Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
35 - penjahat tampan


__ADS_3

"Meridian."


Sebuah mantel tebal mendarat di bahunya, disusul uap panas dari pernapasan Raphael yang nampak jelas akibat udara dingin.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Hanya mengamati. Ini pertama kali aku di medan perang."


"Kamu takut?"


Setelah lama mengenalnya, Meridian tahu Raphael itu suka diam-diam lemah padahal tahu segalanya.


Dia juga melakukan hal sama seperti Herdian, mengalirkan sihir tipis ke sekitar Meridian untuk mengamati kondisi mananya di mana dia tahu apakah ia berbohong, gelisah, takut, marah atau senang.


"Tidak juga." Meridian tidak bisa berpura-pura jadi adik dia yang lemah. "Aku hanya berpikir apa aku akan melihat sihir. Maksudku, di pasukan mereka juga ada penyihir hebat, kan?"


".... Entahlah. Yang Mulia memintaku datang untuk menyelidikinya."


Jadi ada. "Kakak, apa keberadaan dungeon memang seberharga itu? Maksudku, apa yang menarik dari dungeon?"


Raphael terdiam sejenak.


Sebelum dia tersenyum, mengusap puncak kepala Meridian. "Sebenarnya, keberadaan dungeon di sebuah negara menunjukkan seberapa besar potensi negara itu diserang oleh monster. Tapi, disamping itu, keberadaan dungeon juga menandakan seberapa besar kualitas penyihir di negara tersebut. Kekaisaran kita termasuk salah satu yang memiliki dungeon terbanyak, yang berarti kualitas penyihir di Kekaisaran lebih unggul dari negara-negara kecil lain. Sering terjadi kecemburuan dan keserakahan. Negara-negara lain tidak senang dengan kejayaan Kekaisaran kita, dan menganggap bahwa kekuatan yang terlalu besar akan membawa bencana."


Uwwah, membosankan.


Tapi pola itu dilakukan di semua kehidupan, sih. Itu juga yang terjadi di dunia nyata. Bedanya, mereka lebih banyak memperebutkan sumber daya alam.


"Apa hanya untuk sihir?"


"Selain mendapat banyak batu mana dan menjadikan monster sebagai produk tertentu, negara yang menguasai dungeon bisa meraup keuntungan besar dari petualang."


"Begitu." Meridian sekarang mengerti harga dari sebuah dungeon memang seperti sumber daya alam di dunia nyata. Pertanyaannya, apa strategi mereka merebut dungeon ini?


Jangan bilang mereka cuma adu kekuatan?


...*...


Ternyata adu kekuatan.


Hah.


Meridian menghela napas panjang, sudah terlalu lelah untuk berkomentar.


Sudahlah. Kalau meteor jatuh dari langit dan berubah jadi cogan pun terserah sajalah.


Apalah arti logika di dunia yang dibuat Laila.


Tidak usah dipedulikan.


"Kamu sudah bangun, Nona?"


Meridian menghela napas sebelum ia menatap ke arah pria berambut hitam pekat, bermata hitam pekat yang kini duduk di kursi kayu reot sambil memamerkan pisau tajam tapi buluk.


Siapakah dia?


Dialah penculik.


Bagaimana dia menculik?


Dengan adanya gaya gravitasi bumi.


Bajunya usang. Rambutnya tampak kasar. Tangannya juga terlihat tidak habis dicuci berhari-hari. Tapi wajahnya tampan, tanpa jerawat atau pori-pori.


Jadi dia tokoh novel juga.

__ADS_1


Hadeh.


Apa ini? Dia antagonis lain yang membahayakan tokoh utama agar tokoh utama pria bisa beraksi dan tampil keren?


Tapi Andaru kan tidak di sini. Atau mungkin yang beraksi adalah Herdian mengingat dialah tokoh utama kedua?


Meridian menghela napas lagi. Putus asa sebenarnya saking ampas jalan hidup si Meridian.


Dia menjengkelkan sih tapi kasihan juga. Hidup di dunia tanpa logika begini.


Apa?


Meridian harus cerita bagaimana ia diculik?


Baiklah, baiklah.


Jadi, dahulu kala, tepatnya beberapa puluh ribu detik yang lalu, Meridian bersantai di tenda. Herdian dan Raphael sedang berdiskusi di tenda utama, karena utusan dari negara tetangga akan tiba sekitar esok hari—which is hari ini.


Lalu, Meridian yang bosan pun ingin duduk di bawah salju. Tubuhnya yang panas lebih mendingan berada di bawah salju, jadi Meridian bahkan bisa tidur dengan kain tipis di bawah salju.


Kemudian tiba-tiba, entah datang dari mana, sebuah ledakan mengelilingi Meridian.


Yohannes terhempas jauh sekali sampai Meridian takut dia mati. Namun sebelum ia bisa memastikan, Meridian merasa tubuhnya diikat.


Bersamaan dengan ia melihat Lucas berteriak, Meridian tak sadarkan diri.


