
"Entah kenapa itu memang terdengar seperti Nona." Herdian tertawa geli. "Apa Nona berpikir Dewa Matahari tidaklah nyata?"
"Ya. Dia buatan." Buatan Laila, lebih tepatnya.
Meridian melirik Yohannes yang mendengar semua percakapan mereka tepat di samping kuda Herdian.
"Tapi terlepas dari itu, nampaknya kuil memang memegang otoritas tinggi. Apa saja yang mereka lakukan pada pendosa?"
"Hmmm, itu tergantung dari seberapa berat dosa itu dinilai, Nona."
"Siapa yang menilainya?"
"Pendeta mereka."
Pendeta kan manusia. Bagaimana mau menilai dosa manusia lain sementara mereka juga punya dosa?
Atau jangan-jangan mereka sudah suci jadi mereka boleh menilai?
Idih. Laila sudah gila apa?
"Bagaimana mereka menilainya?"
"Saya tidak tahu sejauh itu, Nona. Yang saya tahu, orang berkeyakinan akan datang mengakui dosa mereka lalu disucikan agar dosa mereka diampuni."
Ayo berhenti bertanya atau Meridian mencak-mencak. "Kira-kira, jika seseorang mencuri, bagaimana kuil akan membersihkan dosa mereka?"
"Mereka akan dimasukkan ke dalam biara dan harus mengabdi pada kuil selama waktu yang telah diputuskan. Semakin berat dosa mereka, semakin lama pula hal itu berlangsung."
"Bagaimana jika menutupi sesuatu dari kuil?"
Herdian agak tersenyum. Nona yakin membiarkan Yohannes mendengarnya?
Lagipula Yang Mulia juga tahu.
"Saya sudah pernah memberitahu Nona. Dalam kasus tertentu, mereka akan dihukum sesuai perbuatan mereka. Umumnya mereka akan dipaksa mengakui itu di depan semua orang."
Nah, akhirnya Meridian bisa masuk ke maksud sebenar ia berbelit-belit. "Bagaimana dengan pelaku zinah?"
Herdian tersentak. "Mereka akan diarak mengelilingi kota dan dilempari berbagai hal menyedihkan. Saya tidak sanggup mengatakannya pada Nona."
Jadi hukum itu seperti hukum bangsawan pada umumnya? Seperti nasib Cersei Lannister di serial Game of Thrones yang dilempari kotoran sambil berjalan telanjang menuju istana.
Kalau pendetanya macam di serial itu, Meridian rasa harus dipertimbangkan lagi kapan ia menghancurkan kuil.
"Sebenarnya ...."
Jangan!
Meridian tersentak kaget mendengar teriakan histeris di kepalanya.
Baru saja ia berniat berkata 'aku mungkin menyukai Dion'.
Tujuannya untuk memancing reaksi Andaru—orang itu, jika benar mengawasi Meridian, seharusnya satu dua hal dia tahu—sekaligus juga melihat reaksi Herdian, plus memancing Dion.
__ADS_1
Cara terbaik untuk mengungkap rahasia adalah memperlihatkan seakan-akan itu sudah bukan rahasia. Mengubah kewaspadaan seseorang menjadi kelengahan itu konsep dasar mengetahui isi kepala dia.
Sekali lempar, tiga hal didapatkan.
Tapi si Meridian itu malah histeris?
"Nona?"
"Aku—"
JANGAN!!!
Berisik.
Meridian bermaksud masuk ke dunia itu, namun tak ada yang terjadi. Yang bisa ia dengar hanya gumaman tak waras yang terus berkata jangan, jangan, jangan penuh ketakutan.
Jadi benar karena Dion menyukai dia, kah?
"Aku tiba-tiba memikirkan Tuan Putri."
Aku tidak berbuat baik padamu, dasar lemah. Aku hanya puas karena sepertinya aku tidak perlu mencari tahu lebih.
"Tuan Putri?"
"Beliau sangat cantik." Meridian tersenyum bangga. "Bahkan aku pun merasa senang dengan wajahnya. Walau dia tidak menyukaiku, sebenarnya aku sangat menyukai Tuan Putri. Rambutnya seperti emas yang berkilau. Jika aku terlahir kembali, aku ingin memiliki wajah secantik Tuan Putri."
Herdian tertegun. Walau sejurus kemudian dia tertawa lepas.
Tak sengaja, Meridian juga melihat Yohannes tersenyum geli.
"Kamu juga menyukainya?"
"Ya." Herdian menatapnya lekat. "Saya sangat menyukai beliau."
Saya lebih menyukai Anda, jika saya berkata demikian, apa Nona akan marah?
