Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
50 - tuhan kaleng-kaleng


__ADS_3

"Salam, Nona."


Meridian mengangguk pada sapaan singkat Herdian begitu memasuki ruangannya. Sebuah kursi sudah diletakkan di dekat tempat tidur untuk Herdian bisa duduk sekaligus menerima teh yang disediakan oleh pelayan.


"Apa kondisi Nona baik-baik saja?"


Wajah Herdian kurang sehat. Dia seperti saat Meridian mengunjunginya waktu itu. Bedanya, Meridian tahu dia seperti ini karena lelah. Kantong matanya terlihat jelas dengan rambut agak berantakan.


"Aku baik-baik saja." Meridian terbatuk pelan. "Duke Muda, aku lupa mengucapkan terima kasih. Juga, maafkan aku karena menyusahkan ekspedisi kalian. Aku sudah meminta Dion membayar kerugian yang disebabkan olehku."


Herdian menghela napas lemah. "Tolong jangan mengatakan hal seperti itu, Nona. Sayalah yang tidak melakukan pekerjaan saya dengan baik. Seharusnya saya menjaga Nona."


"Jangan menyalahkan diri pada hal yang bukan kesalahanmu, Tuan Muda." Meridian menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal. "Kamu sendiri, apa kamu baik-baik saja?"


"Bagaimana saya tidak baik-baik saja jika Nona mengkhawatirkan saya."


Herdian merogoh sesuatu dari sakunya, lalu nampaknya kotak cincin dengan permata biru laut kecil.


"Saya mungkin tidak bisa menemui Nona sesering biasanya, namun jika Nona tidak keberatan, saya membuat alat komunikasi. Saya menggunakan batu dengan aliran mana khusus. Kecuali memahami strukturnya, mereka tidak akan menghalangi komunikasi antara saya dan Nona lewat cincin ini. Apa Nona mau menerimanya?"


Kenapa tidak?


Itu untuk komunikasi, kan?


Biasanya tokoh utama juga kadang-kadang diculik penjahat jelek yang nasibnya memang harus dibunuh. Kalau Meridian suatu saat diculik lagi untuk menunjukkan kegagahan tokoh utama pria, maka ia bisa memangkas plot kilse itu dengan kemampuannya sendiri.


"Terima kasih." Meridian menyukai warna birunya. "Aku selalu menerima hadiah darimu, Tuan Muda. Akan kupikirkan sebuah hadiah khusus juga nantinya."


"Mengetahui Nona senang sudah cukup bagi saya." Herdian tersenyum lembut. "Lalu, sejujurnya saya tidak ingin membicarakan hal yang membebani, namun Nona pasti menunggu informasi berharga."


"Aku memang selalu bisa mengandalkanmu. Apa itu?"


"Kami mencurigai bahwa Pangeran Ruben yang melarikan diri berhasil mengetahui kekuatan sihir Nona."


Meridian menyipit. Raven tidak membunuh Ruben? "Apa Pangeran tidak terbunuh dalam pemberontakan?"


"Itu adalah kesalahan kami dalam mendapat informasi, Nonaku. Nampaknya ada kerajaan yang cukup kuat dibelakang pengkhianatan kerajaan hari itu. Dari jejak yang didapatkan Raphael, ada sejumlah penyihir kuat yang bersembunyi memantau laju pemberontakan."


Itu tidak mungkin. Ide pemberontakan muncul dari Meridian jadi tidak ada yang tahu kecuali Raven dan orang yang berada di belakang Raven.


Karena Raven itu karakter penjahat cerdas, bawahannya kemungkinan dibuat loyal dan mustahil berkhianat.


Kalau begitu ... Raven berkhianat?


Tidak. Orang itu sudah takluk. Memang ada kemungkinan dia berkhianat, tapi pada dasarnya dia cuma tokoh sampingan yang terseret arus tokoh utama.

__ADS_1


Kecuali dunia ini nyata, maka Meridian tidak akan percaya dia berkhianat.


Pola seperti ini, apa yah?


Hmmmm.


Ah, mungkinkah karena alurnya berubah, tuhan yang diciptakan Laila di dunia ini bermaksud menciptakan musuh bagi Meridian?


Duh, kalau bisa Meridian tidak mau tahu soal tuhan palsu itu, sih. Entah kenapa membayangkan bertemu saja sudah membosankan.


"Apa mereka penyihir yang punya kemampuan mendeteksi?"


"Kebanyakan penyihir yang memiliki kemampuan seperti Dion juga pandai menyembunyikan diri, Nona. Itu kesimpulan yang masuk akal."


"Lalu? Apa negara lain sudah tahu?"


"Untuk saat ini, kami hanya memikirkan kemungkinan hal itu cukup besar."


"Itu berbahaya." Meridian mendesah penat. "Kemungkinan terburuknya, kerajaan suci akan menganggap kekaisaran memulai revolusi."


"Sudah saya duga, Nona memikirkannya juga. Dengan kekuatan sihir Nona sekarang, bahkan jika kami membuktikan Nona bukan ancaman, rakyat akan tetap menganggap keberadaan Nona adalah ancaman. Manusia selalu takut pada mereka yang tidak bisa mereka kendalikan."


