Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
51 - aku mengandalkanmu


__ADS_3

Haruskah ia memikirkannya secara serius? Pasti bisa. Mau dengan cara apa pun, menghancurkan sesuatu pasti bisa.


Amerika itu berkuasa bukan cuma karena mereka adikuasa. Tapi karena tidak ada yang melawan mereka dengan cara yang segila Amerika menguasai dunia. Ada banyak ras di dunia ini yang lahir dengan kecantikan setara dengan orang Korea, namun Korea mendominasi dunia kosmetik, membentuk keyakinan bahwa kiblat kecantikan adalah Korea lewat media yang menampilkan idol dan serial mereka.


Dibalik kekuasaan, selalu ada cara dan celah.


Meridian tinggal menganalisanya.


Tapi ... apa memang harus ia merepotkan diri dengan memerangi keyakinan dunia ini? Kalau ia berperang lalu ternyata berakhir di tubuh ini juga, Meridian untung apa?


Ia cuma capek-capek memberi keuntungan pada kerajaan dan kekaisaran di benua Barat dan Timur, menghilangkan kekangan kuil dari kekuasaan absolut, lalu Meridian tidak dapat apa-apa kecuali rasa takut baru.


Besar kemungkinan malah, setelah ia menghancurkan kuil, ia akan dipandang berbahaya.


Kekuasaan selalu seperti itu. Berteman lalu menyerang agar menjadi yang paling berkuasa.


"Kalau begitu ...." Meridian tiba-tiba mendapat ide lain. "Apa ada semacam cara untuk membangkitkan bangsa iblis?"


"Nona."


"Aku hanya bertanya."


Herdian menatap matanya lekat-lekat. "Ada."


Sudah Meridian duga.


Dalam semua cerita dan legenda, mereka yang musnah pasti selalu tersisa. Mau jiwanya saja atau bahkan wujudnya.


Lagipula keberadaan monster itu sendiri sudah mencurigakan. Mereka disegel tapi secara tidak langsung dikembangbiakkan.


"Begitu."


"Saya akan selalu bersama Nona." Herdian tersenyum teduh. "Cara membangkitkan mereka adalah masuk ke wilayah terdalam hutan kegelapan. Dikatakan di sana tertanam batu permata iblis yang jika dihancurkan maka segel hutan kegelapan akan hancur. Saat seluruh monster lepas dari kekangan, membantai manusia dan menciptakan lautan darah, bangsa iblis akan bangkit. Hanya itu yang saya tahu."


Orang ini ... apa dia mau berkata kalau Meridian melakukan itu maka dia akan memihaknya?


"Jadi begitu."


"Juga, saya kurang mempercayai berita ini, namun seseorang yang meneliti peninggalan kuno mengatakan orang yang memecahkan batu itu akan mengendalikan seluruh bangsa iblis, tidak terpaut pada jumlah kekuatan dan level mereka."


"Aku mengerti." Malah Meridian yang merinding. "Terima kasih, Duke Muda. Kamu selalu membantuku."


"Saya belum melakukan apa-apa."

__ADS_1


Dia sudah melakukan banyak hal. "Bicara soal itu, kamu belum meminta hal yang kamu inginkan dariku. Apa masih butuh waktu memikirkannya?"


Ternyata dia tersenyum. "Saya sudah memikirkannya."


"Baguslah. Katakan."


"Antara menghancurkan kuil atau membangkitkan bangsa iblis, tolong pilih salah satu asal jangan menikahi Yang Mulia."


Untuk pertama kali, Meridian tahu rasanya cengo.


*


Meridian membaringkan tubuhnya yang mulai terasa lemah setelah duduk cukup lama. Tentu saja ia masih memikirkan perkataan Herdian tadi. Meski sebenarnya itu bukan hal mengejutkan, Meridian agak merasa aneh karena orang sebaik dia bisa mengatakan hal menakutkan.


"Apa kamu menyukaiku, Tuan Muda?"


Yang dia lakukan adalah tersenyum. "Apa saya boleh menyukai Anda, Nona?"


Kenapa, yah? Meridian hanya, entahlah, kasihan?


Herdian menyukai Meridian—bukan si Palsu, tapi Meridian Asli—karena dia baru tertarik setelah mereka berinteraksi. Walau ia memakai wajah Meridian, rasanya dia menyatakan perasaan pada Meridian Asli, hingga rasanya ... kasihan.


Jika Meridian kembali, dia akan kehilangan orang yang dia cintai. Sementara jika Meridian ternyata tetap di sini, maka ia akan pergi ke tempat jauh bersama Raven.


Bagaimana ia harus menolak cinta orang itu?


"Kurasa dalam arti berbeda, dia juga berbahaya." Raven melompat ke antara lengan Meridian. Datang menjilati wajahnya seolah sudah mendalami peran sebagai kucing sungguhan. "Dia memberitahumu hal berbahaya."


