
"Apa maksudmu?"
"Yang Mulia." Lumiel menyahut di belakangnya. "Energi sihir manusia berkurang drastis. Bau kematian yang pekat ini, saya rasa itu dari mereka semua."
Tunggu, apa maksudnya .... "Mereka mati? Semua penyihir?"
"Nyaris seluruhnya."
Meridian mematung. "Raphael? Di mana Raphael?"
"Nona—"
"Dia juga musnah."
Tunggu sebentar. Meridian merasa sulit mencerna. Apa maksudnya? Siapa yang musnah? Kenapa?
Padahal sejak lama tidak bergerak, sekarang tiba-tiba memusnahkan semua orang. Memang apa yang dia punya? Dia hanya—
Bukankah sudah kubilang? Kamu menjadi sombong dengan kekuatanmu.
Perasaan dingin seperti pelukan datang menghampirinya.
Itu perbuatanmu. Membunuh semua orang. Kamu berbuat salah. Kamu mementingkan diri sendiri hanya karena ingin kembali. Lalu sekarang apa? Kamu masih optimis?
Apa yang ....
Meridian-ku, tunjukkan padaku cara tidak berputus asa.
Meridian berbalik, mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Apa penyebabnya?"
"Sesuatu serupa racun menyebar di seluruh penjuru dunia." Lumiel menajamkan inderanya hingga Meridian bisa ikut merasakan. "Itu racun yang dia produksi. Semua warga mengonsumsinya, namun yang terkena dampak hanya mereka yang memiliki sihir dan kekuatan suci."
"Mengapa tidak ada satupun yang menyadarinya?"
"Sihir hitam tidak dapat dideteksi oleh manusia biasa, Ratuku."
Meridian berdecak. "Herdian, Andaru, ikut denganku."
"Ratuku—"
"Tetap di sini."
Ini sudah *******. Waktunya membunuh villain jahat yang membunuh banyak orang.
...*...
Mereka berteleportasi ke Benua Timur.
__ADS_1
Meridian melayang di udara, mengamati memang kekuatan yang dia kumpulkan cukup besar.
Itu kesalahan, saat ia berpikir cairan hitam aneh yang terlihat jelas di matanya juga pasti terlihat jelas di mata para manusia. Ternyata indera manusia dan iblis luar biasa berbeda.
Meridian sekarang juga baru merasakan perasaan Lumiel yang merasa bersalah atas kematian Raphael. Dia tidak peduli, sejak awal. Dia baru peduli ketika Meridian menunjukkan rasa kesal.
Tapi sebenarnya itu tidak penting.
Raphael hanya tokoh novel. Mau mati atau hidup, itu bukan urusan Meridian. Atau haruskah ia mencoba menghidupkan seluruh orang mati itu seperti Rimuru menghidupkan Shion?
Sejujurnya, Meridian menikmati adegan itu kecuali pada kenyataan bahwa dia menghidupkan Shion atas keegoisan. Orang mati tidak bisa hidup. Meridian tidak menyukai aturan dunia fiksi yang seenaknya memberi harapan tak nyata.
Aku hanya harus kembali. Menghentikan omong kosong yang semakin tidak jelas ini, kembali dan menjalani hidupku yang penuh rasionalitas.
"Maafkan aku atas kematian rakyatmu, Andaru." Meridian mengarahkan tangannya ke bawah. "Akan kumusnahkan mereka juga sebagai balasan."
Kekuatan kecil membakar barier yang dipasang kuat di sekitaran mereka.
Terdengar keributan dari alarm, menjadi sebuah isyarat bagi pasukan mereka bergerak. Meridian membiarkan kedua pria itu tetap di atas sana sementara ia melesat turun.
Aura hitam muncul di tangannya, menyerupai aura milik Lukas yang pernah Meridian lihat. Tubuhnya bergerak menembus barier yang seketika pecah oleh tekanan besar kekuatan.
Bunuh mereka. Satu per satu. Balas dendam, menyelesaikan konflik, agar novel ini tamat.
"Halo, Gadis Kecil."
Tebasan Meridian ditangkis oleh aura emas. Tubuhnya terdorong mundur beberapa jengkal, namun tak menyurutkan insting Meridian meninggalkan tendangan.
Tinggal bunuh saja. Tidak usah peduli yang lain. Menang adalah segalanya.
Segalanya bagi Meridian agar bisa kembali.
