Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
66 - hutan kegelapan


__ADS_3

Herdian sangat pandai bersikap baik-baik saja meski sebenarnya tidak.


Terbangun di pagi hari, dia tersenyum seperti biasa seakan semalam mereka tidak habis berbicara empat mata dalam dunianya.


Untungnya Meridian juga tahu cara bersikap seperti itu hingga ia fokus pada perjalanan.


"Kita akan mulai memasuki wilayah perbatasan." Lumiel memberitahu. "Meridian, kemarilah."


Sekitar lima ratus meter mereka terbang, bidang sihir raksasa mulai terlihat.


Meridian merasakan tekanan luar biasa yang rasanya membakar kulit secara nyata. Spontan ia menoleh pada Herdian, menemukan dia bahkan juga kesulitan menahan tekanan.


"Apa itu sekatnya?"


"Ya." Lumiel menyelimuti mereka dengan mana merah yang terasa kuat. "Berpegang padaku. Kita akan berteleportasi."


Meridian meraih tangan Herdian nyaris bersamaan dengan mereka tertarik kedalam bidang sihir itu.


Rasanya berbeda dari sihir teleportasi yang pernah ia gunakan.Ini perasaan asing. Meridian tersedot masuk dalam kecepatan tidak masuk akal.


Tangannya yang memegang Herdian terlepas, begitu pula Lumiel meski dia berusaha keras memeluk Meridian.Ada rantai yang terjulur ke arahnya, berusaha menarik Meridian tapi tak bisa.


Mereka terombang-ambing. Bergerak cepat namun semua terlihat seperti bergerak lambat. Suara Meridian pun tak dapat keluar. Untuk sedikit saja ia panik, tak mungkin bisa melakukan banyak hal tanpa pengetahuan Herdian juga Lumiel.


Sial.


Apa semua ini?!


...*...


"Uhuk!"


"Lumiel!"


Meridian bergegas bangkit sesaat setelah mereka jatuh ke permukaan. Hal pertama yang terjadi justru Lumiel memuntahkan darah hitam, bergetar seolah-olah ada sakit tidak masuk akal di tubuhnya.


"Lumiel! Ada apa?! Inti manamu terluka?!"


"Nona."


Herdian pun tak sempat meresapi rasa pusing di kepalanya, sebab kondisi Lumiel tidak bisa dibilang baik. Dia terus membungkuk, memuntahkan darah hitam aneh yang mengucur tak normal dari mulutnya.


Itu sama seperti Meridian kemarin.


"Tuan Muda, sembuhkan dia."


Tangan Lumiel terangkat, memberi isyarat itu tidak perlu. "Aku baik-baik saja. Itu reaksi dari penghalang."


"Benarkah?" Meridian membungkuk. Memastikan wajahnya yang masih putih pucat, berambut merah dengan mata merah.


Oke, dia masih tampan. Masih baik-baik saja.


"Sepertinya kita perlu beristirahat. Ayo cari tempat—"


Belum sempat Meridian menyelesaikan perkataannya, suara geraman dari makluk asing terdengar. Herdian memasang barier di sekeliling mereka, tapi dari bagaimana dia juga tampak tak sehat, berarti dampak portal tadi memang memengaruhi sihir.


Meridian juga merasa mual.

__ADS_1


"Akan kuperkuat." Untuk sekarang ia mengelilingi barier Herdian dengan bariernya.


Bantu mendudukkan Lumiel yang masih terbatuk-batuk ringan.


"Kamu tidak mengetahui ini?"


"Pasa dasarnya tidak pernah ada yang mencoba datang ke sini dan kembali hidup-hidup." Lumiel agak menyeringai. "Tapi itu menyenangkan melihatmu khawatir, Nona. Apa sekarang kamu akan menciumku?"


Meridian mendekati Herdian. "Apa mereka monster level tinggi, Herdian?"


"Jangan mengabaikanku!"


Ayo abaikan si Bodoh yang nampaknya memang baik-baik saja itu. Herdian juga setuju, kelihatannya.


"Monster yang tidak bisa melewati penghalang memiliki kekuatan sihir sangat tinggi, Nona. Jadi bisa dikatakan semua monster di hutan ini berada jauh dari monster yang kita temui dalam dungeon."


"Apa sihirku tidak cukup melenyapkan mereka?"


Herdian mengerutkan kening dalam-dalam. "Saya rasa itu bisa, namun untuk semuanya, itu tidak cukup. Dan mana di sekitar tempat ini, hanya mana iblis."


"Apa maksudnya?"


"Dungeon memiliki batu mana yang mengalirkan mana ke udara untuk pemulihan sihir manusia." Lumiel perlahan bangkit. "Tempat ini diselimuti mana bangsa iblis. Jika kekuatanmu berkurang, sulit untuk memulihkannya."


Seharusnya mereka tahu. Jika begitu kan mereka membawa stok batu mana. Tapi tidak bisa disalahkan jika mereka tidak tahu, sehab Lumiel sudah bilang tidak ada iblis yang kembali hidup-hidup. Apalagi manusia.


