Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
47 - rasa muak


__ADS_3

Mood Meridian sedang sangat buruk.


Begitu kembali ke tenda di mana semua orang menunggu, ia cuma ingin masuk ke tempat tidur lalu menyuruh semua orang pergi darinya.


Ia tak peduli apa seseorang masih mengawasinya, tapi Meridian berbaring, menutup wajah dari cahaya sambil diam-diam terisak.


"Meow."


"Jangan menggangguku." Meridian sungguhan tak bisa mengendalikan perasaannya.


Ia terisak-isak seperti anak kecil. Berusaha keras menahan tangannya agar tidak mencakar wajah sendiri.


Mulutnya pun diam. Takut jika ia sudah terlalu gila untuk minta dibunuh saja atau pergi ke kuil agar dieksekusi secara terhormat.


Menjijikan.


Kenapa ia harus hidup di tubuh yang tidak tahu berusaha namun bisa segalanya ini?


Apa? Ini hadiah dari dewa setelah dia tersiksa bertahun-tahun?


Meridian juga punya penderitaan di dunia nyata. Membuat sesak napas dan sulit untuk berpikir positif bahwa semuanya bisa selesai.


Tapi untuk keluar dari fase itu, berbulan-bulan ia cuma bergumam 'aku bisa, pasti bisa, pasti selesai, pasti beres' untuk menghilangkan perasaan negatif dalam dirinya dulu.


Setelah berbulan-bulan itu ia baru merangkak, sedikit demi sedikit, demi Tuhan, tertatih-tatih agar ia hidup nyaman dalam perasaan tenang dan senang.


Lalu tubuh ini, cuma karena dia menderita bertahun-tahun, dia berpikir negatif setiap saat, tapi Tuhan begitu sayang padanya sampai punya segala hal?!


Kenapa ia harus hidup di tubuh menjijikan ini?!


Meridian ingin kembali.


Ke dunia di mana ia tidak punya mata kristal, namun ia bisa tersenyum lebar menjalani hidupnya.


Meridian ingin kembali ke dunia di mana rambutnya hitam, namun orang-orang menghargai effort-nya sedikit demi sedikit secara normal.


Meridian ingin kembali, ke dunia di mana ia mendapatkan segalanya dengan usaha, bukan dengan manangis dikasihani oleh dewa palsu.


Kenapa ia harus hidup di tempat menjijikan ini?


Bawa saja orang lain yang menganggap dunia ini menyenangkan.


"Nona." Raven menjilati air matanya meski Meridian terus menangis deras. "Apa yang harus kulakukan agar kamu tidak bersedih?"


Bahkan orang ini berubah dari penjahat menjadi sekutu karena Meridian tokoh utama. Mau berapa kali pun ia melihat, segalanya cuma jadi mudah karena Meridian tokoh utama.


Menjijikan.


Menjijikan.


Menjijikan.


Menjijikan.


Menjijikan!


"Aaaakhhhhh!" Meridian tidak mau menahannya.


Biar saja.

__ADS_1


Biar saja ia mengamuk.


Tubuh ini milik tokoh utama.


Mau ia menghancurkan dunia pun itu terserah dirinya.


"Menyebalkan! Menyebalkan! Menyebalkan!"


"Nona—"


"AAAKKKHHHH! AKU MEMBENCIMU, DASAR PALSU!" Meridian membiarkan rasionalitasnya hilang.


Ia menarik seprei dari tempat tidur, membuangnya ke lantai lalu menginjak-injaknya seperti orang gila.


Meja di dekat kasur ia balik, gelas dan piring di atasnya pecah, bantal-bantal robek, berserakan di lantai mengikuti kemarahan Meridian.


Segalanya ia hancurkan.


Segalanya ia pecahkan.


Dan begitu semua hal sudah berantakan, Meridian berlutut. Menutup wajahnya untuk menangis lebih keras.


Tidak bisakah ia kembali?


Tidak bisakan ia pulang ke rumahnya sendiri?


Semua pria sudah menyukai Meridian ini. Kenapa masih belum ada sesuatu yang berubah?


Apa harus Meridian membakar Dion dulu? Atau membakar Lukas juga?


Jika setelah itu apa ia bisa kembali?


"Hei." Raven tiba-tiba mendarat ke pundaknya. Melakukan sesuatu entah apa yang membuat Meridian lemas tanpa alasan. "Tenanglah, Nona. Aku tahu kamu sedang marah. Tidak apa. Menangislah."


KALAU MERIDIAN TOKOH UTAMA JUGA KENAPA TANGISANNYA TIDAK MEMBUAHKAN HASIL SEPERTI TANGISAN SI LEMAH ITU?!


