokoh utama overpower


__ADS_3

Ternyata Andaru benar. Begitu mereka menuruni lantai enam ke lantai tujuh, Meridian sudah bisa merasakan kepekatan mana di udara.


Itu perasaan yang asing baginya. Terasa seperti sesuatu menggeliat di kulit, lembut tapi menjijikan.


Ya, seperti ulat.


Meridian langsung jadi kesal dibuatnya. Apalagi setelah melihat yang menyambut mereka adalah monster kelabang.


Kali ini, Meridian akam serius.


Ia menjentikkan jari secara spontan, hanya berpikir agar kelabang itu hilang bersama mana-mana-nya sekalian. Tapi yang mengejutkan, itu sungguhan hilang. Terbakar hangus dalam sekejap mata oleh api hitam pekat, menghilangkan seluruh perasaan geli di tubuhnya.


Andaru hanya terbengong.


"Yang Mulia?"


Mata Andaru tiba-tiba berubah. Dia mengobservasi sekitaran sebelum fokus mengamati Meridian.


"Kurasa aku benar-benar harus menjagamu di sisiku, Nona. Kamu bukan hanya membakar monster tapi melahap mana yang tersisa. Ini kemampuan yang berbahaya."


Meridian mengerutkan kening. "Apa Anda akan menjadikan saya senjata andalan?"


"Itu akan menarik, namun sayangnya akan sulit."


Mata Andaru berganti. Dia mendarat di permukaan tanah yang kering padahal sebelumnya itu bersalju.


"Sihirmu memang luar biasa. Sebagai gantinya, penggunaan manamu benar-benar buruk. Seperenam dari sihirmu langsung terkuras habis. Api tadi terlalu kuat untuk lawan selemah itu."


Oho, beginikah rasanya jadi orang yang terlalu kuat sampai-sampai harus berusaha menahan diri?


Sensasinya enak juga.


"Apa seperti ini?" Meridian menjentikkan jari, memunculkan bola api kecil yang berwarna biru pekat.


Ia juga baru sadar. Warna apinya tadi benar-benar sudah hitam. Sekarang warna birunya masih terlihat.


Jadi semakin hitam maka semakin kuat?


"Tidak. Masih bisa lebih rendah."


Meridian menjentikkan jari, kali ini untuk sejumlah bola api berbeda warna. Dari sebelah kanan ke kiri, warna dan kepekatannya semakin memudar.


Ternyata Andaru memilih api yang warna birunya lebih cerah. Mungkin itu sekitar satu per empat dari kekuatan tadi.


"Api biru lebih kuat dari api biasa. Apimu yang paling lemah sudah cukup digunakan membakar monster."


Meridian menghilangkan seluruh api itu.


Kalau begitu ia akan menggunakan elemenya yang lain saja.


"Bukan itu yang penting." Andaru mengamatinya tanpa mata reptil itu. "Keberadaanmu mulai berbahaya, Nona. Jika seseorang tahu, mereka tidak punya pilihan selain menganggapmu ancaman dunia."


"Anda tidak?"


"Sejujurnya aku sedikit berpikir juga." Jarang-jarang dia menjawab serius. "Aku bisa mengetahui dari bagaimana caranya menggunakannya. Kamu memang tidak mengetahui dasar apa pun mengenai sihir. Sejauh ini, itulah yang membuatku berpikir kamu tidak berbahaya. Tapi ...."


"Pengekang sihir Herdian terpecah dan racun mana pemberian Dion tidak berguna." Meridian menatap tangannya sendiri. "Saya terlalu berbahaya bagi dunia yang ingin perdamaian."


"Sepertinya kamu mengerti."

__ADS_1


Meridian bisa yakin kalau alasan kenapa Meridian ini bisa punya lonjakan mana besar itu karena jiwanya.


Hal yang meyakinkan Meridian bahwa memang seharusnya ia tidak berada di dunia ini, mengacaukan apa yang setidaknya sudah ditetapkan Laila.


Meski emosi si Palsu yang memicu mananya liar, dia tidak melakukan itu saat dia jadi Meridian.


Berarti, dia tidak bisa.


Ini menyebalkan. Rasanya Meridian yang bersalah padahal ia tidak melakukan apa-apa selain tiba-tiba terbangun dan membenci seluruh isi dunia palsu ini.


Apa sekarang kamu puas?


Ia sudah malas sebenarnya bicara pada si Cengeng.


Lihat. Kamu ketakutan, lalu membiarkan manaku tidak terkendali. Sekarang Andaru yang ingin kamu jadikan tameng juga berpikir kamu berbahaya. Sudah puas?


Dia diam saja.


Dasar bocah.


"Ayo turun ke lantai bawah, Nona."


Untuk sekarang, Meridian akan melakukan apa yang bisa ia lakukan.


Tentu saja bukan untuk membantu si Cengeng.


*


Monster di lantai selanjutnya tidak langsung menyerang seperti ular dan kelabang tadi. Dari pijakan di tebing sarang, Meridian dan Andaru mengamati wujud beruang raksasa berkulit cokelat yang tengah tertidur itu.


Dia tidak menunjukkan tanda-tanda terganggu akan mana Meridian, tapi perasaan mana di udara terasa lebih pekat.