Tidak. Sejujurnya aku tidak terlalu menyukai si Putri itu.
Meridian tersenyum miring dan melirik ke arah lain.
Wajahnya memang cantik sampai aku ingin bersujud menyembahnya sebagai dewi, tapi perilakunya membuatku jijik. Aku bahkan tidak peduli padanya dan dia malah menggangguku. Orang tanpa otak seperti dia menyebalkan.
Bibir Herdian berkedut seolah ingin tertawa lepas. Dalam benak Meridian, sebenarnya dia sudah tertawa sangat puas.
Mendengar pernyataan Nona tidak pernah membuat saya bosan.
Kamu tidak melaporkanku?
Sejujurnya saya juga tidak menyukai perilaku beliau. Bukan hanya Nona, Yang Mulia mengganggu siapa pun yang menurutnya tidak memenuhi standar.
Tapi kurasa dia hanya mengganggu wanita.
Herdian terkekeh. Saya tidak bisa menyangkal.
__ADS_1
...*...
Akhirnya, mereka tiba di tempat berkemah sesungguhnya. Ternyata sedikit berbeda dari bayangan Meridian, mengenai wilayah perbatasan.
Yang benar adalah, mereka berhenti di wilayah perbatasan yang dikuasai oleh Duke Elgard, lalu diam mengawasi sebuah zona netral berupa dungeon.
Pemandangannya sedikit berbeda dari bayangan Meridian. Ia berpikir kalau dungeon itu pada umumnya bisa dilihat setelah memasuki gua atau sejenisnya, namun ternyata tidak juga.
Yah, ada pintu masuk menuju ruang bawah tanah sesuai namanya. Kata Yohannes, jika mereka memasuki itu, maka monster-monster akan mulai menyerang.
Tapi wilayah serupa padang rumput di luar dungeon pun sudah disebut sebagai dungeon.
Meridian bisa melihat segalanya dari bukit tempat mereka berkemah.
Di luar dungeon itu ada sejumlah besar tenda yang jumlahnya ratusan.
Pantas saja Andaru mengerahkan dua ratus prajurit bersenjata lengkap yang dipimpin penyihir terbaik, Raphael, untuk mengurusi bandit macam mereka.
Setelah ia bertanya, ternyata para bandit mencoba menguasai teritorial dungeon dengan memungut pajak dari sejumlah petualang yang memburu monster.
Padahal, alasan mengapa zona itu disebut zona netral adalah kerajaan mereka dan kerajaan tetangga (Meridian tidak tahu nama kerajaan mereka apa) memutuskan membagi hasil dari dungeon tersebut.
Nah, alasan Raphael datang selain mengatasi bandit, adalah untuk bernegosiasi.
Yohannes tidak bilang, tapi dari perilaku politik yang Meridian tahu, para bandit-bandit ini mungkin dimanipulasi oleh negara tetangga sendiri.
Mereka bermaksud menguasai dungeon secara keseluruhan. Dilihat dari perbatasan wilayah mereka sendiri, dungeon itu berada di antara sungai dan bukit bersalju.
Bukit ini adalah wilayah Duke, sementara sungai itu wilayah kerajaan tetangga.
Memang jika dilihat dari jarak antara keduanya, sungai itu lebih menyentuh dungeon daripada bukit.
Banyak juga jumlah mereka.
Jika satu tenda dihuni oleh dua atau tiga prajurit, maka jumlah mereka berkali-kali lipat prajurit Alala.
Hmmmm, Meridian sedikit penasaran.
Ia kesulitan menganalisis karena pemahamannya terhadap perang lebih mengarah pada perang dunia modern daripada dunia sihir begini. Jika ini dunia modern, tergantung dari bagaimana pemimpin negara tetangga, kemungkinan akan terjadi perang sungguhan.
Tapi karena mereka memperebutkan dungeon yang diduduki oleh para bandit itu, mereka tidak akan berperang di sana.
Hmmmmmmmmmmmm.
Kalau ini dunia modern, sebenarnya prajurit sebanyak itu agak terlalu berlebihan. Mereka cukup mengandalkan misil untuk menyerang satuan tentara, apalagi kalau cuma sekompi.
Tapi karena ini bukan dunia modern, yang perlu dipertanyakan pertama kali adalah mengapa jumlah mereka segitu banyak?
Apa untuk merebut satu dungeon harus ada ratusan prajurit?
Atau mungkin dungeon seberharga itu di dunia ini?
Jika perang terjadi, siapa kira-kira yang paling dirugikan?
__ADS_1
Dan bagaimana cara pihak ini menang, bagaimana pihak sana menang?
...*...