
Meridian meringkuk, menangis lebih keras penuh kemarahan. Dia menyebalkan namun tidak pernah sekalipun dia tidak mengatakan hal benar.
"Lumiel."
Sebuah tangan terulur ke pipinya, menangkup air mata Meridian penuh kelembutan. "Di sini, Ratuku."
Tidak ada suara apa pun dari Meridian kecuali isak tangis. Ia hanya membiarkan Lumiel menyeka air matanya setiap kali mulai membanjir, merasa lebih baik karena hal itu.
"Aku ingin kembali." Meridian berbisik saat Lumiel menunduk pada wajahnya. "Aku ingin kembali."
"Ya, Yang Mulia."
"Aku harus kembali. Itulah tujuanku. Aku harus kembali."
".... Maka kembalilah."
"Tapi bagaimana?" Meridian hanya ingin meracau. "Aku sudah melakukan segalanya. Aku melakukan segalanya, kamu tahu. Kenapa aku belum kembali? Apa aku harus membunuh Dion dan Lukas juga? Apa aku harus menikahi Andaru? Aku harus apa?"
Lumiel menggosok keningnya ke sudut alis Meridian. "Mungkin ada cara."
Meridian tersentak.
"Raja iblis sebelumnya, dia terbunuh bukan karena manusia lemah itu. Dia hanya menghilangkan jiwanya."
Pria itu tersenyum lemah.
"Kembalilah jika itu membuatmu berhenti menangis, Ratuku. Jika cintaku tidak membuatmu ingin tinggal, maka cintaku ingin kamu bahagia. Duniamu pasti lebih baik bagimu."
Kamu yakin meninggalkan dia?
Meridian terduduk meski masih menggigil. "Benarkah? Aku bisa kembali?"
"Akan kulakukan apa pun agar kamu bisa kembali. Itu sumpahku."
...*...
Meridian datang ke acara pemakaman yang diadakan oleh seluruh kerajaan di dunia, termasuk Kekaisaran Alala.
Karena tak mungkin raja iblis memunculkan wajah di depan seluruh keluarga korban, maka Meridian muncul hanya sebagai salah satu rakyat sipil di samping orang tua Meridian Palsu.
Tangisan dari segala penjuru terdengar, tak dapat dibendung melihat jumlah korban melampui setengah dari jumlah warga Kekaisaran sendiri.
Satu dunia menangis. Di dunia fantasi di mana nyaris semua orang memiliki kekuatan sihir, tentu saja lebih banyak mereka yang terkena dampak racun daripada mereka yang baik-baik saja.
Satu-satunya penyihir yang selamat adalah penyihir dari kalangan bangsawan atas. Racun buatan Ruben dibagikan sebagai sumbangan kuil dan bangsawan atas yang mengetahui duduk permasalahan sesungguhnya perang itu tidak mengonsumsi apa pun.
Untuk sedikit saja, Meridian merasa ini salahnya.
Tidak. Ini memang salahnya.
Semua orang di dunia ini, ujung Timur dan ujung Barat, bahkan bangsa iblis sendiri, seluruhnya hanya tokoh novel bagi Meridian.
__ADS_1
Nyawa mereka tidak berharga.
Namun tangisan mereka terdengar nyata di telinganya sekarang.
Nona.
Ada apa?
Yang Mulia meminta saya membawa Nona untuk pertemuan bangsawan setelah ini.
Aku akan datang. Pergilah duluan.
Meridian mengikuti serangkaian acara sambil terus mendengar ibunya terisak-isak bersama Litea dan Litae.
Mereka diberi kesempatan untuk maju, memberikan bunga pada foto Raphael yang terpampang jelas sebagai salah satu pahlawan gugur dalam pertempuran.
Sekarang Meridian mengerti mengapa fakta dan cerita untuk rakyat harus selalu dibuat beda. Jika seluruh dunia menyadari bahwa penyihir terkuat sampai manusia dengan sedikit mana, seluruhnya mati tanpa tujuan apa-apa, maka mungkin umat manusia seluruhnya memilih memusnahkan diri sendiri.
Raphael ... mati tanpa alasan.
Berhenti pura-pura peduli di depan gambar kakakku.
Suara emosional Meridian terdengar di kepalanya.
Aku tahu kamu sedikitpun tidak merasa bersalah. Kamu hanya menyayangkan karena dirimu yang jadi penjahat!
Dia benar.
Penampilan khasnya sebagai Meridian Palsu segera berganti menjadi penampilan Meridian sebagai ras iblis. Portal terbuka, ia masuk untuk berpindah ke ruang rapat di mana Andaru telah berkumpul bersama bangsawan tinggi lainnya.