Ini terasa seperti rintangan terakhir tokoh utama. Ayo bunuh semuanya, jadi raja iblis dan kembali.


Pasti berhasil.


"Bukankah sudah kubilang?" Lumiel mengarahkan tangannya ke udara. "Akulah yang terkuat di sini."


Dia tertawa penuh kesombongan, berkacak pinggang dengan noraknya sementara Meridian dan Herdian menjauh, tidak mau tertular kebodohan.


"Ayo pergi."


"Setidaknya puji aku!"


"Ayo, Nona."


Tapi, meski Lumiel tampak baik-baik saja, mereka mungkin harus mencari tempat beristirahat. Selain memulihkan perasaan pusing dan mual setelah melewati portal, Meridian juga merasa harus berdiskusi strategi.


Sekarang ini mereka berada di tempat yang sepenuhnya asing. Tanpa strategi apa pun, mereka hanya akan terlihat bodoh.


"Lumiel, terbangkan aku dan Herdian."


"Kenapa dia juga?"


"Lakukan."


Dia cemberut, tapi tetap menerbangkan Meridian dan Herdian tinggi-tinggi.


Ia menunjuk sebuah pohon tertinggi yang dekat dengan mereka, lalu mendarat di atas batangnya bersama. Dari sini, terlihat lebih jelas suasana dan kondisi sekitar.


Entah bagaimana mengetahui mana iblis dan manusia, tapi langit di tempat ini memiliki warna perpaduan merah dan hitam. Suasananya suram seperti hutam kegelapan dalam cerita-cerita fiksi klasik, dan suara hewan terdengar menakutkan dari berbagai arah.


Yang paling perlu diperhatikan, luas tempat ini luar biasa. Luas satu hutan sudah cukup memerlukan waktu berhari-hari untuk dijelajahi, namun luas tempat ini seperti luas sebuah kota.

__ADS_1


Tidak, mungkin lebih?


"Seberapa besar tempat ini?"


"Setidaknya lebih besar dari Benua yang kita tinggali."


"Apa keberadaan batunya terasa lebih jelas?"


"Tidak." Lumiel menepuk-nepuk pakaiannya yang dirembesi darah hitam. "Aku hanya merasa batu ini ada di sini. Tidak ada sesuatu seperti batu itu memanggilku atau terasa di tempat tertentu."


Jadi mereka harus mencari batu yang entah ada di mana, dasar laut, puncak gunung, akar pohon, di atas sebuah hutan sebesar benua?


Meridian menghela napas. Rasanya mau gila, tapi apa boleh buat.


"Ayo beristirahat. Apa bisa aku memasang barier di sini?"


"Biar saya saja, Nona. Tolong hemat mana yang Nona miliki."


"Tidak, aku saja." Lumiel terbatuk. "Simpan mana kalian."


"Kamu beristirahat." Memang dia yang terkuat, cuma nampaknya dia juga yang terluka parah.


Ini namanya rintangan tokoh utama, jadi senjata terkuat harus dijaga baik-baik.


"Herdian, lakukan."


"Baik, Nona."


Meridian menyandarkan punggungnya pada pohon raksasa itu. Dirogoh sakunya untuk mencari sesuatu, lalu mengeluarkan sebuah kantong dimensi yang diberikan oleh Dion.


Isinya hanya makanan. Lebih tepatnya makanan darurat jika ternyata tidak ada buah atau daging monster yang bisa dimakan.


"Herdian, pulihkan dirimu." Meridian menyerahkan sejumlah air dan buah. Begitu pula pada Lumiel sebelum dirinya ikut minum.


Hah. Tak pernah ia sangka akan mengalami situasi macam ini dalam hidupnya.


Camping di tanah iblis. Jalan menuju kebangkitan raja iblis. Dan raja iblis itu dirinya.


Hadeh.Ini romance atau action?


Kalau dipikir-pikir, sebenarnya alur novel Laila yang asli itu bagaimana? Benar antagonisnya Dion? Jalan ceritanya seperti apa?


Tunggu, antagonis kan si Putri. Siapa itu namanya? A .... Sepertinya ada A lalu H lalu R. Oh, ataukah ada T? Dia membosankan sebagai antagonis, sih.


Mau jalan ini atau jalan itu, sepertinya membosankan.


Memang yang paling menyenangkan itu hidup sendiri. Rintangan dilewati menguntungkan diri sendiri, kesedihan memberi pelajaran berharga, musuh memberi kualitas diri.


Sementara dunia ini, ia jadi raja iblis, yang untung bangsa iblis. Ia jadi anak Marquis, yang untung malah Putra Mahkota.


"Meridian, ayo bergerak." Lumiel tiba-tiba berdiri.


"Ada apa?"


Sebelum mendapat jawaban, Meridian sudah terbang ke udara. Hanya selisih sekian detik tanah di bawah pohon itu bergetar, memunculkan monster serupa ulat berukuran megalodon yang mengamuk.


Uwwah, menjijikan.

__ADS_1


*


__ADS_2