"Hiks." Meridian tak peduli meski sekarang ia menjatuhkan keningnya ke lantai. "Aku membencinya. Aku membencinya. Aku membencinya."


Entah berapa lama, Meridian cuma menggumamkan itu sebelum semua menjadi gelap gulita.


*


Ini pertama kali Meridian merasakan sakit sungguhan di dunia ini. Bangun-bangun setelah itu, ia bisa merasakan suhu tubuhnya naik, kesulitan bernapas oleh flu.


Tenggorokannya terasa kering, tapi Meridian kesulitan hanya untuk mengeluarkan suara.


Hal pertama yang bisa ia rasakan adalah jilatan Raven di pipinya.


"Meow."


Meridian memaksakan diri membuka mata. "Aku haus."


Sosok Lukas tiba-tiba muncul di samping tempat tidur. Dia memegang segelas air, bantu mendudukkan Meridian untuknya bisa meneguk air putih tersebut.


Tak tahu kenapa, Meridian merasa terlalu lemah sampai ia tersendak.


Matanya basah sebagai respons dari sakit tenggorokannya terbatuk. Napasnya berembus tak beraturan. Merasa dingin juga merasa panas sampai ia pikir seluruh ketenangan hidupnya telah dicabut.


Kenapa ia harus mengalami ini untuk orang lain?

__ADS_1


"Meridian." Lukas mengusap sejumlah air yang jatuh membasahi pakaian Meridian. "Hei, kamu mendengarku?"


Meridian mengerang tanpa sadar. "Tubuhku terbakar." Suaranya pun nyaris hilang. "Kepalaku sakit, Kakak."


"Semua baik-baik saja. Jangan khawatir."


Tapi itu menyakitkan dan Meridian merasa akan gila setiap kali ia berpikir ini semua harusnya dirasakan oleh si Palsu, bukan dirinya.


"Gunakan ini."


Suara itu ....


Meski nyaris tak bisa berpikir lagi, Meridian tetap membuka mata untuk sosok pria berambut gelap seperti Lukas, berdiri mengulurkan cangklong padanya.


Tidak ada amukan. Tidak ada teriakan histeris di kepala Meridian. Ia tak tahu kenapa, tapi itu bagus.


Susah payah ia mengisap udara dingin dari cangklong, merasa merasa itu lebih baik walau tidak semuanya.


"Dion." Meridian mengulurkan tangan. Bergetar lemah sampai Dion ragu-ragu menyentuh tangannya, ikut duduk di tepi kasur Meridian berbaring. "Sakit."


"Aku tahu." Dion mengusap punggung tangannya lembut. "Yang Mulia menyegel inti manamu. Itu akan terasa sangat menyakitkan seiring waktu."


Jadi ini bukan demam karena flu?


Herdian dan Lukas memang pernah bilang menyegel inti mana berbeda dari penyegelan mana dari luar.


Rasanya menyiksa. Seperti tiba-tiba dimasukkan dalam ruangan sempit di mana kalian bahkan tidak bisa menggerakan tangan.


Tubuhnya terbakar, sakit di mana-mana.


Tapi mungkin itu lebih baik.


Sekarang ia tak perlu khawatir seseorang terhempas karenanya.


Jika penyegelan inti mana juga hancur saking kuatnya mana Meridian, maka ia akan pergi ke kuil untuk menyerahkan diri.


Meridian serius.


"Tinggalkan aku." Meridian menatap Lukas sambil terengah-engah. "Pergilah dulu. Ada yang ingin kubicarakan dengan Dion."


Lukas mengangguk patuh. Mungkin dia sudah tak bisa bersembunyi dibalik sikap tsundere saat Meridian sekarat begini. "Aku akan datang membawa makanan nanti."


Begitu dia menghilang, Meridian menjatuhkan tatapannya pada Dion.


Dia.


Gara-gara dia, Meridian tersiksa.


Gara-gara dia, Meridian harus menanggungnya.


Tapi Meridian tak akan menyalahkannya.


Karena yang berbuat salah pada Meridian adalah si Palsu itu.


"Aku merindukanmu, Kakak." Meridian memaksa tubuhnya bangun. Meraih wajah Dion yang mematung terkejut untuk lebih dekat padaku. "Aku merindukanmu. Aku merindukanmu. Aku merindukanmu, Dion."


Dia ketakutan pada Dion?


Maka seperti Meridian yang harus tersiksa ingin kembali namun tidak pernah kembali, maka dia pun harus tersiksa menahan ketakutannya melihat Dion.

__ADS_1


Semua penyiksaan yang Meridian rasakan hanya karena dia ketakutan dan dilindungi oleh semesta, akan ia kembalikan sampai-sampai dia gila.


*


__ADS_2