"Apa monster itu memiliki kecerdasan, Yang Mulia?"


Andaru menghela napas. "Aku sangat ingin tahu sebenarnya mengapa orang lupa ingatan justru memiliki kecerdasan lebih tinggi setelah hilang ingatan."


Apa boleh buat. Meridian tak tahu cara bersikap polos sementara ia harus tahu apa yang ia hadapi.


"Lalu, haruskah saya langsung menyerang?"


"Karena ini pelatihan bagimu, jangan mengarahkan kekuatan sekaligus. Cobalah mengarahkan ke kaki atau lengannya dulu."


Meridian menjentikkan jari. Kali ini ia putuskan menggunakan angin, diarahkan ke kaki beruang cokelat itu untuk menciptakan sayatan tajam.


Lagi-lagi terlalu kuat.


"Ini pertama kali aku melihat kekuatan angin melebihi Herdian." Andaru mengamatinya lekat-lekat.


Tampaknya dia ingin menganalisis lebih jauh jumlah kekuatan pasti Meridian dan sejauh apa ia bisa mengendalikan, terutama mananya.


Meridian sudah tahu mengendalikan sihir. Kata Herdian itu bakat alami Meridian—walau sebenarnya karena Meridian hanya familier terhadap struktur sihir di dunia fantasi—tapi Meridian payah dalam mengendalikan penggunaan mana.


Seperti kata Andaru, sihirnya yang terlalu kuat memakan terlalu banyak mana.


"Tetaplah di sini." Andaru melesat turun ketika beruang itu mengamuk. "Arahkan sihirmu seperti tadi, Nona. Aku akan melihat penggunaan manamu nanti. Cukup gunakan seperdua dari mana yang kamu gunakan di lantai sebelumnya, dan bagi menjadi beberapa serangan. Kamu mengerti?"


Cukup mengerti.


Meridian menjentikkan jari sekali lagi untuk menyerah mata beruang itu. Sementara Andaru ikut menebas secara acak sebagai pengalihan, Meridian berulang kali memberi serangan kecil yang efektif.

__ADS_1


Mudah.


Terlalu mudah.


Tinggal jentikkan jari, sihir muncul, musuh berteriak.


Rasanya jadi membosankan.


Meridian menghela napas. Melihat bagaimana beruang itu merintih dengan tubuh penuh bekas tebasan angin dan pedang.


Entah kenapa Meridian jadi ingin melakukan sesuatu.


Secara insting ia mengarahkan kedua telapak tanganya ke arah sana, berpikir menggunakan sihir air.


Aku tidak tahu bagaimana cara menggunakan sihir tapi coba perlihatkan sesuatu yang setidaknya menghiburku.


Sesuatu tiba-tiba meluncur dari telapak tangannya, melesat sangat cepat ke arah beruang. Semua terjadi dalam sekejap mata ketika tiba-tiba beruang itu membeku, lalu pecah menjadi bulir-bulir salju di udara.


Andaru mendongak tak percaya. Setidakpercaya Meridian melihat tangannya yang baru saja mengeluarkan sihir itu.


Demi Tuhan, mau sejauh apa sebenarnya tubuh ini OP?


Sudah punya air, api, angin, sekarang es juga?


Jangan bilang selanjutnya petir?!


*


Meridian memutuskan mencoba semua elemen yang ia bisa begitu mereka turun ke lantai bawah. Sepertinya Andaru juga berpikir itu ide bagus mengetahui apa saja yang tersembunyi dibalik mana luar biasa itu, jadi dia mencover Meridian dari serangan balik, membiarkannya fokus untuk mengeluarkan sihir.


Ayo coba sihir petir.


Dalam kepala Meridian, ia membayangkan Rimuru Tempest mengeluarkan petir hitam sebagai salah satu skill-nya. Dan kini hanya Andaru yang terkejut begitu sesuatu bergemuruh sebelum menyerang laba-laba ganas di bawah sana.


Tapi, dia tidak mati.


Meridian mengikuti instruksi Andaru sebelumnya agar menahan penggunaan mana terlalu banyak, fokus dulu mengeluarkan apa saja yang ia bisa.


Setelah tahu ia punya sihir petir, Meridian berpikir mengeluarkan sihir tanah.


Ternyata tetap tidak bisa.


Sekarang ia sudah paham bahwa kecocokan elemen memang penting.


Kalau begitu .... "Saya akan coba menyegelnya."


Meridian mengarahkan tangannya, agak sulit menggunakan jentikan pada hal yang sekuat ini.


Pikirannya cuma membayangkan struktur sebuah sihir penyegel, sihir seperti milik Dion, Raphael dan Raven.


Dan itu sungguhan muncul. Sebuah lingkaran sihir yang bahkan melampui rumit mata Andaru nampak, bergerak-gerak seperti seekor ular yang melilit mangsanya sebelum sebuah lingkaran lain menbentuk bola besar penyegel.


Ternyata berhasil.


"Nona, bagaimana bisa—"


"Yang Mulia." Meridian mengulurkan tangan agar Andaru memeluknya. "Ayo kembali. Saya lelah."


Mungkin dia sendiri bisa merasakan bahwa mana Meridian sedang menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


*


__ADS_2