
Apanya yang mengejutkan? Andaru terlihat tidak menyangka ia akan mengatakan itu.
"Kamu memikirkan pendapatku?"
Meridian mendengkus. "Apa aku terlihat seperti tidak memedulikan pendapat seseorang, Pangeran?"
"Tidak, Ratuku. Kamu wanita bijaksana." Pria itu terkekeh senang. Tapi tidak ada waktu meladeni karena Herdian muncul.
Jika Herdian tidak menemukan apa pun, maka berarti Meridian sudah salah paham. Meski itu aneh rasanya ia sampai salah paham sebesar ini, namun kesalahan memang bisa dilakukan siapa pun, jadi ia akan terima.
"Bagaimana?"
"Tidak ada keanehan, Nona."
Herdian menyalakan alat sihir yang memproyeksikan kondisi pengungsian bangsawan dan rakyat biasa lebih dekat.
Meski tidak berkata apa-apa, dia menampilkan Litea dan Litae tengah bermain dengan perawat mereka, diawasi oleh Ibu, sementara Ayah berkumpul bersama bangsawan mengamati situasi.
"Saya berusaha memeriksa segala sisi. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan."
Meridian mengangkat tangan. Dan proyeksi menghilang.
"Untuk sekarang, ayo pergi."
Bukan tempat ini. Lalu yang mana?
...*...
Meridian duduk di singgasananya memikirkan ulang pertempuran mereka.
Kuil sudah tidak penting, jadi sekarang musuhnya tinggal Ruben. Meski bisa langsung meledakkan dia, demi menciptakan ending memuaskan, tentu Meridian harus berpura-pura tidak bisa melakukannya.
Tapi kenapa tidak ada yang Ruben lakukan?
Laporan mengatakan pasukan Ruben masih bersiap, artinya dia masih akan berperang. Dia tidak bisa menyerang Meridian yang duduk di atas awan, dia juga tidak menyerang mereka yang Meridian lindungi di atas tanah, lalu mana yang dia serang?
Jangan bilang dia kabur?
Tidak mungkin. Seorang villain harus berjuang untuk gagal di tangan tokoh utama. Itu keharusan. Mana mungkin dia kabur karena takut.
"Tenanglah, Nonaku." Andaru dengan berani menyentuh tangan Meridian meski ada Lumiel dan sejumlah iblis tingkat atas di sekitar mereka. "Dalam peperangan, pemenang adalah mereka yang memenangkan pertempuran psikologis. Dia akan membuatmu cemas dan mengacaukan strategi."
Dia benar. Ayo tenanglah. Tenanglah dan berpikir jernih.
Setelah semua selesai, ia pasti pulang.
"Ratuku."
Meridian mengangkat tangan sebagai isyarat Lumiel bicara.
"Manusia itu bertahan hidup atas kebaikan hati Anda. Mereka hidup karena kemurahan hati Anda. Anda sudah memikirkan mereka selama beberapa waktu tanpa memedulikan kenyamanan Anda. Jika saya harus bertanya, perlukan kita melakukannya?"
Apa? Apa yang dia katakan?
Meridian tercengang saat seluruh perasaan iblis yang terhubung padanya seolah berkata hal sama. Mereka semua berpikir sama.
Mengapa mereka harus terlalu cemas pada manusia yang bisa musnah dalam sekali jentik? Mengapa mereka harus terlalu waspada seakan-akan manusia memiliki kekuatan yang destruktif?
__ADS_1
Mengapa harus peduli padahal sebenarnya mereka tidak penting? Itu semua yang mereka pikirkan.
Kalau dipikir lagi, benar juga. Meridian yang membiarkan Ruben hidup, bukan karena dia benar-benar bertahan hidup. Kenapa ia sibuk memikirkan apa lagi yang dia rencanakan padahal ia bisa menunggu sambil tidur?
Apa aku jadi bodoh karena jadi raja? Meridian memijat keningnya yang berdenyut.
Kamu menjadi sombong dan semakin angkuh dengan jiwa iblismu.
Suara itu lagi.
Tapi memang itulah dirimu. Jadi apa yang aneh? Kamu bukan menjadi bodoh. Kamu hanya meremehkan lawanmu, karena itu kamu tidak banyak berpikir. Yang kamu tunggu hanya dia beraksi agar kamu membunuhnya lalu kembali.
Diam.
Meridian benci kenyataan dia benar.
Tapi apa yang harus ia lakukan? Menghentikan pengungsian? Menarik mundur anak-anaknya kembali ke hutan kegelapan? Berapa tahun ia harus menunggu?!
Jangan bercanda! Dia harus datang segera!
"Pulihkan rakyatmu, Andaru." Meridian mengepal tangan kuat-kuat. "Umumkan pada mereka bahwa peperangan telah berakhir. Selanjutnya, akan kulawan Ruben di tempat yang kutentukan."
"Perintahmu adalah keharusan, Nonaku." Andaru membungkuk ringan dan tersenyum. "Setelah ini, tolong luangkan waktu bersamaku. Ada yang harus dibicarakan, kurasa?"
"Ya."
Meridian menatap Herdian yang diam saja.
"Pergilah, Duke Muda. Aku pun akan menemuimu setelah rakyatmu pulih."