Kaisar meninggalkan tahta. Bagaimanapun rakyat juga marah pada para bangsawan yang selamat sementara mereka tidak. Daripada harus menerima itu, Kaisar menyerahkan tahtanya pada Andaru secara sukarela.
Tak heran jika Andaru tidak dalam mood yang baik.
Itu hanya berarti dia dilimpahi kotoran ketika dia berencana naik tahta dengam gagah perkasa.
Meridian jadi bertanya-tanya. Apa benar ini salahnya?
Lalu salahkah Meridian kalau ia ingin kembali? Dunia ini, omong kosongnya, salahkah Meridian jika ia benci?
"Aku," Meridian menarik napas samar sebelum mengeluarkan keputusannya, "akan membantu pemulihan kalian, secara keseluruhan."
"Kami akan sangat senang dengan bantuan Anda, Yang Mulia." Andaru bersikap formal.
Tapi entah kenapa Meridian hanya merasa dia sedang sangat marah padanya.
"Lalu untuk keamanan penyihir yang tersisa," dia kembali menghadap bawahannya, "kumpulkan mereka ke tempat tersendiri. Penyihir di seluruh dunia berkurang pesat akibat insiden ini dan penyihir yang tersisa adalah aset berharga kita. Jangan biarkan mereka terluka lagi."
"Bantu mereka dengan persediaan batu mana," perintah Meridian pada Lumiel yang langsung memerintahkan iblis bawahannya untuk bergerak.
Karena bagi bangsa iblis batu mata tidak lebih dari batu mainan para iblis, mereka sedikitpun tidak membutuhkannya. Tapi struktur batu itu sendiri unik hingga justru hanya bisa ada di tanah iblis.
__ADS_1
Cukup panjang pembahasan kerugian, tapi sepertinya untuk awal mereka hanya membahas mengenai bagaimana penanggulangan korban dan para bangsawan.
Setelah rapat berakhir, Meridian masih duduk di sana bersama Andaru. Hanya saling diam satu sama lain.
Yang memulai percakapan duluan adalah Andaru.
"Maafkan aku."
"Untuk apa?"
"Menuntutmu bersikap lemah padaku."
Andaru meremas tangannya satu sama lain. Kentara bahwa dia begitu tertekan.
"Aku memahamimu, Nona. Kamu melakukannya demi tujuanmu dan begitu pula aku. Aku hanya .... Wargaku mati, seluruh manusia yang tersisa di bawah naunganku mempertanyakan keadilan untuk mereka."
Meridian melirik ke arah lain. "Aku memang berbuat salah."
"Apa kamu menyesal, Nonaku?"
".... Entahlah."
"Maka itu bukan salahmu sebelum kamu merasa itu patut disesalkan." Andaru beranjak. "Aku pun seorang raja. Sejak lahir, aku dinobatkan sebagai raja dan tumbuh sebagai raja."
"...."
"Apa yang terjadi pada kami saat ini bukanlah sesuatu yang aneh atau layak dipertanyakan. Kamu kuat, berkuasa dan seluruh makhluk yang manusia takuti justru takut padamu. Tentu saja kamulah yang paling menguasai papan catur permainan ini."
Hidup manusia itu kadang-kadang dibagi dua, kadang-kadang dua hal disatukan.
Dalam hal kekuasaan, perasaan dan logika tidaklah boleh disatukan. Setidaknya itu yang Meridian ketahui.
Dari awal, Andaru memang sudah mengatakannya. Perasaan rakyat tidaklah penting. Yang penting adalah hasil peperangan untuk rakyat.
Namun ... hal itu berlaku saat peperangan terjadi sesuai strategi mereka.
Sesuai strategi Andaru.
Ruben memang mati, kemenangan adalah milik mereka. Kuil sudah hancur, kekuasaan milik mereka. Tapi jiwa yang musnah, manusia yang harus jadi korban keteledoran mereka berkurang lebih dari setengah populasi dunia Barat dan Timur.
Kemenangan sesungguhnya berada di tangan Ruben.
Apa yang coba Andaru katakan, jika Meridian merasa bersalah, maka rasa bersalah itu adalah kepedulian. Namun jika Meridian tidak merasa bersalah, maka sejak awal ia tidak peduli pada siapa yang mati.
Jika tidak peduli, maka tidak ada gunanya menuntut rasa bersalah.
"Aku," Meridian beranjak, "akan menolak tawaran pernikahan darimu. Bangsa iblis akan kembali ke tanah kami. Jika ada sesuatu yang harus kulakukan, katakan saja padaku."
"...."
Punggung Andaru nampak rapuh oleh beban yang sekarang dia tanggung.
__ADS_1
*