"Lalu, apa keputusan Yang Mulia?"


Herdian tampak sangat tertekan saat berkata, "Yang Mulia berpikir mempercepat pernikahan, Nona."


"Beberapa penyihir kerajaan berusaha keras menemukan cara untuk mengekang kekuatan sihir seseorang secara permanen tanpa menimbulkan risiko, namun Yang Mulia merasa tetap harus ngambil langkah pasti untuk menjamin keselamatan Nona sekaligus keselamatan masyarakat."


"Jadi begitu." Meridian bisa mengerti. "Pernikahan itu, Yang Mulia memiliki kendali penuh atas diriku, disamping juga mengawasiku. Jika sewaktu-waktu kuil tahu, setidaknya ada alibi bahwa Yang Mulia menyembunyikanku di bawah kekangan kekaisaran yang patuh pada kuil."


"Ada juga risiko kuil tetap meminta Nona diserahkan, namun Yang Mulia setidaknya ingin mencoba melindungi Nona dengan cara itu."


Pola ini, Meridian merasa hidupnya tidak akan kembali normal setelah menikahi Andaru.


Novel memiliki keharusan menyelesaikan konflik tokoh utama, jadi jika Meridian menikahi Andaru sementara negara tetangga mengincarnya, itu sama saja ia meninggalkan konflik.


Entah kenapa.


Entah kenapa terasa seperti ia akan kecewa.


Meridian melipat tangan. Mulai berpikir keras setelah sekian hari membiarkan kepalanya cuma memikirkan hal ringan.


Apa yang harus ia lakukan. Apa yang sebenarnya diharapkan entah siapa pun itu pelaku penyalahgunaan jiwa Meridian?


Dia mau Meridian apa?

__ADS_1


Apa cara satu-satunya cuma menuruti dia seperti orang bodoh?


Tidak.


Kenapa tidak hancurkan saja kerajaan suci itu?


"Herdian. Kamu mempercayaiku?"


"Saya mempercayai Nona lebih dari saya mempercayai diri saya."


"Itu berlebihan, tapi terima kasih."


"Saya bersumpah." Herdian malah serius. Menyilangkan satu tangan di dadanya dan membungkuk ringan padahal pangkat dia lebih tinggi. "Saya akan mempercayai Nona. Tolong jangan ragukan sumpah saya."


"O-o, baiklah." Meridian bingung harus membalas apa. "Aku juga mempercayaimu, jadi akan kutanyakan ini hanya padamu. Jika aku memerangi kuil dan menghancurkan kerajaan suci, apa itu bisa?"


Herdian terbengong.


Kucing yang tadi kelihatan tidur tapi ternyata pura-pura tidur sampai tersentak kaget, membuat ekor dan bulu-bulunya berdiri.


Ya, ya, Meridian tahu itu pemikiran ekstrim.


Jika di dunia nyata juga, semisal ada orang yang tiba-tiba berkata mau menghancurkan seluruh agama di dunia agar tidak ada satupun orang lagi yang menyembah baik Tuhan itu atau Tuhan ini, maka tentu saja mereka cengo.


Namun karena ini novel, seharusnya tidak mustahil. Lagipula bukankah dulu bangsa iblis juga memerangi manusia secara keseluruhan?


"Itu ...."


"Apa tidak mungkin?"


"Tidak. Itu mungkin saja, Nona. Dengan kekuatan Nona." Herdian gugup. "Tapi, Nona pasti memahaminya bahwa kuil dan kerajaan suci tidak hanya mengandalkan kekuatan suci para pendeta mereka selama ribuan tahun. Saya hanya mendengar ini dari sumber yang tidak pasti, tapi dikatakan, senjata yang dulu digunakan oleh sejumlah orang suci melawan bangsa iblis diletakkan di kerajaan suci. Menghancurkan mereka mungkin sesuatu yang membutuhkan waktu sangat lama."


Dia mau bilang mustahil, tapi tidak mau Meridian kecewa.


Meridian tidak kecewa. Ia hanya bertanya untuk memastikan apa tubuh menjijikan ini adalah tubuh terkuat di dunia atau bukan.


Tentu saja itu masuk akal. Mereka yang berkuasa selama beratus-ratus tahun, ribuan jika dihitung sebelum kekaisaran berdiri, tentu saja tidak cuma membentuk gereja-gereja dengan sejumlah cerita dongeng agar rakyat takut.


Mereka mengontrol keluarga kerajaan, maka berarti mereka powerful.


Jika diibaratkan, mereka itu Amerika yang mendominasi dunia dari berbagai sisi.


Tapi ... setahu Meridian, sebenarnya Amerika juga bisa dilawan dengan strategi nekat.


Asal ada amunisi yang tepat.

__ADS_1


Apalagi ini cuma permainan kuil-kuilan dengan tuhan buatan. Tuhan-nya Meridian jauh lebih powerful daripada tuhan kaleng-kaleng.


...*...


__ADS_2