"Apa itu benar?"


"Ya. Itulah yang kutahu. Dikatakan bahwa seseorang yang memecahkan batu iblis akan menjadi raja bagi seluruh bangsa iblis." Raven suka sekali memukul-mukul kakinya dengan lembut ke pipi Meridian. "Apa kamu sungguhan mau mencari batu itu?"


"Itu hanya rencana cadangan. Tidak berarti akan aku lakukan." Mau batu atau kuil dan kerajaan suci, Meridian cuma menjadikan opsi terakhir jika tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan.


Mengapa ia harus jadi raja iblis sementara ia cuma mau kembali?


"Yang lebih penting, Raven, kamu mengkhianatiku?"


"Kamu tidak percaya padaku, Nona?"


Meridian mengusap-usap kepalanya. "Aku hanya bertanya. Tapi, kalau begitu, menurutmu siapa dalang dibalik rencana Ruben itu?"


Dia mendengkur samar. "Di mataku, Ruben tidak memiliki kekuatan dalam pemerintahan, namun kuakui dia memiliki ambisi. Dia tidak takut memerangi kekaisaran karena keserakahannya."

__ADS_1


"Apa dia memiliki catatan peperangan? Kalah ataupun menang?"


"Dari informasiku, Ruben memenangkan tiga peperangan besar dan mengalami empat kekalahan. Namun bisa kukatakan bahwa patut mewaspadainya. Apa yang kurang dari Ruben sekarang hanya kekuatan. Dia membenci sihir, karena itulah dia tidak mengandalkan sihir yang merupakan satu dari kekuatan terkuat di dunia."


"...."


"Hubunganya dengan kuil pun buruk. Di usianya yang kesembilan belas dulu, Ruben pernah menculik sejumlah penyihir dan pendeta untuk dijadikan percobaan. Kurasa saat itu dia membuat semacam racun, aku tidak tahu itu berjenis cairan ataukah mantra, yang jika terkontaminasi dengan mana penyihir atau kekuatan suci pendeta, mereka akan terbakar."


"Terdengar dibuat-buat."


"Kupikir juga begitu. Jika ada sesuatu semacam itu, tentu saja sudah banyak penyihir dan pendeta menelitinya, mengingat itu bisa jadi kelemahan besar mereka. Menelisik dari jumlah kekuatan dan pengetahuan tentang penyihir di kerajaan, memang mustahil membuat senjata seberbahaya itu. Tapi, aku cukup percaya bahwa Ruben bisa memikirkan rencana semacam itu."


"Kemungkinan karena pendukungnya."


Raven menggosok wajahnya di dagu Meridian. "Atau mungkin itu perbuatan kuil sendiri."


"Apa maksudmu?"


"Entahlah. Aku hanya memikirkan bagaimana hubungan kuil dan pemerintahan di seluruh benua, sebagian besarnya, tidak terlalu baik. Penguasa tidak menyukai bagaimana kuil bertindak seakan-akan merekalah yang mengatur segala hal di dunia, sementara kuil ingin seluruh pemerintahan menampakkan bahwa mereka adalah bawahan."


"Masuk akal."


"Kekaisaran Alala memiliki sejumlah besar pasukan penyihir, stok batu mana dari dungeon, dan Pangeran Andaru. Apa Nona tidak tahu bahwa Pangeran disebut-sebut sebagai penentang ideologi kuil? Dari apa yang kudengar, Pangeran Andaru ingin mengurangi kekuatan kuil dan menjadikan kaisar sebagai satu-satunya kontrol di negeri ini."


Meridian tidak memandang itu sebagai konflik buatan Laila. Sepertinya sekarang semua memang berubah karena keberadaan Meridian.


"Kamu memihak siapa, Nona?"


"Andaru, tentu saja." Meridian tidak menyukai Andaru ciptaan Laila. Tapi ia cukup menyukai Andaru yang baru saja dijelaskan oleh Raven.


Itulah ambisi penguasa. Rakus dan serakah tanpa meninggalkan rakyatnya.


"Kupikir kamu tidak menyukainya."


"Aku tetap harus melindungi sesuatu yang akan melindungiku. Itu mengurangi beban hidup." Meridian menghela napas. "Aku akan melihat sedikit lebih jauh apa yang akan mereka lakukan. Jika kuil mengumumkan bahwa aku seorang pengkhianat, aku akan pergi bersamamu."


"Aku berharap pada kuil, kalau begitu."


Meridian mendengkus. "Jika aku ingin pergi ke bagian terdalam hutan kegelapan, kamu akan bersamaku?"


"Bukankah kamu butuh pemandu?"


"Aku mengandalkanmu, kucingku."

__ADS_1


*


__ADS_2