Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
69 - menikah denganku


__ADS_3

Meridian mengirim Herdian kembali untuk membantu Andaru. Kini ia duduk seorang diri, memandangi kekosongan kastil meski tahu bahwa seluruh iblis di dunia ini akan bergerak dalam sekali jentik tangannya.


Tangannya bergerak membelai bulu-bulu hitam Dion. Mendengarkan Lukas mendengkur halus di bahunya.


Perasaan mereka sampai pada Meridian. Ada rasa takut, rasa cinta, loyalitas, kerinduan dan nafsu besar bercampur baur.


Tidak hanya mereka, perasaan Lumiel tersampaikan dengan sangat rinci padanya.


Meridian Palsu tidak pernah berbohong.


Iblis merah itu berbohong. Dia sengaja tidak mengatakannya agar Meridian menjadi raja dan tetap tinggal di dunia ini. Tapi, dia ragu. Dia merasa bimbang dan ketakutan.


Juga ....


"Kalian berdua tahu aku bukan gadis itu."


Jiwa keduanya terdengar seperti menangis.


"Tapi aku sudah bilang, aku menyukai kalian berdua." Meridian mengusap-usap mereka dan merasakan ketenangan yang mereka rasakan. "Berhentilah mencintai sesuatu yang menjijikan. Ada begitu banyak gadis yang bisa menerima kalian. Gadis yang hanya ketakutan dan tidak pernah berusaha menerima keadaan bukan gadis yang layak untuk kalian."


Meridian juga bisa melihat ingatan dari perasaan Dion. Mungkin ini yang dulu Lumiel sebut sensasi bisa memberi informasi.


Tidak pernah sekalipun Dion menyentuh Meridian Palsu. Begitu pula Lukas. Namun ada sebuah kejadian di mana Dion begitu cemburu pada Andaru, lalu menghempaskan tubuh Meridian ke tempat tidur.


Mana hitam di sekeliling Dion menguar, tampak mengamuk meski tak menyakiti apa pun. Sejak kejadian itu, Meridian takut. Dia merasa jijik sebab bahkan jika sepupu, mereka adalah saudara yang hidup dalam keluarga yang sama.


Meridian tahu itu wajar bagi seorang gadis normal ketakutan. Bagi dia, bagi keyakinannya, tidaklah bisa seorang sepupu mencintai sepupunya. Namun, cara dia memperlakukan Dion terlalu berlebihan seakan-akan Dion memutilasinya.


Hal itu malah memancing Dion semakin berbuat gila. Mereka berdua sama-sama berbuat salah.


"Andaru tidak menyukai gadis itu." Meridian mengusap kepala Lukas. "Namun dia memohon pada pria yang tidak menyukainya hanya agar terbebas dari kalian. Gadis itu tidak layak dengan kesetiaan kalian."


Keduanya mendengkur sebagai respons.


"Yang Mulia."


Iblis yang ia perintahkan mencari Ruben kembali. Dia muncul dalam kondisi berlutut, lengkap dengan pakaian yang menampilkan kedudukan tinggi.


Meridian tidak tahu namanya. Namun ia mengenal pria ini.


"Katakan."


"Manusia itu sedang berada di Benua Timur, Yang Mulia. Mereka mempersiapkan pasukan yang cukup besar. Ada cairan aneh yang mereka produksi secara massal. Orang-orang yang bergerak memproduksinya adalah penyihir hitam. Daerah sekitaran tempat produksi dilindungi oleh penghalang kokoh. Kesimpulan saya, cairan itu berbahaya bagi penyihir biasa."


"Pendeta?"


"Berada di kerajaan suci. Belum ada pergerakan pasti."


"Apa ada chimera yang diproduksi?"


"Cairan aneh itu terbuat dari chimera yang dicairkan, Yang Mulia."


"Aku mengerti. Kerja bagus."


"Terima kasih."


Dia menghilang.

__ADS_1


Meridian beranjak dari kursinya hingga Dion dan Lukas melompat turun. Mereka secara otomatis berubah kembali, menggunakan pakaian yang Meridian tak tahu dari mana.


Apa pasukannya semua memiliki pakaian tersendiri?


"Ayo pergi."


Untuk sekarang, Meridian akan memastikan medan.


Portal terbuka, dan ia melangkah masuk bersama mereka berdua. Hanya dalam sekejap mata Meridian tiba di kediaman Marquis.


"Meridian!"


Suara yang sudah lama tidak terdengar.


Meridian menoleh pada dua anak manusia yang berlari ke arahnya penuh semangat. Mereka berdua nyaris memeluknya, tapi Meridian spontan mengikat mereka diudara.


"Wow." Keduanya malah kagum. "Hei, kamu berbeda! Matamu berubah! Apa itu sihir juga?"