"Hah!" Ruben tertawa gila dan menghina. "Aku tidak berpikir kamu menjadi raja bagi kaum menjijikan. Kuakui aku sempat terkejut, tapi bagaimana rasanya? Menarik pasukanmu dengan polos hanya karena aku tidak menyerang. Begitulah yang terjadi jika kamu berperang dengan perasaanmu, dasar wanita."
"Padahal aku menyukaimu." Meridian menebas berulang kali pada Ruben, meski sengaja mengurangi kekuatannya.
Dia lemah, di mata Meridian. Tapi dia harus dibuat kuat agar ini menjadi *******.
Jadi tahan kekuatan, sedikit menerima luka, sekarat lalu menang.
"Jika aku menemuimu lebih dulu, kurasa aku akan memihakmu daripada menjadi raja iblis."
"Ho, jadi kamu mencintaiku rupanya."
"Begitulah." Meridian berusaha keras menahan kekuatan. Matanya bergerak sangar gesit melihat pergerakan Ruben hingga justru sulit pura-pura terkena. "Mana pasukanmu? Kamu bermaksud melawanku sendiri?"
Tepat setelah itu, sebuah ledakan terdengar bersama dengan bola hitam mengerikan terbang ke arah Meridian. Ia bisa merasakan kegelisahan pasukannya, namun tahu bahwa bola ini tidak berguna.
__ADS_1
Ruben hebat. Sangat hebat. Jika saja lawan dia Andaru atau Meridian saat masih jadi manusia, dia lawan yang tangguh.
Namun senjata ini tidak berguna. Ayo buat sedikit luka dan berpura-pura kesakitan.
"Uhuk, uhuk." Meridian menyeka darah di mulutnya. "Aku tidak sia-sia memberimu waktu berkembang."
Ruben melesat cepat ke arahnya. Meridian melihat pergerakan itu, namun sengaja tidak menghindar. Tubuhnya terhempas ke tanah, menjerit keras pada tusukan pedang yang tertancap di dadanya.
"Kalian wanita hanya lahir untuk berkembang biak seperti ternak. Memerintah seakan-akan tahu sesuatu. Matilah dan menyesal telah berpikir bisa menang."
Sialan.
Dasar karakter.
Kenapa dari semua, cuma dia yang normal? Meridian sudah lama menanti karakter yang jujur seperti Ruben begini, bukan penyembah wanita dan bucin klise macam yang lainnya.
Malah dia yang harus dibunuh.
Itu sangat menyedihkan. Tapi dia harus mati, bahkan kalau Meridian bersedih, sebab dia menjadi kubu antagonis.
"Kamu pikir aku sudah kalah?" Meridian berbicara seolah ia tengah sekarat. "Aku belum—"
"Matilah, dasar sampah."
Siraman cahaya datang dari arah kerajaan suci. Meridian tahu itu adalah alat suci yang awalnya ia pikir berguna.
Lihat, dia sangat pintar. Dia membuat Meridian berpikir peperangan mereka sudah berakhir, memaksa Meridian gelisah dengan dia diam saja, lalu saat seluruh iblis sudah pindah ke tanah mereka, dia memusnahkan seluruh penyihir yang merupakan musuhnya sekaligus rakyat Andaru, bawahan Meridian.
Tak cukup sampai di sana dia membawa Meridian ke sini, lalu menembakkan senjata entah apa itu sebagai serangan terakhir.
Ugh, pintar sekali. Meridian ingin tergila-gila padanya karena dari semua karakter, sungguh cuma dia yang normal.
Tapi ... justru karena dia normal, makanya dialah yang harus musnah dari dunia tidak normal ini. Makanya dia dibuat tidak menyadari bahwa yang dia lakukan tidak berguna.
Ruben berpikir alat itu juga bisa melawan iblis.
Bagus. Ini klimaksnya.
Tepat sebelum cahaya itu sampai, sebuah kegelapan menyelimuti Meridian.
Ruben berteleportasi dalam sekejap, meninggalkan Meridian begitu saja.
Meridian bisa merasakan kegelisahan Lumiel. Ternyata ini akan sakit. Tapi Meridian makhluk terkuat, jadi ia tidak akan mati oleh siraman cahaya suci yang membentur sihir hitam dalam tubuhnya.
Maka ia diam, menerima rasa terbakar itu.
Hal terakhir yang ia lakukan adalah bertelepati dengan Herdian, menyuruh Andaru ambil bagian sebagai tokoh utama.
__ADS_1
Bunuh penjahat.
...*...