
Ketika Meridian membuka matanya kembali, ia dan Andaru sudah berada di depan pintu gua.
Butuh waktu untuk Meridian sadar bahwa itu bukan gua di suatu tempat jauh atau gua di atas pegunungan tertentu, namun pintu gua menuju dungeon yang kemarin diperebutkan oleh pasukan.
Andaru menggendongnya seraya berjalan masuk. Melewati sesuatu yang bagi Meridian terasa seperti bantalan kapas sebelum tiba-tiba dunia berganti menjadi gurun bersalju lebat.
Untuk pertama kali, Meridian merasakan sesuatu yang disebut membeku karena salju.
"Yang Mulia."
Andaru menunduk. Memeluknya lebih erat dan bergerak sangat cepat entah ke mana.
Kelopak mata Meridian terpejam lelah. Dibiarkan saja si Pangeran membawanya, sampai mereka tiba di bawah sebuah pohon raksasa.
Langsung saja Andaru meletakkannya di sana, melepas luaran jubah yang dia kenakanan untuk dipakaian ke tubuh Meridian.
"Dungeon adalah tempat yang dikelilingi oleh mana. Di sini energi sihirmu tidak akan melukai siapa pun."
Efek sihir Dion menghilang, kah? Apa mungkin mana yang dia letakkan juga sudah hilang?
"Sekarang, kurasa kita bisa berbincang lebih terbuka, Nonaku." Andaru menggenggam tangannya yang sedingin es. "Apa ingatanmu sudah kembali?"
Meridian menggeleng.
Sekarang Meridian mengerti kenapa si Palsu itu mau menikahi Andaru, bahkan memohon agar pernikahan mereka disegerakan.
Dia ingin kabur dari Dion dan Lucas.
Namun Meridian masih belum benar-benar yakin apa sebenarnya yang Dion lakukan sampai Meridian Palsu trauma.
Kecuali Raven, tidak ada yang tahu mengenai buah merah rekomendasi Dion itu. Meridian Palsu hanya memiliki sedikit energi sihir tidak berarti, yang menandakan kecerdasannya pun hanya sedikit, seukuran wanita bangsawan pada umumnya.
"Lalu apa yang sedang kamu sembunyikan, Nonaku?"
Meridian tidak terkejut dia setidaknya merasa begitu.
Apa ia ikuti saja kemauan si Bodoh itu agar semua omong kosong ini berakhir?
Menikahi Andaru mungkin tidak sesulit itu. Ia tinggal berkata baiklah, lalu mereka menikah, lalu mungkin ia kembali ke dunianya.
Ck. Klise sih, tapi apa boleh buat.
Meridian sekarang mulai tidak punya kendali pada tubuh ini.
Dia seenaknya marah, seenaknya mengamuk, seenaknya menyerang orang-orang padahal Meridian yang punya kekuatan, bukan dia.
Tapi Meridian benar-benar kesal jika harus membantu si Palsu itu. Dia cuma merengek seperti anak kecil dan dia mau masalahnya beres?
Idih, memang dia siapa?
"Kamu gadis lancang pertama yang berani memperlakukanku seperti ini." Andaru mendekat. Mengendus kulit pipi Meridian sebelum mengecupnya lembut. "Pangeranmu bertanya, Nonaku. Apa yang kamu sembunyikan?"
"Apa saya terlihat menyembunyikan sesuatu, Yang Mulia?"
"Karena itulah aku bertanya."
Andaru membawa jemari Meridian yang memerah ke pipinya. Begitu dalam menatap dengan mata reptil memesona sampai Meridian agak terbawa suasana.
"Mana tidak akan bergerak tanpa pemicu. Luapan mana sebesar ini tidak datang tiba-tiba. Katakan, Nonaku. Apa yang sebenarnya kamu inginkan?"
"Saya ...."
Saat itu, entah kenapa tiba-tiba Meridian mengingat dunianya.
__ADS_1
Perasaan sesak di mana ia ingin menjawab 'saya ingin kembali ke dunia di mana saya seharusnya hidup dan berhenti menjalani kehidupan orang lain' memaksa Meridian tertegun.
Tangannya mencengkeram pakaian kerajaan yang digunakan Andaru. Berharap dia memeluknya tapi juga berharap dia menghilang bersama seluruh omong kosong fiksi ini.
"Nona?"
Meridian melirik ke arah lain. Pada akhirnya cuma bisa menghela napas. "Saya ingin seenaknya."
"Apa?"
"Saya ingin melakukan segala yang saya mau tanpa harus seseorang melarang saya atau berkata tidak boleh."
Meridian menatap matanya dengan bibir cemberut.
"Saya ingin marah pada Anda dan Anda tidak boleh balas marah pada saya. Jika saya tidak ingin bertemu Anda, Anda harus berusaha membujuk saya dan bukannya memerintahkan saya."
Tentu saja dia membuat ekspresi cengo.
Meridian cuma asal bicara.
"Kamu ingin dimanja?"
"Kenapa? Memang tidak boleh?"
Andaru mengangkat alis tinggi-tinggi, tapi kemudian terkekeh halus. "Nonaku yang menggemaskan. Apakah Pangeranmu pernah tidak memanjakan keinginanmu?"