"Dion, Lukas! Kalian kembali!"


Tidak ada darah iblis dalam kedua anak ini. Meridian pikir mereka berdarah iblis juga karana suadara ibunya Dion adalah ibu mereka.


"Kalian baik-baik saja?"


Litea dan Litae mengangkat tangan meski posisi mereka terbalik. "Kami baik-baik saja!"


"Tapi, aku mendengar dari temanku bahwa peperangan akan terjadi! Kita harus bersembunyi! Para iblis itu akan memakan kita!"


"Aku iblis."


"Apa aku akan memakan kalian?"


Meridian membawa keduanya mendekat. Mengusap sekilas puncak kepala mereka sebagai hadiah.


"Jangan bersembunyi seperti penakut. Para iblis tidak akan menyakiti kalian. Yang perlu kalian lakukan adalah tetap diam, dengarkan Ayah dan Ibu, lalu tunggu sampai keadaan membaik. Mengerti?"


"Baik!"


"Jaga mereka," perintahnya pada Dion dan Lukas.


Ia bisa merasakan perasaan sedih dari keduanya karena ditinggalkan, namun Meridian tetap membuat portal untuk pergi ke lokasi selanjutnya. Keluarga Marquis tetaplah tidak berbuat salah padanya, jadi Meridian akan menjaga mereka.


Dalam kepindahan selanjutnya, Meridian pergi ke lokasi Andaru.


Tentu saja ia tahu bahwa Andaru secara kebetulan sedang berdiri di hadapan kaisar bersama sejumlah bangsawan tinggi.


"Aku menyela." Meridian berjalan mendekat. "Andaru, sekarang—"


"Siapa kamu?" Seorang bangsawan menyela perkataannya dengan nada kesal. "Datang tiba-tiba dan menyebut nama Yang Mulia. Sepertinya seorang wanita berpikir—"


"Patahkan tangannya."


Meridian tidak bermaksud memanggil Lumiel, namun yang muncul adalah dia, mencabut lepas tangan pria itu.


"Aku menyuruhmu mematahkan, bukan mencabutnya."


"Penghinaan pada Anda tidak bisa dimaafkan, Ratuku."

__ADS_1


"Hilangkan sakitnya."


Meridian kembali berjalan. Ia naik menuju kursi tahta kaisar, menghadap langsung pada pria tua yang pernah Lukas ingin bunuh.


Sepertinya dia karakter tidak berguna. Maka tidak ada masalah jika—


"Jangan."


Suara Andaru menghentikan Meridian. Itu terdengar pelan. Sangat lemah dan tenang.


"Kenapa?"


"Jangan membunuh seseorang sebelum menanyakan kepatuhan mereka. Bukankah itu janjimu, Ratuku?"


Meridian menatap dingin kaisar di depannya. "Aku akan menjamin kehidupan siapa pun yang menerima kekuasaanku. Berikan aku jawaban singkat."


Kaisar itu menggigil ketakutan. "Y-ya. Kami menyembahmu. Kami menyembahmu."


"Minggir."


Meridian menduduki kursi itu seolah memang itu miliknya. Ditatap para bangsawan yang tiba-tiba pucat ketakutan, kecuali Andaru yang berjalan mendekatinya.


"Ratuku." Dia berlutut di hadapan Meridian. "Kekaisaranku milikmu. Berikan perintahmu."


"Hancurkan kuil."


"Laksanakan."


"Jangan bunuh siapa pun kecuali yang melawan."


Andaru berdiri. Tegak di sisi kiri Meridian dan mulai berkata, "Perintahkan semua penyihir menyerang kuil. Jangan lukai warga sipil meskipun hanya goresan. Pindahkan mereka yang belum dievakuasi. Sisanya, bunuh pemberontak."


Meridian mengibaskan tangan pada mereka. "Pergilah mengungsi juga. Tinggallah yang cukup berguna."


Mereka semua pergi, kecuali dua orang yang tampak cukup kuat. Meridian tidak bisa mengetahui perasaan mereka, namun tatapan mereka mengatakan mereka tahu sisi mana seharusnya memihak.


"Lumiel."


"Ya, Yang Mulia?"


"Berikan persenjataan tambahan untuk pasukan manusia yang mematuhiku. Keluarkan semua batu mana dari dungeon."


"Segera."


Tangan Meridian terangkat, mengarahkan lingkaran sihir pada dua bangsawan di bawah sana. "Pergi dan pimpin pasukan kalian."


Semuanya pergi, kecuali Andaru yang tetap berdiri di sampingnya. Meridian tidak tahu apa yang sedang dia rencanakan, namun tekanan yang dia berikan terasa aneh.


"Bicaralah."


"Menikah denganku."


Apa?


"Tepati janjimu, Nona."


*

__ADS_1


__ADS_2