Dan tada!


Here she goes.


Meridian tidak takut. Orang ini tampan, jadi pasti khayalan Laila lagi. Mau dia penjahat sekeji apa pun yang bisa memutilasi orang, dia tidak akan melukai tokoh utama wanita.


Mungkin dia akan jatuh cinta.


Kepalanya cuma berdenyut sakit.


"Kamu mengabaikanku? Berani juga."


Meridian menguap. "Maafkan aju, Tuan Penjahat. Tapi bisakah aku mendapatkan cangklongku saja? Tubuhku panas tanpa itu."


"Maksudmu ini?" Dia mengeluarkan mana hitam pekat yang menerbangkan cangklong Meridian. "Beri aku alasan kenapa harus kuberikan pada tawananku."


"Karena aku ingin?" Meridian membuat wajah polos. "Apa tidak boleh, Tuan Penjahat?"


Dia tertawa.


Dasar klise.


Di sana klise, di sini klise. Di mana-mana mata Meridian sakit melihat hal klise.


"Aku akan memberikannya jika kamu menjawab pertanyaanku, Nona."


"Ajukan."


".... Kamu benar-benar tidak takut." Dia menggeser kursinya lebih dekat pada Meridian. "Siapa namamu?"


"Kamu menculikku tanpa tahu namaku?"


"Aku menculik sesuai instingku."


"Wah, instingmu pasti hebat." Meridian benar-benar terkesan. "Tapi bicara soal itu, ini jadi menyebalkan. Aku tidak mau disebut beban oleh pasukan. Hei, bisakan kamu menghubungi mereka?"


"Kamu bodoh?"


"Siapa tahu bisa." Meridian mengangkat bahu acuh tak acuh. "Atau setidaknya biarkan mereka tahu aku baik-baik saja. Aku benar-benar tidak mau menjadi beban."

__ADS_1


Si Penjahat tertawa manis. "Aku menculikmu agar mereka merasa terbebani. Mengapa harus kulakukan?"


"Cih."


"Cih?"


"Namaku Meridian." Meridian menjawab malas-malasan. "Meridian La-El—intinya Meridian. Aku putri Marquis. Adik penyihir Raphael." Nama lengkap Raphael siapa, yah?


"Pantas saja kamu memujiku." Dia tertawa lagi. "Putri Marquis. Aku pasti tidak percaya jika matamu tidak berwarna safir. Kamu sangat berani, Nona."


"Aku hanya tidak suka bertindak bodoh. Lalu, apa cangklong itu boleh kuisap sekarang? Tubuhku panas."


Udara di sini masih dingin, berarti mereka mungkin berada di dungeon. Namun karena tidak bersalju lebat, Meridian masih kepanasan.


"Baiklah." Dia benar-benar menyerahkan cangklongnya.


Tak hanya itu, dia melepaskan ikatan di tubuh Meridian kecuali ikatan di kakinya.


"Aku tidak pernah tahu jika putri Marquis bisa menggunakan sihir."


"Aku juga baru tahu." Meridian bernapas lega. "Sihirku baru bangkit beberapa waktu lalu."


"Benarkah? Dengan jumlah manamu?"


"Kamu melihatnya?"


"Kemampuanku."


"Kemampuan?"


Pria tampan itu mengamatinya lamat-lamat. Sangat amat lama hingga Meridian jadi bingung dan terganggu.


"Kalian manusia mudah terbaca bagi bangsa iblis."


".... Kamu iblis?"


"Nona terkejut?"


Kakakku iblis, adalah apa yang hampir ia ucapkan. Tapi Meridian ingat bahwa itu rahasia. "Kamu pasti tidak dekat dengan banyak wanita."


"Apa maksudnya?"


"Para wanita memiliki kecenderungan berani meski mereka lemah secara fisik."


Bohong, sih. Meridian cuma asal bicara.


"Jadi begitu. Aku belajar darimu."


Dia ini tipe penjahat yang saking jahatnya tidak disukai wanita, kah? Meridian lebih suka penjahat yang punya banyak wanita.


Yang polos-polos kasih anak ingusan saja.


Lagipula mana ada penjahat berbudi. Dia bisa membunuh masa tidak bisa jadi playboy. Cemen kali.


"Tapi yang kutahu seseorang tidak boleh memiliki kekuatan sihir sebanyak dirimu, Nona."


"Aku murtad." Meridian mengisap dalam-dalam udara dingin lagi. "Aku kecewa pada Dewa yang mengabaikan doaku, jadi aku murtad. Aku tidak sudi ke kuil lagi seumur hidupku."


Si Penjahat tergelak. "Sepertinya aku menculik orang yang lebih menarik dari dugaanku."


"Tentu." Meridian diam-diam mengamatinya. "Lalu? Apa yang akan kamu lakukan setelah ini? Menjadikanku sandera agar dungeon ini bisa dikuasai?"


"Mengapa aku harus memberitahu sandra?"


...*...

__ADS_1


__ADS_2