"Itu tidak cukup. Saya ingin seenaknya."
"Baiklah, baiklah. Lakukan semua seenaknya."
Andaru memeluknya. Mengusap-usap bagian belakang telinga Meridian dengan kesan memanjakan.
"Aku akan memanjakanmu baik-baik, Nonaku."
Ayo berhenti bersikap melankolis. Optimis adalah jiwa Meridian. Tidak seperti si Palsu yang apa-apa putus asa, ia yakin semua akan berakhir.
*
Hal seenaknya pertama yang mau Meridian lakukan adalah menjelajahi dungeon.
Mumpung ia bersama Andaru juga, kenapa Meridian tidak melihat-lihat dunia misterius yang hanya bisa dilihat di novel dan komik ini?
Sekalian, Meridian ingin berlatih mengendalikan sihirnya.
Memang ada guru yang lebih baik dari sang tokoh utama overpower?
"Yang Mulia, apa tidak ada sihir yang dapat merubah pakaian seseorang?"
"Nonaku ternyata suka bercanda."
Yah, sayang sekali.
Padahal Meridian mau mengubah gaun merepotkan ini jadi sesuatu seperti celana dan sweater, karena berburu memang lebih bebas dengan pakaian lepas.
Gaun ini merepotkan sekali. Jika bukan Andaru mengangkatnya ke udara, Meridian pasti harus menyeret-nyeret ujung gaun basah.
Ternyata basic skill penyihir yang bisa mengendalikan mana adalah terbang. Katanya semua penyihir bisa terbang tergantung dari bagaimana mereka dapat menjadikan sihir mereka sebagai pijakan.
Itu berita baik bagi Meridian, karena setidaknya ia bisa terbang sesekali tanpa harus menunggu duduk di pesawat atau naik parasut.
"Tapi, Yang Mulia, mengapa dari tadi tidak ada monster yang mendekati kita? Bukankah Anda bilang tempat ini taman bermain para monster?"
Andaru terkekeh kecil. "Para binatang memiliki insting yang tajam, Nona. Mereka tidak akan sembarangan menyerang makhluk yang lebih kuat dari mereka."
__ADS_1
"Anda?"
"Lebih tepatnya, di situasi ini, kamu."
Meridian memiringkan wajah. "Benar juga. Sihir saya enam kali lipat dibanding sihir Anda."
"Itu terdengar sarkas. Apa Nonaku ini sekarang menyombongkan diri di hadapanku?"
"Saya hanya mengatakan fakta." Meridian melipat tangan. "Kalau begitu, percuma saja kita berburu."
"Tidak." Andaru tersenyum. "Ini hanya lantai pertama dungeon. Pada lantai yang lebih rendah, beberapa spesies monster justru tertarik pada energi sihir luar biasa. Apa kamu keberatan jika aku menjadikanmu umpan, Nona? Aku meninggalkan pekerjaanku agar bisa datang padamu."
Entah kenapa itu tidak terdengar romantis, tapi Meridian suka orang realistis jadi yah, baiklah.
Toh, ia paham umpan maksudnya bukan melempar Meridian ke tengah monster.
Lebih seperti memancing monster-monster yang kuat itu agar Andaru bisa memburunya.
"Baiklah, tapi dengan syarat."
"Hm? Syarat apa itu?"
"Saya juga ingin berburu."
Andaru menoleh.
Tentu saja tidak akan normal bagi orang seperti dia mendengar wanita berkata mau berburu. Bahkan di dunia ini sudah ada kestaria wanita, wanita bangsawan pada umumnya tidak akan berkata demikian.
"Baiklah." Ternyata Andaru tidak menanyakan pertanyaan di kepalanya. "Dengan catatan aku boleh ikut campur. Aku tidak bisa membiarkan calon putri mahkota terluka, benar, kan?"
Oh, iya. Meridian lupa ia calon putri mahkota.
Huft. Sudahlah.
"Baik—"
Tunggu sebentar.
Meridian jadi tiba-tiba ingat mengenai penjelasan Raven tentang fungsi mana di tubuhnya.
Apa semua itu sudah lenyap sekarang? Apa Dion sudah tidak bisa mengawasinya? Kalau begitu, apa pun yang Meridian lakukan di sini, Dion tidak akan tahu?
Apa pun?
"Yang Mulia."
"Apa, Nonaku?"
Entah kenapa Meridian sudah terbiasa dengan sikap klise karakter novel ini. "Bisakan Anda menggunakan mata Anda pada saya?"
"Tentu." Andaru berhenti. Mendarat dengan mulus di permukaan batu besar dan melepaskan pinggang Meridian. "Tapi Nona harus membayarku."
Meridian memiringkan wajah. "Apa yang Anda mau?"
"Ciuman."
"Baiklah."
Pria di depannya malah meringis. "Itu agak menyakitkan mendengarmu langsung setuju."
"Kenapa?"
"Apa ciumanku tidak berarti apa-apa bagimu, Nona?" Wajah Andaru malah layu. "Aku merindukan matamu yang berkaca-kaca melihatku. Itu sangat menggemaskan. Sekarang Nona sudah dewasa."
__ADS_1
Ups.
*