"Baik, Nona."
"Tarik pasukan. Peperangan dengan manusia berakhir."
Meridian bisa merasakan seluruh prajuritnya senang. Untuk sesaat ia tersenyum, mengulurkan tangan pada Lumiel yang segera bertransformasi menjadi kucing.
"Perluas hutan. Bangun kerajaan di mana semua bangsaku bisa tinggal. Mulai sekarang, fokuslah pada hal itu."
Kalau perang berakhir, mereka semua sudah tidak berguna. Tapi karena mereka juga tidak bisa dibuang, Meridian akan buat dunia khusus untuk mereka, lalu memberi pembatas.
Iblis tidak memiliki keinginan menyerang manusia. Namun mereka angkuh dan tidak menyukai kesombongan manusia. Karena itu mereka perlu diberi tempat berbeda.
"Kalau dipikir-pikir, aku belum menempati kamar sejak aku menjadi raja." Meridian mengusap-usap bulu Lumiel. "Di mana kamarku?"
Mereka berganti tempat hanya dalam sekali kedip.
Kamar yang tak ada bandingannya dengan kamar Meridian di rumah Marquis, sebuah tempat tidur tinggi nan luas yang selembut awan. Jadi ini tempat tidur raja?
Tapi apa gunanya kalau Meridian tidak mengantuk dengan tubuh ini? Yah, ia lelah, sih.
"Sepertinya kamu senang."
Lumiel ikut berbaring nyaman begitu Meridian mendarat di atas kasur, berbaring menyamping padanya. Dia masih dalam bentuk kucing. Nampaknya tidak bisa berubah tanpa izin Meridian.
"Kamu sangat manja, Kucing Manisku."
Dia senang.
__ADS_1
"Tapi bagaimana aku mengampuni kebohonganmu?"
Lalu menangis.
"Bicaralah seperti sebelumnya. Aku mengizinkan."
Lumiel langsung datang menjilati wajahnya seperti yang selalu dia lakukan. "Aku tidak bisa kehilanganmu."
"Aku ingin kembali. Apa keinginanku bukan perintah?"
"Maka tinggallah dan memerintah."
"Aku tidak bisa, Lumiel." Meridian mengusap kecil hidung kucing itu. "Aku harus kembali. Tenang saja. Semua baik-baik saja tanpaku. Akan kutinggalkan tempat ini saat semua sudah baik-baik saja."
"Tapi semua tidak baik-baik saja tanpamu." Dia benar-benar menangis. "Tinggallah di sini. Akan kubunuh semua manusia kurang ajar yang mengganggumu. Tinggallah bersamaku."
"Lumiel."
Dia begitu menggemaskan saat telinganya layu.
"Mengertilah. Aku sangat ingin kamu melakukannya." Meridian mengecup kening hewan hitam itu. "Mengertilah bahwa itu yang terbaik bagiku."
Dia tidak mau. Tapi perasaannya juga berkata dia tidak boleh melukai Meridian. Sungguh menggemaskan. Dia adalah hal klise yang paling Meridian nikmati di dunia ini.
Lumiel datang ke atasnya. Meletakkan keningnya pada kening Meridian, mendengkur halus dengan perasaan cinta yang mengalir.
Entah kenapa, Meridian jadi berharap nanti ia memelihara kucing hitam sungguhan agar sedikit mengobati rindunya pada Lumiel. Dia, Herdian, Andaru, adalah tiga favorit Meridian yang juga ia anggap teman.
Meridian pasti akan merindukannya sekembali nanti.
...*...
Selama beberapa waktu, Meridian hanya menghabiskan waktu bersantai di tempat tidur. Ia mendengar banyak cerita dari Lumiel, hal-hal kecil dan sederhana sebagai pengisi waktu luang.
Malam harinya, mereka menghabiskan waktu sebagai pasangan. Gara-gara itu Meridian akhirnya paham kenapa Dion dan Lukas bisa saling berbagi.
Sepertinya itu semacam karakteristik bangsa mereka. Itu seperti perasaan mereka terhubung satu sama lain.
Terutama Dion dan Lukas yang merupakan saudara. Mereka bisa berbagi wanita, meski ada persaingan mengenai siapa yang paling terbaik, tapi tidak ada perasaan harus memiliki secara tunggal.
Karena Lumiel pun tidak marah saat Lukas dan Dion datang padanya. Dia hanya cemburu dan misuh-misuh.
Namun hal itu mengalihkan perhatian Meridian. Di hari yang ia sudah lupa kapan tepatnya, tiba-tiba cincin Herdian bersinar, disusul sebuah suara panik yang membuatnya terbangun.
"Nona, bisakah Anda segera datang? Tolong segera, Nona."
"Lumiel."
Portal terbuka, dan Meridian melangkah bersama Lumiel yang telah memakai seragamnya.
Ia berteleportasi ke tempat Herdian berada, istana kekaisaran, namun sebelum keluar dari portal sudah bisa merasakannya.
Bau kematian. Banyak.
Sangat banyak. Tapi tidak ada bau darah.
"Ada apa?"
__ADS_1
Untuk pertama kali Meridian melihat wajah Andaru pucat pasi seperti orang putus asa. "Mereka terbunuh."
...*...